Penghuni Kamar Nomor 7

Penghuni Kamar Nomor 7
Part 8


__ADS_3

Diruang depan lantai bawah, Teh Siska kemudian bilang kepada para penghuni, kecuali Anggi, untuk tidak nekat membawa lawan jenis ke kosan. Kalau nekat, akan diadukan ke Bu Linda dan bisa saja diusir.


Soalnya, kata dia bakal ada kejadian yang di luar nalar kalau Hai itu benar-benar nekat dilakukan. Tapi, Teh Siska tidak merinci secara detail penjelasannya.


Kami pun semua bertanya-tanya, terkecuali Teh Ayu dan Teh Ratna yang sepertinya sudah mengetahui apa yang dimaksud Teh Siska. Saat masih berkumpul dan mengobrol, Bi Asih datang. Bi Asih pun kaget dengan suasana yang cukup menegangkan diruang depan itu.


"Ada apa neng? Tumben pagi-pagi udah pada ngumpul"


"Enggak Bi, cuma kumpul-kumpul aja" jawab Teh Siska menutupi.


"Yaudah, Bibi mau ke dulu"


Seketika semuanya bubar dan masuk ke kamar masing-masing bersiap untuk mandi karena semua harus berangkat kuliah. Sementara aku mengajak Santi untuk ke kamarku terlebih dahulu. Aku ingin memberi bukti kepada Santi jika Anggi memang membawa pacarnya menginap.


"Aku gak mau suudzon, tapi kamu coba deh disini dulu"


"Ada apa emangnya?"


"Pacar Anggi masih ada dikamar. Aku tadi denger suara laki-laki didalam kamar Anggi"


Karena tak juga mendengar suara laki-laki, Santi pun akhirnya nekat menguping dipintu kamar Anggi. Namun sialnya, niat Santi diketahui oleh Fitri yang saat itu tengah keluar kamar. "Kamu ngapain disitu Santi?" tegur Fitri.


"Sttt... Jangan berisik" jawab Santi.


Ternyata kegaduhan didepan kamarnya membuat Anggi membuka pintu kamar. Anggi yang melihat Santi berdiri didepan pintu kamarnya langsung curiga jika Santi sedang menguping, karena posisi badannya sedikit membungkuk.


Sontak Anggi pun membentak Santi dengan kata-kata kasar khas marahnya orang Ibu Kota. Santi menangis karena rasa bersalahnya yang nekat menguping kamar Anggi.


Aku dan Fitri langsung menenangkan. Santi pun lari ke kamarnya. Sementara aku menarik Anggi dan membawa masuk ke kamarku ditemani Fitri.


"Udah lah nggi, aku tau kalau cowok kamu ada didalam kamar"


"Jangan fitnah ya!" Anggi masih ngeles.


"Aku denger tadi suara laki-laki didalam kamar kamu. Kamu jangan bohong, apa aku minta Teh Siska buat geledah kamar kamu? Kebetulan dia belum berangkat kerja"


Anggi pun terdiam dan raut mukanya terlihat panik. Akhirnya Anggi jujur jika Ruly memang tidur sekamar dengannya. Ruly menginap karena saat mengantar Anggi, malam sudah begitu larut.


Apalagi jika Ruly memaksakan pulang, Anggi khawatir ada apa-apa di jalan. Apalagi Ruly tidak membawa kendaraan pribadi.


"Aku minta tolong. Jangan bilang ke siapa-siapa. Cukup kita aja yang tau" Anggi merengek kepadaku dan juga Fitri.

__ADS_1


Karena alasannya masuk akal, aku akhirnya menuruti permintaan Anggi. Begitu juga dengan Fitri. Selepas itu, aku meminta agar Anggi meminta maaf kepada Santi karena telah membentaknya. Anggi pun menyetujuinya.


Namun dengan syarat, permintaan maaf itu akan dilakukan jika penghuni lain sudah berangkat untuk beraktivitas. Karena ia takut kelakuannya diketahui penghuni lainnya.


Setelah semuanya berangkat, Anggi dan aku kemudian mengetuk pintu kamar Santi bermaksud mengantarkan Anggi untuk meminta maaf kepada Santi. Namun berkali-kali pintu kamar diketuk, Santi juga tidak merespon. Bi Asih yang curiga lantas menghampiri kami.


"Udah berangkat kali Neng Santinya. Emang Neng Anggi sama Neng Mira ga kuliah?"


"Jadwal kuliah Mira sore Bi" jawabku.


"Kalau Anggi lagi kurang enak badan, jadi izin" sahut Anggi.


"Yaudah, Bibi izin pulang dulu. Soalnya suami Bibi teh masih sakit" kata Bi Asih berpamitan.


Aku mencoba lagi mengetuk pintu kamar Santi untuk memastikan jika dia belum pergi kuliah. Namun dari dalam kamar Santi, aku dan Anggi mendengar seperti suara gigi beradu.


Krekk... Krekk...


"Mungkin tidur, sekarang pacar kamu harus pulang sebelum yang lain pulang" pintaku.


"Iya Mir"


Hampir masuk waktu Maghrib, aku tiba dikosan setelah selesai mengikuti perkuliahan. Aku pulang dengan membawa dua bungkus makanan. Satu untuk aku makan, satunya aku sengaja belikan untuk Santi.


"Mir, dari tadi Santi nangis terus" kata Teh Ratna.


"Iya Mir, kami ketuk-ketuk dia gak mau buka pintu" kata Eki. Aku pun langsung menuju kamar Santi untuk memintanya keluar dari dalam kamar. Santi masih saja enggan membuka pintu.


Suara tangisan Santi justru semakin keras, malahan sampai mengalahkan suara azan maghrib yang sebelumnya terdengar ditelinga kami.


"Istighfar ti... Anggi gak sengaja tadi. Ini aku udah beli makan buat kamu. Dari pagi kamu belum makan kan?" kataku.


Anggi yang merasa bersalah kemudian ikut merapat ke depan pintu kamar lalu meminta agar Santi keluar kamar.


"Santi... Maafin Anggi ya. Anggi gak sengaja. Anggi gak ada maksud buat bentak Santi"


"Diam kamu!" ucap Santi dari dalam kamar yang membuatku dan Anggi kaget.


"Astaghfirullah, sejak kapan bahasa kamu kasar gitu Ti. Istighfar" kataku.


Tangisan Santi makin terdengar keras. Kami yang mendengarnya pun kebingungan. Teh Ratna kemudian menyarankan agar Santi diberi waktu dulu untuk menenangkan diri. Sementara ia mengajak kami semua untuk Shalat Maghrib berjamaah diruang depan.

__ADS_1


"Shalat disini aja yuk. Sambil nungguin Santi. Jarang-jarang kan Shalat berjamaah" ajak Teh Ratna diiyakan seluruh penghuni. Teh Ayu yang menjadi imam. Sementara kami semua menjadi makmum.


Baru melakukan gerakan Takbiratul Ihram, aku mendengar suara pintu kamar terbuka. Aku pun membatin, jika itu suara pintu dari kamar Santi.


Di Rakaat kedua, aku sedikit tidak konsentrasi dan khusyuk, karena aku melihat ada seseorang yang ikut bergabung disamping Anggi.


"Alhamdulillah Santi keluar juga" gumamku dalam hati.


Assalamu'alaikum Warahmatullah


Assalamu'alaikum Warahmatullah


Selesai Shalat, tiba-tiba saja Anggi ketakutan. Makmum yang tadi ada disebelah Anggi ternyata sudah tidak ada ditempat saat mengucapkan kalimat salam dan menoleh kearah kiri.


"Mir, kamu tadi liat Santi ada disini kan?" kata dia.


"I-iya" jawabku.


"Kok tiba-tiba gak ada?"


Aku pun tidak bisa berkata-kata dan dengan sedikit kebingungan aku langsung menoleh kearah pintu kamar Santi. Ternyata pintu kamar Santi masih tertutup.


Teh Ratna meyakinkan aku dan yang lainnya jika dia ikut mendengar suara pintu kamar terbuka. Awalnya ia juga mengira jika itu adalah Santi. Kami semua dibuat kebingungan.


"Jangan-jangan..." kata Teh Ayu yang tak melanjutkan ucapannya karena diberi isyarat oleh Teh Ratna.


Aku yang sedikit ketakutan pun akhirnya membuka mulut jika kejadian seperti ini sempat aku alami bersama Santi saat pertama kali menempati kosan.


Aku pun menceritakan semua kejadian dari awal melihat seorang perempuan yang mukanya mirip Teh Siska, suara aneh, hingga Santi yang merasa diganggu saat melakukan Shalat Subuh waktu itu.


Karena saking ketakutannya, kamu akhirnya tetap berkumpul diruang depan. Aku sendiri tak percaya bahwa kejadian ini akan kembali terjadi setelah berbulan-bulan lamanya kami hidup nyaman dan tenteram dikosan itu.


Teh Siska yang pulang sekitar pukul 10 malam keheranan dengan kami semua yang berkumpul diruang depan dengan masih mengenakan mukena.


"Kalian ngapain disini semua?" tanya Teh Siska.


"Tadi Shalat Maghrib berjamaah disini teh" jawab Teh Ayu.


"Tapi kamu gak lanjutin Shalat Isya. Karena kami digang... Aww" kata Anggi yang tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah kakinya dicubit oleh Teh Ayu.


"Yaudah, teteh kekamar dulu. Santi mana?"

__ADS_1


"Dikamar teh, lagi gak enak badan" aku mencoba berbohong.


__ADS_2