
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Marine sedikit terlonjak. Ia berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu dengan celah sekecil mungkin, melihat yang siapa yang datang menemuinya. Hanya salah satu awak kapal.
"Kapten ingin menemuimu," Kata awak kapal itu.
"Terima kasih." Jawab Marine dan awak kapal itu pun segera pergi.
Marine berjalan menuju ruang Kapten, ia belajar untuk tidak membuat Kapten menunggu.
Beberapa awak kapal menyapa marine saat berpapasan, sisanya sama sekali tidak mempedulikanya. Tapi Marine tidak mempermasalahkannya.
Rasa hormat harus diraih di antara para Snake, dan Marine belum melakukan apapun untuk menerimanya.
Marine melihat tiga orang dari mereka berkerumun sambil berbisik. Mereka memutar badan saat Marine lewat, tidak ingin suara mereka terdengar. Meski begitu Marine masih bisa menangkap beberapa kalimat.
"Kudengar masih ada penyihir di Barat yang dapat melelehkan daging dan tulangmu hanya dengan satu kata."
Kulit Marine serasa ditusuk hanya dengan mendengar kata sihir.
"Aku mungkin akan lebih senang jika sekarang sedang berjalan untuk bertemu penyihir dari pada sang Kapten." Gumam Marine pada dirinya sendiri.
Di luar bilik Kapten, Bronn orang paling mematikan di kapal, sedang berjaga dan menunggu kedatangan Marine.
Lengan bajunya di gulung dan Marine berusaha keras untuk tidak menatap kulit Bronn yang terbakar matahari.
Marine pernah merasakan lengan itu dulu yang selalu melindunginya, sekarang Bronn hanya melindungi Kapten dan melakasanakan perintah-perintah Kapten yang kejam.
Saat mendengar langkah Marinne, Bronn berputar dengan gerakan sangat kecil menganggukan kepala. "Dia menunggumu." Sambil membuka pintu dan memberi isyarat untuk marine masuk.
Marine melangkah masuk, bau kematian tercium di segala sudut ruangan. Ruangan tersebut sudah di desain untuk mengintimidasi tawanan musuh. Setiap bagian di dalamnya terutama rak berisi anggota tubuh manusia dipamerkan di dalam botol.
Duduk di meja yang dikelilingi oleh harta karun dan tanda kemenangan yang menunjukan kekuasan terhadap Kepulauan Timur. Hering lautnya Talon mengawasi sambil bertengger di belakang sang Kapten, Kapten itu adalah ayah Marine.
Dua orang yang berdiri di sisi Kapten adalah perwira pertama dan sahabat lama ayah Marine, Cleeve yang merupakan orang yang bejat dan haus darah.
Di depan meja dua awak kapal mengapit seorang wanita yang diikat dan babak belur, namanya Anders anggota terbaru kapal ini.
Bronn memasuki ruangan tanpa suara dan berdiri di sisi kosong ayah Marine. Merasa ada hal besar sebentar lagi terjadi, Marine berusaha menenangkan suaranya dan berkata. "Ayah ingin menemuiku?"
Kedua mata dengan bekas luka mengerikan bertemu dengan mata Marine. Wajah yang penuh kerutan tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Marine, terima kasih sudah mau datang." Ayahnya berkata seakan Marine sudah membuat mereka menunggu lama. "Aku butuh penilaianmu untuk sebuah urusan yang melibatkan salah satu kru kita."
Kapten memberi isyarat pada anak buahnya, dan anggota snake yang sedang terikat itu di lempar kasar ke arah Marine.
"Bajingan ini, telah tertangkap sedang mencuri air dari persediaan kita." Lanjut Felon.
Hati Marine mencelus. Mencuri persediaan makanan adalah pelanggaran berat, dan Marine tak mau memikirkan hukuman apa yang telah Anders terima sebelum Marine sampai di sini.
"Menurutmu, hukuman apa yang harus kita lakukan kepada pencuri ini?" Pertanyaan tersebut sangat berat sampai-sampai ruangan ini terasa berputar.
Semua mata tertuju pada Marine, menunggu jawaban sambil menilai tanda-tanda kelemahan yang terlihat di wajah Marine.
Marine menarik napas dalam-dalam, tatapannya bertemu dengan tatapan si terdakwa dan Marine dapat melihat keputusasaan di dalamnya, berharap bahwa hukuman dari Marine akan ringan.
Terlintas di benak Marine kalau si pencuri harus kehilangan anggota badan yang sesuai dengan kejahatan tangannya atau lidahnya.
Marine hampir tertawa terbahak-bahak membayangkan dirinya memberikan perintah seperti itu.
"Kejahatannya sangat serius." Marine berharap suaranya terdengar sewibawa mungkin, "Dan tidak bisa diampuni." Marine menghadap Kapten dan rasa kemenangan terlihat sekilas di matanya.
"Lempar dia ke sel, lalu tinggalkan di pulau pasir selanjutnya! Kita lihat kemudian, akan seberapa haus dia." Perintah felon.
Percikan kepuasan hilang dari wajah Kapten setelah mendengar perkataan Marine.
Marine gagal, ini bukan hukuman yang di harapkan ayahnya. Marine melirik ke Bronn, berharap melihat tanda-tanda pemahaman. Tapi wajah Bronn diam layaknya batu.
__ADS_1
Anders merasakan kalau nasibnya sudah ditetapkan dan memohon kepada Kapten, meminta ampun.
"Buuk!"
Salah satu awak kapal membungkam mulut Andres dengan pukulan keras di pipi.
Kapten menatap Cleeve. "Lakukan!"
Sebuah senyum keji muncul di wajah Cleeve, tidak lebih dari tiga langkah dan Cleeve sudah berada di depan Anders.
"Kreek!"
Cleeve menggorok leher Anders. Talon mengepakkan sayap entah burung itu setuju atau tidak atas keputusan Kapten.
Marine menyaksikan semua kekejaman ayahnya, Marine tahu untuk apa ia di sini. sejak awal, Kematian sudah menjadi hukuman untuk Andres. Hanya saja Kapten berharap Marine yang mengatakannya.
Ini bukan yang pertama kali Marine menyaksikan kejadian seperti ini, sudah berkali-kali Kapten menunjukan kepada Marine.
Sang ayah percaya dengan cara ini Marine akan berubah, tapi yang tidak di ketahui ayahnya kalau Marine tidak mau berubah.
"Bersihkan ini."
Anak buah Kapten merespon dalam sekejap dengan menyeret Anders keluar ruangan.
Jejak darah tertinggal di lantai kayu, seakan-akan mayat tersebut berusaha meninggalkan pesan terakhir yang sebentar lagi akan dihapuskan.
Di ruangan itu hanya tinggal Merine dan Kapten.Kapten menatap Marine, tatapan itu membuat Marine ketakutan.
Marine mempersiapkan diri untuk menerima ledakan amarah sang Ayah. Namun sebaliknya Kapten hanya terdiam dan itu lebih menakutkan yang di rasakan Marine.
Tiba-tiba Kapten berbicara, suaranya terdengar berbahaya, namun lembut. "Kau tahu apa yang ayah inginkan?"
"Aku tahu." Marine tidak menyangkal.
"Lalu kenapa, Marine? Kenapa kau terus melawan?"
Marine berpikir jika ia masih ingin hidup, dia akan memberikan jawaban yang mendekati keinginan ayahnya.
"Aku mencoba ayah, suatu saat aku pasti akan memberikan perintah yang kau inginkan." Suara Marine bergetar karena kebohongan yang di ucapkan.
Kapten melangkah ke arah jendela, menatap laut kelam.
"Kau ingat saat kau masih kecil? Kita sering duduk bersama di sini, menjejerkan kapal mainan di peta lautku sebelum mengirim mereka berperang."
Kapten menghela napas panjang dan berkata kembali, "Kemudian kau melelehkan lilin untuk menyegel surat dengan api dan menumpahkannya di kapal-kapal itu. Demi darah, katamu. Aku seharusnya memarahimu karena kau merusak banyak sekali kertas. Tapi aku tidak melakukannya. Kau menunjukkan bakat dan aku sangat bangga padamu."
"Seingatku luka bakar itu masih membekas di jariku." Marine menyeringai.
"Namun kau membiarkan potensimu membusuk begitu saja, sampai tidak ada yang tersisa selain kelemahan."
"Kau tahu maksud ayah kan? Kau tahu kau memaksa ayah untuk apa?"
Perlawanan Marine terhadap ayahnya selalu ada bayarannya, Kapten menyodorkan pisaunya ke arah Marine.
"Kumohon." Pinta Marine, ia tidak mau melakukan ini. "Aku janji akan berusaha lebih keras lagi."
"Ambil, ini bukan perintah, ini tantangan." Suara Kapten tegas.
Marine tetap menolak, berusaha dengan putus asa untuk keluar dari situasi ini. "Kalau ayah memberiku kesempatan..."
Dalam sekejap Kapten berdiri tepat di depan Marine, menarik Marine ke arahnya, pisau tersebut terlalu dekat dengan kulit Marine.
Kapten bernapas cepat, sangat marah karena sikap sombong Marine dan dengan perlahan meletakkan gagang pisau ke tangan Marine.
Badan Marine bergetar sementara Kapten melangkah mundur untuk duduk di ujung kursinya.
__ADS_1
"Lakukan!" Suara Kapten bergetar dengan kegembiraan.
Rasa marah membakar pipi Marine saat Marine mengangkat pisau tersebut dan menusukkannya ke daging empuk di telapak tangannya.
Butiran-butiran darah mengalir keluar dengan cepat dari tususkan tersebut, sebelum mengitari tangannya dengan perlahan dan menjadi tetesan di lantai.
"Sangat menyedihkan bagiku untuk melihatmu melakukan ini, namun ini untuk kebaikanmu." Senyuman sadis muncul di sudut bibir sang Kapten.
Kapten selalu mengatakan itu setiap kali membuat Marine melakukan ini demi menghapus kelemahan Marine. Dulu Marine mempercayainya, sekarang Marine melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup.
Sebenarnya ini tidak terlalu sakit, hanya luka kecil tapi cukup untuk mengingatkan Marine akan kekuasaan Ayahnya.
"Kita ini prajurit Marine, dan prajurit tidak lemah." Kapten berjalan untuk mengambil pisaunya.
Marine muak dengan dirinya sendiri yang masih berusaha mendapatakan pengakuan dari ayahnya, menginginkan untuk kembali ke masa ketika Marine masih mengaguminya.
Kapten melangkah mundur lalu membelakangi Marine, membuka salah satu petinya dan mengeluarkan tumpukan kain lalu mengangkatnya. "Ini untukmu."
Marine menerima gaun itu, terlihat raut wajahnya bingung, ia melihat gaun yang barusan di berikan oleh ayahnya.
Sebuah gaun yang tidak jauh berbeda dari yang ia kenakan sekarang, garis-garis sulaman menyerupai ombak laut, mutiara menghiasi pergelangan tangan dan kerah, berwarna biru kehijauan, ini bukan pakaian snake.
Gaun ini sangat tidak pantas untuk dipakai di atas kapal ini, seperti itulah pikiran Marine.
"Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu penting. Aku butuh kau untuk membuatnya terkesan. Bisakah kau melakukannya?"
"Tentu saja." Marine menganggukan kepala.
"Bagus, bergantilah. Aku akan memanggilmu nanti."
Menyadari telah di izinkan pergi, Marine meninggalkan ruangan berusaha tidak terpeleset jejak darah di lantai.
Marine beranjak menuju dek untuk menghirup udara segar. Berdiri persis di tempat ini, Marine mengingat peristiwa pertama kali ia menyaksikan sang Kapten mengeksekusi seorang pria yang termasuk anak buahnya.
Usia Marine pada saat itu baru enam tahun. Ia melihat Kapten menggengam rambut terdakwa dan menyayat lehernya.
Marine tidak sedang menyaksikan seorang Kapten menghukum awaknya, tapi sedang melihat ayahnya melakukan pembunuhan terhadap orang tak bersenjata. Dan Marine pun menangis.
Reaksi yang diberikan Marine salah, Kapten Murka karena telah mengecewakan dan mempermalukannya. Mungkin karena itu lah tidak ada yang menganggap Marine bagian dari snake.
Marine menatap ke bawah, ke arah laut dingin, kuburan untuk jutaan pelaut. Dan bertanya-tanya mengapa ada orang yang lebih memilih hidup di atas ombak yang bergulung ketimbang tanah yang datar.
Kapal Kapten The Maiden's Revenge, memotong ombak dengan mudah, predator di sepanjang Kepulauan Timur tidak berani mengganggu Kapal The Maiden's Revenge.
Kalau maiden merupakan penjaraku, samudralah yang menjadi kepala penjaranya.
Marine sadar ia adalah putri sang felon, jika ia takut dengan lautan, itu merupakan kegagalan dan penghinaan terbesarnya, ia dilahirkan untuk tujuan ini, suka atau tidak suka.
Salah satu hal yang menenangkannya di usianya yang tujuh belas tahun ini, ia tidak berkewajiban menjalankan perintah Kapten maupun sang Raja karena ia tidak di anggap sebagai anggota resmi snake.
Namun, ulang tahun kedelapan belasnya akan tiba dalam sepekan lagi. Dan ketika hari itu datang, akan diadakan acara penobatan. Di mana Marine diharuskan untuk melewati beberapa tes sebelum dapat mendampingi ayahnya sang Felon sebagai salah satu dari mereka.
Marine akan dinobatkan sebagai pembunuh bayaran dengan izin langsung dari kerajaan, sama seperti kru pimpinan ayahnya yang berkekuatan lima puluh orang, setiap dari mereka merupakan pembunuh terlatih.
Jika semua ini tidak nyata Marine pasti sudah tertawa.
Bukan berarti ia tidak menghargai sang Felon beserta awak kapalnya, Marine sangat menghargai hal itu.
Beberapa abad telah berlalu sejak Raja Timur mengangkat Felon pertamanya untuk memimpin armada kapal kerajaan dalam peperangan mereka mempertahankan Kepulauan Dua Belas dari ancaman Benua Besar jauh di seberang samudra.
Patuh hanya kepada Raja, sang Felon merupakan sebuah keberadaan yang begitu menakutkan, begitu mengerikkan, dan tak ada seorang pun dengan akal sehat yang berani menentang kekuasaan mereka di atas laut.
Di tambah lagi, selama peperangan antara pasukan Kepulauan Dua Belas dan Benua Besar, sang Felon memimpin armada kerajaan menuju kemenangan sehingga perang pun berakhir.
Felon pun menjadi senjata andalan Raja Timur untuk mengalahkan siapa pun yang menentangnya. Felon berubah menjadi simbol kekuatan. Awaknya akan melakukan apa pun yang harus dilakukan, sekeji apa pun itu, untuk menjaga kedamaian di Kepulauan Timur.
__ADS_1
Felon memang kejam, tapi dengan alasan yang baik. Menjaga Kepulauan dan masyarakat agar tetap aman.
Dan Marine harus mencari cara menerima kekejaman tersebut ketika berlayar di bawah pimpinan sang Felon?