
Para penghuni menjalani hari mereka dengan berbagai pekerjaan. Marine berjalan sedikit lebih cepat dari Bronn, bukan hanya agar tidak mengahalangi orang lain, tapi juga Marine setengah berharap Bronn akan kehilangan jejaknya di antara hiruk pikuknya awak kapal yang berlalu lalang. Karena Marine tidak suka di kawal oleh Bronn seakan-akan Marine adalah seorang tawanan.
Rembesan air dari badai tadi malam membasahi dek meriam, membuatnya licin, Marine menyingkirkan rembesan itu yang membuatnya tergelincir hingga kehilangan keseimbangan.
Hampir saja Marine terjatuh kalau bukan karena sebuah tangan yang memegang pinggangnya, menjaganya agar tetap berdiri. Secara refleks Marine berusaha melepas tangan Bronn, tapi dengan tangga yang begitu sempit, Marine hanya berhasil memutar badannya, membuat mereka saling berpelukan, dada Bronn menyentuh dada Marine sampai Marine bisa mendengar detak jatung Bronn seirama denganya, nafas Bronn menghangatkan dahinya. Bronn hanya menatap Marine dengan tatapan datarnya yang biasa. Marine menundukan kepala berusaha menyembunyikan wajah meronanya.
Bronn menyelamatkan Marine tadi malam yang membuat Marine semakin membencinya.
Karena bagi Bronn, tidak cukup hanya mengacuhkan Marine setelah inisiasinya. Seakan laki-laki yang dulu Marine kenal telah hilang selamanya ketika Bronn pergi menjalankan tes tersebut, dan sebagai gantinya muncul pria jahat yang hanya mendapat kesenangan dari menyakiti Marine.
Seseorang yang hanya dalam semalam meruntuhkan kepercayaan yang telah mereka berdua bangun selama bertahun-tahun bagaikan palu meremukkan tulang.
Semua bermula ketika Marine mencarinya, muak karena diabaikan, dan bersikeras untuk mendapatkan jawaban. Marine menemukan Bronn di geladak kapal, sedang berteduh di bawah layar sambil berjudi bersama sekelompok awak lain, dengan meneguk rum di tangan mereka rum bagaikan air buat mereka.
Marine meminta waktunya untuk berbicara, dan ketika Marine di abaikan, Marine mencoba memerintahnya dengan menggunakan kekuasaan sebagai putri sang Kapten kapal. Awak kapal yang lain hanya tertawa, kemudian menyebut Bronn sebagai peliharaan Marine. Marine masih ingat tatapan Bronn pada saat itu penuh dengan amarah. Terlihat begitu jelas kalau Bronn tidak akan membiarkan Marine lolos.
"Aku kaget kau bisa berkeliaran di sini." Suara Bronn lebih tajam dari pedang mana pun. "Padahal sekarang sedang hujan."
Marine pura-pura tidak mengerti. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
Lalu Bronn berdiri, diikuti teman-temannya, mereka begitu cepat memposisikan tubuh mereka mengelilingi Marine sampai Marine terpojok di pinggir kapal.
"Maksudku, bukanya kau takut air?"
Awak yang lain kembali tertawa, salah satu dari mereka berkata. "Kau, anak perempuan Kapten, takut dengan air?"
"Ini waktunya dia belajar berenang. Bukan begitu Bronn?"
Marine menatap ke arah Bronn dengan mata berair, masih tidak percaya kalau Bronn membuka rahasianya.
Tanpa basa basi Bronn melempar Marine keluar kapal.
Mulut Marine masih menganga ketika badannya menabrak permukaaan air, jika saat itu tak ada Grace yang menolong Marine bisa di pastikan nasib Marine.
__ADS_1
Di saat itu Marine sadar, kalau dia bukan apa-apa. Tidak ada lagi sahabat lama yang dulu dia miliki. Andaikan Bronn di berikan pilihan Marine atau para Snake, Bronn sudah pasti akan memilih Snake.
Marine mengingat kejadian itu rasa sakit dalam hatinya semakin menjadi-jadi.
Sekarang ketika badan mereka bersentuhan, Marine sadar akan pikirannya.
"Sebaiknya aku pergi sedirian." Marine berusaha tenang mengatur intonasi suaranya.
Marine melangkah lebih cepat dengan muka yang sedikit memerah. Marine merasa aneh dan lega setelah ia sampai di pintu kabin ayahnya yang seharusnya dia merasa takut.
Kapten sedang duduk di atas perapian mewah, yang hanya digunakan sebagai hiasan ruang, Marine tidak pernah melihat ayahnya menyalakan perapian itu. Kapten sedang membaca buku dan Talon bertengger di pundaknya dan berkuak setelah menyadari kehadiran Marine.
Ketidaksenangan tampak di wajah kapten saat mengamati hidung Marine yang patah membuat Marine merasakan sedikit kemenangan. Anehnya, kelakuan Marine tadi malam lolos dari pandangan Kapten.
Meski begitu Marine tetap berhati-hati pada saat ini. Posisi Marine sangat tidak menguntungkan. Karena itu Marine hanya bersiap menerima celaan yang sudah pasti akan Kapten keluarkan.
"Ayo duduk bersamaku." Kapten menyuruh Marine duduk di depan meja dengan beberapa roti dan buah-buahan.
Marine melakukan yang Kapten perintahkan dan masih berusaha membaca isi pikiran Kapten.
"Tidak." Marine berusaha menjaga suaranya tetap datar. Walupun Marine tahu sejak lama dan berusaha berbohong depan ayahnya. Tapi mendengarnya secara langsung dari mulut ayahnya lebih menyakitkan dari yang ia duga.
"Sebaliknya, ayah memilikimu." Tatapan ayahnya penuh dengan kekecewaan. "Ayah tahu apa yang harus ayah lakukan untuk anak laki-laki. Tapi kau?" Kapten meraih sebuah apel dari atas meja kemudian mengusapnya di lengan bajunya.
"Mungkin ayah salah karena telah membesarkanmu layaknya anak laki-laki. Namun, hanya itu cara yang ayah tahu untuk membesarkan seorang Felon. Bagaimana ayahku membesarkanku, kemudian ayahnya dan seterusnya. Mungkin kau berpikir kalau ayah terlalu kejam, tapi masalahnya, Marine, seperti itulah ayah di bentuk. Semua yang ayah lakukan padamu telah di lakukan pada ayah."
Marine tidak pernah mendengar ayahnya bicara tentang kakek Marine. Tidak pernah, Marine hanya mendengar tentang kakeknya dari isu dan desas desus akan kekejamannya.
"Tapi kenapa? Ayah tidak melihat diri ayah ada padamu." Kata Kapten sambil mengamati apel yang mengilap di tangannya.
Marine dan ayahnya sama sekali tidak mirip. Gen Ibunya jauh lebih kuat dari ayahnya. Ayahnya tinggi Marine pendek, ayahnya berkulit putih Marine berkulit cokelat. Tapi bukan itu yang di maksud Kapten.
Marine tetap tidak membuka mulut dan tidak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Kau marah pada ayah?" Kata Kapten.
Suasana hati ayahnya yang berlawanan, perubahan arah pembicaraannya, semua tentang percakapan ini membuat perasaan Marine tidak enak.
"Kau marah karena ayah telah mengatur pernikahan antara dirimu dan Torin. Tapi ayah tidak merasa kalau kau mau menjadi penerusku sebagai Kapten kapal ini. Apa ayah salah?" Kapten memotong apel dan menawarkan sepotong ke Marine, Marine menolaknya dan sebagai ganti apel itu di berikan pada Talon.
Sudah saatnya Marine berbicara, dia harus membujuk ayahnya kalau ayahnya telah berhasil membesarkan seorang perempuan yang sekuat laki-laki.
"Ayah benar tentangku tidak mau menikahi orang asing." Marine memilih kata-kata dengan sangat hati-hati. "Tapi ayah keliru kalau berpikir telah gagal membesarkanku sebagai penerusmu."
Posisi seorang Felon selalu di turunkan dari generasi ke generasi, dan hanya bisa di patahkan oleh seseorang yang berhasil mengalahkan sang Kapten dalam pertempuran.
Keluarga Marine telah tak terkalahkan selama lebih dua ratus tahun. Marine membayangkan andaikan dirinya memimpin pasukan berdarah dinginnya sendiri, ia tidak mau menjadi mata rantai yang lemah, ia tidak mau menjadi Felon yang gagal mempertahankan kepulauan.
"Memilikimu di antara orang-orang kerajaan akan begitu menguntungkan. Kau bisa mendengar berbagai percakapan." Kata Kapten.
Marine menaikkan alis berkata. "Ayah mau aku menjadi mata-mata di istana?"
" Marine, ayah mau kau berguna. Hal ini akan menjadi misi resmi pertamamu sebagai anggota kapal ini, dan ayah pikir kau akan menyukainya. Mengingat kalau sejak lama kau selalu ingin tinggal di daratan. Dengan cara ini kita semua akan mendapat yang kita inginkan." Jelas kapten pada Marine.
"Kukira kita mengikuti perintah Raja, bukan mematai-matainya." dengan nada sedikit ragu Marine memberikan isi dalam pikirannya.
Ternyata pernyataan Marine salah. Kapten mengangkat piring dan melemparkannya ke dinding, membuatnya pecah berkeping-keping, Dengan murka Kapten berkata. "Kau adalah putriku, kau mengikuti apa yang aku perintahkan."
"Apa yang tidak ayah beritahu tentang sang Raja? Ayah tahu, ayah bisa mmpercayaiku." Marine berharap ayahnya mau jujur padanya.
Ayahnya menatap Marine penuh hinaan. "Kau selalu gagal dalam setiap ujian yang ayah berikan padamu. Kau berkata ingin menjadi penerusku tapi kau hidup dalam mimpi. Marine, kau pikir seoaran Felon dapat memimpin tanpa menodai tangan mereka dengan darah? Ayah hanya menemukan kelemahan dalam dirimu, sebuah ketidakmampuan untuk melakukan yang seharusnya."
Kapten berhenti sejenak dari pendapat tajamnya untuk menggigit apelnya dan kembali berkata. "Nikahi sang Pangeran, melaporlah kepadaku, buktikan kalau kau masih memilki kegunaan di sini, baru setelah itu kita membicarakan tentang kepercayaan."
Kapten membungkukan badan ke depan, menunjuk Marine dengan pisaunya. "Sedangkan masalah ini..."Kapten mengayunkan pisau tersebut ke arah hidung Marine. "Kau dilarang keluar dari kamar selama seminggu, mengerti? Jika sekali lagi kau berani melanggar perintah ayah dan mengacaukan salah satu misi ayah dengan kehadiranmu, hukumanmu jauh lebih berat dari ini."
Dengan kata-kata tersebut Kapten berdiri lalu memerintahkan Marine kembali ke kamar.
__ADS_1
Marine keluar dari ruangan dengan telinga yang merah penuh amara. Kekecewaan Ayahnya pada Marine tidak pernah sedalam dan sejelas ini. Mungkin ayahnya berusaha melumpuhkan dan membuat Marine menurut atau menakut-nakuti sampai Marine setia kepadanya.
Kapten berpikir kalau Marine tidak berguna. Meski begitu Marine tahu sesuatu sedang terjadi. Kalau ayahnya tidak mau memberitahu ke Marine, maka Marine akan mencari tahu dengan caranya sendiri.