Penguasa Laut Timur

Penguasa Laut Timur
Bab 5


__ADS_3

"Apa ini waktu yang tepat?" Kata Grace menunjukkan ekspresi kalau mereka berada di tengah pertempuran dan badai yang bergejolak. "Ada yang lebih penting yang harus di bicarakan, kau ikut denganku." Grace membawa Marine ke kamar.


Marine menengok ke belakang untuk melihat Bronn, tapi Bronn sudah pergi, menghilang di antara orang-orang.


Marine berjalan tatapannya malah terpaku pada mayat seseorang pelaut yang bukan salah satu dari anggota Snake. Tergeletak dengan kepala menghadap ke atas, bajunya terbuka, dan Marine yakin melihat mayat tersebut mengenakan lambang armada kerajaan.


Tidak masuk akal. Mereka adalah sekutu, bukan musuh, walaupun hubungan tersebut tidak selalu mulus, Marine menggerutu dalam hati.


Sudah lama sejak terakhir kali seorang Felon memimpin armada kerajaan. Sekarang Felon bekerja bersama mereka untuk menjaga kepulauan. Mereka menegakkan kehormatan kerajaan sedangkan Felon mengatasi tugas yang kurang pantas dikatakan di depan umum.


Sering kali Felon tidak ikut campur urusan satu sama lain dan misi Felon tidak pernah saling tumpah tindih dengan mereka. Ketika sang Raja memberikan perintah, Felon melaksanaknya, dan gantinya Felon dan anggota snake diperbolehkan melakukan apa pun yang Felon inginkan untuk mencapainya dan yang ayah Marine inginkan adalah untuk ditakuti.


Mereka yang dari Armada utama kerajaan lebih senang kalau pasukan snake Felon tidak ada.


Meski begitu, sang Raja merasa harus memilki pasukan yang kapan pun siap melaksanakan perintah-perintah kotornya. Felon mungkin tidak menggunakan taktik dan strategi yang sama, tapi Felon dan mereka memilki satu tujuan untuk melindungi Raja dan menjaga perdamaian.


Bagimana bisa salah satu dari mereka terbaring tak bernyawa di atas dek Maiden?


Saat Grace dan Marine sudah berada dalam keamanan kabin Marine, Grace mulai berbicara. "Apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada, aku baik-baik saja." Marine mengambil sapu tangan dan menekannya keras ke hidungnya.


"Biarkan aku melihatnya." Grace memajukan badan untuk melihat kondisi Marine.


Grace menghela nafas "well, sudah jelas hidungmu patah, tapi setidaknya ini bukan yang terburuk. Kalau saja Bronn tidak melihatmu..." Suara Grace semakin pelan.


"Apa yang sedang terjadi di luar sana?" Tanya Marine, masih berharap mendapat penjelasan akan apa yang ia lihat tadi, dan berharap Grace lah yang akan memberitahunya.


"Perintah dari Raja," Kata Grace. "Sang Pangeran yang menyampaikannya ketika dia di sini. Beberapa pencuri yang perlu diberi pelajaran, kami berhasil mengejar mereka jauh lebih cepat dari yang diharapkan dan aku belum sempat memberitahumu."


Marine bisa mendengar kebohongan meski itu keluar begitu mulusnya dari mulut Grace. Karena tidak mungkin sang Pangeran meminta Felon menyerang kapal ayahnya sendiri yaitu sang Raja dan Marine tidak bisa memikirkan alasan kenapa Grace melakukannya.


Dengan menelan ludah, Marine mengurunkan niatnya, sebaiknya dia tidak mencari tahu maksud dan kebohogan Grace dan apa yang sedang ayahnya rencanakan. Di sisi lain, rasanya menyakitkan melihat Grace berbohong padanya seperti ini.


"Apa sebaiknya kita kembali ke sana?" Dengan tenang Merine berkata. Marine sangat pintar menyembunyikan emosinya.


"Aku iya. Tapi kau, tetap di sini. Apa yang harus ku katakan pada Pangeran Torin kalau kau terbunuh pada hari pertunanganmu?"


Marine hanya memalingkan mata, dan tidak menyangkal. Mereka berdua tahu kalau sejak awal Marine seharusnya tidak berada di atas sana.


Saat Grace pergi, Marine naik ke kasur gantungnya. Namun dengan badai yang masih mengguncang Maiden, ditemani dengan teriakan sekarat pria dan wanita di atas, tidur merupakan hal terakhir yang bisa ia lakukan.


Sebenarnya Marine membenci ketika dia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun berbahaya, setidaknya dia cukup bisa mengendalikan situasi ketika bertarung. Perintah ayahnya sama sekali tidak membuatnya aman, membuatnya kesepian dan tidak berdaya.


Setiap kali Marine menutup mata, ia selalu melihat pria yang mati tadi, yang jelas-jelas merupakan awak kapal kerajaan. Walupun Marine mencobanya, ia tidak bisa menemukan alasan yang meyakinkan kenapa awak kapal kerajaann itu bisa ada di sini.

__ADS_1


Marine terus menggenggam erat-erat pisau di sisinya. Ia terjebak. Terjebak di antara sebuah peperangan yang ia tidak tahu sedang berlangsung. Tidak ada yang bisa ia percaya, ia merasa ia sendirian.


..........


Ketika pagi menjelang, semua kembali tenang dan selagi para awak sibuk memamerkan harta rampasan mereka, di pagi buta Marine beranjak menuju ruangan Milligan, ahli bedah di kapal ini.


Hidung Marine semakin membengkak dan berharap sang ahli bedah bisa membatunya, walaupun bisa di bilang wanita itu lebih ahli mematahkan tulang dari pada memperbaikinya. Pemahamannya akan anatomi manusia serta keahliannya dalam menggunakan benda tajam membantunya menjadi dokter yang hebat, serta seorang interogator. Tidak banyak yang bisa tahan dengan siksaanya.


Sudah lama sejak Marine mengunjunginya, padahal dulu tak terhitung berapa kali Marine memghabiskan waktu di ruangannya. Aroma obat yang di masak beserta daging yang membusuk tercium jauh sebelum Marine sampai di sana.


Ketika Marine muncul dari balik pintunya, Milligan hanya menggerutu tidak peduli, kepalanya tetap terfokus kepada apa yang sedang dia kerjakan. Bukan hanya Marine yang ke sini untuk mendapatkan pengobatan, banyak awak yang terluka setelah pertempuran tadi malam dan Milligan kewalahan.


"Oh, kau ya?" Jelas sekali Milligan begitu senang melihat Marine. "Jangan hanya diam di sana, ayo bantu aku." Milligan memanggil Marine.


Dengan malu-malu Marine memasuki ruangan. Rasa aneh yang di rasakan Marine kembali ke sini lagi, setelah menghindarinya sejak lama. Meski begitu, seketika perasaan itu hilang karena panci mendidih di perapian menarik perhatian Marine.


"Ini bahan obat penahan sakit, jelas-jelas belum di berikan kepada pasiennya."Marine menghirup aromanya dan berbicara sepelan mungkin.


"Jangan keluyuran, Nak." Tegur Milligan.


Sadar kalau ia harus membantu sebelum ia diberi obat. Marine mendekati Amos, salah satu pasien yang memiliki cidera pada jari kelingking di tangan kirinya. Tulangnya mencuat keluar dari kulit jarinya dan akan menimbulkan infeksi jika tidak di rawat secepatnya.


Dengan merobek selembar kain dan mengambil sejumlah papan kayu, Marine membuat bidai. Jika Marine bis menekan kembali tulang tersebut, memberikannya salep, kemudian meluruskannya, Marine yakin Amos akan cepat sembuh.


Marine berusaha untuk tidak bertanya asal luka tersebut. Menurutnya semakin sedikit ia mengetahui tetang kejadian tadi malam semakin baik.


Namun, selagi Marine membersihkan permukaan kulit di sekitar luka Amos dengan air garam, sebelum ia memperbaiki tulangnya, Miligan mendekat dan mendorong Marine menjauh.


"Apa yang kau lakukan?"


Sekali lagi Marine menjelaskan rencana pengobatannya dan Milligan hanya menyimpitkan mata.


"Apa kau lupa akan ajaran yang kuberikan?" dengan ekspresi jijik melihat cara pengobatan Marine.


Dan tanpa sepatah katapun Milligan mencengkaram tangan Amos, membawanya ke meja kerjanya yang kotor, meletakkannya dengan kasar, melebarkannya sebelum mengambil pisau bedah dan menebasnya.


Badan Marine tidak bisa bergerak karena syok, melihat cara Milligan mengobati pasiennya. Tidak ada yang lebih baik daripada ini untuk mengingatkan Marine kenapa ia berhenti ke sini.


"Pargi!" Milligan mengusir Amos dari ruangannya.


Marine menebak Amos akan pingsan sesampainya di gladak. Itu juga jika ia bisa sampai di sana.


"Ada perlu apa kau kesini?" Bertanya dengan acuh tak acuh.


"Aku butuh sesuatu untuk hidungku."

__ADS_1


Milligan memegang dagu Marine, kemudian memutar kepala Marine ke kanan dan ke kiri sebelum menggerutu. "Sepertinya patah."


"Ya, aku tahu."


Milligan meludah ke lantai. "Tidak usah khawatir, tunggu saja sampai sembuh dengan sendirinya."


"Aku tidak akan meninggalkan ruangan ini sebelum kau memberiku sesuatu untuk mengatasi rasa sakitnya."


Milligan lupa kalau Marine tahu orang seperti apa dia. keinginan Milligan agar Marine cepat-cepat keluar dari sini, mengalahkan ketidakpedulianya untuk membantu Marine.


"Kau tahu di mana aku menaruh obatnya." Akhirnya Milligan berkata. "Ambilah dan cepat keluar."


Marine melakukan yang Milligan katakan, mengambil sebotol salep dari salah satu rak berantakannya dan pergi sebelum Milligan berubah pikiran.


Tidak ingin menjadi pusat perhatian, tapi muak dengan empat sisi diding di kamar, Marine beranjak menuju tempat persembunyian favoritnya di bawah gudang kapal, tempat layar dan leberang cadangan disimpan. Ada sebuah celah kecil di antara papan kayu yang cukup untuk di masuki tanpa terlihat dari luar.


Salep ini terbuat dari ekstrak semak hitam yang hanya tumbuh di Pulau Kedua.


Dan ketika Marine mengoleskannya ke hidung, rasa dingin seketika menusuk wajahnya yang membuatnya mati rasa. Ia juga mengoleskan ke luka bakarnya. Setelah merasa lega, Marine mengambil jarum jahit dan benang dari kantong, bergegas memperbaiki gaunnya sebelum robekannya tersangkut lagi di benda lain.


"Kau tahu masih ada tempat yang lebih nyaman dari sini, kan."


Marine terkejut tidak menyadari kedatangan pemilik suara itu, hingga tidak sengaja menusuk jarinya dengan jarum.


Penuh kotoran dan keringat, Bronn terlihat jelas sedang sibuk memperbaiki bagian kapal yang rusak sejak badai tadi malam.


kaos campang-campingnya memperlihatkan bekas luka yang menodai tubuh sempurnanya, membuat Marine sadar diri.


Rambut Marine begitu berantakan dan wajahnya hampir saja memerah, jika ia tidak menyadari rambut Bronn lebih liar darinya. Keinginan untuk mengacak-acak dengan jarinya membuatnya terkejut. Ia menggelengakan kepala, merasa jijik dan mual akan keiinginan yang muncul dari dalam pikirannya.


Marine menatap wajah Bronn, mencari tahu apa Bronn memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, mata kaku Bronn hanya menatap lurus seperti batu tanpa emosi. Tiba-tiba Marine ingin Bronn pergi, Marine membencinya karena telah mengusik perasaanya, membencinya karena telah mengetahui tempat berlindung rahasianya. Tapi setidaknya ia berutang budi kepada Bronn setelah kejadian tadi malam.


"Dengar, aku berterima ka..." Marine baru saja mulai berbicara ketika Bronn memotong kata-katanya.


"Kapten sedang mencarimu."


Tentu saja. Untuk apa lagi Bronn datang mencari Marine?


Ayahnya merupakan orang terakhir yang ingin Marine temui pagi ini, tapi tidak dengan bengkak di hidungnya yang belum sembuh, sebuah bukti ketidakpatuhan Marine kepada ayahnya. Dan Marine hanya bisa memikirkan satu alasan kenapa ayahnya memanggilnya.


"Dia mengetahui kejadian tadi malam?" Tanya Marine meski sudah tahu jawabannya.


Bronn mengangguk. "Kita sebaiknya tidak membuatnya menunggu."


"Tidak perlu kau katakan juga aku sudah tahu." Marine beranjak dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


__ADS_2