
Ayunan keras membuat Marine terbangun dari kasur gantungnya. Badai sedang mengamuk, dan Marine bisa mendengar teriakan para awak yang sedang mengendalikan kapal di atas.
Marine menutup mata rapat-rapat, berharap ini semua akan cepat berakhir. Perintah ayahnya jelas, dia tidak di perbolehkan keluar kamar pada malam hari, dengan alasan apa pun. Dan setiap kali terjadi badai pada malam hari, Marine selalu takut akan terjebak tak berdaya di bawah dek ketika kapal ini tenggelam.
Namun, ketika Marine kembali berbaring, berusaha mengabaikan cuaca di luar, suara lain terbawa oleh angin. Suara besi berbenturan. Marine beranjak dari kasur, menajamkan telinga, dan setelah beberapa saat, mengambil pakaian serta pisaunya lalu bergegas menuju dek.
Salah satu perintah ayahnya yang lain adalah ketika mereka sedang menjalankan misi, Marine harus tetap berada dalam kabin, demi keselamatnnya. Meski begitu, Marine berpikir tak ada yang memberitahunya kalau saat ini mereka sedang berada dalam misi, jadi Marine menganggap seseorang telah menyerang kapal, sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Marine tidak bisa membayangkan orang seperti apa yang berani menyerang sang Felon, dan tidak mungkin Marine bisa diam saja di kamar ketika kapal mereka perlu di pertahankan. Lagi pula secara teknis Marine tidak melanggar perintah ayahnya karena ayahnya tidak pernah memberitahu secara langsung apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Tetap saja Marine tidak ingin ketahuan oleh ayahnya.
Kedatangan Marine disambut oleh kekacauan. Sebuah kapal telah merapat di salah satu sisi kapal Maiden, dengan tambang berkait yang menjaga agar kapal tersebut tidak kabur, sementara Kapten dan awak lainnya menyerang mereka.
Ini jelas kekeliruan Marine, entah karena alasan apa tidak ada yang memberitahukannya akan tugas ini. Namun tidak diragukan lagi kalau Maiden lah yang menyerang kapal tersebut.
Hujan deras menutupi cahaya bulan, dan kapal Maiden miring begitu tajamnya sehingga Marine tidak bisa berdiri tegak. Mereka yang sedang bertarung tidak menyadarinya.
Marine menyisir pandangan melihat ke kecauan di depannya. Ia melihat ayahnya berada di atas geladak melawan tiga orang sekaligus, pedangnya dengan mudah menepis serangan lawan, mempermainkan ketiga orang malang itu, berpikir kalau mereka memiliki kesempatan bisa menang dari sang Felon. Bahkan sebelum Marine berpaling ayahnya telah mengalahkan tiga orang itu dengan keji dan efisien.
Cleeve sedang terpojok di tiang utama, tanpa senjata, lawannya mengangkat pedang sebagai serangan terakhir. Namun Cleeve tidak berencana untuk tumbang begitu saja.
"Mati kau!" Dengan liar Cleeve menerkam leher lawannya, mengoyak tenggorokan lawan dengan giginya. Darah mengucur begitu jauh hampir mengenai Marine.
Marine tersentak menyaksikan aksi biadab tersebut, Marine berpikir tidak akan berada dekat dengan Cleeve dan jika ayahnya mendapatinya di sini mungkin saja dia akan mengalami hal yang sama.
Baru saja Marine akan kembali ke kabinnya, ketika cahaya kilat menyinari tumpukan peti kayu, menampakkan sepasang mata lebar berkilau mengintip di baliknya.
"Toby, apa yang sedang dia lakukan di sini?" Marine menuju tempat Toby bersembunyi, dengan membungkuk mencoba meraih tangan Toby, bocah kecil yang menjadi pelayan di Maiden dan satu-satunya bocah yang baru enam bulan bergabung di atas kapal Maiden.
" Ayo ikut denganku!" Teriak Marine agar suaranya dapat terdengar di antara badai.
Bocah itu menggelengkan kepala, terlalu takut untuk bergerak.
"Semua akan baik-baik saja," Kata Marine. "Aku janji." Marine kembali meyakinkan Toby.
Untuk beberapa saat, Toby meraih tangan Marine keluar dari persembunyiannya.
Mereka berdua lari menuju lubang palka dan Marine menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi bocah itu dari kekacauan di sekitar mereka.
Dengan terburu-buru Toby turun ke bawah dek. Sebelum Marine bisa mengikutinya. Seseorang menangkapnya dari belakang.
Sebuah tarikan kuat dan asing menarik Marine. Ia menendang dan meronta agar bisa lepas dari cengkraman orang itu.
Posisi Marine tak memilki cukup pijakan untuk melepaskan diri.
__ADS_1
Marine sadar dia masih memegang pisau di tangannya.
"Kau berani!" Mata Marine dingin aura Felon pada dirinya menyembur keluar dari tubuhnya.
Dengan satu gerakan kilat Marine menebas urat nadi orang itu. Seketika orang itu melepas cengkaramannya.
Dan Marine memutar badan untuk menghadapi orang itu.
Padangan Marine menatap lurus ke perut seseorang, dengan menelan ludah, Marine menengok ke atas. Ini pertama kalinya Marine melihat pria besar dengan terlihat kekar seperti batu.
"Ku kira kau wanita lemah, menarik...ini menarik." Pria besar itu menatap pergelangan tangannya, darah mengalir melewati jemarinya. "Jangan berpikir dengan luka kecil ini kau bisa lolos!"
Pria besar itu menerjang ke arah Marine, dengan lincah Marine menunduk di antara kaki pria besar itu menyayat betisnya sembari memajukan badan.
"Aaaahh!" Erangan keluar dari mulut pria besar itu, tapi dia sama sekali tidak goyah.
Pria itu kemudian berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah Marine.
"Tidak semudah itu kau menundukkanku!" Kata Marine dengan mudah mengihindari pedang pria itu.
Marine melihat pisaunya, pisau ini tidak mungkin bisa menang melawan pedang pria itu.
"Aku harus menyingkirkan pedang itu."Marine mendengus.
Namun, dengan tangan besar pria itu dia menangkap pergelangan tangan Marine dan mengangkat tubuh marine.
Marine berusaha melepaskan diri, tapi kaki Marine tidak dapat menyentuh lantai.
Marine mencoba memukulnya dengan tangan kiri, biarpun tangan kiri tidak sekuat tangan kanannya.
Tapi pria besar itu menangkap tangan kiri Marine juga
"Gadis kecil, bagaimana rasanya?" Senyum mengejek di sudut mulut pria besar itu.
Pria besar itu memgang luka bakar pada tangan Marine. Seketika Marine merasakan nyeri pada tangannya yang hampir membuatnya pingsan.
"Aku putri dari Felon penguasa kepulauan timur tidak akan mudah menyerah padamu!" Marine mengunci gerakan pria itu.
Mereka berdua saling mengunci gerakan masing-masing. Tapi walau Marine memiliki senjata, setelah melihat badan besar pria ini, semangatnya menurun, ia semakin yakin kalau ia akan kalah.
Saat Maiden bergoyang tertiup angin kencang, Marine menyadari tumpukan gentong kayu di dekat mereka. Guncangan badai telah melonggarkan ikatannya dan Marine bisa tahu sebentar lagi gentong itu akan terlepas.
Sambil menggertakkan gigi, Merine mengerahkan seluruh tenaganya untuk terus mengunci gerakan pria besar itu. Agar ketika gentong kayu itu terlepas, gentong itu akan berguling ke arah mereka.
__ADS_1
Perhatian pria besar itu teralihkan membuat Marine bisa melepaskan tangan kanannya. Meski begitu genggaman pria besar ini pada tangan kiri Marine yang terbakar masih terlalu kuat dan rasa sakit yang Marine rasakan membuatnya tidak cukup kuat untuk menarik tangan kirinya.
Sehingga Marine tetap berdiri di depan pria besar itu, ketika gentong-gentong tersebut meluncur ke arah mereka, melempar badan mereka ke pagar.
Sisi kapal ini begitu miring dan dekat dengan permukaan air sehingga momentum dari tabrakan tersebut mementalkan badan mereka semakin jauh dan sebelum Marine bisa memegang apapun, Marine telah terlempar ke luar kapal.
Hantaman dari tabrakan tersebut mengeluarkan udara dari paru-paru Marine, membuatnya tak sanggup berteriak saat tubuhnya melayang di udara.
Marine mempersiapkan diri untuk merasakan dinginnya air laut, tapi hal itu tidak pernah datang. Butuh beberapa saat sebelum Marine menyadari apa yang terjadi. Tubuh Marine tergantung terbalik, ditahan hanya dengan gaun yang tersangkut di laberang kapal, dengan punggung yang bersentuhan dengan sisi kapal.
(Laberan: Kumpulan tambang kabel, dan rantai pada sebuah kapal yang di gunakan untuk menahan tiang layar).
Sedangkan pria besar sebagai lawan Marine tidak seberuntung Marine, lautan telah menelannya. Akan tetapi kelegaan tersebut terpecahkan oleh suara robekan kain. Dengan panik Marine mencoba memutar badannya, tapi guncangan keras kapal disertai dengan rentetan ombak yang memukul wajah Marine mengancam untuk menenggelamkannya tanpa perlu berada di dalam air.
Kepanikan naik ke tenggorokan bersama air asin yang memasuki hidungnya. Tidak ada yang tahu posisi Marine di sini. Marine tidak bisa berteriak. Dan ia sadar hanya tersisa sedikit waktu sebelum gaunnya terlepas dan ia terjatuh menuju kematian yang paling ia takuti.
Sebagai perjuangan terakhir Marine mengayunkan tubuh sekuat tenaga untuk mengenggam sesuatu. Tapi hasilanya, dia malah menabrakan wajahnya ke sisi sang Maiden. Darah bercampur air mengalir ke dalam paru-parunya.
Setengah buta serta tersedak, Marine hampir tidak mendengar suara yang memanggil namanya. Ia bahkan berpikir kalau itu halusinasi sampai ia merasakan tarikan kencang dari gaunnya, sebuah tangan memegang kakinya, dan suara panggilan tersebut semakin lama semakin jelas.
Dengan menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, Marine memutar tubuh ke atas dan melihat Bronn mengulurkan tangannya, suaranya tertutup oleh air yang menyumbat di telinga Marine. Marine mengulurkan tangan sejauh yang ia bisa sampai kulit mereka bersentuhan.
Hanya itu yang Bronn butuhkan untuk menarik badan Marine ke atas dan dalam sekejap, Marine membungkuk di atas dek. Tangan Bronn masih memegang tangan Marine, seakan-akan waktu berhenti untuk beberapa detik.
Marine tersadar dan mendorong Bronn menjauh. Bronn telah kehilangan hak untuk menyentuhnya sejak lama dan walaupun Bronn baru saja menyelamatkan nyawanya, Marine sama sekali tidak menyukainya.
"Apa-apaan...?" Kata Bronn, hampir kehilangan kesimbangan. Terlihat jelas dia menginginkan setidaknya sedikit rasa terima kasih dari Marine.
"Aku tidak butuh pertolonganmu." Sejujurnya hal itu tidak sepenuhnya benar, dan Marine semakin kesal karenanya.
Grace menghampiri, dengan cepat menghentikan aliran darah di hidung Marine, yang Marine yakin telah patah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Grace terkejut setara dengan kekhawatirannya setelah melihat Marine dalam kondisi seprti ini.
"Apa kau sudah gila?" Bronn tidak memperdulikan keberadaan Grace, amarahnya tertuju hanya pada Marine. "Aku baru saja menyelamatkan nyawamu."
"Apa itu alasanmu melakukannya? Agar aku berutang padamu? Bagaimana kau tahu aku terlempar ke luar kapal?" Marine merasa bersalah ketika kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, tapi dari sekian banyak orang yang bisa menolongnya, kenapa harus Bronn?
"Kau tidak masuk akal!" Teriak Bronn pada Marine. "Jadi kau lebih memilih aku membiarkanmu mati?"
Hai, setidaknya ini bukan pertama kalinya kau melakukan itu, Kata-kata ini terngiang dipikiraan Marine namun yang bisa ia katakan hanya, "Bagaimana kalau kau jauh-jauh saja dariku?"
Bronn memgerutu. "Dengan senang hati. Pangeranmu akan sangat senang mendegarnya."
__ADS_1
Grace berdehem sebelum memberi Marine tatapan cemas sekaligus frustasi dan membantu marine berdiri.