Penguasa Laut Timur

Penguasa Laut Timur
Bab 2


__ADS_3

Seorang wanita berjalan ke arah Marine lalu berdiri di samping Marine menatap laut, ekspresinya suram.


Wanita itu memiringkan kepalanya, yang menyerupai macan kumbang, bola mata hitam, dan tatapan yang tajam.


"Ada yang tidak beres?" Marine mengisi kesunyian.


"Aku mendengar tentang Anders?"


Marine hanya mengangkat bahu, sebagai jawaban dari pertanyaan wanita itu.


Wanita itu melihat Marine berkata, "Kau tidak melakukannya?"


"Diantara semua anggota snake kamu lebih mengenalku, Grace."


Wanita itu namanya Grace, Dia lah yang telah melatih Marine dan tahu perkembangan kemampuan Marine.


Grace lebih tua tujuh tahun dari Marine, postur tubuh yang sempurna di balut pakaian seragam yang ketat mempermudah gerakannya. Grace anggota wanita paling di hormati di atas kapal Maiden, tidak ada senjata yang dibawa Grace. Karena dia lah senjatanya lincah, tangguh dan mematikan.


"Ku dengar kita akan kedatangan tamu." Marine mengubah topik pembicaraan.


"Benar sekali, kau harus segera bersiap."


Marine mengangkat gaun di tangannya, "Kau sudah liat pakaian yang harus ku kenakan?"


Grace menaikan alisnya lalu mengambil gaun tersebut dari tangan Marine. "Ayolah, kubantu kau memakainya."


Ketika Marine dan Grace berjalan ke dek bawah, Marine melirik ke arah Grace, "Memanganya siapa tamu penting yang harus kita hibur ini?"


"Kapten tidak memberitahumu?" Ekspresi Grace terkejut berkata kembali. "sepertinya Pangeran Torin akan memberkati kapal kita dengan kehadirannya. Dan sebelum kau bertanya, aku tidak tahu kenapa?"


"Kunjungan dari kerajaan?" Marine tahu benar bagaimana cara ayahnya mendapatkan perintah dari sang Raja.


Kapal Maiden selalu berlabuh di pulau pertama ketika ayahnya harus menghadiri pertemuan atau mendapat perintah baru. Ayahnya selalu pergi sendirian, tidak ada satu pun awak maiden menemaninya.


Raja lebih senang melakukan bisnis di belakang layar, dan Marine yakin Pangeran pun tidak tahu banyak tentang perintah-perintah kejam yang Kapten terima dari ayahnya.


Siapa yang memutuskan pertemuan ini? Kapten atau sang Raja? Dan kenapa sekarang?


Tidak banyak orang yang mengenal sang Pangerang, dan Pangeran merupakan laki-laki misterius.


Banyak desas-desus tentang dia, ada yang bilang Pangerang pria penakut yang memalukan nama keluarganya dengan bersembunyi dari masyarakat.


Sedangkan yang lainnya berkata kalau dia merupakan seorang terpelajar yang bagitu mencintai buku-bukunya. Bahkan ada juga yang berkata dia secara rahasia bertarung melawan kekuasaan ayahnya menggunakan nama samaran.


Apapun kisah yang sebenarnya satu hal yang pasti sang Pangerang jarang terlihat di depan umum.


"Marine!" Grace membuyarkan pikiran Marine.


Kedua wanita ini masuk ke dalam kamar Marine, ruangan sempit ini lebarnya hanya sepanjang tempat tidur, perabot yang ada di dalam ruangan ini bisa di hitung jumlahnya.


Grace membungkuk mengambil gaun yang baru di lempar marine ke lantai. "Dari mana Kapten mendapatkannya?"


"Aku tidak ingin tahu." Marine tidak ingin memikirkan asal muasal gaun itu. Dia merenggangkan badan di atas tempat tidur.


Grace menyeringai sambil mengayunkan gaun itu. "Dia tahu kalau butuh lebih dari sekedar gaun untuk membuatmu terlihat pantas, bukan?"


"Bantu aku Grace memakai gaun ini, semakin cepat semakin baik." Marine memutar bola matanya.


Grace membantu Marine memasang gaun tersebut yang ternyata memiliki beberapa lapis rok dan korset yang begitu ketat.

__ADS_1


"Mungkin aku perlu melakukan sesuatu terhadap rambutku?" Jemari Marine mengangkat helaian rambut Keritingnya.


"Rambutmu sudah cukup bagus seperti ini."


Marine tidak memperdulikan perkataan Grace, ia tetap menyusun rambut kusutnya dan Menguncirnya ke atas, membentuk suatu tumpukan rambut yang tidak enak di lihat.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Marine.


Melihat Grace yang berada di belakangnya, Marine bisa merasakan suasana hati Grace berubah, "Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya berpendapat kalau rambutmu sebaikanya di biarkan saja. Lagi pula ayahmu tidak masalah dengan itu dan kita sebaiknya tidak memberinya alasan baru agar dia bisa marah bukan?"


"Kau benar." Marine membuka tumpukan rambutnya, membiarkan rambut keritingnya terurai turun.


Grace berpindah ke depan Marine, untuk sesaat dia terlihat melamun, sebelum kembali fokus dan berkata, "Kita lihat bagaimana Kapten akan mengeluh setelah melihatmu seperti ini."


"Terima kasih, tanpamu aku pasti kewalahan menangani tumpukan kain ini."


"Kita sebaiknya menambah waktu latihanmu." Grace berkata sambil memikirkan sesuatu.


Marine tidak menanggapi ucapan Grace bagi Marine latihan selama apapun tidak akan memecahkan masalahnya.


"Marine, tidak ada salahnya percaya akan sihir."


"Biarpun hal itu hanya cerita bodoh belaka?" Marine mengangkat alisnya.


Grace membentuk senyum nakal. "Tidak ada yang namanya cerita bodoh."


"Apa yang kau pikirkan Grace?"


" Bukankah sebentar lagi kau akan menghadapi ujian ritual inisiasimu?"


"Kau tidak boleh bertanya, dan aku tidak boleh menjawab."


"Tetap di sini sampai Kapten memanggilmu." Grace melangkah keluar kamar.


Marine duduk di sudut tempat tidurnya, berpikir apa yang lebih menakutkan setelah upacara ritual itu.


Berapa lama sampai aku menerima perintah pertamaku? Dan seperti apa? Apakah aku akan di suruh membunuh seseorang, dari kemampuanku tentu saja aku bisa melakukannya, tapi bisakah aku mengambil nyawa seseorang begitu saja? Apa aku dapat merenggutnya hanya karena itu merupakan perintah dari satu orang.


Namun, menghindari permintaan ayahku berbeda dengan menentangnya sebagai kapten kapal, yang menerima perintah langsung dari sang Raja. Mungkinkah ayahku benar kalau aku terlalu lemah.


Pikiran Marine merayap jauh sebelum kembali fokus pada kedatangan sang Pangeran.


Kapal Maiden semakin dekat dengan perbatasan tak kasatmata yang memisahkan perairan Barat dan timur.


Sebuah garis yang tidak boleh di lewati kapal Maiden. Kepulauan Barat tidak di pimpin oleh seorang Raja atau siapa pun, dan sejak perang yang memecah persatuan Kepulauan Dua Belas terjadi, Kepulauan Barat Perlahan-lahan runtuh. Yang terisa hanyalah cerita-cerita yang di bisikan dari generasi ke generasi.


Cerita tentang tiadanya hukum, suku menakutkan dan mahluk jahat dari laut dalam. Bahkan ada yang mengatakan kalau para penyihir yang masih tersisa bersembunyi di Barat.


Semua orang bernapas lega ketika mereka menjauh dari perairan Barat. Semua orang kecuali Marine.


Marine sangat tertarik dengan apa yang ada di seberang perbatasan, sama seperti ketika ia kecil. Ia salalu meminta Grace menceritakan kisah-kisah tentang perairan Barat.


Misteri yang menyelubungi keenam pulau yang terlupakan, menarik rasa keingin tahu Marine sekuat membuat orang lain menjauh.


Perasaan yang Marine rasa mucul bukan dari keinginannya untuk berpetualang melainkan untuk kabur dari kenyataan.


Berapa jam berlalu, ketukan terdengar di balik pintu, suara itu menyelamatkan Marine dari pikiran-pikiran buruknya.

__ADS_1


Marine melangkah membukakan pintu, terlihat Bronn berdiri memberikan tatapan aneh ke arah Marine.


Marine sadar kalau Bronn sedang menatap gaun yang ia kenakan, Bronn susah payah untuk tidak tertawa, " Ada apa?"


"Pangeran Torin sudah dekat, kau di panggil hadir di atas dek."


"Hore," Marine tak bisa menahan rasa gembiranya tatkala mendengar suara Bronn yang sudah lama membisu seperti batu.


Marine melihat Bronn tetap berdiri di depannya dan berkata," Tidak apa-apa, Aku tahu jalannya."


Bronn masih saja berdiri diam tanpa berkata apa-apa, membuat Marine jengkel dan mendorong Bronn menyingkir dari jalannya.


Bronn mengikuti Marine dari belakang, Merine mendengus, "Sejak kapan aku membutuhkan pengawal ketika berjalan di atas Maiden?"


Sesampainya di dek, Marine menyaksikan para kru kapal berdiri tegak dalam barisan lengkap dengan seragam dan tudung yang menutupi muka mereka.


Kapten berdiri siap menyambut Pangeran dengan Cleeve dan Ren di belakangnya sedangkan Grace jauh di sisi mereka.


Kapten menoleh ke arah Marine, raut wajahnya mengatakan kalau penampilan Marine sesuai yang dia harapkan.


"Ah Marine, akhirnya kau datang juga, kau terlihat memukau, putriku tersayang." Suara Kapten terlalu keras, suara itu sengaja di perdengarkan pada seluruh awak kapal.


Semua awak kapal melongo melihat penampilan Marine yang begitu mempesona.


"Terima kasih, Kapten." Marine menunjukkan sikap kalau saat ini dia baik-baik saja.


Sebuah kapal raksasa yang hampir sebesar Kapal Maiden, merapat di sebelah kapal tampat Marine berdiri. Mengibarkan panji kerajaan berwarna biru dan hijau bersama dengan bendera Kepulauan Timur.


Warna mencoloknya membuat kegelapan abadi yang memenuhi dek sang Maiden semakin terasa. Kecuali Marine yang bagaikan sinar mercusuar dalam gaunnya.


Ren dan Cleeve maju untuk menangkap tambang yang di lempar dari kapal kerajaan, menariknya agar para tamu bisa menaiki kapal Maiden.


Beberapa pengawal kerajaan naik terlebih dahulu dengan tombak dalam genggaman di depan dada mereka.


Marine membayangkan sosok Pangeran Torin, pria yang lebih tua, berperut lebar karena hidupnya selalu dimanja dan mungkin arogan.


Sesosok pria berjalan menuju barisan kapten, umurnya tidak jauh berbeda dengan Marine, penampilan penuh wibawa, fisiknya kurus kekar.


Caranya berjalan mencerminkan posisi yang dia emban, dan wajah tampannya terlihat kuat.


"Pangeran Torin," Sapa Kapten, melangkah maju dan menepuk dada sebagai tanda hormat. "Selamat datang di Maiden."


"Terima kasih, Kapten Alder," Balas Pangeran Torin dengan suara yang begitu halus."Tidak setiap hari aku bisa mendapatkan undangan makan malam di atas kapal paling menakutkan di seluruh Samudra."


"Kami sangat senang Anda bisa datang." Kapten berbicara hormat." Izinkan aku untuk memperkenalkan intenden kapal ini, Cleeve Kepala kelasi, Ren dan terakhir Bronn pembunuhku yang paling berharga.


Marine menoleh ke arah Grace untuk melihat bagaimana perasaannya di abaikan di depan umum seperti ini.


Grace merupakan salah satu anggota paling senior di kapal ini. Ini bukan pertama kalinya Kapten memperlakukan Grace seperti ini, karena dengan segala bakat yang Grace miliki, dia memiliki satu kelemahan yang fatal, dia seorang perempuan.


Semua perempuan di kapal ini harus bekerja lebih keras untuk mendapat pengakuan yang setara dengan laki-laki.


Pangeran Torin menundukkan kepala dengan sopan setelah pengenalan selesai. "Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua, walupun aku sudah tahu reputasi yang Anda miliki telah terdengar jauh di seluruh penjuru Kepulauan Timur. Namun aku bertanya-tanya, dimana tunanganku berada?"


Marine mendengar kata terkhir Pangeran Torin, ia menatap kedepan menunggu seoarang wanita cantik dan elegan untuk menyebarangi kapal dengan penuh pemintaan maaf yang manis karena sudah membuat Sang pangeran menunggunya, tapi yang Marine tunggu tak kunjung datang.


Kapten mengahadap ke arah Marine dengan tersenyum. Melihat senyum palsu sang ayah Marine mengerti sesuatu kalau tidak ada yang datang berarti Marine lah sang tunangan tersebut.


---------Bersambung--------

__ADS_1


*intendan adalah Jabatan di kapal yang berada tepat di bawah Kapten


__ADS_2