
Makanan yang di sediakan terbilang cukup bagus dari segi diplomasi, tapi tidak satupun dari makanan itu bisa di nikmati Marine.
Semewah apapun itu, dan meskipun Marine bisa menghabiskan seluruh rum di meja ini, tidak akan cukup menenangkan pikiran Marine.
Sepanjang perjamuan makan Kapten terus mengekangnya, menjaga agar Marine tidak berkelakuan buruk. Kapten tahu bagaimana perasaan Marine saat ini, Marine hanya bisa diam duduk dan memainkan perannya.
Marine melirik sejenak ke Pangeran Torin, tidak ada keakraban sama sekali. Sang Pangerang tidak pernah menyapa, memuji Marine. Seakan-akan Pangeran memainkan perannya seperti yang dilakukan Marine.
Ketika makan malam telah usai, Marine berpamitan lalu menyelinap pergi. Ia menaiki tangga menuju dek, naik ke buritan lalu menyandarkan tubuh di tumpukan tambang.
Setelah beberapa lama Marine bermain dengan pikirannya, ia menengok ke atas merasakan kedatangan seseorang. Bronn meninggalkan pesta, dia berdiri di atas pagar kapal, wajahnya menghadap ke laut. Dengan sengaja berdiri jauh, tapi cukup dekat untuk menjaga garak gerik Marine. Mungkin agar Marine tidak melakukan hal bodoh, mana mungkin Kapten mau kehilangan barang berharganya.
"Kau tahu tentang ini?" Marine tidak dapat menahan tuduhan dalam suaranya, walaupun sudah sekian lama mereka berdua bersikap layaknya teman.
"Kapten hanya memberitahu yang perlu di ketahui."
"Bagaimana denganku?" Marine melampiaskan emosinya kepada Bronn. "Apa seseorang akan memberitahuku apa yang perlu kuketahui? Apa kau akan memberitahuku?"
Bronn tidak berkata apa-apa, sekali lagi tidak terpengaruh dengan rasa sakit Marine.
Marine memalingkan badan penuh frustasi karena sikap diam yang di tunjukkan Bronn semakin menyakitinya.
Bronn datang untuk tinggal di atas Maiden saat Marine berumur lima tahun. Kapten menemukannya di dermaga, seorang yatim piatu yang bertahan hidup dengan mencuri dari kapal-kapal yang berlabuh, penuh dengan potensi, dan Kapten melihat kesempatan untuk mengubahnya dari bocah pencuri biasa menjadi mesin pembunuh yang andal.
Kapten membawa Bronn ke kapal sebagai pelayan kabin, di mana dia seketika membuat malu awak lain dengan kemampuanya memanjat tiang kapal dan berayun dari layar ke layar dengan mudah.
Meskipun Bronn tiga tahun lebih tua dari Marine, dia tidak pernah keberatan ketika Marine terus mengikutinya dari belakang dan dia akan duduk di atas dek berjam-jam untuk mengajari Marine simpul-simpul sulit.
Bronn yang tumbuh besar bersama Marine bukanlah pria yang berada di sampingnya sekarang. Seorang pria yang dapat dengan mudah membunuh, semahir hal-hal lain yang bisa dilakukannya. Diantara Marine dan Bronn, yang lebih cocok menggantikan posisi Kapten adalah Bronn.
"Aku tak akan melompat jika itu yang kau khawatirkan." Marine menatap Bronn.
Tidak ada jawaban dari Bronn. Meski begitu tanpa rasa bersalah dia menghadap ke Marine.
"Apa kau akan melakukannya? Menikahi pria itu?"
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku memiliki pilihan lain?" Marine menengok ke arah Bronn, "Memangnya kau peduli? Tinggalkan aku sendiri, Bronn."
Langkah kaki yang tak asing di kayu membuat Marine menengok ke atas untuk melihat, dalam prikirannya siapa lagi yang lolos dari perayaan palsu tersebut.
Dengan raut wajah yang terkejut Marine melihat Pengeran Torin sedang mencarinya. Merasa tak sopan untuk menyambut anggota kerajaan sambil duduk, Marine berdiri, berusaha tidak tersandung rokknya sendiri.
"Ah, di sini kau rupanya." Torin menoleh ke arah Bronn. "Bisakah kau meninggalkan kami berdua?"
Bukannya menurut, Bronn malah melangkah maju mendekati Marine. "Aku diperintahkan untuk mengawalnya."
Marine tidak bisa memutuskan mana yang lebih buruk, mendengar kalau Bronn di sini hanya karena perintah ayahnya, atau menyaksikan Bronn menentang sang Pangeran.
Torin kaget mendengar ucapan Bronn, dia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu. "Dia aman bersamaku, aku bisa memastikannya."
Bronn bersedekap. "Tetap saja."
Sebuah kesunyian canggung menyelimuti dua pria yang sama-sama tidak mau mengalah itu.
Marine melihat ke arah Torin dan Bronn, rasa kesal timbul di wajahnya.
"Sang Felon menjawab kepada sang Raja, sekali lagi, bisakah kau meninggalkan kami berdua?" Torin terdengar sopan namun tegas. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut.
Marine merasa penasaran, terutama saat mendapati kalau Torin tidak ditemani pengawal pribadinya, isu kalau dia seorang penakut hanyalah bohong.
__ADS_1
"Aku hanyalah Snake, bukan sang Felon sendiri. Dan kau belum menjadi raja." Bronn menunjukkan sikap yang tak mau kalah dari Torin.
Marine tidak tahan dengan semua yang ia lihat ini. "Bronn, kau boleh pergi. Kami berdua akan baik-baik saja tanpamu."
Bronn membuka mulut untuk protes, tapi Marine memotongnya terlebih dulu.
"Aku tidak membutuhkanmu. Aku mau kau pergi." Kata-kata Marine terdengar kasar.
Untuk beberapa saat, Bronn menatap Marine tanpa emosi. "Tentu saja, nona." memejamkan mata dan mengangguk lalu pergi.
Marine, memberikan senyum kelelahan pada Torin, berusaha menyalurkan permintaan maafnya akan kelakuan Bronn.
Torin menaikan alis. "Bukankah dia pembunuh paling berharga milik ayahmu?"
"Ya, sepertinya dia menjadi terlalu percaya diri setelah di perkenalkan secara pribadi." Marine tersenyum berharap Torin membalas senyumnya, tapi Torin tidak melakukannya. Sama seperti Bronn, Marine tidak bisa membaca pikiran Torin.
Pria yang harus dinikahi Marine itu berjalan mendekat lalu berdiri di samping Marine, kemudian bersandar di pagar kapal. Marine mengikutinya berasandar juga di sana.
Diiringi suara halus ombak di bawah mereka. Marine mencoba bicara pada Torin, namun ia tak bisa memikirkan apa yang harus ia katakan.
Tetapi secara tiba-tiba Torin yang memulai pembicaraan. "Ketika langit menghitam, dan bulan ditelan bumi, lautan menjadi diam. Sunyi. Semua sihir terhenti, membeku, karena sekarang sang pemburu malam telah tiba."
Torin mengutip salah satu cerita yang sering Garce ceitakan dulu pada Marine, ini salah satu favorit Marine.
"Mangsanya: seorang iblis. Iblis yang besar, dan menakutkan. Dan di balik ombak, para raptor menekik." Marine menyelesaikan cerita Torin.
Pangeran Torin mengangguk sebagai tanda terima kasih lalu berkata. "Jadi, sepertinya kita akan menikah."
Napas Marine tersangkut di tenggorokan. "Sepertinya."
Marine sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Torin, hanya untuk mendapati Torin sedang menatapnya penuh perhatian.
Marine menatap balik ke Torin, tidak dapat menyingkirkan perasaan kalau Torin juga melakukan hal yang sama dengan Merine, berusaha membaca isi pikiran lawanya.
"Apa kau akan merindukan ini?" Kata Torin, menunjuk ke arah sang Maiden, lautan, hidup yang selama ini telah Marine jalani. "Atau mungkin kemegahan istana akan lebih cocok untukmu?"
Ada sedikit hinaan yang di rasakan Merine dalam perkataan Torin. Seakan gambaran kalau Marine menggunakannya hanya dapat hidup mewah, di mana yang sebenarnya, Marine hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lain.
"Aku pikir tidak ada gunanya bagi kita berdua untuk berpura-pura kalau apa yang kuinginkan sama sekali berarti, bukankah begitu?" Rasa benci Marine terlihat jelas di raut wajahnya atas perkataan Torin.
Kerutan kecil terbentuk di pangkal hidung Toring sementara ia menilai Marine.
Sepertinya Torin ingin mengatakan sesuatu. Namun, kesempatan itu hilang ketika dia melangkah mundur dan Marine menyadari kalau mereka tidak lagi berdua. Pengawal Torin telah berkumpul, bersama dengan beberapa anak buah ayah Marine.
"Sudah saatnya." Torin berkata pada Marine yang sama sekali tidak memahami apa maksud perkataan sang Pangeran.
Beberapa saat, Marine sadar dari ketidakpahamannya, selama ini dia lupa akan satu tradisi Felon yang akan terjadi malam ini. Marine selalu berpikir jika itu hanyalah mitos, dibuat untuk mencegah para Felon sebelumnya tidak mengutamakan hal apapun melebihi Raja mareka.
Tidak mungkin hal itu nyata!
Marine menatap wajah Torin, untuk pertama kalinya wajah Torin menunjukkan hal sebaliknya dari pemikiran Marine. Rasa takut terpancar di mata Marine, andaikan ia bisa kabur dari tempat ini, ia memilih untuk kabur.
Ayah Marine naik ke atas dek, terlihat pipinya memerah karena mabuk, sama seperti matanya, dan meminta Marine dan Pangeran Torin untuk mengahampirinya.
Marine dan Torin melangkah ke arah Kapten, sesampainya mereka berdua di hadapan Kapten, para awak membuat lingkaran di sekitar Marine dan Torin.
Upacara pengikatan telah dimulai.
Marine tidak yakin harus mengahadap kemana. Agar tidak ada yang menyadari rasa takut yang menyebar di wajahnya layaknya ruam. Ia memandang lurus ke depan sampai matanya berair menahan agar ia tidak menangis.
__ADS_1
Cleeve mulai mengahampiri Kapten, Marine dan Torin, membawa sebuah piring silver dengan rantai besi menyala panas dari perapian. Hanya dengan melihatnya saja membuat batin Marine berteriak dengan panik.
Kapten mengeluarkan sarung tangan tebalnya, meminta Marine mengangkat tangan kiri dan Torin mengangkat tangan kanannya.
Pargelangan tangan mereka berdua bersentuhan, dan keinginan untuk lari, melompat ke laut, lalu mati dengan cara yang paling Marine takuti menjalar di sekujur kulitnya, sangat jelas tergambar di raut wajah Marine. Dan itu di sadari oleh Torin saat menoleh ke arah Marine.
"Bernapaslah, " Bisikan begitu pelan dan lembut hingga Marine berpikir itu hanya halusinasinya.
Kepalsuan hilang dari wajah Torin, mereka berdua hanyalah sepasang manusia yang saling membagi rasa sakit. Marine memberi Torin anggukan kepala.
Kapten mengangkat rantai tersebut dan dengan penuh presisi melingkarkannya di pergalangan Marine dan Torin, mengikatnya menjadi satu.
Rasa sakit ketika logam panas meleleh di kulit begitu menusuk. Membakar dan memakan daging mereka berdua sebelum membentuk lembah kecil di permukaan kulit.
Dengan segenap tenaga Marine tidak membiarkan badanya bergerak sedikitpun. Dia tidak akan menunjukkan kelemahannya, tidak akan membiarkan ayahnya berpikir kalau ayahnya menang.
"Kalian semua merupakan saksi...dari tanda...persatuan mereka." Kata-kata Kapten menggema ditengah gelapnya angin laut malam, walaupun kesakralan upacara tersebut sedikit berkurang karena ia mabuk.
"Felon dan Raja telah menjadi satu, tanda di tubuh mereka menjadi simbol dari sumpah mereka berdua." Dan, dengan kata-kata itu, Kapten mengangkat rantai itu kembali, membawa lembaran kulit terbakar bersamanya.
Marine menurunkan tangannya yang saat ini terasa seperti disayat oleh ribuan pisau dengan membabi buta. Marine melirik Torin sedang berterima kasih kepada Kapten ayah Marine, akan restunya dan mengumumkan masa depan Kepulauan Timur yang aman dalam persekutuan ini.
Rum kembali di keluarkan, dan guci anggur sekali lagi diisi penuh saat semuanya merayakan upacara pengikatan Marine dan Torin.
Marine sekali lagi tidak di tawarkan segelas anggur, Marine sangat berharap mendapatkan segelas anggur untuk membantu rasa sakit yang ia rasakan.
Marine mengalihkan rasa sakit dengan memfokuskan diri menghindari tatapan Grace. Marine tidak ingin melihat tatapan kasihan Grace padanya yang akan meruntuhkan pertahanannya.
Menunjukan kelemahannya hanya akan memperkuat kekuasaan sang ayah akan dirinya. Pandangan Marine beralih pada pengawal pribadi Torin yang sama seperti Marine tidak ikut merasakan rasa anggur.
Sebaliknya, Bronn terus minum tanpa henti. Dia berdiri sedikit lebih jauh dari kerumunan. Bahkan dengan jarak yang cukup jauh Marine bisa melihat bahaya yang terpancar di mata Bronn.
Akhirnya rum telah habis dan Pangeran Torin menghampiri Marine untuk berpamitan.
"Sudah saatnya aku pergi." Wajahnya tidak menunjukan kesakitan upacara pengikatan tadi. "Di kesempatan selanjutnya, aku harap kau bisa berkunjung ke kediamanku, mungkin ketika ayah kita telah memutuskan tanggal pernikahan, agar aku bisa membalas keramahan ini."
"Terima kasih." Marine tersenyum penuh hormat.
"Kalau begitu, sampai nanti." Torin menundukkan kepala sebelum beranjak pergi bersama pengawalnya.
Ren mengangkat kembali jangkar. Tak butuh waktu lama sampai kapal sang Pangeran hanyalah sebuah bercak kecil di cakrawala, cahaya menyala di tengah kegelapan.
Tidak ada penerangan di atas dek, sang Maiden memilih menjadi pemburu tak kasatmata. Ayah Marine kembali ke kabinnya tanpa kata-kata. Tak ada penjelasan, terima kasih, maupun permintaan maaf pada Marine.
Marine beranjak ke kamarnya, dengan pergelangan tangan yang terbakar seganas pengkhianatan ayahnya. Hanya setelah Marine sendiri dan jauh dari awak lainnya napasnya mulai memburu, emosi yang ia pendam selama bertahun-tahun telah membanjirinya.
Marine mencakar-cakar gaunnya berusaha melepasnya yang ternyata sama sulitnya seperti ketika memasanganya. Setelah hanya tersisa pakaian dalam yang membungkus tubuh, ia mengambil pisau dengan geraman penuh emosi. Melemparkannya ke dinding, pisau tersebut menancap tepat di tengah robekan kain yang menyangkut di serat-serat kayu.
Marine tersenyum meski dengan suasana hati yang begitu kacau. Bertahun-tahun latihan telah membuahkan hasil dan hanya sedikit benda yang tidak bisa Marine kenai dengan akurasi sempurna.
Sesuatu yang tidak di ketahui sang ayah. Marine berjalan untuk mengambil pisau itu lagi, kemudian mencobanya lagi, kali ini dengan mata tertutup. Berulang-ulang Marine meluncurkan pisau tersebut ke dinding dan pisau tersebut selalu mengenai targetnya dengan sempurna. Berlatih dalam pikiran begitu kacau, Marine mempunyai satu keinginan sebagai anak yang berusia tujuh belas tahun. Ia ingin melihat dunia selain lautan.
Marine ingin sekali menginjakkan kaki ke daratan. Namun ayahanya selalu mengingatkan kalau di luar kapal tidak aman untuknya mengingat terlalu banyak musuh ayahnya.
Marine pernah melanggar keputusan ayahnya keluar dari kapal pada saat mereka mendarat di pulau pertama. Marine berpikir tidak mungkin ayahnya menghukumnya karena dia adalah putrinya, dan ayahnya tidak akan pernah menyakiti putri kesayangannya.
Memang benar apa yang di pikirkan Marine saat itu, tapi sebagai gantinya. Ayahnya memerintahkan seorang awak muda untuk di ikat di tiang depan, kemudian menyuruh Cleeve mencambuknya sebanyak empat puluh kali sabetan mengantikan hukuman yang seharusnya Marine terima.
Sebuah peringatan dari ayahnya untuk Marine agar menjaga mulut, menyadari tempatnya dan memghormati ayahnya sang Kapten.
__ADS_1
Marine berguling di kasur gantungnya, mungkin Marine tidak perlu mengubah pikirannya. Mungkin pernikahan adalah Satu-satunya jalan keluar. Kabur dari Maiden sama saja dengan membelot dan Marine akan diburu sampai mati.