Penulis Puisi Rahasia

Penulis Puisi Rahasia
eps 2. tugas pertama


__ADS_3

/satu minggu setelahnya


"Baiklah anak-anak. Saya ingin kalian mengumpulkan tugas yang saya berikan Minggu lalu." setelah Bu Jia berkata seperti itu semua murid langsung mengumpulkan tugas tersebut.


Junku dan Akira mengumpulkan paling akhir karena pengumpulan di lakukan berdasarkan urutan meja para murid. Jadi Bu Jia bisa mengetahui siapa yang tidak mengerjakan tugasnya kemarin.


"Baiklah, karena semua sudah mengumpulkan sekarang saya ingin kalian membacakan puisi yang kalian buat di depan kelas." "Ibu akan panggil nama kalian secara acak. Jika ada yang ketahuan mencontek dari internet maka akan ibu hukum."


"Yang permata membacakan puisi hari ini adalah.... Akira. Akira silahkan maju ke depan." "Ba-baik Bu." "Judul dari puisi saya adalah 'SAJAK SANG EMBUN'."


"SAJAK SANG EMBUN"


Aku bukan sosok yang sempurna


Karena yang ku lakukan


Selalu salah di hadapanmu


Selalu salah di hatimu


Aku hanyalah embun


Terbentuk dari uap air


Tangisan mata ini


Hanya saat pagi


Tak kan ku menyakiti


Aku di samping mu


Ingin melihatmu bahagia


Tak ingin kamu terluka


Jika kamu bahagia


Biarkan aku pergi


Tuk jadi pelampiasan orang lain


Dan ku akan kembali


Tuk jadi penghangat mu

__ADS_1


Kala hujan mengguyur hati mu


"Sekian terimakasih."


Persepsi Junku


'Saat Akira membacakan puisinya, kenapa aku bisa merasakan sesuatu yang sangat sakit?' tanyanya dalam hati. 'Saat Akira kembali duduk, akan kutanyakan kenapa begitu mendalam puisinya.'


"Akira, puisi kamu tadi kok kelihatan sedikit bawa perasaan kamu?" tanya Junku setelah Akira kembali duduk di sampingnya. "Eh, gak kok. Cuman....rahasia." jawabnya. "Ok lah klo gitu.". 'Ternyata benar, ada yang dia sembunyikan tapi dia tidak sadar menampilkannya saat dia membaca puisinya tadi.'


Setelah semua murid dipanggil hanya tersisa Junku yang belum membacakan puisinya. "Baiklah, puisi yang belum terbaca kan adalah milik Junku. Junku silakan maju dan bacakan puisi kamu." "Baik Bu."


"Puisi yang akan saya bacakan berjudul 'SANG PENA' semoga kalian terhibur."


"SANG PENA"


Malam kembali


Mengajak ku berimajinasi


Tanpa takut dan lelah


Setiap goresan tercipta


Melihat mu tertawa


Dalam gelap jiwa


Karena hati terluka


Namun di sisi lain


Bulan murung melihatku


Karena siksaan ini


Melihat kepergian hati mu


Bintang temani malam gelap ku


Suara angin malam bagai melodi hati


Menggoyang pena menjadi indah


Membentuk suatu karya

__ADS_1


Dalam gelap damai ini


Tersimpan selembar kenangan


Dalam ikatan sebuah hati


Tak terdapat gangguan


Angin malam semakin kencang


Membuat guratan pena bertambah


Dalam keheningan malam ini


Sang pena berimajinasi lagi


Dengan cahayanya bulan tersenyum


Melihat semangat sang pena


Yang menambahkan suatu karya


Bintang terpengaruh oleh pena itu


Selesai sudah pena berkarya


Karya untuk pujaan hatinya


Dalam lembaran suci ini


Menyatu sebagian rasa hati


"Sekian terimakasih." semua murid wanita di kelas itu sampai menitikkan air mata karena puisinya, bahkan Bu Jia juga sampai menitikkan air mata. Tidak terkecuali para murid laki-laki, mereka hanya melongo karena tidak menyangka, di kelas merek ada seorang yang sangat berbakat.


"Junku, apakah puisi kamu itu kamu buat sendiri?" tanya Bu Jia. "Iya bu, puisi saya buat sendiri dengan batuan sang malam dan bintang bulan. Hanya mereka yang bisa menerima saya, dalam pergaulan saya di dunia." Bu Jia bahkan terkejut dengan apa yang Junku paparkan.


Persepsi Akira


'Kenapa puisi Junku sangat menyentuh? Bagai mana dia melakukannya?' tanya Akira dalam pikirannya. "Hei Akira, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa kamu bengong terus?" tanya Junku yang sudah duduk di bangkunya kembali.


"Aku tidak apa-apa." jawab Akira sekenanya. 'Kenapa aku begitu peduli dengan dia beberapa hari ini? Apa mungkin aku suka dengan dia? Ahh, tidak mungkin aku suka dengan dia.' tanya Akira dalam hatinya.


Saat bel istirahat berbunyi, semua orang pergi ke kantin ataupun berkumpul di depan kelas untuk mengobrol. Namun tidak bagi Junku, ia berjalan dengan membawa buku menuju perpustakaan sekolahnya. Tempat paling sepi saat istirahat berlangsung.


*kelanjutan kisah ini akan di update jika saya sudah suntuk. bila ada kesalahan ejaan ataupun kata, mohon beritahu di kolom komentar

__ADS_1


*terimakasih sudah mau membaca novel saya ini


__ADS_2