
#note author
Mohon maaf ya para pembaca yang terhormat. karena saya sedang ujian secara online, saya harus menghentikan kegiatan menulis saya. Saya harap kalian bisa memaafkan saya dan mendoakan saya bisa naik kelas XII. Terimakasih atas doa dan dukungan kalian dalam membaca novel saya ini.
*perspektif Junku
Setelah berkata itu aku kembali ke kebiasaan ku, duduk santai sambil memandang langit-langit kelas ini. Sambil sesekali melirik Akira yang masih marah padaku. 'Aku ingin tau siapa "J " ini. besok akan aku cari tau siapa dia.
/Hari berikutnya
Junku berangkat lebih pagi menuju ke sekolah, dia masih penasaran dengan pengirim puisi rahasia tersebut. "Untung masih sepi, semoga penulis puisi tersebut belum muncul." kataku setengah berlari menuju kelas.
'Kelas masih sepi.' pikirku. 'Semoga puisi itu belll...uuuu...' aku terlambat puisi itu sudah ada di laci meja Akira. 'Bagaimana bisa?'. 'Aku sudah berangkat lebih pagi dari sebelumnya.'
"LUKA DARAH JINGGA"
Sudah tersayat dalam
Darah mengaliri sungai
Warna mentari sore itu
Menciptakan warna hidupku
Hati kembali pulih
Darah berhenti mengalir
__ADS_1
Mentari menyambut pagi
Dalam kehangatan angin
Selama hari berganti
Pintu hati terbuka lagi
Menunggu sebuah cinta
Dalam hangatnya rasa
tertanda "J"
' Dia lagi, apakah dia mencintai Akira??'
'Siapa sih "J" ini?' tanya ku dalam hati. 'sebaiknya aku apakan kertas ini? Jika aku buang aku gak bisa buat Akira percaya bukan aku yang membuat puisi ini. Jika aku simpan, pasti akan membuat masalah yang lain. bagai mana ini?'
Junku berfikir lama sekalih sampai akhirnya yang di khawatirkanya terjadi.
*Perspektif Akira
'Aku pasti yakin Junku lah yang pelakunya. Karena puisinya paling bagus di kelas, dia juga selalu berangkat pagi hari, dan selalu di kelas lima menit sebelum pelajaran dimulai.'
Aku setengah berlari menuju kelas, setelah turun dari kendaraan karena melihat sepeda Junku yang sudah terparkir rapi di parkiran sekolah.
'Tapi jika Junku yang melakukan? Untuk apa? Apa dia mencintai ku?' tanyaku dalam hati sambil berlari menuju kelas.
__ADS_1
Saat sampai aku melihat Junku yang sudah duduk sambil membaca novel yang dia pinjam di perpustakaan sekolah.
"Junku kenapa kamu selalu datang tepat waktu?". "Karena sudah dari dulu aku di ajarkan untuk bangun pagi dan berangkat sekolah sebelum bel masuk berbunyi." jawabnya dengan santai.
Aku duduk di bangku ku yang berada di samping Junku. Aku meraba laci mejaku, mengecek apakah ada secarik kertas misterius itu lagi. Ternyata dugaan ku salah.
'Syukurlah tidak ada kertas itu lagi.' aku merasa tenang. Aku melihat ke arah Junku yang masih membaca novelnya.
"Junku apa yang kamu baca itu?". "Aku membaca novel. Kenapa kamu bertanya seperti itu?". "Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja." (sambil tersenyum)
*Perspektif Junku
Junku berfikir lama sekalih sampai akhirnya yang di khawatirkanya terjadi. Sesaat sebelum Akira masuk kelas, ia memasukan kertas itu dalam laci mejanya.
'Aku sembunyikan saja, aku tidak mau dia menuduhku lagi.'
/waktu istirahat
'Aku akan mencari tahu siapa penulis puisi ini. Semoga saja ini bisa meringankan beban Akira.' Aku menunggu penulis itu muncul di teras kelas, sambil membaca buku.
Sudah 10 menit berlalu dan tidak ada murid lain masuk ke kelasnya. 'Kenapa belum ada orang yang masuk?' tanya ku. 'Ya sudah lah, aku menunggu saja sampai bel masuk kelas berbunyi.'
#note author
Teman pembaca, saya mohon doa dan dukungan kalian dalam novel saya, dan mohon doa kalian untuk dua teman saya yang sesama penulis agar mereka dapat tenang dan bahagia di alam kubur.
Saya tidak bisa mengganti amal dari doa kalian, semoga tuhan kita membalas apapun tindakan yang kita lakukan.
__ADS_1
Maaf juga sudah membuat kalian menunggu terlalu lama. Saya masih sekolah juga jadi banyak tugas. Semoga kalian terhibur dengan novel saya ini. Jangan lupa bila ada kesalahan dalam pengetikan komentar ya, biar saya perbaiki. salam berkarya.