
aku masih memiliki mereka (Eli)
Waktu.
Kau tau.. Menururku Waktu adalah hal yang paling susah di artikan.
Dia terkadang menjadi derita, dan setelahnya menjadi obat. Kadang pula terasa begitu lambat, tapi dia juga sangat cepat.
Tidak peduli dengan kita yang sedang tertawa atau menangis, dia akan terus berjalan tanpa henti.
Dia juga tidak dapat di hentikan ataupun di ulang. Oleh karena itu setiap detiknya begitu berharga...
Akan kuceritakan kisahku...
Dimana saat itu aku kehilangan orang terpenting dalam hidupku. Dan saat itulah waktu berubah menjadi rantai yang membelengguku dalam deritanya..
***
Kisah ini dimulai enam tahun silam, saat usiaku lima belas tahun.
Sejak tadi langit terlihat mendung, tapi hujan tak kunjung datang. Aku dan Rini pulang sekolah bersama, sedangkan kak vero dia akan pulang terlambat karena ada kelas tambahan yang di berikan gurunya untuk persiapan ujian kelulusan.
Dari jauh aku dapat melihat banyak sekali orang di rumahku.. Dan aku juga melihat paman duduk di depan rumah, bukankah seharusnya paman di kota? Dan kalaupun paman ingin mampir berkunjung, biasanya paman akan mengirimkan surat terlebih dahulu untuk mengabariku. Lalu ada apa ini sekarang?
Dengan rasa penasaran yang besar aku melangkah maju menghampiri paman.
"paman.. Kenapa paman ada disini? Dan kenapa banyak sekali orang di rumah?" tanyaku pada paman.
Aku menatap paman lekat. Ku lihat mata paman memerah.. Apakah dia menangis?
"el, paman di sini... karena.. " ucap paman sedikit tersendat. Lalu mengulang lagi perkataannya.
"karena apa paman? El gak bakal tau kalau paman gak ngasih tau el" sarkasku merasa kesal dengan sikap paman yang bertele-tele
Paman menatapku sejanak. Menghela napasnya dan berkata "maaf el. Ayah dan ibumu telah meninggal"
Aku terdiam. Mencoba mencerna perkataan paman. "hah? Maksudnya paman apa? Paman gak lagi becanda sama el kan...?" tanyaku dengan suara yang bergetar
"enggak el. Paman lagi gak becanda. Ayah dan ibumu meninggal karena kecelakaan di toko songket milik ayahmu. Dari yang di katakan para karyawan di sana, saat itu sebuah rak besar hendak menimpa ibumu, dan ayahmu menolong ibumu hingga akhirnya mereka sama sama mati terimpa rak besar itu." jelas paman lalu menunjuk ke dalam rumah.
Saat itu Pikiranku kosong, tidak dapat berpikir lagi. Aku langsung berlari ke dalam rumah dan melihat dua orang yang sudah di bungkus kain kafan, bersama dengan nek ijah dan bibi yang menangis.
"el.. Sini sayang. Duduk dekat nenek.." ucap nek ijah menepuk nepuk lantai di sebelahnya saat melihat kedatanganku.
Aku menurut. Aku duduk di samping nek Ijah, menatapi dua orang yang sudah di bungkus kain putih di depanku.
__ADS_1
"nek... Ini.. Ayah sama ibu..? " aku bertanya dengan suara serak
"iya sayang. Ayah dan ibumu sudah pergi.." jawab nek ijah menangis.
Aku menatap tak percaya, di depanku terbujur kaku dua orang yang sudah di bungkus kain putih dan dua orang itu tak lain adalah ayah dan ibu. Jantungku seperti di iris sembilu, kepalaku seakan pecah oleh kesedihan yang datang dengan begitu tiba tiba.
Buknkah Tiga hari yang lalu aku masih melihat ayah dan ibu tersenyum pamit pergi ke kota. Dan sekarang mereka... Telah tiada?
Aku tidak percaya.
Ayah, ibu, hiduplah! Aku menggerakkan tubuh yang berbaring di depanku. Aku mohon..Bangunlah! Jika kalian pergi bagaimana denganku?
Seketika Ruangan itu penuh dengan suara tangisku.
***
Beberapa menit kemudian, Rini menepuk lembut bahuku.
"el, kamu harus bersih bersih dan ganti baju dulu. Aku temenin" ucap rini.
Aku mengangguk, menurut kepada sahabatku itu, lalu pergi ke kamar bersamanya.
Rini adalah sabatku, aku pertama kali bertemu dengannya saat di sekolah kelas 1 sd. Dimana saat itu aku berusia 6 tahun.
Dia gadis yang cantik, dengan rambut hitam kecoklatan mengkikat dan mata coklat. Dia cukup polpuler di kalangan lelaki.
Dan aku sangat menyayangi sahabtku itu.
"el, kamu bersih bersih dulu, aku tunggu di sini" ucap rini duduk di tepi kasurku.
Kamarku cukup luas, karena di dalamnya ada kamar mandi juga, sehingga aku tak susah kalau terbangun kebelet malam malam.
Aku dan Rini bergantian membersihkan diri. Lalu tak lama dari itu, kami pergi bersama rombongan untuk menguburkan ayah dan ibu.
Kak vero juga sudah pulang dari sekolah dan langsung ikut membawa tandu milik ayah. Dan Kak vero pulalah yang masuk ke dalam liang lahat menyambut jenazah orang tuaku.
Bagi kak vero, ayah dan ibu sudah seperti orang tuanya sendiri...
***
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Paman dan bibi sudah pergi pulang ke kota karena ada sesuatu yang harus di kerjakannya.
Dan tinggallah aku, rini, nek ijah, dan kak vero di rumah.
__ADS_1
Aku masih terdiam. Sungguh, aku tak percaya orangtuaku pergi secepat ini meninggalkanku. Kemarin lusa mereka masih ada di sini bersamaku, dan sekarang mereka sudah terkubur di dalam tanah. Kenapa waktu begitu cepat berlalu?
"el.. Ayah dan ibumu pasti ada di tempat yang terbaik sekarang.. Karena mereka adalah orang baik.. Dan nenek yakin itu. Jadi el tak perlu terlalu terlarut dalam kesedihan ini ya.. El harus belajar iklas.. Kasian nanti ayah dan ibu kalau el tak iklas..." nek ijah berkata, sambil menatapku dengan mata yang sembab karena menangis
Aku mengangguk sebagai jawaban. Aku tau itu. Aku tau aku harus iklas. Tapi bagaimana caranya? Jika ingin berkata jujur, sungguh aku tak rela dengan ke pergian ayah dan ibu yang tiba tiba ini. Aku masih belum siap di tinggalkan seperti ini. Sungguh saat ini aku merasa bahwa tuhan sedang berbuat tak adil padaku..
Tanpa terasa, air mata lolos begitu saja dari ujung mataku. Aku cepat cepat mengelapnya karena saat ini aku tak mau di bilang lemah. Walau sudah sewajarnya bila aku menagis.
Rini yang melihat itu langsung memelukku. Berkata,
"el.. Jangan di pendem sendiri.. Kamu masih ada kami.. Apa kami tak berarti bagimu..?"
"bu-bukan begitu.."
"kalau mau nangis nangis aja. Gak bakal ada yang ngeledek kamu el.. " ucap kak vero.
Entah mengapa setelah mendengar ucapan rini dan kak vero, air mata yang sudah sedari tadi ku tahan keluar begitu saja. Aku menangis sejadi jadinya..
Ya. Benar kata rini. Aku tak sendiri. Aku masih memiliki rini, nek ijah, dan kak vero yang telah kuanggap keluargaku sendiri disini. Ayah dan ibu hanya pergi kembali kepada allah.. Suatu saat kami pasti bertemu lagi. Ya.. Itu benar. Roda kehidupan pasti akan selalu berputar dan saat ini aku sedang berada di bawah, dimana aku kehilanggan orang terdekatku. Dan aku harus bangkit dari keterpurukan ini.. Jangan sampai kesedihanku ini mempengaruhi mereka yang ada di sekitarku... Jangan sampai...
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
hai semua👋
terimakasih sudah baca karyaku ini..
**jangan lupa like, komen, vote,
dan juga kritikan/sarannya yah..
agar saya bisa lebih baik lagi dari sebelumnya...
.
.
.
kita sama sama belajar..
saling mendukung..
dan bersaing..
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1