
.."srak..srak".........kudapati diriku berlari dikegelapan malam yang mengerikan dan dikejar oleh segerombolan bandit yang mengintai sebuah benda didalam ranselku yang merupakan benda pemberian ibuku.
Berupa benda berbentuk lingkaran dengan gambar relief ukiran naga di bagian tengah-tengah lingkaran benda itu dan di sekitar naga itu terdapat 6 lambang elemen yang mengelilingi naga tersebut. Ada elemen api, air, es, petir, bayang, dan tanah.
Hewan ini merupakan salah satu dari tujuh spirit legenda lain. Tujuh spirit legenda merupakan kelompok hewan gaib kuno yang sudah melegenda.
"Berhenti!!!!" teriak salah satu bandit di belakangku yang semakin lama aku semakin dekat dengan mereka.
Lalu ku gunakan sihirku yaitu sihir teleportasi‚ tapi sayangnya aku malah mendarat di atas pohon dan saat aku turun seorang pemuda dengan jubah hitam yang dilengkapi dengan topeng perak keemasan menabrakku dan meneriakiku.
"Hei, dimana matamu??" katanya dengan nada agak kesal.
"Kau yang duluan dan mengapa malah memarahiku"
( kurasa aku telah membuatnya marah tapi apa peduliku dia juga yang memulainya duluan ).
"Gawat, mereka datang" gelisahnya.
"Hmm..siapa yang datang?‚ apa kau sed....." tiba-tiba dia membungkam mulutku menggunakan tanganya dan bersembunyi di balik pohon besar‚ aku benar- benar tidak tahu apa maksudnya.
Dan seketika terdengarlah suara hentakan kaki yang semakin mendekat dan suara-suara yang terdengar berat yang sepertinya suara seorang pria yang lebih dari 3 orang.
"Dimana dia?"
"Entah"
"Jika kita sampai kehilangan jejaknya kapten bisa marah"
"Benar‚ kita harus mencarinya sampai ketemu"
"Mungkin disebelah sana"
"Ayo cepat periksa!"
Kemudian suara-suara itu hilang dan digantikan dengan digantikan dengan derap langkah yang semakin lama semakin menjauh, dan kami pun keluar.
"Siapa kau?" kataku.
Tetapi dia tidak menjawab pertanyaanku dan saat aku mengarahkan tanganku untuk membuka topengnya dia malah menghindarinya dan aku sudah mencobanya berkali-kali namun dia tetap menghindarinya, aku pun menyerangnya.
Saat kami bertarung aku mengeluarkan sihir petir dan dia sihir api merah‚ saat sihir kami bertabrakan terjadi ledakan di sekitar area tersebut yang membuat kami terpental mundur dan membuat topengnya retak.
Ternyata dia seorang pemuda tampan‚ gagah‚ dan tinggi.
"Hmm..lumayan juga.." katanya.
"Sihirku ini tidak bisa dianggap remeh.."
"Owh benarkah kucing kecil"
__ADS_1
"Heii..‚ aku punya nama‚ jangan panggil aku kucing"
"Siapa namamu ?"
"Kau tak perlu tahu"
"Kenapa‚ kucing kecil ?"
"Namaku itu Xiya‚ jadi jangan panggil aku kucing"
"Akhirnya kau mau jujur juga”
"Huh...dasar..."
"Aku masih punya urusan lain, gaada waktu buat ngurusin kamu, da da"
"Yaudah pergi aja lo sialan" kataku sambil berteriak
Sedetik kemudian pemuda itu menghilang tiba-tiba, laksana halimun.
"Hengh, orang gila" gumanku tak peduli.
Lalu kulanjutkan perjalananku menuju ke utara.
Setelah sekian lama kuberjalan akhirnya kutemukan juga sebuah desa di hutan tersebut. Lalu kudekati pintu gerbang masuk menuju desa tersebut. Tingginya sekitar 4 meter, dengan pinggiran pintu gerbang terdapat garis pembatas, kurasa pintu gerbang ini terbuat dari kayu ex gelap, karena memang warnanya coklat gelap, pegangan pintu tersebut berbentuk lingkaran berwarna coklat gelap, sama dengan warna pintunya, namun warna pegangannya agak terang. Bagian dalam garis pembatas pintu gerbang terdapat ukiran ukiran khas desa ini, ukiran ini menyerupai orang sedang menari yang dilengkapi orang memainkan alat musik. Ukiran ukiran ini berwarna kuning cerah, yang jadi terlihat serasi dengan warna dasar gerbang ini yang berwarna coklat gelap. Disamping kanan kiri gerbang terdapat tembok yang mungkin berukuran panjang 3 meter. Disamping kanan kirinya lagi terdapat dua pohon besar yang tampak berumur ribuan tahun.
Dari dalam desa terdapat dua orang yang memakai pakaian kulit berwarna coklat, pada baju terdapat tunik coklat yang terbuat dari kayu, sedangkan bahan dasar baju berwarna coklat yang lebih terang dari warna tunik tersebut adalah terbuat dari kulit, pada bagian kerah baju terdapat bulu-bulu kapas halus yang mengitar kerah baju dua orang itu, kerah tersebut berwarna coklat muda, yah,, walaupun bulu-bulu tersebut tidak terlalu banyak.
Bagian bawah pakaian(celana), terdapat resleting dan tunik kayu pada bagian depan celana, warna celana tersebut berwarna sama dengan baju atasan. Mereka memakai pakaian dengan memasukkan baju atasan ke dalam celana. Mereka juga dilengkapi dengan sabuk kulit hitam, sepatu bot kulit coklat gelap, dan juga topi. Topi berbentuk tabung ini dilengkapi dengan hiasan manik kayu berwarna coklat muda dan tua yang mengitari topi, bagian atas belakang topi tersebut agak tinggi, sedangkan bagian atas depan topi tersebut agak rendah, pada bagian atas belakang topi terdapat bulu tinggi melengkung ke belakang berwarna kuning.
Mereka berdiri di sisi kanan kiri bagian dalam desa, tepatnya di samping gerbang itu dengan tangan kiri lurus kebawah dan menggepal, sedangkan tangan kanan mereka agak tertekuk sedang mencengkram bagian atas pangkalan pedang berbentuk lurus dan panjang yang terbuat dari besi yang tergantung kebawah disebelah sabuk bagian kanan mereka.
Kalau lebih diperhatikan lagi, um, mereka lebih mirip seperti akan mengikuti karnaval.
Lalu aku pun masuk untuk mencari sebuah penginapan.
| Selatan
|
[ gerbang masuk ] | Timur ¤ Barat
|
| Utara
Setelah sekian lama kuberjalan akhirnya ketemukan juga sebuah penginapan yang lumayan besar. Letaknya yaitu, dari gerbang masuk desa, berjalan terus ke arah Barat sampai melewati sekitar 17 rumah, setelah itu belok arah Utara sampai melewati 11 rumah, lalu berbelok dan berjalan terus arah Barat. Nah, pada bagian ujunglah penginapan itu berada.
__ADS_1
Penginapan itu mempunyai halaman depan yang tidak terlalu luas, tapi cukup luas untuk dijadikan arena bowling.
Pada sisi kanan kiri penginapan terdapat dua pohon besar yang tampak berumur ribuan tahun. Pada bagian atas depan penginapan itu terdapat sebuah papan bertuliskan "Penginapan Luya". Yah, kurasa itu nama penginapannya.
" Sudah keputuskan, aku akan bermalam di penginapan ini, yah, walaupun penginapan ini terlihat sudah tua dan sangat sederhana, tapi setidaknya masih bisa ditempati, lagian, butuh waktu berjam jam untuk bisa tidak tersesat di desa ini " ujarku dalam hati.
Kumasuki penginapan tersebut, setelah diperhatikan lagi, menurutku penginapan ini tidak terlalu buruk. Pada bagian tengah terdapat altar beralas kain lingkaran berwarna merah terang, pada pinggiran kain lingkaran itu terdapat pembatas bermotif tarian yang berwarna orange cerah, pada bagian tengah terdapat bulatan besar berwarna orange.
Juga terdapat meja kasir, tempatnya tepat berhadapan dengan pintu masuk, meja itu berbentuk melengkung, pada sisi samping kanan meja juga terdapat papan besar, pada papan itu terdapat tulisan tulisan, tulisan tulisan tersebut adalah misi-misi yang dapat diselesaikan untuk mendapatkan imbalan. Pada sisi kanan kiri ruangan terdapat tangga yang menghubungkan ke lantai atas, penginapan tersebut ternyata tingkat tiga, tingkat pertama berupa kasir dan kantor kayu sederhana, sedangkan tingkat dua dan tiga merupakan kamar untuk diinap, satu ruangan terdapat 6 kamar. Tanpa basa-basi langsung kudatangi meja kasir.
"Selamat datang di Penginapan Luya, ada yang bisa kubantu?" kata pelayan pria yang menjaga kasir.
"Permisi, hei kau, apakah masih ada kamar kosong"
"Yah, ada, mungkin beberapa lagi" katanya sambil memasang muka datar.
"Saya memesan satu kamar tidur"
"Baiklah, bisa sebutkan nama anda!!"
"Xiya"
"Baiklah, mari saya antar"
Kurasa aku tak perlu menyebutkan nama margaku, karena mereka akan tau kalau aku berasal dari keluarga Wyven ( Keluarga Wayven merupakan nama klan dari 5 klan kuno, Wayven, Kyshie, Xiao, Zhikey dan Ukiha)
Pelayan tadi pun mengantarku ke depan pintu kamar kayu yang akan menjadi kamarku. Letak kamar itu yaitu dari pintu masuk penginapan, lalu kearah kiri, menaiki tangga, setelah sampai ujung tangga, lurus terus melewati tiga kamar, tepatnya kamar ke empat dari tangga.
"Jika membutuhkan sesuatu, bilang saja kepada saya, pasti akan kubantu" ujarnya memasang muka datar.
"Baik, terima kasih"
Pelayan itu memberiku kunci kamar lalu pergi.
Setelah pelayan tadi sudah pergi aku pun masuk ke kamar.
"Tempat ini lumayan, tapi pelayannya tidak lumayan, suka sekali sih pasang muka datar gitu, huh" ujarku sambil duduk diatas ranjang.
Merupakan sebuah ranjang yang kasur, selimut, dan bantalnya berwarna putih.
Dari pintu masuk, berjalan lurus sampai tiba di tengah-tengah ruangan berbentuk persegi itu, pada sisi kanan terdapat ranjang, sisi belakang terdapat pintu masuk, sisi kiri terdapat pintu ( pintu kamar mandi ) yang disebelahnya terdapat meja kecil yang dilengkapi dengan kursi dan cermin, pada sisi depan terdapat jendela. Pada kamar mandi terdapat cermin, bathup kayu, keran air yang dibawahnya terdapat ember kayu kecil.
"Kurasa tempat ini tidak terlalu buruk, tak seperti yang kubayangkan"
"Lagian harganya tak terlalu mahal, hanya 16 keping koin perak dalam seminggu, pelayanannya juga tidak buruk, masih tergolong lumayan"
Kulempar ranselku keatas ranjang, ku lepas pakaianku, lalu pergi ke kamar mandi.
Bersambung )*
__ADS_1