
( kamar mandi )
"Hmmm, enak juga mandi tengah malam,"
Setelah mandi aku tertidur.
-----------------------
------------------------------
----------
-------------------------------------
------------------
( pagi hari )
Pagi hari yang cerah, bunga bunga bermekaran, burung burung kini bersiulan, saling beradu suara merdunya, hening dan sunyinya malam kini telah digantikan dengan suara merdu siulan burung, aku pun terbangun.
"Ugh" desahku.
Perlahan-lahan kubuka mataku, untuk terbangun dari tidurku.
"Hah, andai aku bisa tidur lebih lama lagi,, tapi kurasa tidak mungkin, aku masih punya misi, yaitu mencari keberadaan kakakku"
Aku pun beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi, setelah itu aku turun untuk ke bawah, tapi, sebelum aku turun ke bawah, aku memakai jubah hitam bertudung dan topeng hitam, topeng hitam itu terdapat ukiran berwarna perak pada sebagianya saja.
( lantai 1 )
"Maaf, apa disini menjual makanan?"kubertanya pada pelayan yang menjaga kasir.
"Tidak, kami tidak menjual makanan"
"Oh, terima kasih" kataku kecewa. "Bukankah percuma jika aku mempunyai banyak uang tapi sedikitpun makanan tidak punya" kataku dalam hati.
"Tapi, kau bisa menyelesaikan misi pada papan besar di sana untuk mendapatkan hadiah khusus"
"Apa itu gratis" kataku dengan mata berbinar binar.
"Hengh, tentu saja.."
"Wha" gumanku penuh harapan.
"Tidak"
"What" teriakku kecewa.
"Tentu saja tidak gratis"
"Sangat disayangkan " kecewa.
"Untuk bisa menyelesaikan misi, kau bisa menukar dengan barang-barang yang berharga, atau kita dapat melakukan barter untuk kau bisa mendapatkan misi" jelas pelayan itu.
"Barang apa yang bisa kutukar"
"Itu sih tergantung misinya "
"Oh,"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, kuhampir papan besar itu.
Ternyata banyak orang yang berkerumun disitu, sebagian besar pria, baik tua maupun muda.
Pilihan misinya yaitu :
~ Membunuh seekor macan tutul awan
Hadiah : Armour Besi Ungu
~ Mengusir seekor Phoenix Pencengkram Langit dari kota Houa
Hadiah : Tongkat Nebula
~ Membunuh pemimpin suku Thedore
Hadiah : Kampak ganas suku Thedore
~ Membunuh manusia ular
Hadiah : 3 keping koin emas
~ Mengusir hewan gaib rusa hutan pengganggu dari desa Yuju
Hadiah : Dua buah Weinjing
"Heh, misinya gada yang susah tuh, tapi hadiahnya lumayan" kataku.
__ADS_1
"Apa, dia kata, lu ma yan, misi segini susahnya" kata salah seorang pria muda dari mereka.
"Iya" kata wanita setengah baya.
"Sedangkan kau, yang pasti hanya mencapai petarung pemula, hahahahaha" kata seorang pria tua yang meremehkanku.
Setelah pria itu tertawa, yang lain pun ikut tertawa meremehkanku.
"Huh" gumanku memalingkan muka.
Sedetik kemudian aku melangkah pergi menuju kasir, baru dua langkah pria tua tadi mengataiku lagi.
"Ha ha ha ha ha, kalian li hat kann, dia pergi begitu saja, itu berarti aku benar, dia cuma petarung pemula, ha ha ha ha ha" kata pria tua tadi meremehkanku lagi.
"Ha ha ha ha ha" setelah pria tua tadi menertawaiku yang lain pun tak ketinggalan untuk menertawaiku.
Aku menoleh ke mereka "Aku tidak ada waktu untuk mengurusi kalian, aku masih punya misi yang lebih penting daripada mengurusi kalian"
"Kau terlalu sombong" ujar si pria tua.
Aku lalu menoleh lagi ke arah kasir sambil meneruskan langkahku.
"Hei kau,,, kuambil semua misi" kataku percaya diri kepada pelayan kasir.
"Kau tidak main-main kan?"
"Aku tidak suka main-main"
"Tapi penampilanmu tidak meyakinkan" ujarnya pasang muka datar lagi.
"Memangnya aku terlihat setua itu kah" kataku marah.
"Tidak, hanya saja kau terlihat masih berumur 16 tahunan, kau terlihat masih muda, atau jangan-jangan kau merubah penampilan aslimu, padahal aslinya nenek-nenek, tapi wajar saja, mereka ingin terlihat keren dan cantik, dengan penampilan mereka yang sudah tua dan keriput akan sangat memalukan jika tampil sok keren" katanya pasang muka datar lagi.
"Hei kau, mengapa kau suka sekali membuatku kesal" kataku menatapnya dengan penuh amarah dan tatapan tajam menusuk, namun pria dihadapanku ini tak merasa takut atau tergoyahkan sedikitpun.
"Padahal umurku memang 16 tahun" kataku dalam hati.
"Aku sudah menemukan satu lagi ciri khas mu, nenek-nenek yang mudah sekali marah"
"Kaaaauuuuhhhhh,," tiga detik kemudian aku menghela napas lalu kembali serius, sementara pelayan itu hanya memasang muka datar dan melirik ke arah lain.
"Bagaimana kamu dapat melihat mukaku, aku sudah menutupnya menggunakan jubah hitam dan topeng,, kurasa kau bukanlah orang biasa"
"Kurasa kau juga bukan orang biasa karena kau sangat emosional"
"Aku tau kau menginginkanku dan aku tau aku tampan, tapi itu terlalu cepat dan aku tidak tertarik dengan nenek-nenek sepertimu, kurasa kau perlu cari orang lain yang sesuai denganmu(yang dimaksud itu kakek-kakek)"
"Aku tidak tertarik untuk tidur denganmu, kau terlalu percaya diri mengatakan bahwa kau itu tampan, dan aku juga tidak tertarik dengan kakek-kakek, mengertiii" emosiku makin meluap-luap.
Ia hanya tersenyum sinis dan melirik kearah lain.
Ugh,, aku tak punya waktu untuk membicarakan hal bodoh denganmu, apa yang perlu kutukar untuk dapat mengambil semua misi"
"Harga aslinya 51 keping koin perak, tapi kau hanya perlu menukar 46 keping koin perak saja, kali ini bonus tapi hanya berlaku sekali saja, itupun jika kau berhasil kembali hidup-hidup"
"Dasar pria muka datar, huh," dia selalu memasang muka datar, jadi kupanggil saja dia 'si muka datar'.
"Ini" dia menyerahkan sebuah kalung. "Kau bisa memakainya, jika kau berhasil menyelesaikan semua misi, batu Nat itu milikmu, jika kau gagal, kembalikan batu itu padaku!, jangan hilang ya, nek!"
"Akuu bukanlah nenek-nenek, kau mengerrrttiii" kataku marah.
"Tidak mengerti, sampai kau bisa selesaikan semua misi itu"
"Tidak masalah, muka datar"
"Muka datar??"
"Kau selalu pasang muka datar, jadi kupanggil saja muka datar"
"Terserah kau mau panggil aku apa, aku tak peduli"
"Aku akan pergi sekarang, aku tidak ada waktu untuk perang mulut lagi denganmu, bayy!!"
"Terserah" sekali lagi dia pasang muka datar.
Aku berbalik lalu pergi, baru sampai depan pintu penginapan, aku langsung teringat sesuatu....
"Oh iya, aku lupa meminta petanya" sejujurnya aku malas bertemu dengannya lagi, tapi tidak ada pilihan lain selain menemuinya untuk meminta peta. Aku pun kembali kedalam penginapan.
(Penginapan)
"Heh, kau kembali lagi, aku tau pasti kau akan menyerah"
"Hei muka datar, aku kembali bukan karena takut atau nyerah, aku kembali karena aku mau meminta petanya!"
"Hahahahahaha, kau tak perlu meminta petanya padaku, batu itu sudah lengkap, kau bisa melihat tempat apapun yang ingin kau lihat melalui peta pada batu Nat itu, bahkan ujung dunia pun dapat kau lihat, tak hanya itu, batu Nat juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan" jelasnya.
__ADS_1
"Oh, kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya?"
"Kau tak bertanya"
"Hah, terserah" ujarku tak peduli, lalu keluar pergi tuk melanjutkan perjalananku menyelesaikan misi.
. . . . . . .
. . . . . . . ( Beberapa menit kemudian )
. . . . . . .
( hutan )
"Ugh, mengapa aku begitu bodoh" ujarku sambil menyentuh kening.
"Aku terus saja berjalan tanpa tau arah mana yang harus kulalui, si muka datar bilang bisa pake batu Nat, ta pii,, giimaanaa caaraa maakeenyaa?" ujarku bersamaan dengan mengeluarkan elemen api di sekelilingku yang membakar sekitarku.
Lalu aku melepas paksa kalung itu lalu melemparnya, belum sempat kulempar, aku terdiam sebentar lalu memakainya lagi.
"Kurasa lebih baik kupakai saja, siapa tau ada yang tau cara pakainya"
Yang dimaksud batu Nat itu sebenarnya adalah sebuah batu berwarna coklat cerah yang berbentuk kristal, batu itu juga berwujud seperti kristal. Sedangkan milikku juga sama dengan batu Nat lainnya yang berukuran sedang, batu Nat milikku pemberian dari si muka datar adalah batu Nat yang diikat menggunakan benang kulit tipis, batu itu diikat melingkar menggunakan tali mengelilingi batu Nat itu, agar lebih mudah memakainya.
Setelah beberapa jam aku berjalan tanpa arah, akhirnya aku melihat sesuatu seperti asap hitam yang berkumpul di langit lalu menghilang menyebar, kuduga asap itu berasal dari sekitar sini, setelah aku ikuti dari mana asap itu berasal, ternyata asalnya juga tak jauh dari lokasi aku berdiri tadi.
Asap itu berasal dari api unggun orang-orang yang berkemah di sana, ada sekitar tiga tenda berwarna orange. Ada 5 orang di perkemahan itu. 4 orang diluar, 1 orang di dalam tenda yang sepertinya adalah pemimpin kelompok mereka karena pakaiannya yang berbeda. Aku dapat melihat dengan jelas orang yang ada dalam tenda, walaupun tenda itu mempunyai 10 lapisanpun aku tetap dapat melihatnya dengan jelas, itulah salah satu kemampuanku. Lalu kuhampiri salah seorang dari perkemahan itu.
"Apa saya boleh bermalam disini?"
"Tidak" jawab pria itu.
"Mengapa?"
"Tidak apa-apa"
"...", "Terserah" kataku sambil berbalik badan dan pergi.
Hari sudah malam, tapi belum juga kutemukan tempat untuk bermalam. "Kurasa aku belum beruntung untuk malam ini" ujarku agak sedih.
"Tunggu, aku bisa bermalam dibawah pohon besar disana", ada sebuah pohon besar didepan, letaknya sih, agak jauh dikit dari tempat aku berdiri, tapi pohon itu bisa dijadikan sebagai tempat bermalamku malam ini. Kuhampiri pohon itu, aku duduk lalu tidur, pose tidurku adalah duduk bersila dibawah pohon, aku sering menggunakan pose tidur seperti itu saat berada di alam terbuka, tidur dengan pose seperti itu memang agak tidak nyaman, namun aku tidak sepenuhnya tidur, karena itulah pose termudah jika ingin tidur namun juga tetap sangat waspada. Baru saja ingin tidur malah mendengar suara. "Toloongggg!" "Tooooolllooooongg!" "Tolong!"
"Ugh,, malam-malam gini ada keributan apa sih?, brisik banget, mau tidur ajah susah" kataku kesal sambil membuka mata.
Aku pun berdiri lalu naik ke bagian ujung atas pohon tertinggi yang kulihat disekitarku, dari atas sana aku melihat sebuah perkemahan yang sedang diserang spirit beast level sedang yang kira kira level 4, Kera Dada Besi, merupakan sebuah spirit beast kera berwarna abu-abu pada keseluruhan badannya. Setelah kuperhatikan lagi, ternyata perkemahan itu adalah perkemahan yang tadi sudah menolakku. "Huh, diserang spirit beast, itu sih namanya karma, salah siapa sudah nolak gadis secantik aku" ujarku dengan pede. Tanpa menunggu lebih lama lagi kuhampiri perkemahan itu.
Aku berdiri disekitar perkemahan, tepat dibelakang spirit beast itu, lalu mengambil batu krikil sedang yang ada dibawahku, aku hanya mengarahkan telunjukku kearah krikil itu dan disertai juga dengan kekuatan spiritual, seketika krikil itu terbang tepat diatas telunjukku, lalu kulempar krikil itu kekepala bagian belakang spirit beast itu, kulempar bagian belakang karena aku berdiri dibelakang hewan gaib itu.
"Woy, monyet jelek, pergi sana!" kataku sambil mennyilakan tanganku.
"Hei nenek-nenek, besar juga nyalimu, berani kau mengusirku" jawab kera itu.
"....., keenaapaaaa semua orang suka sekaali memanggillku nenek-nenekkk" ujarku dengan marah. "Apakah aku setua itu?"
"Hei, kau, pergi sana!, jangan ganggu urusan orang!"
"Woy monyet jelek, kenapa jadi kau yang menyuruhku pergi?, bukankah aku tadi yang menyuruhmu pergi!" kataku kesal.
"Hei, jangan samakan aku dengan monyet!, kami berbeda"
"Gaada bedanya tuh, sama-sama jelek"
"Groooaarrrrrr" auman kera itu dengan nada agak kesal.
Ugh" "Heeii, kau hampir membuat telingaku tuli taauuk" ujarku sambil meninju bagian dada kera itu, seketika kera itu terpental entah kemana.
Saat aku menoleh keorang-orang yang diserang kera tadi, mereka memasang wajah tak percaya dengan mulut menganga.
"A..apakah k..kau bu..kan ma..nu..si..si..a?" kata salah seorang dari mereka tergagap-gagap. "Huh" aku berbalik lalu pergi.
"Tunggu!" kata pemimpin mereka yang berteriak mengejarku.
Akupun berbalik badan, dia menghentikan langkahnya didepanku.
"Terima kasih telah menolong kami, juga maafkan teman saya karena bersikap tak sopan padamu!" ujarnya.
"Tak masalah" lalu aku berbalik lalu pergi, baru satu langkah dia menghentikanku lagi. "Tunggu!"
Aku berbalik "Ada apa lagi?"
"Kudengar tadi malam kau ingin bermalam ditempatku, jika anda berkenan silahkan bermalam ditempatku saja!"
"Apa kau tak keberatan?"
"Tentu saja tidak, silahkan!"
Bersambung )*
__ADS_1