
(Didepan perkemahan)
"Maaf, kalau boleh saya tau?, untuk apa nona berjalan sendirian di Hutang Yang E ini?" kata pemimpin.
"Saya datang untuk menyelesaikan beberapa misi, namun belum juga kutemukan lokasinya"
Saat kuperhatikan lagi ternyata dia melihat kearah dadaku, bukan, lebih tepatnya kearah kalungku.
"Bukankah kau memiliki batu Nat", "Batu Nat itu, sangat sulit untuk didapat"
"Benarkah"
"Hmm"
"Darimana kau dapatkan batu itu, mendapatkannya pasti sangat sulit ya?"
"Aku dikasih"
"Apa!"
"Seorang pria memberiku ini"
"Siapa?"
"Si muka datar"
"Eh?"
"Aku tidak tau nama aslinya, dia selalu pasang muka datar, jadi kupanggil muka datar"
"Pasti kau orang yang berarti baginya ya, jika tidak, mana mungkin dia memberimu batu Nat berharga itu begitu saja"
"Kata 'berarti baginya' itu sangat berlebihan"
"Puft, benarkah?" katanya menahan tawa.
Dari samping tenda paling ujung, seseorang memanggil kami.
"Tetua, dan kau nenek-nenek, mari makan terlebih dahulu!"
"Setiap orang selalu mengejekku nenek-nenek, menyebalkan!"
"Memangnya berapa umurmu yang asli?"
"Baru 16 tahun"
"Whaaattt" katanya sangat-sangat terkejut.
"Tidak mungkin!"
"Hey, berapa usiamu?"
"19 tahun"
"Um, tapi mengapa penampilanmu sangat tidak meyakinkan?, kukira kau berumur 49 tahunan"
"Ugh, hei, ini adalah topeng pengubah wujud"
Seketika dia mengupas topeng yang menempel pada wajahnya, topeng itu tak tampak seperti topeng saat dipakai dan menyerupai wajah manusia, malahan kukira dia tadi menguliti kulit mukanya sendiri.
"Inilah wajah asliku"
"..." aku terbengong memandang wajah orang itu, dia tampak tampan, gagah, dan gelentmen tentunya, ouh, sungguh pria incaran para wanita diseluruh dunia, namun dia masih kalah sedikit dengan lelaki pertama yang pernah kutemui pertama kali itu saat aku dikejar para bandit.
"Um, hei, hei, mengapa kau terbengong" katanya sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
"Um, ah, yah, a, aku" kataku salah tingkah.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Uh, yah, aku baik-baik saja"
"Kurasa kau butuh istirahat, lagian ini sudah malam, tidurlah, kau bisa tidur ditendaku"
"Ba, baik"
( tenda )
"Tunggu!"
"Jangan bilang kita tidur ditenda yang sama!"
"Tapi aku akan bilang 'iya' "
"Apakah tidak ada tenda lainnya?"
"Hei, kita semua berjumlah 6 orang, dan aku hanya mempunyai 3 tenda, setidaknya satu tenda muat 2 orang, kalau kau tak mau tidur disini, tidurlah diluar!, atau kau mau tidur dengan bawahanku?"
"Ugh, baiklah, tapi kau tidur disisi kanan, aku tidur disisi kiri!"
Lalu aku membuat pembatas diantara dua alas tidur kami menggunakan barang apapun yang ada di tenda.
"Huh, aku sudah membuat pembatas, yang melewatinya, mati!"
"Hah, terserah!" kata pria itu.
Lalu kami pun tidur.
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
__ADS_1
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
| | |
_____
( pagi )
"Um, nyaman sekali", "Begitu berotot, gagah( mengigau )" sambil mengelus-elus dada laki-laki itu.
"Eh, tunggu! ( tersadar )" membuka mata.
"Huaahh" Aku tertidur dalam keadaan tangan dan kaki memeluk pria itu. "I..ini ( nengok ke perbatasan )
"T..tunggu, jadi malah aku yang melewati perbatasan"
"A..aku tidak akan mati, kann?"
"Hei, bisakah kau bangun?"
"Hah" nengok ke pria itu.
"Kau membuatku susah gerak, gabisa tidur tauuuuuu"
"Ma..maaf"
"Hem"
"...."
"...."
"Kenapa kau diam saja?"
"Karena aku tak menyangka kau sangat suka memelukku", "Kalau kau memohon, mungkin akan kuberi kesempatan untuk memelukku lebih lama"
Seketika aku pun berdiri. "Maaf"
"Yah, tak apa-apa"
Kami pun berdiri lalu bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
( ditengah perjalanan )
"Hei"
"Hm"
"Siapa namamu?"
"Alaster"
"Oh"
"Siapa namamu?"
"Oh"
"Apa kau tak ada marga?" tanyaku.
"Kau sendiri?" katanya sambil melihatku.
"Aku ada, hanya saja itu rahasia"
"Apa aku belum cukup untuk membuatmu percaya?" katanya dengan alis terangkat.
"Belum"
"Ugh, kurasa aku perlu berjuang lagi tuk membuatmu percaya"
"Kenapa?"
"Entahlah"
Akupun melihat kearahnya, saat dia menyadari aku melihat kearahnya diapun melihat kearah lain dan aku baru menyadari sesuatu, pipi Alaster memerah.
"Umm, apa yang terjadi padanya?" kataku dalam hati yang sangat kebingungan.
"Tuan muda, kita hampir mendekati Sungai Khan" teriak salah satu bawahan Alaster.
"Tuan muda?" gumanku.
"Tentu saja, apa kau tak tahu" sahut bawahan Alaster.
"Tuan muda adalah keturunan klan Zhikey yang termasuk klan kuno legendaris, Alaster Zhikey" sahut bawahannya yang lain.
"Mengapa kau terlalu besar mulut, hah?" marah Alaster sambil tangannya menggepal terangkat.
Baru saja Alaster ingin memukul bawahannya aku pun berkata..
"Apa itu klan Zhikey?"
"Hey, kau hanya orang kampungan, mana mungkin tau klan besar seperti klan Zhikey" pungkas bawahan Alaster.
"Oooh, setauku hanya ada klan Wayven dan Ukiha"
"Hah, sok tau" kata bawahannya yang lain lagi.
"Huh, kata siapa?", "klan Wayven, mempunyai tiga keturunan, 2 laki-laki dan 1 perempuan, tetuanya bernama Lei Wayven, nyonnyanya bernama Xuchige Dai, pernah mengikuti perang besar, 2 hari setelahnya meninggal, sebelum meninggal pernah mengidap penyakit batuk darah yang mematikan, sedangkan klan Ukiha mempunyai dua keturunan perempuan, tetuanya bernama Okuyo Ukiha Han, nyonnyanya bernama Xuo Unxai, apa informasi ini cukup?" jelasku.
"I..ini" kata bawahan itu tergagap-gagap.
"Tunggu,,, aduuuhhhh, aku malah membocorkannya" kataku sambil memegang kepala.
"Siapa kamu sebenarnya?" ujar Alaster sambil memegang pundakku.
"Ap..apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kau pasti bukan orang sembarangan, tak sembarangan orang bisa tau itu, bahkan detektif terhebat seduniapun tak bakal tau informasi sepenting itu"
"I..ini, um, se be nar nya, um.."
"Jawab" ujar Alaster membentak.
"A..aku, berasal dari klan Wayven"
"Apah?" Alaster terkejut beserta bawahannya.
"Hahahaha, buktikan!" ujar bawahannya.
"Apa yang bisa kubuktikan?"
"Jika kau tak bisa membuktikan, berarti kau hanya omong kosong saja"
"Cepat buktikan!, kalau tidak..."
"Tunggu, aku percaya pada Xiya, tak perlu dibuktikan" potong Alaster.
"Tapi.."
"Cukup, jangan membantah!"
"Baik tuan muda"
"Kenapa kau percaya padaku?"
"Pertama karena kau lucu"
"Kau mempercayaiku bukan hanya karena aku lucu kan?"
"Haha, tentu saja, orang biasa takkan mungkin bisa membuat hewan gaib seperti Kera Dada Besi terpental hanya dengan sekali tinju apalagi kau meninjunya pada bagian dada, orang biasa tangannya akan retak jika memukul dadanya, itulah sebab namanya Kera Dada Besi"
"Oh, aku tak terlalu memikirkannya"
"Hah dasar"
Aku hanya membalasnya dengan bahu terangkat.
"Sungai didepan sana sangat deras, naiklah kepundakku!" pungkasnya sambil berjongkok didepanku.
"Hei, ilmu peringan tubuhku tak cukup buruk, kau tak perlu lakukan ini"
"Kau akan membuatku kehilangan muka didepan bawahanku jika kau menolak"
"Ugh baiklah"
"Tap tap", terdengar suara sepatu yang bergesekan dengan bebatuan diatas sungai deras. Terlihat ikan-ikan berenang melawan arus disepanjang sungai. Terdengar kicauan burung-burung yang bertengger didahan sepanjang bantaran sungai. Kini, kicauannya tak seperti biasanya, kicauannya terlihat lebih ceria dan bersemangat, tak seperti pada siang hari, kicauannya terlihat lesu dan terdengar mengeluh karena panas terik sinar matahari.
Hari masih pagi, dan aku baru mendapat 1/4 dari perjalananku.
"Kau baik-baik saja?" Alaster menurunkanku.
"Iya", "Oh iya Alaster, kau kan juga termasuk keturunan klan Zhikey, seharusnya Kera Dada Besi itu tak menjadi masalah bagimu"
"Sebenarnya aku kehilangan 3/4 kekuatanku"
"Bagaimana bisa"
"Bisa saja, seb..."
"Tuann, gawat, ada spirit beast datang menuju kemari" teriak bawahan Alaster yang memotong pembicaraannya.
"Apa kita perlu sembunyi?" tanyaku agak panik.
"Tak perlu"
"Kau akan melawannya?, oh ayolah!, kita tidak tau hewan apa itu"
"Bukan aku, tapi kau"
"Hei, mengapa kau malah jadi terlihat seperti pengecut"
"Lebih baik kita mulai bergerak daripada hanya berdiri diam dan mengobrol hal tak penting disini!"
"Oh terserah kau sajalah"
Kami mulai untuk bersembunyi terlebih dahulu, karena kita belum tau hewan apakah itu.
Tak lama kemudian spirit beast itu datang. Hewan itu mulai berhenti bergerak, tepat didepan kami bersembunnyi, dia terdiam, sedang mengamati sekitarnya, dia sedang menganalisis sesuatu, dia merasa ada sesuatu yang ganjil disekitarnya.
"Be..besar sekali" seorang bawahan berbisik sesuatu.
Seketika hewan itu mengarahkan kepalanya kearah kami, matanya tertuju kearah rerumputan disampingnya, yah, itulah tempat persembunyian kami.
"Ga..gawat, dia kesini"
"Lebih baik kau diam sajalah" terdengar para bawahan bercakap-cakap.
"Apa kalian mau dia menemukan kita lalu menjadikannya santapan makan malam??" amarah Alaster.
"Hei bung, simpanlah amarahmu itu, kita tak beruntung, dia menuju kesini" ujarku dengan suara pelan sambil menyikut Alaster.
Hewan itu mendekat, semakin dekat, dan dekat, pilihan terbaik yang sebenarnya itu adalah memilih untuk diam, tetaplah diam ditempatmu, tapi para bawahan malah memilih untuk berlari menjauh. Mereka tiba-tiba berdiri dan berlari menjauh dari tempat persembunyian kami, seketika hewan itu mengarah ke para bawahan itu, lalu mulai mengejarnya.
"Ini kesempatan kita untuk lari" ujar Alaster.
Alaster menarik tanganku dan berlari menjauh secepat mungkin.
"Ugh..bisakah kau pelan-pelan..monster itu tak mengejar kita" ujarku terengah- engah.
"Walau monster itu tidak mengejar kita, kita tetap ga boleh lengah, itu adalah spirit beast singa darah hitam, biasanya singa darah hitam yang berumur diatas 80 tahun akan sudah memiliki pasangan, aku sangat yakin dia berusia 83 tahun, seharusnya pasangannya ada disekitar sini" ujarnya menjelaskan.
"Aku yakin dia adalah pasangannya" jawabku sambil menunjuk seekor singa darah hitam.
"Tunggu, ini, pasangannya, sedang hamil, dia sedang ingin melahirkan" tanggap Alaster.
"I..ini, aura ini, dia adalah spirit beast level 7" ujar Alaster terkejut.
"Apa masalahnya dengan spirit beast level 7, peliharaanku jauh lebih tinggi dibandingkan ini" tanggapku sombong.
"Aku khawatir dia sedang mengintai kita" Alaster menyenggolku sambil memelototi singa betina itu.
Bersambung)*
__ADS_1