
Keesokan harinya kami beranjak dari gua itu dan pergi, hingga sampai pada suatu jalan setapak yang dipenuhi bebatuan kerikil, kami diserang, seseorang melempari kami dengan panah duri beracun, kami hanya mencoba menghindar tanpa mencoba menyerang balik, karena serangan semakin banyak Alaster pun mulai mengambil tindakan. Ia meloncat tinggi lalu menyerang seorang yang menyerang kami tadi dengan kecepatan laksana halimun, sontak seseorang tadi langsung menghindar, kuakui respon seseorang yang menyerang kami tadi cukup cepat. Alaster memang kehilangan kekuatannya, tapi kecepatannya nyaris menyamai angin.
Kurasa ini kesempatanku menyerangnya saat dia sedang beradu kekuatan dengan Alaster.
Kukeluarkan jurus yang tak terlalu berakibat fatal, kita membutuhkannya untuk mendapat informasi lebih dan Xiya sedang tidak ingin membunuh orang.
Sesuai dugaan, serangan Xiya mengenai kaki orang itu.
"Bruk srekk" karena Xiya menyerang orang itu saat dia sedang melayang maka dia pun terjatuh di rerumputan semak, beruntungnya dia tidak terjatuh membentur batu, karena itu pasti akan sangat menyakitkan.
"Apa kau tidak apa-apa?" Xiya membantu orang itu berdiri.
"Humph!!" Gumannya cuek memalingkan muka.
"Hei, dasar tak tahu berterima kasih, beruntung kami tak membunuhmu"
"Sudahlah Al, bersikap tenanglah!" Sahut Xiya sambil menepuk-nepuk bahu Alaster.
"Siapa yang mengutusmu untuk menyerang kami?"
Orang itu diam.
"Aku tak suka mengulangi kata untuk yang kedua kalinya!" Bentak Alaster mencekik leher orang itu.
"Ukh"
"Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak bicara!!"
"Cukup Al, tenanglah!"
Mendengar perkataan Xiya, Alaster langsung melonggarkan cekikannya, lalu melepasnya. Entah kenapa hanya gadis bernama Xiya itu seorang yang dapat membuatnya tenang bak permukaan air dalam gelas yang datar tak bergelombang.
"Siapa kau? Kenapa kau menyerang kami?" Tanya Xiya pelan.
"Kenapa aku harus memberitahumu?!"
"Kumohon, kami sedang dalam perjalanan ke daerah Barat, kami tak ingin ada yang mengganggu perjalanan kami"
" Lantas apa hubungannya denganku?!"
" .... "
" Cih, dibaikin malah nyolot aja"
" Siapa kalian?" " Kenapa kalian menyerangku?"
" Cih, apa kau bercanda?! kau yang menyerang kami tadi"
" Aku Xiya, dan ini Alaster"
"Aku Ryuwua"
"Mengapa kau menyerang kami?"
"Aku mengira kalian adalah utusan dari orang-orang kelompok Yoguzha"
"Apa itu?"
"Kelompok Yo...ugh!..." hampir terjatuh.
"Ah aku lupa, aku menyerang kakimu tadi, kau terluka" memapah Ryuwua.
__ADS_1
Xiya memapah Ryuwua lalu mengistirahatkannya pada sebuah dahan pohon yang cukup lebar.
"Bagaimana keadaanmu?" memeriksa kaki Ryuwua.
"Aku tak terlalu baik-baik saja"
"Ini tak parah, kakimu hanya cedera dan terkilir ringan saja, aku akan mengobatimu"
"Al, kau jaga dia disini, aku akan mencari bahan obat herbalnya" ujar Xiya sambil berdiri.
"Jangan lama-lama, jaga dirimu!"
"Tenanglah, Qiao Lin bersamaku" tersenyum kearah Qiao Lin, tampaklah ekspresi senang diwajah singa kecil itu.
"Hei, kau tak bisa menjamin keamananmu dengan monster kecil ini, bagaimana jika aku pergi bersamamu?" menatap Xiya penuh harap.
"Tidak!" "Tetaplah disini!, jaga Ryuwua!"
"Humph" tampaklah wajah cemberut Alaster, saat ia menengok kearah Qiao Lin, tampak senyum mengejek diwajah singa kecil itu. "Cih" guman Alaster dalam hati.
"Aku pergi dulu sebentar, aku takkan lama ko" kata Xiya dikejauhan sambil melambaikan tangan pada Alaster dan Ryuwua.
Setelah Xiya berjalan cukup jauh..
"Hei!" panggil Ryuwua.
"Hm" sahut Alaster.
"Kenapa kau menolongku?"
"Aku tak menolongmu, Xiya lah yang menolongmu, kau beruntung"
"Ah, baiklah" tampak ekspresi sedikit kaget dan kecewa yang ada diwajahnya.
"Hm"
"Al, apa aku boleh memanggilmu begitu?"
"Terserah"
"Al, apakah gadis itu kekasihmu?"
"Dia bukan kekasihku, dia teman seperjalananku"
"Kurasa dia sangat dekat denganmu, dia memanggil nama depanmu tadi"
"Dia memang dekat denganku, memangnya kenapa jika dia memanggil nama depanku?"
"Memanggil dengan nama depan itu melambangkan kedekatan yang lebih dari sekadar seorang teman dan sahabat, see seeperti aku memanggilmu dengan nama Al tadi" saat menyebutkan bagian terakhir tampak Ryuwua malu-malu sendiri.
"Oh.. jadi jika memanggil nama depan melambangkan kedekatan yang lebih dari seorang teman, kalau gitu aku bisa memanggil Xiya dengan nama Xixi dong, dia pernah memanggilku Al, Al adalah nama depanku, berarti dia sudah menganggapku lebih dari temannya, wah senangnya, hehe, si singa kecil itu takkan bisa bersaing denganku, hehehe" kata Alaster dalam hati.
Semetara Alaster yang sedang tenggelam dalam pikirannya, Ryuwua sudah memanggilnya berkali-kali sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mata Alaster.
"Al?" panggil Ryuwua.
"Al?"
"Al?"
"Al?"
__ADS_1
"Aalasterr!?"
"Hah" Alaster terkejut dan terlepas dari pikirannya yang sedang bercakap-cakap dengan arwah dirinya tadi.
"Al, kamu ga papa?"
"Okey, mulai sekarang kamu dilarang panggil aku dengan nama depanku!" kata Alaster tegas.
"Lah, kenapa?"
"Karena aku gak dekat dan gak kenal denganmu"
"Tapi kita bisa berkenalan agar bisa lebih dekat"
"Gak!, aku gak pengin kenal dan dikenal olehmu, titik! gak pake koma!"
"Tapi.."
"Hai, aku dah dapet nih" tampak Xiya datang membawa serenteng dedaunan untuk mengobati kaki Ryuwua.
"Eh, Xixi, kamu udah balik"
"Hah? Kamu panggil aku apa tadi? Xixi?"
"Iya itu melambangkan..."
"Yaudahlah, terserah kamu panggil apa, yang penting jangan kaya si muka datar itu, jangan panggil aku nenek"
"Oke Xixi"
Xiya langsung jongkok lalu mulai mengobati kaki Ryuwua.
"Cih, nyesel aku kasih tau Alaster soal panggil nama depan" kata Ryuwua dalam hati. "Pokoknya aku gabakal kalah sama gadis sialan ini"
"Oke, sip, udah selesai nih ngobatinnya"
"Lebih baik aku jangan nyerah, aku bakal bersusaha buat deketin Alaster, ga boleh terkecoh sama gadis sialan ini"
Xiya dan Alaster sudah memanggil Ryuwua beberapa kali, namun ia tak mendengarnya juga, hingga...
"Woyyyyyyyy, jan kebanyakan ngomong sama arwah, Sadar! Sadarrr!"
"Hah" Ryuwua terkejut mendengar teriakan Alaster yang hampir mbuat telinga pecah.
"Diem kau" bentak Xiya sambil nutup telinganya.
"Hehe, maaf deh"
"Oh ya, kalian bakal bermalem dimana?, ini udah hampir gelap"
"Kita belum ada tempat buat bermalem sih"
"Iya, tadinya sih aku bawa bekal tenda, tapi itu dibawa ama bawahanku, trus kita terpisah sama mereka"
"Oh, kalau gitu kalian bermalem ditempatku aja, ayahku pasti setuju kok"
"Boleh juga tuh"
"Okey, yuk, jalanya lewat sini" Ryuwua menunjukkan jalan, ia berjalan duluan didepan.
Beberapa puluh menit kemudian..
__ADS_1
"Oke kita sampai"
Bersambung )*