
"Groaaarrrrrr" singa itu mengaum, entah karena kesal atau kesakitan.
Seketika Alaster meraih tanganku lalu berlari menjauh, setelah beberapa langkah aku pun berhenti.
"Ada apa?" tanya Alaster.
"Aku merasa ada sesuatu yang ganjil, kurasa singa itu tak mau mengganggu dan diganggu" jawabku sambil memperhatikan seekor singa betina yang ada dihadapanku ini.
"Groooaaarrrrr" sekali lagi singa itu mengaum.
"Eehh.. apa ia memerlukan bantuan?" Alaster berbisik padaku.
"Kenapa tak kau tannyakan padanya saja"
"Oh ayolah Xiya, apa kau tega membiarkan seorang pria tampan sepertiku ini rela mendekati singa gemuk nan bau itu" bisik Alaster sambil merengek.
"Oy manusia laknat, kau pikir aku tak mendengarmu" sahut si singa betina.
"Eh..kamu bisa bicara"
"Oy.. aku itu spirit beast level 7, tentu bisa bicara dong!!"
"Dihh.. galak bat"
"Apa kau perlu bantuan?" pungkasku.
"Siapa kau?!"
Aku mendekati singa itu.
"Cih..menjauhlah dariku!"
"Kau mengalami pendarahan" ujarku sambil menyentuh perut singa itu.
"Kau tahu? Kalau begitu bisakah kau membantuku"
"Hmm bisa sepertinya, aku cukup tau ilmu medis"
"..." tampak Alaster sedang memelototi singa betina.
"Eehhhh.. ngapain kamu masih disini, pergi sana, ga usah liat-liat" teriak sang singa betina.
"Ih.. jadi orang galak amat sih.."
"Biarin aku galak.. aku juga bukan orang"
"Iya..iya dasar gendut" sahut Alaster lalu pergi.
"Manusia memang makhluk yang menyebalkan"
"Kuharap kamu bisa menahan rasa sakitnya"
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku sudah siap"
"Baik..kita akan mulai"
(Beberapa menit kemudian)
"Grooaaaarrrrrrrr" auman keras nan lantang keluar dari mulut singa betina itu.
Alaster yang terkejut pun berlari menuju lokasi aku dan singa itu berada.
"Apa ada yang tidak beres?"
Pandangannya pun tertuju pada seekor bayi singa imut yang berada pada pelukanku.
"Makhluk apa ini, imut sekali" tanya Alaster.
"Kau bercanda, tentu saja ini adalah makhluk hidup" jawab singa betina.
"Aku tak tanya padamu"
Singa itu hanya memalingkan mukanya.
Aku pun menurunkan bayi singa itu lalu bayi singa itu mulai memanjakan dirinya pada ibunya.
"Gadis baik, boleh aku mengetahui namamu?"
"Xiya Wayven, itu adalah namaku"
"Xiya, umurku sudah tak panjang lagi, aku berharap kau mau merawat bayiku yang masih kecil ini" memberikan bayi singa pada Xiya.
"Apa maksudmu?" membopong bayi singa itu.
"Setiap singa darah hitam hamil, itu hanya akan berlaku sekali saja, setelah itu singa itu akan mati, itu juga berlaku padaku"
"Bagaimana dengan pasanganmu?"
"Aku yakin dia sudah pergi, singa darah hitam jantan akan mencari pasangan lagi jika pasangan sebelumnya sudah melahirkan, jadi bayi singa darah hitam akan hidup sendiri sejak lahir, biarkanlah bayiku mengabdi padamu selamanya, dan melayanimu seumur hidupnya, kuharap ini cukup untuk membalas jasamu itu"
"Tak perlu melakukan itu, aku tidak melakukan apa-apa, dan aku hanya akan menganggapnya teman, aku janji akan merawatnya hingga menjadi spirit beast yang kuat"
"Kau memang gadis yang baik, aku yakin suatu hari nanti kau akan menjadi petarung terhebat dimuka bumi ini"
"Terima kasih atas doamu"
"Tak masalah, aku akan selalu mengingat jasamu itu, pergilah!"
"Baik, aku pamit undur diri"
(Setelah lumayan berjalan jauh)
"Hei, siapa nama bayi singa ini"
__ADS_1
"Hmmm, belum ada yang memberinya nama"
"Ayo kita beri nama dia, bagaimana dengan nama Cantik?"
"Apa kau bercanda"
"Heyy, aku belum selesai bicara... maksudku adalah Cantika"
"Alassterr, jangan bercanda, bayi ini laki-laki"
"Oh.. bagaimana dengan nama Bue Suq"
"Ehh... gak, namanya seperti gimanaa gitu"
"Gimana kalau Kin Kong"
"Kau itu memang tak bisa diandalkan, lebih baik Qiao Lin saja"
"Hmm.. lumayan"
"Okay, mulai sekarang namamu adalah Qiao Lin" kataku sambil melihat bayi singa itu.
"Groaarr" auman bayi singa.
"Hey, kau kira kau bisa menakutiku dengan auman kecilmu itu" ledekan Alaster.
Singa itu tiba-tiba mencakar muka Alaster dengan kecepatan yang tak dapat di prediksi.
"Arrgghhhh... wajah tampanku rusak.."
"Kau itu benar-benar..." tampak Alaster ingin memukul Qiao Lin.
Dengan kecepatan penuh Qiao Lin langsung bersembunyi dibelakang pundak Xiya.
"Heii.. jangan bersembunyi dibelakang perempuan, kalau berani lawan aku secara jantan"
Qiao Lin hanya menjulurkan lidah dan tampak meledeki Alaster.
"Kauuu.."
"Alaster tenanglah, Qiao Lin masih kecil, jangan terlalu keras padanya"
"Apa kau tak melihat kelakuannya dibelakangmu itu, kelakuannya liar dan tak bermoral"
Xiya pun menoleh ke Qiao Lin, dalam sekejap Qiao Lin langsung memasang mode imut.
"Ini yang kau sebut liar dan tak bermoral" membopong Qiao Lin.
Sementara Xiya yang sedang sibuk memarahi Alaster, Qiao Lin langsung meledeki Alaster lagi dengan senyuman mengejek.
"Cuihh.. raja akting.." pungkas Alaster dalam hati.
__ADS_1
Bersambung )*