
Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai pada sebuah tempat di hutan yang dipenuhi bebatuan, hampir 85% tempat ini dipenuhi bebatuan.
Hutan itu serasa sangat sepi dan sunyi, sangking sunyinya kami berdua pun ikut terbawa suasana yang sepi itu, sangat canggung rasanya.
"Ingin berkata duluan, tapi nanti takut salah, kalau ditunggu-tunggu ntar makin canggung..ugh gimana nih" itulah yang diucapkan dalam hati oleh para dua manusia berlawanan jenis itu.
"........"
"Aku ingin berkata.." tanpa diduga kami mengucapkannya bersamaan.
"Emm..kau dulu.." sekali lagi kami mengucapkannya bersamaan.
"Haha..tak terduga ya.." pungkas Alaster.
"Tadi kamu mau bicara.." dan untuk yang ketiga kalinya kami berucap bersamaan.
"Umm.. i..ini mungkin kebetulan" kataku canggung.
"Atau mungkin kita jodoh"
"Lah..dasar.."
Alaster hanya menanggapiku dengan tersenyum.
"Umm..Al?"
"Ya..?.."
"Apa kau mau menceritakan bagaimana kekuatanmu bisa menghilang seperti yang kau ceritakan itu?"
"Boleh...boleh boleh boleh..tapi..."
"Tapi apa?" pungkasku bingung.
"Kau perlu membayarku deng..."
"Hei..kau bercanda.. membayarmu itu berarti aku bodoh kann..mana mungkin aku membayar hanya karena ingin mendengar ceritamu itu"
"Kau begitu suka memotong pembicaraanku kah?..lagian aku hanya bercanda..apa kau bukan orang yang tak bisa diajak bercanda?"
"Aku tak suka bercada, aku lebih suka jika kita serius"
__ADS_1
"Ugh baiklah..aku akan serius okay. Jadi dulu beberapa tahun yang lalu, keluargaku, keluarga Zhikey pernah mendapat suatu kabar gembira dengan lahirnya seorang bayi laki-laki keturunan klan Zhikey, tak salah lagi, bayi..itu..adalah..aku, Alaster Zhikey, para peri peramal dari berbagai penjuru negri ini pun ayah undang untuk meramal takdirku, semua peri peramal diundang kecuali satu peri peramal penganut ilmu hitam, karena peri peramal hitam itu sudah lama hilang, orang-orang mulai bertanggapan kalau peri itu sudah meninggal, begitu berlangsungnya acara peramalanku, sang peri hitam itu tiba-tiba datang. "Mengapa kalian tak mengundangku?!"
"Kau sudah lama menghilang, aku tak tau jika kau masih bernapas di bumi ini"
"Kalian mengira jika aku sudah tiada, sungguh kejam"
"Kami salah, kami mengaku salah"
"Apa aku boleh ikut meramal?" tersenyum mencurigakan.
"Oh..tentu saja, silahkan" sahut ayah Alaster.
"Baiklah, aku meramalkan bahwa dia akan memiliki masa depan yang cerah, ia akan menjadi seorang kesatria yang memiliki kekuatan tak terbatas"
"Benarkah?" Setelah mendengar ucapan sang peri hitam, seluruh hadirin di dalam ruangan itu pun tertawa bahagia dan bertepuk tangan. "Tapi... karena kalian berani tak mengundangku dan mengabaikanku akan kusegel kekuatanya, dengan begitu mungkin masa depannya tak akan cerah lagi, hahahaha.." perlahan peri itu menghilang. Sejak saat umurku 7 tahun segel itu mulai aktif dan mulai menyegel kekuatanku"
"Apa kau tahu cara menghilangkan segel itu?" tanyaku.
"Tidak! Kalaupun aku tahu mungkin segel ini bisa terlepas dari dulu"
Kami mulai bercerita-cerita sambil meneruskan perjalanan dengan berjalan, tanpa diduga hujan tiba-tiba datang mengguyur kami dengan derasnya.
"Lebih baik kita berlindung, daerah ini hampir 85% adalah bebatuan, aku yakin ada gua disekitar sini"
Kami mulai mengamati sekitar kami. "Itu!" Tampak Alaster menunjuk sebuah gua yang agak jauh dari lokasi kami.
"Tempat itu agak jauh, kita akan kebasahan jika kesana" pungkas Alaster.
"Aku ada sihir teleportasi, kita akan menggunakanya" sahutku.
Kurapatkan diriku dekat Alaster lalu kupegang tanganya, aku pun menoleh kearahnya, dan aku menyadari kalau muka Alaster memerah untuk kedua kalinya. Aku bertanya-tanya dalam hati "Apa yang kulakukan hingga membuat Alaster seperti itu?"
Aku menggunakan sihir teleportasi, lalu dalam sekejap kami sudah ada didalam gua itu.
"Sihirmu praktis juga ya" pungkas Alaster.
"Butuh waktu yang tak lama untuk bisa menggunakan sihir apa kau tahu itu.."
"Oke-oke"
"Al?"
__ADS_1
"Hah?"
"Kau tahu dimana kita berada, daerah ini banyak bebatuan, hampir kaya dippegunungan"
"Kita berada di dataran Jieshi"
"Belum pernah kudengar sepertinya"
"Aku mendapat kabar kalau dataran Jieshi ini banyak monsternya, kudengar monster itu seperti manusia namun mukanya mengerikan, monster itu berjenis kelamin perempuan dengan ukuran dadanya berdiameter...."
"Oi.. siapa peduli dengan ukuran dada seorang monster"
"Kau merusak ceritaku okay.. berkomentarlah saat aku selesai bercerita nanti"
"Berapa lama lagi?"
"Sebentar kok, cuma dua jam lagi"
"Ck... dua jam kau bilang sebentar"
"Apaan ck cak ck?"
"Ga papa, gih dilanjutin!"
"Jadi jika ada orang yang sudah melihat monster itu, maka ia tak akan dibiarkannya hidup, tak ada yang pernah selamat dari monster i...."
"Kau bilang tak ada yang selamat lalu dari mana kau dapat cerita khayalanmu itu?"
"Arghh.. kau suka sekali memotong pembicaraanku, asal kau tau nenek-nenek, kudapat cerita ini dari seorang peramal, bu...."
"Lagi-lagi peramal, apa tak ada yang lain?"
"Kau merusak ceritaku lagi..suka sekali kau potong ceritaku ini"
Aku hanya memalingkan muka tak peduli.
"Sebaiknya kita tidur sekarang, ini sudah malam" pungkasku.
"Hmm.. baiklah"
Bersambung )*
__ADS_1