
BAGIAN 1
Seorang wanita cantik yang memiliki body langsing tinggi berambut sebahu tengah keluar dari sebuah restoran mewah di tengah kota, ia keluar menuju mobil Ferrari hitam miliknya dan pergi berlalu dari restoran itu, ia melajukan mobilnya membela jalanan malam. Setelah perjalanannya ia pun sampai di rumah mewah ia memasukkan mobilnya di sebuah garasi mobil rumah tersebut dan masuk ke dalam rumah itu, kepulangannya di sambut seorang gadis mudah sepertinya itu adiknya, setelah ia berbincang sebentar dengan gadis mudah itu ia berjalan memasuki kamarnya namun langkahnya terhenti kala mendengar sebuah suara wanita yang memanggil namanya, wanita cantik mungkin usianya kira-kira 30an.
"Elina!" panggil wanita cantik itu
Itulah nama wanita mudah tersebut Elina, nama yang cantik begitupun orangnya.
"Ya ibu." Jawab Elina, yang ternyata yang memanggilnya itu adalah ibunya.
Mudah banget ibunya Elina, hehehe.
"Elina, kapan kamu menikah usia mu sekarang itu sangat cocok buat menikah, lihat kakak mu dia sudah menikah lalu kamu kapan?" Keluh ibunya Elina
"Iya Bu nanti." Ujar Elina sambil tersenyum manis berjalan menuju ibunya.
"Kamu selalu saja ngomong kaya gitu, tapi nggak tau nantinya kapan, ibu udah nggak sabar ingin menimang cucu dari mu!" Keluh ibunya lagi dengan nada sedih sambil menatap anak wanitanya tersebut.
"Iya pasti aku juga akan nikah kok, tapi sekarang Elina pengen fokus dulu sama kerja Elina, Elina pengen mendaftarkan Eliza kuliah di Prancis Bu makannya Elina masih sibuk kerja." Ujar Elina dengan nada lembut menenangkan ibunya.
Ibunya hanya diam dan Elina mengecup kening ibunya lalu pergi ke kamarnya, sesampai di kamar ia membaringkan tubuhnya di kasur miliknya.
"Lelahnya" gumamnya
Elina wanita 28 tahun yang berkerja sebagai bos di sebuah restoran mewah, restoran yang ia jalani selama 3 tahun dan sekarang menjadi sebuah restoran mewah.
"Aku belum memikirkan tentangan pernikahan, tetapi jika tidak ibu akan mengeluh terus padaku yang belum menikah juga." Keluhnya
*Pagi hari*
POV Elina
__ADS_1
Aku terbangun karena sinar mentari pagi yang masuk ke dalam kamarku, aku berjalan membuka tirai jendelaku dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diriku setelah selesai dengan ritual mandi ku aku pun keluar dari dalam kamar mandi untuk bergegas memakai pakaian dan turun ke bawah untuk sarapan, aku melihat ibu ayah dan Eliza tengah duduk menyantap sarapan mereka.
"Wah masakan enak lagi." Aku memulai sarapan pagi ku dengan nikmat
"Elina, kamu sibuk hari ini?" Tanya ibu yang memecah percakapan pagi kami
"Hm, sepertinya begitu." Ujar ku sambil makan, tumben sekali ibu bertanya seperti, aku merasa curiga dengan ibu pasti dia telah merencanakan sesuatu.
"Sudah lah, hari ini kamu nggak usah pergi ke restoran mending kamu temani ibu ketemu sama teman lama ibu."
Sudah kuduga! Aku menghela nafas berat aku tahu ibu pasti bukan hanya memintaku untuk menemaninya bertemu teman lama ibu, pasti juga mengenalkan ku pada anak temannya, 2 bulan lalu juga seperti itu, aku masih meneruskan acara makan ku tak ku hiraukan ibu yang sedang mengomel padaku karena aku tidak mau pergi dengannya, aku ingat 2 bulan yang lalu ibu meminta aku untuk menemaninya dan setelah sampai ibu malah langsung mengenalkan ku pada anak temannya, lelaki itu lebih tua dari ku dia lelaki yang genit aku langsung berpamitan ke kamar mandi kalah melihat lelaki itu.
"Kamu udah jarang menemani ibu loh." Ucap ibu yang masih membujuk ku untuk menemaninya pergi.
"Iya deh aku ikut." Dengan nada malas aku menyetujui bujukan ibu.
"Gitu dong anak mama." Ibu langsung kegirangan dan mengusap kepalaku.
Aku dan ibu sudah bersiap-siap untuk pergi kami menaiki mobilku aku yang menyetir, kalau aku jalan bersama ibu banyak orang yang bilang kami adik kakak, ibu berumur 48 tahun tapi jika dilihat ibu seperti wanita dewasa yang masih berumur 30an kadang aku iri melihat kecantikan ibu yang masih membahana pantas saja ayah kesemsem sama ibu. Di perjalanan aku hanya diam ibu yang sedang sibuk berdandan, aku benar-benar bosan jika menemani ibu bertemu temannya.
"Ayo teman ibu sudah memesan tempat untuk kita." Ibu langsung menarik tangan ku dengan riang
"Halo jeng!." Sapa ibu pada temannya
"Eh jeng Helena, ayo silakan duduk!." Sapa teman ibu dan langsung menawari tempat duduk pada kami
"Kamu makin cantik aja jeng, eh ini kenalin anak aku." Ibu memperkenalkan aku pada temannya
"Elina."
"Cantik sekali ya anak mu ini, ah kenalkan juga ini anak Tante" teman ibu memperkenalkan ku pada anak lelakinya yang duduk di sebelahnya aku melihat dia sepertinya tertekan dengan situasi seperti ini sama dengan ku yang sangat-sangat tertekan.
__ADS_1
"Damian." Ia memperkenalkan namanya dan menjabat tanganku.
Ibu dan temannya pun mulai berbincang-bincang, aku tidak tahu apa semua yang mereka obrolkan aku hanya diam memainkan ponsel aku lihat juga anak Tante itu hanya diam sambil memainkan ponselnya. Akhirnya ibu pun memulai percakapan tentang aku.
"Jeng kamu tahu nggak aku udah kesusahan cari pria buat nikah sama Elina, tapi Elina selalu nolak aku nggak tahu lagi gimana ngomong sama dia." Ujar ibu pada temannya, aku yang mendengar itu hanya diam.
"Damian juga aku udah kenalkan sama banyak wanita tetap aja dia nggak mau." Keluh teman ibu aku melihat Damian hanya diam dan tidak peduli dengan ucapan ibunya.
"Jeng gimana kalau kita jodohkan aja mereka." Usul ibu yang langsung membuat ku terlonjak kaget mendengar ucapan ibu barusan.
"Iya jeng boleh juga." Timpal teman ibu yang menyetujui usulan gila ibu.
"Ma apa-apaan sih main jodoh-jodohin gitu." Kini Damian membuka suara yang sedari tadi diam, sepertinya dia juga keberatan, bagus kalau dia keberatan maka perjodohan batal.
"Damian, umur kamu itu udah 30 tahun loh bukan usia untuk cari kekasih hati lagi, lebih baik mama jodohkan aja kamu sama anak Tante Helena." Tawar ibu Damian yang di balas dengan anggukan ibu dengan senyum manisnya.
"Tapi ma, apa Elina juga mau menikah denganku?" Damian langsung melihatku sambil berkata seperti itu.
Aku hanya diam melihat dia
"Apa maksudnya? Apa dia menyetujuinya?" Batinku
"Tentu saja Elina pasti mau." Tutur ibu dengan keringan karena Damian sepertinya menyetujuinya.
"Eh... Tunggu maksudnya?" Aku yang bingung, ku pikir Damian akan menolak perjodohan ini.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat akan menjodohkan merek berdua." Ujar ibu yang langsung menyetujuinya tanpa menanyai ku.
"Bu, aku belum mengiyakannya?" Kenapa ibu langsung menyetujuinya dia saja belum menanyaiku apa kah aku mau atau tidak aku saja belum menjawab pertanyaan Damian tadi kan.
"Sudah, ibu yakin kamu pasti mau." Kata ibu
__ADS_1
Apanya yang mau aku saja belum mengiyakannya ibu sendiri yang langsung menyetujuinya tanpa menunggu jawabanku dulu. Aku melihat Damian kenapa dia tidak berkomentar apapun dia setuju-setuju saja dengan ini.
"Cih benar-benar lelaki yang merepotkan!" batinku.