
BAGIAN 3
Sudah seminggu Elina dan Damian tinggal di rumah orang tua Elina, Elina dan Damian yang sudah berencana untuk tinggal berpisah dengan orang tuanya karena tidak ingin merepotkan mereka.
"Apa kalian yakin mau pisah rumah dengan kami?" Tanya ibu Elina dengan nada sedih.
"Iya bu." jawab Elina dengan yakin
"Kalau begitu ayah akan bantu kalian untuk mencari rumah." Ujar ayah Elina.
"Tidak perlu repot-repot ayah, kami sudah mendapatkan tempat tinggal." Ujar Damian.
"Iya, kami sudah membeli sebuah apartemen." Jelas Elina.
"Loh kok apartemen? Itukan kecil El lebih baik biarkan ayah mu mencarikan kalian rumah."
"Tidak usah Bu, apartemen pun sudah cukup buatku dan Damian."
"Hah baiklah terserah kalian saja, kapan kalian pindah?" Tanya ibu Elina
"Besok."
Esok harinya
Damian dan Elina sudah bersiap-siap untuk pindah ke apartemen mereka.
"Hati-hati ya kalian." Ucap ibu Elina yang melepas kepergian anaknya dan menantunya.
Elina yang memeluk ibunya, karena baru kali ini ia berpisah rumah dengan keluarganya.
"Sering-sering main kesini." Ujar ayah Elina dan mencium dahi anaknya.
"Kami pergi dulu ya ayah ibu."
Sesampainya di apartemen
Apartemen mereka berada di lantai 5 mereka pun masuk dan membereskan barang-barang mereka.
"Damian, kamar mu sebelah sana." Ujar Elina yang menunjuk ruangan depan kamarnya yaitu sebagai kamar Damian.
"Oh iya, aku kesana dulu membawa barang-barang ku." Damian yang berlalu pergi membawa barang-barangnya dan Elina juga berlalu pergi ke kamarnya.
Mereka memiliki masing-masing kamar, semenjak mereka menikah mereka belum pernah tidur berdua saat masih tinggal di rumah orang tua Elina Damian selalu tidur di sofa dan Elina tidur di ranjang.
Eliana keluar dari dalam kamar untuk memeriksa segala ruangan dalam apartemen tersebut.
"Hum, lumayan." Gumamnya sembari melihat-lihat ruangan apartemen mereka.
Sebulan kemudian
Sudah sebulan Elina dan Damian menikah mungkin jika orang luar melihat mereka pasti banyak yang menyangka bahwa mereka pasangan yang bahagia tapi kenyataannya tidak seperti itu, mereka hanya romantis di depan publik agar orang-orang tidak curiga dengan hubungan mereka, Elina yang selalu dingin pada Damian dan tidak ada tanda-tanda jika Elina telah jatuh cinta pada Damian
Eliana POV
Sudah sebulan aku menikah dengan Damian tapi kamu belum melakukan itu hubungan suami istri, aku wanita normal dia lelaki normal siapa yang tidak ingin melakukan hubungan itu tapi aku memang tidak ingin melakukan hubungan itu dengan orang yang sama sekali aku tidak cinta.
Malam pun tiba, aku sudah pulang lebih awal dari Damian. Aku mendengar suara mobilnya di luar.
"Lembur?" Tanyaku saat melihat dia sudah masuk ke dalam rumah.
"Iya, kerja kantor banyak sekali." Jelasnya
Aku mengambil jas dan tasnya ku bawa ke kamar aku juga menyuruhnya untuk makan, walaupun aku selalu dingin padanya aku tetap melakukan tugas sebagai istri memasakkan makanan untuknya, beres-beres dalam rumah dan mencuci bajunya.
Aku melihat dia tengah menyantap makan malamnya aku tidak pernah menemaninya makan malam selama kami menikah, aku berjalan mendekatinya ada sesuatu yang harus aku beritahu padanya.
"Eh Elina tumben?" Dia menatap ku sambil makan
"Saya punya peraturan dalam pernikahan kita." Aku langsung to the poin bahwa aku ingin memberikan beberapa peraturan pada pernikahan kami.
Dia mengerutkan keningnya heran
__ADS_1
"Kita tidak perlu saling mengganggu privasi masing-masing dan jika kamu punya kekasih hati di luar sana jalani saja hubungan kalian saya tidak akan melarang kamu, toh kita hanya di jodohkan saya tidak mencintai kamu begitupun sebaliknya."
"Hm iya." Ujar Damian yang memasang senyum keterpaksaan.
Aku langsung berdiri pergi ke kamar sekilas aku melihat matanya yang sepertinya menahan emosi, entah kenapa dia seperti itu aku tidak peduli aku langsung pergi ke kamar.
Damian POV
Aku yang sedang makan langsung tidak berselera mendengar kata-kata Elina, dia membuat peraturan seperti itu membuat ku emosi saja apa dia pikir aku mempunyai kekasih lain, padahal aku hanya mencintainya saja.
"Sesusah itu kah aku meluluhkan hati mu" gumam ku, aku hanya menahan amarah ku saat mendengar ucapannya itu.
Sudah sebulan aku menikah dengan Elina tapi kami belum pernah melakukan hubungan suami-istri, itu bukan lah hal yang mudah buatku yang selalu menahan hasrat ku, aku hanya pergi keluar jika ingin melakukan itu.
Dia tidak pernah mencintai ku apakah dia punya kekasih hati sampai seperti itu.
Normal POV
Elina yang mendapat telepon dari orang tuanya bahwa mereka akan singgah dan bermalam di apartemennya, sehingga membuat Elina kaget dan buru-buru menelpon Damian.
Damian yang tengah makan siang dengan teman-temannya tiba-tiba mendapatkan telepon dari Elina.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Getar handphone Damian yang langsung ia ambil, ia langsung mengangkat alisnya ia heran tumben sekali Elina menelponnya.
"Halo, assalamu'alaikum."
"Halo, waalaikumsalam, Damian kamu di mana?"
"Ada di kantor lagi makan siang sama teman."
"Orang tuaku akan datang sebentar sore, jangan sampai mereka tahu kalau kita tidur terpisah!"
"Waduh, terus gimana? Kamu pulang aja deh beres-beresin dulu sana." Usul Damian yang terlihat panik juga.
"Iya-iya aku balik dulu, kamu lanjutin aja makan siangnya, dah assalamu'alaikum."
"Kenapa tiba-tiba sekali sih mereka mau datang haduh jadi kerepotan deh." Gerutu Elina yang buru-buru membersihkan kamar Damian.
Ia merapikan kamarnya dan menghiasi kamarnya seperti kamar sepasang kekasih, dan kamar Damian ia bersihkan.
Sore pun tiba
Elina yang mendengar suara mobil Damian ternyata dia sudah pulang mungkin karena orang tua Elina akan datang jadi dia cepat pulang, Damian masuk dalam rumah ia melihat Elina saja belum ada tanda-tanda kedatangan mertuanya.
"Mereka belum datang?" Tanya Damian sembari melihat-lihat sekeliling.
"Belum." Elina langsung berdiri membuka jas dan mengambil tas Damian.
"Apa kamu sudah menata kamarnya?"
"Sudah." Elina mengajak Damian masuk ke dalam kamar mereka.
"Wahh indah sekali." Damian terkejut melihat kamar yang di desain oleh Elina sendiri.
"Sana bersihkan diri mu lalu makan, saya sudah menyiapkan makanan untuk mu." Ujar Elina yang langsung pergi dari kamar.
Tok tok tok
Elina dan Damian yang sedang menonton tv mendengar suara ketukan pintu mungkin itu adalah orang tuanya, Elina pun langsung bergegas membuka pintu dan benar ternyata itu orang tuanya.
"Oh anak ku sayang ibu dan ayah sangat merindukan mu." Ibunya langsung memeluk Elina.
"Em ya Bu lepas aku dulu aku tidak bisa bernafas."
"Mana suami mu." Tanya ayah
"Ada di dalam ayo masuk." Elina mengambil koper orang tuanya dan membawa ke kamar tamu.
"Ayah ibu." Sapa Damian yang langsung berdiri menyambut kedatangan mertuanya.
__ADS_1
Malam hari
"Elina apa sudah ada tanda-tanda kehamilan mu." Ibunya Elina langsung bertanya itu kepadanya yang membuat Elina tersendak saat meminum tehnya, Damian pun langsung menengok Elina yang tengah terbatuk-batuk.
"Yang benar saja Bu, aku baru sebulan nikah sama mas Damian masa udah hamil aja." Jelas Elina yang mencari alasan agar ibunya tidak curiga, Damian hanya tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Yaudah sana kalian tidur ini kan malam Jum'at." Hardik ibunya Elina yang langsung melirik Elina dan Damian. Mereka pun buru-buru pergi ke kamar.
"I iya Bu ini juga baru mau ke kamar, kan sayang." Damian langsung menarik tangan Elina untuk pergi ke kamar.
"Iya mas Damian ayo kita ke kamar." Mereka berdua cepat-cepat pergi ke kamar karena ibunya Elina terus menatap mereka berdua yang membuat keduanya merinding.
Mereka berdua pun masuk dalam kamar.
"Lalu bagaimana?" Tanya Elina pada Damian.
"Bagaimana apanya, yaudah kita tidur aja." Damian yang merasa lelah langsung naik ke kasur berencana ingin tidur.
"Ibu pasti menguping di balik pintu." Tutur Elina yang membuat Damian bangun kembali dari tidurnya.
"Yang benar saja, lalu bagaimana? Apa kamu mau bermalam Jum'at beneran?" Goda Damian yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Elina.
"Kita harus membuat suara seakan-akan kita sedang melakukan sesuatu."
"Hm, bagaimana kalau kamu melakukan gerakan sit up aku yang memegang kaki mu." Usul Damian yang langsung di setujui Elina.
Elina mengambil posisi untuk melakukan sit up dan Damian yang memegang kakinya.
"Buat suara yang menyakinkan."
"Iya-iya."
Sit up pun di mulai
Setelah beberapa lama Elina melakukan sit up membuat kelelahan.
"Um mas Damian udah ya aku udah lelah." Eliana membuat suara seakan-akan mereka tengah melakukan sesuatu.
"Dikit lagi ya sayang." Damian yang menggoda Elina terkekeh melihat Elina.
"Ugh, aku capek mas."
"Dikit lagi sayang."
Di balik pintu
"Wah mereka benar-benar melakukannya." Gumam ibunya Elina yang kegirangan mendengar suara Elina dan Damian di kamar.
"Istriku apa yang kamu lakukan di sini." Ayahnya Elina langsung datang.
"Apa kamu dengar suamiku, mereka tengah melakukannya, hehehe." Ibunya Elina terkekeh tanpa merasa bersalah karena sudah menguping anaknya.
"Astaga, ayo kembali tidur."
Di dalam kamar
"Apa ibu sudah pergi?" Bisik Elina
"Sepertinya." Damian langsung bangun memastikan apa mertuanya itu sudah pergi atau belum, ia membuka pintu sedikit untuk mengintip.
"Sudah, ibu sudah pergi."
Elina langsung menghela nafas lega
"Ayo tidur aku lelah sekali." Ajak Elina untuk tidur
Damian melihat Elina yang mengajaknya tidur, ini pertama kali Damian tidur berdua dengan Elina sebagai istrinya, aku langsung berjalan mendekati kasur tiba-tiba Elina bangun dan membuka lemari ia memberikannya selimut dari dalam lemari dan memberikan satu buah bantal.
"Jangan harap tidur bersama ku, sana tidur di sofa." Ujar Elina yang memberikan satu buah selimut dan bantal, Elina lalu kembali tidur.
"Kita kan sudah suami istri kenapa tidak boleh tidur berdua." Cibir Damian, Elina yang mendengar itu tidak peduli dia tetap melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Dasar wanita kutub Utara." Gumam Damian yang di dengar Elina, Elina hanya melihatnya dari balik selimut dan sedikit tersenyum tipis.