
BAGIAN 4
Pagi hari
Terlihat Elina yang sudah bangun dari tidurnya ia melihat Damian yang masih terlelap di kursi sofa, Elina bangun dan membuka tirai jendela kamar mereka yang membuat sinar mentari pagi masuk di kamar mereka, Damian langsung terbangun karena sinar mentari yang menyinari wajahnya.
"Ugh hoamm siapa yang menghidupkan lampu?" Damian yang setengah sadar dari tidurnya berpikir bahwa seseorang menghidupkan lampu di dalam kamar.
Damian yang ingin tidur lagi langsung di lempari Elina handuk.
"Sana mandi udah pagi."
"Eh sayangg, peluk dongg!"
Elina yang mendengar kata-kata Damian langsung cepat pergi dari dalam kamar ia menuju dapur untuk bersiap membuat sarapan untuk mereka, ia melihat ayahnya sudah duduk dengan secangkir kopi sambil baca koran dan ibunya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Loh kok ibu yang masak sini biar El aja yang masak." Ujar Elina yang cepat-cepat ingin membantu ibunya memasak.
"Nggak usah, biar ibu aja."
"Janganlah Bu, nanti ibu kecapekan lagi."
"Sekali-kali lah ibu pengen masak buat kamu sama suami mu, mana Damian?" Ujar ibunya Elina yang masih melanjutkan acara masak-memasaknya.
"Masih mandi."
"Sana kamu mandi juga, nanti lambat lagi kerjanya."
Tok tok tok
"Sudah selesai belum?" Tanya Elina di balik pintu
Damian langsung membuka pintu dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sudah rapi dan siap, Damian keluar menuju dapur dan Elina lagi yang mandi bersiap-siap.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Elina pun bergabung dengan mereka untuk sarapan pagi, sarapan pagi yang di warnai canda tawa, Damian dan Elina yang terlihat harmonis dan romantis seperti kehidupan sepasang kekasih pada umumnya, tapi nyatanya di balik itu semua mereka hanya berpura-pura agar orang tua Elina tidak curiga dengan rumah tangga mereka yang sesungguhnya. Selesai sarapan mereka pun berangkat kerja.
6 bulan kemudian
Pernikahan Damian dan Elina kini telah beranjak ke 6 bulan, Elina yang di telepon ibunya yang menyuruh Damian dan Elina datang kerumah ibunya.
"Ibu meminta kita untuk datang besok kerumah mereka." Jelas Elina pada Damian.
"Terserah, aku juga sudah rindu pada mereka." Damian pun setuju.
Esok paginya
Damian dan Elina telah berangkat kerumah orang tua Elina
*Note*
Kenapa Damian tidak membawa Elina kerumah orang tuanya?, Karena orang tua Damian di luar negeri.
Sesampainya di rumah orang tua Elina, mereka di sambut dengan hangat.
Skip
Setelah makan malam bersama Elina berencana untuk kembali ke apartemen mereka hanya saja ibunya masih menahannya untuk menginap di rumah ibunya dulu. Damian yang sedang berbincang-bincang dengan ayah Elina, Elina yang juga bergabung dengan mereka tiba-tiba di berikan pertanyaan yang membuat dia sedikit panik.
"Kalian kan udah 6 bulan nikah, kok belum ada tanda-tanda kamu hamil El?" Tanya ibu Elina yang langsung membuat Damian dan Elina terkejut bersamaan, bagaimana Elina hamil sedangkan mereka sama sekali tidak melakukan hubungan suami-istri.
__ADS_1
"Apa kalian ada masalah?" Lanjut ibu Elina yang sepertinya mulai curiga.
"Tidak Bu." Jawab Elina yang berusaha tenang agar ibu dan ayahnya tidak curiga.
"Apa ibu temani aja kamu cek up ke dokter kandungan."
"Nggak usah Bu, nanti aku aja yang nemenin Elina cek upnya." Ujar Damian yang sedikit terlihat panik dari raut wajah.
"Hmm, iya deh." Ujar ibu Elina yang menghela nafas "ibu tuh nggak sabar pengen gendong cucu dari kalian." Lanjut ibu Elina dengan wajah sedih yang di buat-buat.
Esok paginya
Elina dan Damian kini kembali pulang ke apartemen mereka, di perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang bicara. Sesampainya mereka di apartemen Damian pamit langsung pergi kerja.
Terlihat Damian di sebuah bar dengan teman-temannya yang sedang minum dan bersenang-senang. Elina yang sudah di rumah ia melihat jam telah menunjukkan pukul 23.00 dan belum melihat Damian yang sudah pulang kerja.
"Tumben dia belum pulang." Gumam Elina.
Elina yang berencana ingin menelpon Damian tapi dia urungkan niatnya, entah kenapa mungkin Elina gengsi ingin menanyai Damian.
Selama 6 bulan ini Elina sepertinya sudah mulai menyukai Damian walaupun masih tertutup dengan sifat dinginnya, ia selalu memerhatikan apa yang di buat Damian. Elina masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah selesai ia merasa lapar dan Elina menuju ke dapur untuk memasak sebungkus mie instan setelah selesai makan Elina pun kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba Elina mendengar suara mesin mobil di depan Elina tidak bangun untuk membuka pintu karena Damian membawa kunci serep sendiri.
Elina yang sudah setengah tertidur di bangunkan oleh ketukan pintu kamarnya Elina mendengar Damian yang memanggil namanya Elina tidak ingin membuka pintu tapi Damian terus mengetuk pintu kamarnya dan memanggil-manggil namanya dengan malas Elina bangun untuk membuka pintunya baru Elina membuka pintu ingin menanyai ada apa Damian langsung memeluknya Elina yang kaget dengan perlakuan Damian reflek langsung menolak Damian tapi kekuatan Damian memeluk Elina berbeda dengan kekuatan Elina.
"Biarkan aku memeluk mu sebentar." Ujar Damian yang langsung mengeratkan pelukannya pada Elina.
Elina hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa Elina mencium aroma alkohol di badan Damian.
"Apa dia mabuk?" Batin Elina
"Elina kenapa kamu selalu dingin padaku? Apa kamu sama sekali tidak mencintaiku? Sudah 6 bulan kita menikah tapi kamu tetap saja seperti itu, aku sudah berusaha meluluhkan hati mu, apa hati mu sekeras batu?." Celetuk Damian Elina yang mendengar hanya diam dari matanya sepertinya dia sedikit terkejut dengan ucapan Damian.
"Apakah tidak ada sedikit rasa cinta mu untuk El?" Damian melepaskan pelukannya pada Elina dan langsung memegang pundak Elina. Elina yang terkejut mendengar panggilan namanya yang di panggil Damian.
"El itu nama kesayangan ku" batin Elina.
"Masuklah ke kamar mu kamu sedang mabuk jangan bergurau." Ujar Elina yang sepertinya tidak peduli dengan perkataan Damian. Damian yang hanya diam sepertinya dia marah dia langsung menggendong Elina lalu membawanya ke kamar, dan seperti yang kalian tahu apa yang terjadi mereka melakukan hubungan suami-istri, Elina yang menolak dan memberontak tetapi tidak bisa mengalahkan kekuatan Damian yang memaksanya, akhirnya itupun terjadi. *Hehe kita skip ya*
Pagi hari
Elina yang terbangun merasakan badannya sakit semua, permainan Damian tadi malam sungguh sangat brutal yang membuat Elina sakit badan. Ini pertama kali untuk Elina melakukan itu dan lelaki yang pertama merebut kesuciannya yaitu Damian.
Elina hanya melihat Damian yang masih tertidur lalu dia masuk kamar mandi dan berganti pakaian untuk bersiap-siap ke restoran, dia tidak memasak sarapan dia menulis sepucuk surat dan meninggalkan di meja makan.
"Makan di luar, saya tidak memasak sarapan pagi ini!" Isi surat yang di tinggalkan Elina untuk Damian.
Elina pun berangkat ke kantor, tidak lama setelah itu Damian pun bangun dia bangun langsung memegang kepalanya dan berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam, dengan wajah memerah ia mengingat kejadian tadi malam ia telah melakukan itu dengan Elina. Dia pun bangun memeriksa seluruh ruangan namun tidak mendapatkan bahwa Elina masih ada di rumah, ia pun mandi dan bersiap-siap ke kantor.
Damian ke dapur ia berpikir bahwa Elina telah menyiapkan sarapan pagi mereka, namun tak ada makanan sama sekali di meja ia hanya menemukan sepucuk surat yang di tinggalkan Elina di meja makan
"Makan di luar saja, saya tidak memasak sarapan pagi ini!." Isi surat Elina.
"Hmm, apa dia marah padaku karena semalam?" Damian tengah berpikir melihat surat yang di tinggalkan oleh Elina.
Elina POV
Aku sedari tadi tidak fokus berkerja
"Bu Elina?" Sekertaris ku mengagetkan ku
__ADS_1
"Eh iya ada apa?"
"Ini Bu jadi gimana restoran kita mau di cabangkan?" Tanya sekertaris ku dengan raut wajah heran melihat ku.
"Hmm iya boleh, kamu priksa dulu wilayah yang cocok untuk itu."
"Apa ibu sakit?"
"Ah hanya tidak enak badan saja." Aku beralasan dan langsung berdiri ingin keluar, tidak menghiraukan panggilan sekertaris ku.
Aku duduk di sebuah bangku taman entah kenapa kejadian tadi malam selalu terngiang-ngiang di benakku.
"Argh Damian sialan." Gerutu ku
Normal POV
"Hatciuuu... Seperti ada yang sedang memaki." Damian yang sedang duduk di sofa kantornya
Tok tok tok
"Masuk!" Jawab Damian dari dalam ruangannya.
Ia melihat sahabatnya sekaligus manejer di kantornya masuk dan memberikan sebuah undangan acara ulangtahun salah satu rekan kerja mereka malam nanti.
"Ini undangan, bawa istri mu nanti."
Aku langsung mengambil undangan dan membacanya, undangan ulang tahun dan di haruskan membawa pasangan.
"Mengapa harus membawa pasangan." Aku menghela nafas panjang, apa Elina mau pergi dengan ku nanti malam, apa lagi karena kejadian tadi malam mungkin saat ini dia marah padaku.
"Memangnya kenapa? Kau kan punya istri telpon saja Elina minta dia untuk menemani mu pergi ke acara itu." Jelas Vian sahabat Damian.
"Hufftt, apa kau tidak mengerti hubungan kami." Aku benar-benar bingung, aku seorang CEO tidak mungkin tidak hadir di acara ulangtahun rekan kerja kami.
Vian yang tidak peduli pada Damian yang sepertinya frustasi dengan masalahnya pun pergi meninggalkan Damian sendiri.
Damian pun telah pulang ia melihat mobil Elina sudah ada di garasi berarti dia sudah pulang, dengan ragu-ragu Damian masuk ke dalam rumah, saat Damian masuk ia melihat Elina yang sedang duduk di depan tv yang menikmati cemilannya Damian yang berjalan pelan-pelan agar tidak ketahuan oleh Elina.
"Kenapa mengendap-endap begitu?" Elina langsung menegur Damian yang membuatnya terkejut.
"Hehehe..." Damian hanya tertawa canggung, Elina menatapnya dengan malas.
"A apa y yang kamu lakukan." Damian yang gugup melihat Elina berdiri mendekatinya.
"Mengambil jas dan tas mu."
Hampir saja jantung Damian copot karena Elina.
Damian pun langsung berlalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya setelah selesai ia langsung ke dapur untuk makan malam, Damian berencana untuk mengajak Elina ke acara ulangtahun rekan kerjanya.
Damian yang berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat kaku di hadapan Elina.
"Hm Elina" panggil Damian, Elina hanya menengok dengan malas pada Damian.
"Temani aku ke acara ulangtahun rekan kerjaku." Tawar Damian dengan ragu-ragu
Elina hanya diam mendengar tawaran Damian, Damian yang melihat Elina hanya diam berpikir kalau dia tidak setuju dengan kecewa Damian ingin berbalik untuk pergi ke kamarnya.
"Ya." Jawab Elina dengan dengan nada dingin khasnya.
__ADS_1