
BAGIAN 2
Terlihat Elina sepertinya tidak setuju dengan keputusan ibunya yang mau menjodohkannya dengan anak temannya itu. Ia meminta izin ke kamar mandi, sesampainya di kamar mandi ia membasuh wajahnya dan menghadap cermin terlihat dari matanya bahwa dia sangat kesal.
"Yang benar saja, aku menikah dengan orang yang sama sekali aku tidak cintai." gerutu Elina
Setelah Elina kembali dari kamar mandi, Elina dan ibunya pamit untuk pulang diperjalanan Elina hanya diam mendengar ucapan ibunya tentang pernikahannya dengan Damian.
"Kita akan buat pesta yang mewah untuk mu." Dengan senyum lebar ibunya sudah membayangkan pernikahan Elina.
Elina yang sedari tadi hanya diam tidak peduli ucapan ibunya mungkin dia masih kesal.
Rumah
POV Elina
Benar-benar malam yang apes harusnya aku tidak ikut ibu, ku lihat ayah yang masih nonton tv aku langsung berlari duduk di sampingnya.
"Ayah." Panggil ku dengan wajah cemberut
"Iya anak ku sayang ada apa?, Kenapa wajah mu cemberut begitu?" Tanya ayah yang heran melihat ku memasang wajah cemberut.
"Ibu, dia menjodohkan ku pada anak temannya" jelas ku pada ayah.
Ayah sedikit terkejut mendengar penjelasan ku
"Dia menjodohkan mu dengan anak temannya, lalu kamu menyetujuinya?" Tanya ayah lagi
"Tidak, aku belum menjawab ibu sudah mengiyakannya." Jelas ku dengan nada pasrah pada ayah, aku menghela nafas panjang pikiran ku kacau sekali entah lah bagaimana kedepannya, aku akan menikah dengan seorang yang tidak ku cinta.
"Sabar, ayah tahu kamu tidak setuju menikah dengan seorang yang baru kamu kenal, ibu sudah sangat ingin kamu menikah jadi dia seperti itu." Ayah mencoba menenangkan ku, apa aku kabur saja ya tapi jangan ibu bisa bersedih kalau aku kabur, lagian ibu senang banget aku lihat, nggak apa-apa deh toh cinta lama-kelamaan bisa tumbuh dengan sendirinya.
"Iya ayah, aku memang tidak mencintai laki-laki itu tapi aku akan usahakan lagian mama juga senang kalau aku nikah." Ujar ku pada ayah dengan senyum tipis.
"Lama-kelamaan kamu bersamanya pasti kamu bisa jatuh cinta dengannya." jelas ayah yang aku balas dengan anggukan dan senyuman.
"Hum, terimakasih ayah kalau begitu aku kembali ke kamar ku dulu." Aku mencium pipi ayah dan berlalu pergi ke kamar.
Aku segera membersihkan diriku dan berganti pakaian lalu aku membaringkan tubuhku di kasur empuk milikku.
"Damian." gumam ku, aku mencoba mengingat wajahnya tadi, tampan juga dan berkarisma.
__ADS_1
"Aku akan berusaha mencintai mu, jangan salahkan aku bila nanti aku juga tetap tidak bisa mencintai mu." Aku berbicara sendiri, aku menghela nafas berat entah sudah ke berapa kalinya ini aku menghela nafas terus, aku pun terlelap.
Seminggu kemudian
Pesta pernikahan Elina telah di gelar banyak tamu undangan dan keluarga yang datang, terlihat Elina dan Damian yang di atas pelaminan tengah menjabat tangan parah tamu-tamu. Senyum bahagia terpancar di wajah keluarga Elina dan keluarga Damian, Damian pun yang awalnya tidak menyetujui perjodohan mereka akhirnya mau juga dan terukir senyum bahagianya kecuali Elina yang sepertinya sangat tertekan dengan ini, ia hanya diam dan tersenyum masam saat di sandingkan dengan Damian. Akhirnya pesta pun telah berakhir, Damian dan Elina masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan melakukan ritual malam pertama mereka, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi pada mereka berdua.
"Damian kamu keluar dulu saya mau mandi!" Kata Elina dengan dingin.
"Iya aku keluar dulu kamu mandi aja." Kata Damian lembut walaupun begitu wajahnya seperti tersirat rasa sedih, dia berpikir sejak berbicara dengannya Elina selalu menggunakan bahasa formal Padanya seperti rekan kerja saja dia belum pernah memanggil Damian dengan kata mas atau aku.
"Damian, kamu dan saya hanya di jodohkan tidak ada perasaan cinta antara kita berdua jadi jangan berpikir berlebihan." Ujar Elina yang sepertinya mengerti dari raut wajah Damian.
Damian hanya diam melihat Elina yang berjalan menuju kamar mandi, ia tersenyum kecut mendengar kata-kata Elina.
"Entah kapan kamu akan jatuh cinta padaku, tapi aku akan usahain buat kamu jatuh cinta padaku" gumam Damian dan langsung keluar kamar.
POV Damian
Namaku Damian usia ku 30 tahun dan aku seorang CEO di perusahaan teknologi informasi, aku membangun perusahaan ini selama 2 tahun saja hingga bisa menjadi perusahaan besar, banyak wanita-wanita cantik yang mendekati ku tapi aku menolak semua aku pikir mereka hanya melihat kekayaan ku saja dan ketampanan ku aku tidak ingin menjalin hubungan yang berlandaskan fisik dan harta namun setelah melihat Elina aku langsung kagum padanya, aku pertama kali melihatnya saat konferensi pers Elina adalah wanita dambaan setiap pria bagaimana tidak dia cantik, mandiri, pintar dan berbakat aku dengar dia menjalani restoran miliknya hanya selama 3 tahun dan sekarang menjadi restoran terbesar dan terpopuler. 2 Minggu lalu aku di kenalkan pada anak teman ibu yang ternyata dia adalah Elina disaat itulah aku bertemu langsung dengannya, ya walaupun dia wanita yang dingin tapi aku kagum saat pertama melihatnya. Aku di jodohkan padanya awalnya aku ingin menolak karena aku pikir Elina tidak akan setuju tetapi bukankah ini sesuatu yang bagus aku hanya mengaguminya dalam diam namun sekarang aku bisa memilikinya, tapi ternyata itu tidak semudah yang ku bayangkan.
"Mungkin perjodohan ini adalah keputusan yang salah untuk ku dan untuknya tapi semua sudah terjadi, akan ku buat kamu jatuh cinta padaku Elina." Batinku.
Normal POV
"Loh Damian kok kamu di luar?" Tanya ibu Elina
"Eh ibu, iya aku tadi lagi menerima telepon dari teman kerja makannya aku di sini." Jelas Damian.
"Mana Elina?" Tanya ibu Elina sepertinya dia curiga.
"Dia sedang mandi bu." Jelas Damian yang tetap terlihat tenang agar ibunya Elina tidak curiga tentang hubungannya dengan Elina.
"Oh gitu ya, yaudah sana gi masuk kamar Elina pasti udah nunggu kamu." Senyum ibu Elina yang sepertinya punya maksud lain.
"Iya bu." Damian yang mengerti dari maksud ibu Elina hanya menghela nafas panjangnya lalu masuk kamar mereka.
Tok tok tok
"Siapa?" Jawab Elina dari dalam kamar
"Aku Damian, apa kamu udah habis mandi?"
__ADS_1
"Iya sudah, masuk saja."
Damian pun masuk dan Elina memberikan handuk padanya.
"Sana kamu mandi, saya akan keluar kalau kamu udah selesai baru saya masuk." Eliana bergegas ingin keluar namun belum sampai dia di pintu Damian langsung menariknya ke dalam pelukannya.
"Jangan keluar, ibu mu di luar dia yang menyuruh masuk karena melihatku dia luar" jelas Damian pada Elina yang membuat wajah Elina memerah padam bagaimana tidak wajah mereka kini sangat dekat.
"O oh be begitu kah." Ujar Elina dengan gugup dan cepat memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Damian hanya terkekeh dalam hati melihat Elina yang malu.
"Tunggu di sini saja." Ujar Damian yang langsung melepaskan pelukannya pada Elina.
"Iya." Elina yang masih malu dan belum mau melihat wajah Damian langsung pergi duduk di sofa sembari menunggu Damian.
Eliana POV
"Cih memalukan sekali tadi" batinku
Jika di lihat dari dekat Damian memang tampan kalau aku tadi wanita lain pasti sudah tergoda padanya untung saja aku bisa mengontrol diriku.
"Huft aku ini wanita normal siapa yang tidak akan tergoda dengan wajah tampan itu." Gumam ku.
Aku hanya memainkan ponsel Munggu Damian selesai mandi, aku dengar pintu kamar mandi terbuka dan menampakan seorang pria dengan menggunakan handuk yang menutupi pinggul sampai ke bawah menampakan perut yang six pack dan otot-otot yang indah, aku menelan ludah saat melihatnya.
"Elina?"
"Elina?"
"Hei kenapa kamu bengong?" Tanya Damian yang membuyarkan lamunanku
Aku langsung menengok wajahnya
"Pakai pakaian mu sana!" Aku yang sudah gugup setengah mati melihat badan Damian yang begitu bagus berusaha tenang.
"Kamu mau lihat aku ganti pakaian ya" ujar Damian.
Aku langsung mendelik tidak suka dengan kata-katanya aku langsung berdiri dan pergi tanpa berkata apa pun.
"Hehehehe" aku mendengar Damian yang terkekeh melihat ku pergi.
__ADS_1