
Fatimah hari itu izin pulang ke rumah, ia rindu ibu dan ayahnya. Iman Menjemput fatimah hati ini, malamnya fatimah nelpon minta di jemput.
Di pesantren pak kiai ahmad adalah metode pesantren salafi bukan modern, pak kiai mengijinkan santrinya pulang jika sudah 3 bulan, tapi jika belum 3 bulan pak kiai tak mengijinkannya pulang. Itu pun paling lama di beri izin satu minggu. Fatimah sudah 5 bulan belum pulang, kini waktunya ia pulang melepaskan kerinduannya pada ibu dan ayahnya.
"Ye .... Pak kiai izinkan aku pulang, aku akan satu minggu di rumah." ucap Fatimah.
"Yah ... Aku sendiri dong tidurnya fat, jangan sampe satu minggu dong!" pinta imas.
"Maaf mas, aku pengen satu minggu, kamu tidut di kamar sebelah aja sih, bawa kasurmu ke sana." ucap Fatimah sambil senyum.
"Males ah, bawa-bawa kasur segala." ucap imas sedih, karena ia akan di tinggal fatimah.
***
Kini fatimah sudah ada di rumah, ia memeluk sang ibu.
"Assalamualaikum, ibu." ucap Fatimah sambil mencium tangan lalu memeluk mimi.
"Waalaikumsalam, sayang, ibu kangen sekali." ucap yati sambil memeluk fatimah.
Fatimah juga bukan hanya rindu pada org tuanya saja, tapi ia juga rindu Rizal. Ia ingin Rizal ke rumahnya menemui orang tuanya, karena Rizal belum pernah ke rumah fatimah, meski mereka sudah lama pacaran. Ia masuk kamar, fatimah ingin menghubungi Rizal.
("Sayang, aku ada di rumah, kamu ke sini ya! aku ingin kamu ke rumah temui ayah dan ibuku.") titah fatimah.
("Oh ... Kamu ada di rumah sayang, maksud kamu aku suruh ngelamar kamu?" kamu kan belum lulus dari pesantren sayang") ucap Rizal.
("Ga, bkn ngelamar, tapi kamu main aja sini sayang, silaturahmi dengan orang tuaku.")
("Duh ... Maaf sayang aku ga bisa, ini di pesantren lagi ketat, aku ga bisa sayang, maaf ya!") tolak Rizal.
("Ya udah, kalo kamu ga bisa mah.") ucap fatimah kecewa lalu memutuskan sambungan telepon.
Fatimah merasa kecewa dengan Rizal, setiap di ajak ke rumah pasti Rizal tak mau.
Rizal yang sudah jadi pengajar di pesantren pak kiai arip, ia di perbolehkan bawa HP. jadi fatimah bisa menghubunginya saat ia ada di rumah.
Meski Rizal sudah jadi pengajar, tapi Rizal belum lulus, tidak seperti Dimas yang sudah lulus. Bahkan Dimas sangat cerdas.
Fatimah di dalam kamar melamun, ia memikirkan Rizal.
"Aku pacaran sudah mau 4 tahun tapi Rizal belum pernah menemui orang tuaku. Apa dia tak serius hubungan denganku?" gumam fatimah.
ketika fatimah sedang duduk santai du kusri sofa, iman menghampiri fatimah.
__ADS_1
"Nak, kamu masih berhubungan dengan Dimas?" tanya iman duduk di sampingnya.
"Sudah tidak yah." jawab fatimah.
"Kenapa kamu membiarkan dia lepas? Dimas itu laki-kaki berilmu dai juga sholeh dan cerdas!" ucap iman sedikit kaget.
"Dimas di jodohkan pak kiai ahmad, ayah." ucap mumut santai.
"Di jodohkan!" iman kaget.
"Iyah, ayah Dia telah mengkhianati aku." ucap fatimah pura-pura sedih.
Iman sangat suka dengan Dimas, iman berharap Dimas menjadi menantunya. Tapi setelah mendengar cerita fatimah, iman kecewa pada Dimaa.
"Nanti ayah akan tanya pak kiai ahmad, mengapa Dimas di jodohkan dengan wanita lain. Padahal ayah udah pernah bilang ke kiai ahmad kalo kamu kekasihnya Dimas." ucap iman dengan wajah sedih.
"Sudah lah ... Ayah, mungkin dia bukan jodohku!" ucap fatimah sambil menundukkan kepalanya.
"Semua sudah terjadi ayah, Dimas sudah memiliki istri, masa aku harus rebut Dimas dari istrinya." ucap fatimah.
"Kamu kan, cantik, hidung mancung, dan orang tuamu juga kaya, ko kamu kalah sih sama perempuan itu." ucap iman terus merengek ingin Dimas jadi menantunya.
Fatimah pernah cerita lelaki yang di cintainya, namun iman tak suka dengan Rizal, karena Rijal tak pernah berani datang ke rumahnya. Iman hanya menyukai Dimas, karena Dimas lelaki yang pemberani. Dimas sudah dua kali datang ke rumah fatimah meski ia menjadi kekasih fatimah hanya 10 bulan.
"Ayah, aku itu cintanya sama Rizal bukan Dimas, ya baguslah nika Dimas di jidohkan." ucap fatimah.
"Ayah tidak suka dengan Rizal, Rizal itu tak serius hubungan denganmu, buktinya dia tidak berani datang ke rumah. Laki-laki yang serius itu pasti datang ke rumah untuk menemui orang tuanya." ucap iman kesal.
Sore hari fatimah ingin jalan-jalan, dia minta izin pada sang ayah untuk bermain di sore hari.
"Yah, aku pergi dulu ya sebentar, boleh kan?" tanya fatimah yang sudah siap-siap ingin pergi.
"Mau ke mana?" tanya iman dengan tatapan curiga.
"Ayah, aku ingin bertemu dengan temanku." ucap fatimah.
__ADS_1
"Suruh ke sini aja teman kamu nya, jangan kamu yang ke sana!" titah iman, karena tak suka suka jika putrinya main.
"Temenku perempuan yah, dia ga bisa bawa motor, jadi aku yang harus ke rumahnya, boleh ya ... Boleh, aku kan jarang main yah, aku kesel kalo di rumah aja, tiap hari kan aku di pesantren belajar." ucap fatimah merengek, dan akhirnya iman mengizinkannya.
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama!"
"Oke ... Yah, siap, aku pinjem motor ayah ya." ucap fatimah sambil tersenyum.
***
Tid .... Tid ... Tid. suara motor Fatimah klakson, karena ada anak kecil menyebrang tidak hati-hati. saat ia berhenti di warung ingin membeli es, tak sengaja ia melihat Rizal sedang membonceng seorang perempuan yang memakai hijab. Perempuan itu sangat cantik, tangan perempuan itu memeluk Rizal.lalu Fatimah mengikuti Rizal.
"Itu Rizal, siapa perempuan itu? Apa itu adik kandungnya?"guman fatimah bertanya-tanya.
Setelah fatimah mengikuti diam-diam, Rizal dan perempuan itu pergi ke taman bunga. Rizal memegang erat tangan perempuan itu dan mengucapkan. "aku sangat mencintaimu, aku ingin kita segera menikah, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Rizal pada perempuan itu.
"Aki mau mas, kita kan sudah lama menjalin hubungan dan kamu sudah mendatangi orang tuaku untuk rencana lamaran kamu padaku." ucap perempuan itu tersenyum dan memegang pipi Rizal.
fatimah mendengar percakapan mereka di pohon besar yang ada di taman itu, fatimah sedih, ia menangis.
'Rizal aku ga nyangka kamu seperti ini.' batin fatimah sambil menangis.
Karena ia tak kuat melihat mereka yang sedang bermesraan, fatimah panas, dan ia memberanikan diri untuk melabrak Rizal.
"Rizal, dasar kamu penghianat! Aku setia sama kamu, semua yang kamu ingin aku kasih, tapi ini balasanmu padaku, dasar kamu jahat!" ucap Fatimah marah sambil menahan air matanya.
"Fat, dengar dulu penjelasanku!" maaf aku sangat mencintai pacarku ini dari pada kamu." ucap Rizal.
"Dasar kamu cowok brengsek, mana setiamu hah?" fatimah mau menampar Rizal tapi Rizal menahannya.
"Setia? Fat coba kamu pikir, apa kamu selama ini setia padaku, kan, kamu punya kekasih juga selain aku yaitu Dimas, terus ganti lagi hendrik. Apa itu perempuan setia? Bagaimana aku mau jadikan kamu istriku sementara kamu suka selingkuh." ucap Rizal dengan mata melotot.
"Oh ... Jadi kamu lebih milih perempuan ini, dari pada aku yang sudah memilihmu!" ucap fatimah marah sambil melihat wajah perempuan itu.
"Iyah ... Dia lebih cantik, baik, dia juga cerdas ga kaya kamu kurang cerdas dan tukang selingkuh." ucapan Rizal membuat Fatimah menangis di tempat itu dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Mas, jadi kamu punya pacar selain aku?" tanya perempuan itu marah yang dari tadi hanya terdiam.
"Ga, sayang, aku itu cuma kasiyan sama dia, karena dia itu suka sama aku sudah lama, jadi aku cuma kasiyan aja, kalo cintaku hanya untuk kamu sayang." ucap Rizal Merayu dan meyakinkan perempuan itu agar tak marah.
"Kamu janji ya! ga akan seperti ini lagi." ucap perempuan itu.
"Iyah ... Sayang, aku janji." ucap Rizal sambil mengelus kepala perempuan itu.
Sementara fatimah berlari meninggalkan mereka sambil menangis. Ia langsung menaiki motornya dan menjalankan motor itu dengan cepat. Di perjalanan hujan besar, fatimah tak berhenti dulu untuk berteduh, ia terus menjalankan motornya dengan kencang. Ia menangis di perjalanan dan ia mengingat Dimas lelaki yang sangat mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
'Ya allah, apa ini karma, aku telah mengkhianati Dimas dan pura-pura mencintainya. Aku juga telah menyakiti hendrik.' batin fatimah, ia terus menangis sambil mengendarai motor saat hujan lebat. Fatimah merasa ini adalah karma, karena ia telah menyakiti Dimas dan hendrik.