PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Tidak Percaya


__ADS_3

Imas sudah pulang, ia tak berhasil merayu Fatimah ke pesantren lagi. Imas sebagai teman ikut sedih jika fatimah sedih. Kini imas sudah berada di pesantren.


"Fat, malang bener nasibmu, aku jadi takut jatuh cinta. Meski sudah lama aku memendam rasa pada Rian, tapi tak jadi semakin takut untuk mengatakannya. Pasti nanti sakit rasanya jika di tolak." gumam imas dalam hati.


***


Fatimah sore hari pergi dari rumah tanpa sepengetahuan mimi dan iman. Fatimah pergi lewat jendela kamarnya, lalu bergegas membawa motornya ke dekat jalan, baru motor itu di nyalakan. Ia sengaja menyalakan motornya di dekat jalan berharap orang tuanya tak mengetahui. Saat iman keluar dari rumah, iman kaget melihat motor fatimah tidak ada di depan rumahnya.


"Bu ... Ibu, motor fatimah ko ga ada." seru iman menghampiri mimi.


"Masa pak, tadi 'kan di depan rumah!" ucap mimi sontak kaget.


"Coba ibu cek Fatimah ada ga di kamarnya!" titah iman.


Saat mimi membuka kamar fatimah, fatimah tidak ada di kamarnya. mimi membuka kamar mandi yang ada di dalam kamar fatimah, tapi tidak ada juga. Mimi mengecek jendela kamarnya, dan jendelanya tak terkunci.


"Ya allah fatimah! kamu ke mana?" gumam mimi.



"Yah .... Ayah ... Ayah." seru mimi dengan sira keras.



"Ada apa bu?" tanya iman.



"Liat jendela kamar fatimah ga di kunci, fatimah pergi yah." ucap mimi panik.


"Astagfirullah! Ke lagi itu anak pergi." ucap iman sambil memegang kepalanya layaknya pusing.


***


iman segera pergi mencari fatimah, ia tidak mau fatimah pergi tanpa alasan ke mana. iman sangat takut jika anak perempuannya terjadi apa-apa.


"Bu ... ibu tunggu di rumah aja ya! Ayah cari fatimah, siapa tau fatimah belum jauh dari rumah."


"Ibu ikut yah, ibu juga pengen cari fatimah." ucap mimi sangat panik.


Mimi dan iman mencari fatimah, menyusuri jalanan koto Bogor menggunakan motor. Mimi lirik kanan dan kiri, tapi fatimah belum juga ketemu. Mereka memutuskan pergi ke rumah teman sekolah SD nya fatimah, tapi tidak ada. Iman berhenti sejenak di warung, ia haus karena cape mencari putrinya.


"Kita berhenti dulu bu! ayah haus bu." titah iman.

__ADS_1


"Iyah .. Yah, ibu juga haus."


Mereka berhenti membeli minum, sambil iman juga bertanya ke tukang warung. Iman memperlihatkan foto fatimah.


"Pak .. Liat perempuan ini ga?" tanya iman, sambil memperlihatkan poto fatimah.



"Tidak pak. Saya tidak pernah melihat." ucap tukang warung sambil menggelengkan kepalanya.


Iman bingung harus mencari fatimah ke mana lagi, semua teman fatimah tidak ada yang tau. Ia memutuskan untuk pergi ke taman bunga, karena fatimah pernah bilang ke iman kalo dia suka taman bunga.


"Bu, kita ke taman bunga yu! Siapa tau fatimah ada di sana."



"Iyah pak, ayo! Fatimah pernah bilang ke ibu kalo ia suka taman bunga, siapa tau ia ada di sana."


***


Iman dan mimi pergi ke taman bunga berharap putrinya ada di sana. Mereka memasuki taman bunga itu mencari-cari putrinya, namun sudah satu kam mereka berkeliling mencari, tapi fatimah tidak ada.


"Yah ... Fatimah ke mana ya, ini sudah maghrib, ibu khawatir bangat yah." mimi sangat mengkhawatirkan putrinya, ia juga badannya lemas karena purinya belum di temukan.


"Ibu lemas pak." ucap mimi menyandarkan badannya di kursi yang ada di taman itu.


"Ya udah kita istirahat dulu bu."


Fatimah sedang berada di toko kue, ia sedang menikmati kue yang sangat enak tanpa memikirkan khawatiran orang tuanya. Sudah beberapa kali iman dan mimi menghubungi fatimah, tapi ia tak mau mengangkatnya, bahkan hpnya di matikan. fatimah keluar dari toko kue ia pergi ke rumah Dimas. Fatimah berani datang ke rumah suami orang malam-malam, ia datang ke rumah Dimas karena tidak percaya jika istrinya Dimas sudah hamil.


***


Sampai fatimah di depan rumah Dimas ia bertanya pada tetangga Dimas. Ia belum berani mengetuk pintu rumah Dimas.


"Bu, maaf saya bertanya, apa benar istri ustad Dimas sudah menikah?" tanya fatimah sambil lirik kanan dan kiri.


"Iyah neng, bener, tadi siang acara syukurannya." ucap itu tetangga Dimas.


"Makasih bu!"


Fatimah tidak jadi mengetuk pintu rumah Dimas. ia pergi ke masjid karena sudah datang waktu isa, berharap Dimas ada di masjid itu melaksanakan sholat isa.


"Kalo aku ketuk pintunya, pasti ada istrinya. Aku ke mesjid aja lah, siapa tau Dimas ada di sana." gumam fatimah dalam hati.

__ADS_1


Saat fatimah sudah sampai di mesjid, ia berdiri di depan mesjid, menunggu Dimas berharap akan sholat ke mesjid. lima menit fatimah menunggu tapi Dimas belum ada.


"sholat berjamaah udah di mulai, tapi Dimas belum datang juga, apa ga ke sini ya?" gumam fatimah dalam hati.


Fatimah melihat di jendela mesjid ruangan sholat laki-laki, ia meneliti orang-orang yang sedang berjamaah. saat melihat imam yang menggunakan baju koko hijau, fatimah tersenyum bahagia.


"Itu dia kekasihku, Dimas jadi imam sholat, aku yakin itu Dimas, aku masih hapal bajunya." gumam fatimah sambil tersenyum.


fatimah menunggu Dimas sholat di depan masjid. ia tidak mau sholat isa duku sebelum bertemu Dimas. Ia memikirkan kata-kat apa yang akan di ucapkan pada Dimas supaya Dimas luluh.


"Aku harus mengatakan pada Dimas dengan kata-kata yang menyentuh hati." giman fatimah dalam hati.


Sholat isa sudah selesai, satu- persatu para jamaah pulang. Namun Dimas belum keluar juga, Dimas masih berpikir dan mengaji.


"Dimas lama banget sih." gumam fatimah.


Tiga puluh menit Dimas berzikir dan mengaji. Dimas pin keluar dari mesjid itu, Dimas kaget saat fatimah menghampirinya.


"Ka ... Kaka." seru fatimah menghampiri Dimas.


"Ka .. Kamu, mau apa kamu?" tanya Dimas dengan wajah malas.


"Ka, aku rindu kaka, kaka mau ga pergi sebentar saja denganku? Aku ingin ngomong sesuatu ke kaka, ini penting ka. Mau ya?"


"Maaf fatimah, aku ga bisa, sebaiknya kamu pergi dari sini! ga baik fat, perempuan mendatangi suami orang." ujar Dimas tanpa menatap wajah fatimah.


"Ka tolong aku, ini penting." ujar fatimah.


"Ngomong aja di sini buruan!" titah Dimas.


"Aku ga berani ngomong di sini, kita pergi aja bentar ka, aku mohon ka! Tolong aku ka! selamatkan hidupku ka." ucap Fatimah merengek sambil memasang wajah sedih.


"ga fat, maaf."


"Ka, apa kamu ga kasiyan denganku, meski kaka sudah menikah, tapi aku 'kan pernah ada di hati kaka, aku mau minta tolong sama siapa lagi kalo bukan kaka. Hanya kaka yang dapet aku percaya. Aku mohon ka." ujar fatimah membuat Dimas tersentuh.


"Tapi ... Aku pulang dulu sebentar, aku takut istriku menunggu."


"Eh ... Ga usah pulang dulu ka, kalo pulang, mana mungkin istri kaka izinin kaka pergi."


"Oke ....aku mau temani kamu, tapi sebentar saja dan kamu jangan peluk saya pas aku bonceng. ujar Dimas tanpa melihat wajah fatimah.


Apa rencana fatimah. terus baca ya! 😍

__ADS_1


__ADS_2