
"Kalau nenek ada di luar gak masuk ke dalam rumah, terus yang barusan Arkan ajak bicara di sini itu siapa?" Bertanya-tanya Arkan.
Arkan yakin jika ia sempat berkomunikasi dengan neneknya saat tiba di rumah.
"Itu bukan nenek, tapi orang lain"
Pandangan Arkan dan nenek beralih menatap seseorang yang baru keluar dari kamar kala mendengar percakapan mereka.
"Orang lain?"
"Orang lain siapa, siapa orang lain itu? Jelas-jelas tadi yang aku temui itu nenek, gak mungkin orang lain!" Kekeh Arkan akan pendiriannya.
Arkan bertemu dengan nenek dalam keadaan sadar, ia tidak melamun atau melantur. Tidak mungkin orang yang sempat bertanya pada Arkan bukan nenek, padahal jelas-jelas itu nenek.
Kalau di perhatikan dari atas sampai ke bawah orang itu adalah neneknya, tidak mungkin Arkan tak bisa mengenali neneknya sendiri.
"Arkan itu bukan nenek, itu orang lain yang kamu kira sebagai nenek" dengan lemah lembut kakek menjelaskan pada Arkan di iringi nada pelan supaya Arkan mencerna baik-baik ucapannya.
"Gak mungkin kek, tadi itu beneran nenek, gak mungkin itu bukan nenek" Arkan tetap yakin, tak mungkin ia salah lihat.
"Arkan, itu bukan nenek mu, itu orang lain" ucap kakek kembali.
Arkan berpikir sejenak, sangat gak masuk akal kalau ada orang yang menyebut jika nenek yang tadi ia lihat, ia ajak komunikasi bukan neneknya padahal dari segi fisik itu adalah neneknya.
"Kalau dia bukan nenek, terus siapa?"
Bukannya menjawab kakek malah tersenyum, Arkan makin di buat bingung pada apa yang sebenarnya terjadi.
Kakek mendekati jendela, Arkan mengerutkan alis tak paham maksud kakek.
"Lihat, itu adalah orang yang tadi kamu kira nenek" tunjuk kakek pada sosok yang berdiri di depan pagar tak berani melangkah ke halaman rumah Arkan.
Arkan melihat dengan bola matanya sosok yang sempat mengelabuinya sehingga ia mengira itu adalah neneknya.
"J-jadi dia yang sudah menyerupai nenek dan mengelabui ku" tercekat Arkan setelah mengetahui siapa sebenarnya orang di balik keanehan yang barusan terjadi.
"Iya Arkan, itu adalah orang yang kamu cari, dia lah yang telah menemui mu dengan wujud nenek" jelas kakek.
__ADS_1
Arkan terdiam dengan mata tak henti-hentinya menatap sosok tersebut yang diam di tempat tanpa pergerakan.
"K-kenapa dia mengikuti ku sampai ke sini" terbata-bata Arkan.
"Kamu pasti habis dari danau kan?"
Kepala Arkan mengangguk, memang benar ia habis dari Daurah.
"Dia pasti ngikutin kamu dari belakang tanpa kamu sadari sehingga dia sampai di rumah kita" jelas kakek.
Rasa penasaran di hati Arkan menyingkir dan kini malah di gantikan dengan rasa takut.
"Kakek Arkan takut" lirih Arkan.
"Kamu gak usah takut, ada kakek di sini, tidak akan kakek biarkan ada makhluk halus yang menyakiti mu" upaya kakek dalam menenangkan cucunya yang belum terbiasa hidup berdampingan dengan makhluk halus.
Arkan tak tenang sedikitpun, walau ada jutaan orang yang memenangkannya ia tidak akan bisa tenang, lantaran dendam terus berkobar di mata sosok Bu Narsih penghuni Daurah padanya.
"Udah kamu tidak perlu takut, dia tidak akan ganggu kamu. Sana masuk ke kamar mu gih" suruh kakek.
Arkan mengangguk patuh, Arkan masuk ke dalam kamar, duduk di tepi kasur dengan wajah panik.
"Belum apa-apa aja dia udah datangin aku, letak kesalahan ku mengapa dia anggap begitu fatal, padahal aku cuman ingin tau sejarah tentang Daurah, itu aja"
Di dalam kamar Arkan gusar, bingung harus melakukan apa.
Arkan mencoba mencari akal bagaimana terlepas dari jerat hantu penunggu Daurah yang pendendam.
"Apa yang harus aku lakuin, aku gak mau mereka ganggu aku, siapa yang bisa ku mintai tolong?"
Kepala Arkan berkecamuk, Arkan mengigit bibir bawah dengan keras sambil mencari cara.
"Arkan!"
Arkan tersentak kaget, jantungnya hampir copot.
"Kalau datang itu bilang-bilang, malah ngagetin orang aja kerjaannya. Kalau aku jantungan gimana" gerutu Arkan begitu sensi pada gadis yang hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Viola mengamati raut wajah Arkan yang kebingungan seperti memiliki masalah besar.
"Kamu kenapa, kok kayak orang yang lagi banyak masalah gitu?" Viola memberanikan diri bertanya.
Arkan menghela nafas."Viola aku punya masalah besar, aku gak tau caranya selesain masalah itu"
Melihat Arkan yang katanya dalam masalah, Viola pun penasaran hebat."Coba kamu ceritain, semoga aja aku bisa selesain masalah yang kamu hadapi"
"Tadi itu aku jalan-jalan keliling desa bareng Amanda, sampai tibalah kami di danau merah. Nah Amanda cerita sejarah tentang Daurah" Arkan mulai bercerita masalah yang ia hadapi.
"Terus-terus!" Makin penasaran Viola.
"Tiba-tiba pasangan suami istri yang di maksud dalam cerita muncul, mereka serem banget, kata Amanda siapapun yang mengungkit masa lalu mereka akan mereka ganggu selama kurun waktu 7 hari 7 malam"
"Mendengar itu aku pun merasa takut, aku bingung caranya lepas dari mereka. Kamu tau gak tadi pas aku sampai di rumah penunggu danau itu langsung ganggu aku dengan cara menyerupai nenek, aku makin takut kalau kayak gini"
Keresahan tak dapat di sembunyikan, Arkan tak akan bisa tidur nyenyak malam ini jika ia tak menemukan cara untuk terlepas dari penunggu Daurah.
"Viola apa kamu tau caranya terlepas dari mereka, aku gak mau di ganggu sama mereka" Arkan mengemis meminta bantuan dari teman gaibnya.
Viola bungkam, persoalan yang Arkan hadapi begitu rumit sebab berkaitan dengan penunggu Daurah. Mulai setengah abad yang lalu teror terus mereka arahkan pada warga yang tinggal di desa.
Dendam kesumat di dada penunggu danau tak kunjung mereda, mereka belum menerima kalau mereka meninggal karena di bunuh oleh warga desa.
Siapapun yang mengungkit masa lalu kelam mereka, akan mereka ganggu tak peduli siapapun itu.
"Gimana ya Arkan, apa yang di bilang sama Amanda memang benar kalau mereka pasti akan balas dendam. Mereka sangat gak suka kejahatan mereka di masa lalu di ungkit" Viola ikutan bingung, sulit baginya menyelamatkan Arkan.
"Apa kamu gak bisa bantu aku Vio, sungguh hanya kamu harapan ku satu-satunya" ucap Arkan melas.
Kepala Viola menggeleng, harapan besar Arkan yang sempat ia limpahkan pada Viola kandas.
Arkan tak memiliki semangat lagi untuk lepas dari penunggu danau, Viola yang sudah hidup ratusan tahun yang lalu tak bisa ia andalkan.
"Aku memang gak tau cara yang ampuh buat bikin kamu terlepas dari mereka, tapi aku akan lindungin kamu, gak akan aku biarkan mereka ganggu kamu" janji Viola.
Dehaman lemas respon Arkan, Arkan kini pasrah apa yang bakal di lakukan oleh penunggu danau itu padanya.
__ADS_1
"Kamu jangan takut, ada aku di sini, aku gak akan biarin mereka ganggu kamu" ucap Viola.
Arkan tetap manyun, wajahnya di tekuk, Arkan tak bisa berharap lebih pada Viola tapi Arkan memperbolehkan Viola untuk menjaganya dari serangan penunggu danau.