Petualangan Mistis Arkan

Petualangan Mistis Arkan
Peringatan keras nenek-nenek penunggu perpus


__ADS_3

Amanda menganggukkan kepala."Iya, tadi malam aku di ganggu habis-habisan sama mereka, sampai-sampai aku gak bisa tidur, liat mata aku kayak panda, itu semua gara-gara mereka"


Gedeg Amanda pada pasangan suami istri yang mencari kekayaan dengan cara yang salah. Imbas dari kelakuan mereka di rasakan oleh warga setempat.


Kini ketika kisah mereka di ungkit oleh orang lain mereka seakan tak terima.


"Keterlaluan juga mereka ya, siangnya mereka ganggu aku, malamnya mereka ganggu kamu. Kalau kayak gini terus mereka gak bisa di biarin, kamu punya cara gak agar terlepas dari mereka?"


Mulai dari kemarin Arkan mencoba mencari tau dan hari ini ia akan pastikan kebenarannya apakah ada caranya atau tidak.


Amanda menggeleng."Enggak, nenek aku gak tau, nenek cuman bilang hati-hati aja, tadi saat aku berangkat sekolah juga di peringati buat hati-hati, karena mereka akan terus incar kita selama 7 hari 1 malam. Setelah 7 hari mereka gak akan ganggu kita"


Patah semangat Arkan, harapannya kandas, tak ada lagi harapan agar bisa lepas dari penunggu danau dalam waktu kurang dari 7 hari.


Wajah Arkan manyun, tadi malam saja ia begitu ketakutan padahal bukan musuh utamanya yang mendatangi.


Arkan tak kuat jika terus di ganggu oleh hantu-hantu yang datang secepat senja namun terus mengatakan dendam padanya.


"Oh gitu, kirain nenek kamu tau"


"Nenek aku gak tau caranya, dia cuman meringatin kita aja buat hati-hati, karena mereka masih menjadi ancaman buat kita"


Dalam lemas Arkan menganggukkan kepala, akan ia waspai hantu penunggu danau yang terus mengintai nyawanya dan juga hantu-hantu yang lain.


"Dari pada di sini, gimana kalau kita ke perpus aja, waktu istirahat masih lama kok, bagaimana kalau kita habiskan buat baca buku" ajak Amanda punya ide untuk mengusir keheningan.


"Boleh, ayo anterin aku ke perpus, aku ingin baca buku dan makan bekal aku di sana" setuju Arkan.


Dengan antusias Amanda mengajak Arkan ke perpus sekolah.


Telah menjadi rutinitas Amanda ketika istirahat selalu menghabiskan waktu di perpustakaan seorang diri, Amanda yang gemar membaca tidak pernah bosan sama sekali walau setiap hari berada di dalam perpustakaan.


Langkah Amanda terhenti di sebuah pintu ruangan yang tertutup rapat, Amanda membuka pintu perlahan-lahan.


Kegelapan langsung menghampiri, perpustakaan itu gelap tak ada penerangan.


Amanda menghidupkan lampu, kegelapan serentak menyingkir.


Arkan terdiam di ambang pintu, menatap penjuru perpustakaan yang banyak sekali penampakan.


Ragam jenis makhluk tak kasat mata bersemayam di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ayo masuk" ajak Amanda di iringi senyuman manis.


Ragu-ragu Arkan melangkah masuk, bulu kuduknya berdiri semua, tatapan maut para hantu tertuju padanya yang bisa di katakan baru di sekolah.


Arkan memperhatikan Amanda yang seperti biasa saja padahal di ruangan itu banyak penampakan makhluk halus mengerikan yang tak baik untuk di pandang.


Amanda mengambil buku lalu duduk di kursi membaca buku dengan fokus.


Sementara Arkan menegak ludah pahit, tatapan maut para hantu membuat jiwanya ketar-ketir.


"Amanda" panggil Arkan.


Satu alis Amanda terangkat, lalu berkata."Kenapa?"


"Banyak hantu" lirih Arkan.


Amanda menanggapi dengan seulas senyum."Jangan anggap mereka penting, anggaplah mereka gak ada di sekeliling kita"


Bagi Amanda hantu-hantu penunggu perpustakaan bagai hantu-hantu biasa yang tak perlu di waspadai, tapi bagi Arkan yang namanya hantu tetap mengerikan dan patut di waspadai.


"Kamu gak usah takut, mereka gak ganggu kok" ujar Amanda.


Tap


Tap


Tap


Satu demi satu kaki Arkan melangkah mencari buku yang menarik untuk di baca sambil sesekali memperhatikan keadaan.


Mendadak langkah Arkan terhenti, pandangannya jatuh pada seorang wanita berkebaya merah, berdiri di samping rak buku paling pojok sambil menatapnya sinis.


"Dia lagi, kenapa dia datangin aku mulu" batin Arkan kenal betul hantu kebaya merah yang secara eksplisit mengibarkan bendera perang.


"Aku harus selesai urusan ku dengannya, aku muak di ganggu terus-menerus sama dia" batin Arkan mulai gedeg.


Arkan melangkah mendekati wanita kebaya merah itu, akan ia selesaikan masalahnya agar wanita itu tak terus-terusan datang mengganggunya.


Tiba-tiba sebuah tangan keriput menghentikan Arkan."Jangan, jangan dekati dia, dia berbahaya, jangan coba-coba kamu hampiri dia"


Seorang wanita lansia berusia 80 tahun menghentikan Arkan.

__ADS_1


Arkan menatap kembali wanita kebaya merah itu yang tertawa penuh kemenangan lalu beralih menatap nenek-nenek yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa nek, kenapa Arkan gak boleh dekatin dia, dia terus ganggu Arkan, Arkan ingin selesaikan masalah Arkan dengannya biar dia gak ganggu Arkan terus-terusan?" Nekat Arkan bertanya langsung pada nenek-nenek penunggu perpus.


Nenek-nenek itu menatap wanita kebaya merah."Dia licik, dia bisa kapan saja mencelakai mu, hati-hati dengannya, jangan coba-coba menghampirinya, karena dia bukan tandingan mu"


Arkan mengurungkan niat, peringatan sekecil apapun tak boleh di remehkan, takut ada akibat buruk di balik sifat keras kepalanya.


Peringatan itu di kemukakan langsung oleh seorang makhluk halus yang sudah pastinya tau betul mana makhluk halus baik dan mana makhluk halus jahat.


"Liat saja, suatu hati nanti kau akan mati di tangan ku!" Teriak keras wanita kebaya merah lalu menghilang tak berbekas.


Ancaman itu membuat Arkan terpaksa menelan ludah pahit, dendam wanita kebaya merah padanya begitu besar sehingga wanita kebaya merah itu terus berupaya untuk mencelakainya dengan segala cara. Tapi alhamdulilahnya masih ada yang menolongnya sehingga rencana buruk wanita kebaya merah tak terlaksana.


"Berhati-hatilah, sewaktu-waktu dia bisa saja menghabisi mu" peringatan keras nenek.


Arkan mengangguk cepat."Terima kasih nek"


Nenek-nenek itu tersenyum, lalu meninggalkan Arkan.


Entah hal baik atau buruk bagi Arkan bertemu dengan nenek-nenek penunggu perpus, dapat di lihat jika nenek-nenek tersebut tidaklah jahat, tak sama seperti kebanyakan hantu yang sering Arkan temui.


Di salah satu rak buku terdapat buku yang menarik perhatian Arkan, tanpa basa basi Arkan mengambil buku itu.


"Kiranti" ucapnya melihat sampul buku yang berjudul Kiranti.


"Buku apa ini, kok kayak kisah di novel-novel, coba deh aku baca, mungkin aja seru"


Arkan membawa buku berjudul Kiranti mendekati Amanda, dengan fokus ke membaca buku tersebut.


Arkan tak menyangka kalau buku yang ia baca begitu menarik hingga mulutnya ternganga.


Amanda yang melihat Arkan begitu khusyuk dalam membaca buku penasaran."Buku apa yang kamu baca, kok kayaknya menarik banget?"


"Judulnya Kiranti, bukunya bagus banget, tapi bergenre horor"


Kata horor telah menarik perhatian Amanda, karena dunia horor adalah dunianya. Amanda suka sekali sesuatu yang berbau-bau mistis.


"Wow keren, nanti kalau kamu udah selesai baca kasih ke aku, aku juga mau baca" titah Amanda.


Arkan langsung mengacungi jempol, kemudian lanjut membaca buku itu hingga habis.

__ADS_1


__ADS_2