Petualangan Mistis Arkan

Petualangan Mistis Arkan
Misteri suara ketukan kaca


__ADS_3

Sinar matahari telah menghilang di ganti dengan gelapnya malam.


Di tengah malam yang makin menyelimuti lingkungan, Arkan mengurung diri di kamar tak mau keluar.


Malam ini Arkan tidak mau kemana-mana walau pun ke masjid, untuk sementara Arkan akan sholat di rumah saja lantaran bahaya yang mengancam makin menjadi-jadi.


Kocar-kacir ke sana kemari Arkan lakukan, ia tak bisa tenang walau berada di dalam kamar.


Rasa takut menghampiri, tak bisa menyingkir sedikitpun dari tubuh Arkan. Hari ini tubuhnya benar-benar di serbu rasa takut yang mendominasi.


"Gimana ini, gimana kalau dia datangin aku, aku harus apa"


"Aku gak akan bisa usir dia, apa coba yang harus aku lakuin"


Risau Arkan berkeringat dingin memikirkan nasib buruk yang akan menghampiri.


Tuk


Tuk


Tuk


Terdengar suara kaca yang di ketuk oleh seseorang.


Pandangan Arkan menatap kaca kamar, tubuhnya seketika menegang, Arkan makin tak tenang, pikiran buruk langsung datang.


Dalam hati Arkan bertanya-tanya siapa orang yang lagi mengetuk kaca kamar.


Tuk


Tuk


Tuk


"Arkan, Arkan buka, ini aku"


Teriakan seseorang yang Arkan kenali berhasil membuat hati Arkan lega.


Dengan cepat Arkan membuka kaca, melihat seorang gadis yang berada di belakang rumah di malam yang makin gelap.


"Kenapa kamu ke sini?"


Bukannya menjawab Amanda mengamati sekeliling, takut ada orang yang melihat.


"Aku udah tanya sama nenek cara agar terlepas dari hantu penunggu danau itu"


Mata Arkan pun berbinar, Arkan memiliki harapan besar kedatangan Amanda membawa kabar baik.


"Terus gimana, apa kata nenek kamu, dia tau kan caranya terlepas dari hantu penunggu danau itu?"

__ADS_1


Kepala Amanda mengangguk, senyum mengambang di wajah Arkan, kesulitan yang menyelimuti dirinya sejak tadi akhirnya akan ia hempaskan.


"Apa caranya, cepet bilang sama aku!" titah Arkan tak sabaran.


"Caranya adalah-


"Arkan"


Panggilan itu membuat Arkan menoleh ke belakang.


Senyum Arkan terbitkan untuk menutupi bertapa tegangnya ia sebab hampir saja Arkan ketahuan.


"Ada apa Bun?"


Risma menghampiri Arkan yang berdiri di dekat jendela, wajah Arkan tegang, dalam hati ia berdoa semoga ibunya tak menaruh kecurigaan.


"Kamu bicara sama siapa, ada siapa di luar?" Tanya Risma.


"Sama dia-


"Loh kemana Amanda!" Terkejut Arkan, kala melihat ke belakang rumah tak ada lagi gadis yang barusan ia ajak bicara.


Belakang rumah kosong, tanda-tanda akan ada manusia tak di temukan.


"Amanda, Amanda kamu pergi kemana, Amanda keluar" jerit Arkan memanggil Amanda.


Saat ini Arkan butuh wanita itu, Amanda bilang kalau dia punya cara untuk lepas dari penunggu danau, Amanda belum sempat bilang pada Arkan.


Arkan berupaya keras memanggil nama Amanda yang ia rasa masih berada di sekitar rumah.


Sahutan tak terdengar, di sekitar rumah Arkan tak ada warga yang berkeliaran, apalagi orang yang Arkan cari.


"Amanda, Amanda kamu di mana"


Pemuda bernama Arkan Al-Ghazali berteriak-teriak memanggil Amanda, kerisauan langsung kembali menyapa tubuh Arkan, baru beberapa detik Arkan senang kini kesenangannya di renggut paksa.


"Tadi di sini ada Amanda Bun, dia datang ke sini mau bilang kalau dia itu sudah......"


Perkataan Arkan terpotong, ketika berbalik badan tak ada Risma di belakang Arkan, padahal jelas-jelas barusan ibunya berdiri di belakang.


"Loh kemana bunda, tadi dia ada di sini?"


Arkan tersentak kaget, ia telah kehilangan Amanda dalam waktu singkat, sekarang ia malah kehilangan sang bunda.


Arkan tertegun, tak percaya jika dua orang dalam beberapa menit yang lalu ia ajak komunikasi menghilang secara misterius, saking misteriusnya tak meninggalkan bekas sedikitpun.


"Tunggu-tunggu tadi itu beneran bunda gak ya, soalnya jelas-jelas tadi bunda bilang kalau dia mau ke masjid"


Mata Arkan melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 17:40 WIB."Mau jam 6, di jam segitu pasti bunda dan yang lain masih ada di masjid, gak mungkin pulang"

__ADS_1


"Terus kalau bunda gak pulang yang barusan aku ajak ngomong itu siapa?"


Arkan bertanda tanya, lagi-lagi sesuatu yang aneh datang menghampiri Arkan.


Mulai dari sejak pagi hingga malam hari gangguan yang datang menyita batin Arkan.


"Siapapun dia itu gak penting, yang terpenting itu sekarang aku harus cari Amanda, aku harus temuin dia. Dia pasti masih ada di sekitar sini, dia paling lagi sembunyi takut ketahuan"


"Aku harus temui Amanda, aku harus cari dia, aku gak boleh kehilangan jejaknya"


Arkan tanpa aba-aba berlari keluar dari kamar, saking tergesa-gesa Arkan tak memperhatikan sekelilingnya.


Saat Arkan keluar dari kamar di samping tembok berdiri seorang pria, kapas masih melekat di lubang hidung, lingkar matanya hitam, tubuhnya di bungkus kain kafan.


Tatapan mata tajamnya terarah pada punggung Arkan yang berlari keluar dari rumah.


Di dalam rumah tak ada satupun orang selain Arkan, ayah bunda kakek serta neneknya berada di masjid.


Di luar Arkan mencari keberadaan gadis yang kehadirannya sangat ia butuhkan sekarang.


"Amanda, Amanda kamu di mana"


"Amanda aku di sini"


"Amanda kamu jangan sembunyi, gak akan ada orang yang marahin kamu, aku mohon keluarlah"


Arkan berteriak-teriak mencari Amanda, menyisiri area rumah tak segan-segan Arkan mengelilingi rumah demi menemukan Amanda.


"Amanda, Amanda kamu di mana"


Di kanan dan kiri hanya ada kegelapan, walau gelapnya malam belum begitu pekat tapi Arkan begitu kesulitan menemukan orang yang ia cari.


"Di mana Amanda, pergi kemana dia, tadi dia ada di sini, apa dia sekarang udah pulang ke rumahnya?"


Arkan di serang rasa panik, jejak Amanda tak tertinggal sedikitpun, dia menghilang tanpa aba-aba.


Bibir bawah Arkan gigit, Arkan telah mencari Amanda di area rumah tapi tetap saja tak ada.


"Kenapa Amanda pergi, dia belum bilang caranya"


Arkan berdecak kesal, kesulitannya tak kunjung selesai. Amanda yang Arkan harapkan malah menghilang bagai makhluk halus dan tak dapat di temukan walau sudah di cari kemanapun.


Semangat Arkan pun pupus, harapan untuk lepas dari penunggu danau sudah menghilang.


Arkan pasrah mereka mau melakukan apa padanya, ia akan coba tegar dan yakin kalau dia bisa menahan segala kesulitan itu.


"Nasib nasib, kayaknya aku memang gak akan bisa lepas dari penunggu danau itu. Amanda yang ku kira akan menyelesaikan masalah mu malah hilang, di cari kemana pun malah gak ada"


"Kayaknya gak ada harapan lagi, percuma aku nyari cara, lebih baik aku terima aja apa yang akan mereka lakuin"

__ADS_1


"Apa yang akan mereka perbuat aku akan coba tegar dan aku pastikan kalau aku bisa melewati semuanya sendiri"


Arkan sudah berdamai dengan keadaan, ia akan mencoba menerima meski gangguan yang akan datang terlampau berat. Tapi hati Arkan yakin kalau dia bisa, jika orang lain bisa maka dia juga harus bisa.


__ADS_2