
"Gak akan, gak akan ada yang terjadi sama kita. Kamu jangan takut, ada aku di sini, kita berjuang bersama kita harus tanggung bersama juga"
"Kita itu gak boleh takut untuk menjunjung tinggi kebenaran, kalau bukan kita yang bertindak maka gak akan kelar-kelar kasus ini, kasihan Kiranti yang mati tapi pelakunya masih berkeliaran bebas"
Amanda yakin penuh, pantang mundur dari kasus yang telah berhasil menantangnya
Dalam hati Arkan memang merasa iba, tapi ia ragu untuk menolong karena menurutnya kasus ini cukup rumit dan berat.
"Oke deh aku setuju, aku akan coba memberanikan diri mengungkap siapa guru yang berada di balik kematian Kiranti" sahut Arkan setuju.
Amanda tersenyum senang, pada akhirnya apa yang ia tunggu-tunggu pun terjadi. Usaha Amanda meyakinkan Arkan akhirnya terwujud.
"Kalau begitu ayo kita cari tau tentang Kiranti di mulai dengan mengintrogasi mereka" telunjuk Amanda mengarah pada sejoli yang tak sengaja arah membicarakan mereka membuka rahasia yang terjadi di masa lampau.
Usulan Amanda dengan cepat di setuju Arkan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka langsung bergegas mendekati dua wanita yang bernama Dini dan Irfiana.
"Permisi, numpang tanya tadi kalian lagi bicarain Kiranti ya?" Tanya Amanda.
"Enggak kok, siapa yang ngomongin Kiranti, kita cuman bahas kerja kelompok nanti siang yang harus di kumpulkan Minggu depan" jawab Dini.
Jantung Amanda dan Arkan meloncat keluar. Jawaban yang mereka terima berbeda jauh dengan apa yang mereka dengar.
Keduanya saling menatap, bingung mengapa Dini dan Irfiana tidak mau mengaku apa yang mereka bahas.
"Tapi kok tadi kami dengar kalian nyebut nama Kiranti, kalian gak usah boong deh. Ngaku aja kalau kalian lagi bahas Kiranti!" Desak Arkan.
Telinga Arkan dan Amanda tak mungkin salah, mereka jelas mendengar kalau topik yang mereka bahas terdapat nama Kiranti yang di sebut-sebut di dalamnya.
"Kalian ini kenapa sih, kita gak lagi bahas Kiranti. Kalian salah dengar!" Hardik Irfiana.
Kening Arkan berkerut, terlihat jelas kalau mereka seperti memutar balikkan fakta.
"Gak mungkin kita salah, kita itu dengar langsung mangkanya kita datang untuk meminta kepastiannya" timpal Amanda bersikeras.
__ADS_1
"Kalian emang rada-rada, telinga kalian itu harus di bawa ke rumah sakit, kayaknya lagi bermasalah. Orang tadi kita gak bahas Kiranti, kita cuman bahas tugas sekolah doang. Eh kalian malah datang-datang dan bilang hal yang ngaco kayak gini" ujar Dini.
Tawa mereka terdengar paksa, Amanda memanas, terlihat kalau mereka sengaja ingin mempermalukan harga dirinya di depan semua orang dengan cara meninggikan suara serta membalikan topik.
"Kalian memang sialan, liat aja nanti!" Kecam Amanda.
Tanpa menunggu respon Amanda tergesa-gesa meninggalkan lokasi yang membuat hati dan otaknya mendidih.
Arkan membuntuti Amanda dari belakang, sambil memikirkan kenapa mereka bisa sedramatis itu berubah dalam waktu yang sangat singkat.
"Ekkkh kenapa mereka malah gak mau ngaku, tadi jelas mereka lagi bahas tentang Kiranti, kenapa sekarang mereka malah ngelak" geram Amanda meledak-ledak di buat dini dan juga Irfiana.
"Nah itu yang aku bingung kan, arah pembicaraan mereka langsung berubah ketika kita mencoba untuk mengintrogasi mereka. Aku heran kenapa mereka melakukan ini, apa keuntungan mereka menyembunyikan tentang kasus Kiranti" sahut Arkan.
Dini dan Irfiana mereka kira akan menjadi alat untuk bisa mengorek informasi penting tentang gadis bernama Kiranti.
Namun siapa sangka kalau mereka malah seperti tidak mau membuka kasus yang terdengar baru, namun terkesan lama karena tak ada lagi yang membicarakan.
"Aku yakin mereka pasti tau sesuatu tentang Kiranti, tapi mereka aja gak mau ngasih tau kita" timpal Amanda.
"Tapi kalau mereka gak mau ngasih tau, kita mau cari tau dari siapa lagi. Cuman mereka yang bisa kita andalkan karena mereka ada di masa di mana Kiranti ada, hingga Kiranti tiada" sahut Arkan.
"Kalau kayak gini kita harus cari tau tentang Kiranti dari jalur lain. Kalau dari jalur manusia akan sulit karena kayaknya mereka akan sama seperti Dini dan Irfiana, sama-sama ngelak kalau di tanya, paling-paling jawabnya gak tau, gak mungkin ada yang lain" saran Amanda.
"Aku setuju-setuju aja, tapi kita mulai dari mana, dari arah mana kita memulai penyelidikan. Kalau dari jalur manusia kan udah gak bisa, terus jalur mana lagi yang mau kita capai?"
Keputusan terdapat di tangan Amanda, Amanda lebih paham dan pastinya cerdik dalam mengurus kasus-kasus yang berbau-bau mistis.
"Nanti aku akan coba pikirin kita akan mulai dari mana. Mending sekarang kita ke kelas aja, bentar lagi bel"
Arkan mengangguk, mereka pun kembali ke kelas.
Pertama kali masuk ke dalam sekolah SMA kebangsaan Arkan sudah di hadapkan oleh tantangan yang cukup besar.
Partner Arkan yang keras kepala dan ambisius membuatnya sulit untuk menolak dan mengharuskannya untuk maju bersamanya.
__ADS_1
Demi pecahnya penasaran mereka harus berjuang mati-matian.
Duduk manis di bangku adalah hal yang Amanda lakukan, tak lama kemudian bel masuk berbunyi.
Seorang guru bergender laki-laki masuk ke dalam kelas, wajahnya yang serius di lengkapi dingin dan cuek membuat kelas menjadi hening.
Guru yang lagi berdiri di depan adalah salah satu guru yang cuek, sulit untuk tersenyum, bawaannya serius mulu.
"Buka bab 23, kerjakan uji kompetensi A dan B. Bapak kasih kalian waktu 20 menit untuk mengerjakan. Selesai gak selesai harus di kumpulkan" perintah seorang guru bernama pak Zaen.
"Baik pak" sahut para murid.
Semua buku di buka sesuai halaman yang di tetapkan, dengan fokus para siswa baik siswi mengerjakan tugas.
Tapi di antara banyaknya siswa ada beberapa yang menjadi jerapah. Soal yang sulit mengubah mereka menjadi jerapah untuk mendapatkan jawaban tanpa capek-capek nyari.
Pak Zaen mengelilingi semua anak yang sedang sibuk mengerjakan tugas, itu di lakukan agar tidak ada yang menyontek.
"Permisi pak"
Seketika pandangan jatuh pada seseorang yang berdiri di ambang pintu.
"Ada apa?" Tanya pak Zaen.
"Pengawas sekolah datang pak, bapak di minta ke kantor" jawab Bu Nurul.
"Kalian kerjakan dulu, saya mau ke kantor sebentar"
"Baik pak" jawab anak-anak penuh semangat.
Pak Zaen meninggalkan kelas, seketika anak-anak pun lega, ketegangan yang terpancar langsung menghilang.
"Akhirnya pak Zaen pergi juga"
"Bu Nurul memang penyelamat yang sesungguhnya"
__ADS_1
Para murid lega karena tidak di awasi langsung oleh pak Zaen. Mereka tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Amanda kenapa semua orang pada takut sama pak Zaen?" Penasaran Arkan.