Petualangan Mistis Arkan

Petualangan Mistis Arkan
Sekolah baru Arkan


__ADS_3

Krieet


Di tengah obrolan mereka tiba-tiba suara pintu di buka oleh seseorang. Perhatian Arkan tertuju pada seorang wanita yang lagi berdiri di ambang pintu.


"Kok belum siap-siap, sana siap-siap lalu ke meja makan, sarapan dulu biar gak laper di kelas" suruh Risma mendapati jika Arkan belum melaksanakan perintah.


"Iya Bun" sahut Arkan.


"Bunda tunggu di meja makan, ingat jangan lama-lama" perintah Risma lagi.


Anggukan Arkan berikan, lalu pintu kamarnya kembali di tutup.


Arkan melirik ke sampingnya."Loh kemana nenek, kapan dia pergi?"


Terkesiap Arkan ketika secara tiba-tiba di sampingnya sudah kosong, gak ada lagi nenek-nenek yang duduk di samping Arkan.


"Kayaknya nenek sudah pergi, lebih baik aku siap-siap sekarang sebelum telat sampai ke sekolah"


Arkan bangkit, masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuh sebentar lalu mulai bersiap-siap seperti pada umumnya, kemudian keluar dengan tas di punggungnya.


Arkan duduk di kursi kosong di meja makan, menyantap makanannya dengan lahap. Sebelum berangkat sekolah Arkan wajib makan biar tidak pusing di tengah pelajaran berlangsung.


"Arkan ini bunda siapin kamu bekal, nanti kalau kamu laper kamu tinggal makan" ucap Risma menutup bekal itu lalu menaruhnya di dalam tas anaknya.


"Iya Bun, nanti akan Arkan makan kok" sahut Arkan.


"Ini udah siang loh, sana kalian berangkat sebelum keburu makin siang" ujar nenek.


Ilyas mengangguk."Ayo kita berangkat, perjalanan ke sana jauh loh, kita gak boleh nunda-nunda waktu"


Mereka mengangguk setuju, lalu bangkit dan menyalami punggung tangan kakek dan nenek.


"Belajar yang rajin ya, ingat kamu harus jadi orang sukses" ucap kakek ketika Arkan menyalami punggung tangannya.


"Iya kek" jawab Arkan.


"Pak Bu kami berangkat dulu, doain yang terbaik" kata Risma.

__ADS_1


"Iya, kami pasti akan doain kalian yang terbaik" sahut nenek.


"Kami berangkat dulu kakek nenek assalamualaikum" salam Arkan.


"Wa'alaikum salam" balas mereka sambil menatapi kepergian anak dan cucunya.


Arkan dan keluarganya masuk ke dalam sebuah mobil merek Avanza berwarna putih milik adik dari ayahnya yang di pinjam karena kebetulan adiknya berada di luar negeri.


Mobil yang di setir oleh Ilyas melesat meninggalkan rumah menuju sebuah sekolah SMA swasta yang terletak di kota tempat tinggal mereka berada.


Arkan menatap ke jendela, memperhatikan pohon-pohon yang menjulang tinggi, jalanan desa amat sepi, tak ada kendaraan satupun yang melintas hanya mobil milik paman Arkan yang menguasai jalan.


Di samping kanan dan kiri Arkan adalah hutan, untuk masuk ke desanya ia harus melewati hutan lebat itu, begitu pula ketika ia harus keluar meninggalkan desa.


Banyaknya pohon-pohon yang tumbuh membuat cahaya matahari sulit masuk sehingga terasa gelap walau masih pagi.


Mata hitam milik Arkan sesekali menangkap kelebat bayangan cepat yang berkeliaran di dalam hutan saat mobil melintas. Arkan tak terkecoh, ia diam saja, selagi mereka tidak mengganggunya ia tidak akan mempermasalahkan keberadaan mereka.


Setelah mobil keluar dari gapura, Arkan langsung bertemu dengan jalan raya besar yang padat, banyak kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan.


Mobil tersebut berhenti di sebuah SMA kebangsaan yang menjulang tinggi, walau berbasic swasta, namun sekolah itu menjadi salah satu sekolah terbesar di kota tersebut.


Setelah melakukan pendaftaran, orang tua Arkan meninggalkan Arkan di sekolah itu, sementara Arkan di bawa ke salah satu ruangan yang akan menjadi kelasnya di dampingi seorang guru bernama Bu Tiwi.


"Pagi anak-anak" sapa Bu Tiwi, guru perempuan berusia 45 tahun, namun masih aktif membimbing anak-anak muridnya yang lagi mengenyam pendidikan di SMA kebangsaan.


"Pagi Bu" sahut berbarengan para murid yang berjumlah 39 orang.


"Hari ini kita kedatangan murid baru" ucap Bu Tiwi mengumumkan.


"Murid baru?"


"Siapa Bu?"


Siswa baik siswi penasaran siapa sekiranya murid baru yang akan duduk di ruangan yang sama dengan mereka.


Bu Tiwi menatap pintu."Sekarang kamu boleh masuk"

__ADS_1


Arkan melangkah masuk, dengan cool dan berusaha untuk tenang, karena saat ini jiwa introvertnya keluar sehingga Arkan merasa kurang percaya diri ketika menjadi pusat perhatian orang ramai.


"Sekarang kamu pekenalkan diri biar teman-teman kamu tau" suruh Bu Tiwi.


Arkan dengan setenang mungkin menatap semua orang yang juga memperhatikannya.


"Halo semua, nama saya Arkan Al-Ghazali, saya pindahan dari SMA Tunas Bangsa" ujar Arkan di depan semua orang.


"Ibu harap kalian semua bisa berteman baik dengan Arkan" ujar Bu Tiwi melanjutkan.


Orang yang lagi menjadi perhatian publik ketar-ketir, tegang tanpa sebab cuman karena di perhatikan oleh orang ramai padahal tak Arkan kenali tapi tetap saja ia takut.


"Arkan sekarang kamu duduk di dekat Amanda" tunjuk Bu Tiwi pada seorang gadis yang gak asing di matanya.


Gadis bernama Amanda itu dari kejauhan sudah menyunggingkan senyum.


Arkan dengan seulas senyum melangkah mendekati gadis yang Bu Tiwi tunjuk lalu duduk di sampingnya yang kebetulan kosong.


"Kamu sekolah di sini juga?" Tanya Amanda sedikit terkejut.


"Iya, aku sekolah di sini juga" jawab Arkan.


"Kalau begitu nanti kita pulang bareng ya" tawar Amanda.


"Oke" Arkan langsung setuju, karena memang mereka satu arah.


Pelajaran di mulai dengan lancar, Arkan dapat mengikuti pembelajaran dengan sangat baik. Sampai tibanya masa di mana semua murid di istirahatkan.


Arkan dan Amanda keluar dari dalam kelas lalu berdiri di balkon sambil menatap anak-anak yang berada d lapangan.


"Arkan tadi malam kamu di ganggu gak sama hantu penunggu danau?" Tanya Amanda memulai percakapan.


Hantu yang menjadi ancaman bagi mereka saat ini hanyalah hantu penunggu danau, kesalahan mereka di mata hantu penunggu danau tak dapat di maafkan. Sehingga pasangan suami istri itu berusaha untuk membuat kehidupan Arkan dan Amanda tak tenang.


"Enggak, tadi malam dia gak ganggu aku, cuman pas pulang dari danau dia terus ngikutin aku mulu, parahnya lagi dia sampai nyerupai nenek, aku hampir ketipu sama dia"


Mendengar itu Amanda shock berat."Parah banget hantu penunggu danau itu, gak habis pikir aku apa maunya, kesalahan kita gak besar-besar amat tapi dia sebegitunya gak suka sama kita"

__ADS_1


Omelan meluncur keluar dari bibi Amanda, hantu penunggu danau begitu keterlaluan, padahal mereka cuman membicarakan sejarah danau yang tak sengaja menyeret nama mereka.


"Gimana kamu tadi malam di ganggu gak sama mereka?" Tanya balik Arkan.


__ADS_2