
"Alasan semua orang gak mau menempati kamar mbah Sumi karena banyak gangguan, gangguan itu ada yang datang dari makhluk halus di luaran sana ada yang datang dari mbah Sumi sendiri karena mbah Sumi terkadang tidak suka kamarnya di tempati oleh sanak keluarganya sendiri" jelas kakek menyudahi cerita.
Arkan tiba-tiba terdiam, dengan mata menatap lekat sosok nenek-nenek yang muncul di tengah cerita nek Sumi.
"Arkan kenapa kamu diam, apa yang kamu pikirin?" Tanya nenek.
Arkan langsung kembali tersadar."Gak ada kok nek, gak ada apapun"
"Kamu jangan bohong, terus terang saja sama kami apa yang kamu liat, kamu gak perlu kamu sembunyiin" suruh Ilyas.
Arkan melirik ke arah jendela, sosok nenek-nenek masih berdiri di sana dengan seulas senyum. Nenek itu sadar jika Arkan dapat melihatnya.
"Kakek apa mbah Sumi itu punya tahi lalat di pipi?" Tanya Arkan.
"Kenapa kamu bisa tau, kakek tidak bilang apapun tentang ciri-ciri mbah Sumi, dari mana kamu tau?" Kakek ikut penasaran.
Pertanyaan Arkan mengarah langsung ke mbah Sumi, pemilik kamar yang lagi Arkan tempati.
"Iya Arkan, kamu tau dari mana kalau mbah Sumi punya tahi lalat di pipinya?" Nenek ikutan penasaran asal Arkan mengetahuinya.
"Itu, di sana ada nenek-nenek" telunjuk tangan Arkan mengarah pada sosok nenek-nenek yang berdiri di luar, tapi dapat mereka lihat dari jendela.
Semua mata menatap jendela, namun mereka tak melihat apa-apa. Tidak ada apapun yang mereka temukan. Hanya kakek yang diam menatap jendela tanpa kedipan.
"Apa itu beneran mbah Sumi kek?" Tanya Arkan lagi.
Kepala kakek mengangguk."Benar, itu beneran mbah Sumi, orang yang kakek maksud"
Sosok nenek-nenek yang di sebut mbah Sumi tersenyum, kemudian berjalan pergi.
"Kata kakek mbah Sumi pemilik kamar yang lagi aku tempati, kenapa sebelum-sebelumnya aku gak pernah lihat dia?"
"Karena mbah Sumi jarang untuk menampakkan diri, kakek saja jarang melihatnya, kadang-kadang saja dia menunjukkan diri"
__ADS_1
Arkan manggut-manggut, pantesan saja selama ia tinggal di kamar paling pojok itu tak pernah sekalipun ia bertemu dengan mbah Sumi.
"Arkan mbah Sumi itu orang baik, kamu tidak perlu takut padanya, silahkan kamu tempati kamarnya. Kalau sewaktu-waktu adalah gangguan kamu tinggal datangin kakek, biar kakek yang akan urus" ucap kakek.
Berat bagi Arkan untuk menempati kamar yang terkenal menyimpan hal-hal mistis.
Sejak tinggal di kamar milik mbah Sumi Arkan kerap di ganggu makhluk-makhluk aneh. Padahal Arkan tidak melakukan apapun yang dapat membuat makhluk-makhluk tak kasat mata marah.
"Tapi kek bagaimana kalau mbah Sumi ternyata marah dan gak suka kalau Arkan tinggal di kamarnya, karena sering kali Arkan di ganggu saat tidur di sana, mungkin itu adalah kode kalau Arkan gak boleh tinggal di kamarnya lagi" Arkan menyimpulkan sendiri kejadian-kejadian mistis di kamar dan itu ada hubungan dengan sang pemilik kamar sebelumnya.
Kakek menyunggingkan senyum."Tidak mungkin mbah Sumi marah, kamu itu cicitnya, mana mungkin mbah Sumi marah sama orang yang akan menjadi penerusnya. Kamu itu sering di ganggu makhluk halus karena kamu masih baru, sulit untuk berinteraksi sama mereka, dan mereka menggunakan kesempatan ini untuk ganggu kamu"
Apa yang kakek katakan ada benarnya, makin Arkan takut sama makhluk halus makin dia datang mengganggunya tanpa henti.
Sifat penakut Arkan berdampak buruk bagi dirinya sendiri, karena jika Arkan masih memiliki sifat itu maka kesempatan makhluk halus untuk memanfaatkan Arkan begitu besar.
Makhluk halus sangat suka pada orang-orang yang memiliki sifat penakut, karena gampang untuk di takut-takuti.
"Kamu gak usah takut sama makhluk halus, makhluk halus itu gak akan bunuh kamu, mereka cuman datang buat nakut-nakutin kamu saja" kata kakek.
Sementara ini pemuda introvert bernama Arkan Al-Ghazali sulit untuk melawan rasa takut, karena jujur yang namanya hantu gak ada yang gak serem.
Nyali Arkan yang sebesar biji zarah sangat mudah di hancurkan cuman karena di pelototi oleh hantu.
"Kamu gak perlu takut lagi Arkan, kalau ada masalah kamu tinggal bilang sama kami, kami akan bantu kamu" suruh nenek agar cucunya bisa dapat terbuka dalam setiap hal.
Arkan mengangguk, hati Arkan plong karena keluarganya akan menjadi suporter di era dua dunia yang mengikatnya.
"Arkan sana kamu masuk ke kamar mu, siap-siap, nanti jam 6 kita berangkat ke sekolah baru mu. Hari ini kamu akan kami daftarkan sekolah, kita berangkat ke sana pagi-pagi karena jarak tempuhnya lumayan jauh" suruh Risma.
Arkan menurut, ia lantas bangkit lalu masuk ke dalam kamar.
Aktivitas Arkan terhenti, ketika pintu kamarnya di buka dengan lebar, mata Arkan di jamukan dengan pemandangan sosok nenek-nenek yang duduk di tepi kasur sambil melempar senyum ke arahnya.
__ADS_1
Arkan diam menjadi patung di ambang pintu, belum apa-apa saja mentalnya kembali down.
"Kemari lah cu" titah seorang nenek-nenek, rambutnya putih sempurna, gak ada lagi surai hitam di kepala. Wajah nenek-nenek itu keriput, di pipinya ada sebuah benda berbentuk bulat berwarna hitam atau kerap di sebut tahi lalat.
Ragu-ragu Arkan melangkah mendekati nenek-nenek yang ternyata adalah nenek moyangnya.
"Duduklah di mari" tangan nek Sumi memukul pelan kasur, meminta agar Arkan duduk di sampingnya.
Arkan menurut, ia dengan jiwa yang bergetar hebat duduk di samping nek Sumi, pemilik kamar yang lagi ia tempati.
"Nenek beneran nek Sumi?" Dengan tergagap Arkan bertanya.
Berhadapan dengan nenek buyut Arkan sudah tak dapat mengontrol diri, rasa takut datang tanpa di minta, wajah nek Sumi tak seram tapi tetap saja rasa takut menjalar ke seluruh tubuh Arkan.
"Iya cu, ini nenek, nenek ini adalah nenek buyut mu, pemilik kamar yang lagi kamu tempati" jawab nek Sumi.
Wajah Arkan pelan-pelan memucat, darah seperti tak mengalir di seluruh tubuhnya.
Kedua tangan Arkan basah di buat peluh, grogi berada di dekat nek Sumi.
"Nenek datang ke sini cuman mau bilang sama kamu kalau kamu gak perlu takut sama penunggu danau itu. Cukup kamu waspadai saja mereka, tak perlu kamu takut berlebihan sama mereka ya" ucap nek Sumi.
Arkan mengangguk, walau ia belum tentu bisa bertahan jika di datangi langsung oleh orang yang bersangkutan.
"Nek, kenapa tadi malam ada sosok besar di sini, kenapa dia marah sama Arkan. Arkan cuman buang bunga yang berserakan di lantai, di mana letak kesalahan Arkan?"
Pelan-pelan Arkan mencoba berkomunikasi dengan nenek buyut. Hanya pada nenek buyut Arkan berterus terang awal mula mengapa genderuwo marah besar terhadapnya.
Nek Sumi menanggapi pertanyaan Arkan dengan senyuman."Dia itu memang suka cari gara-gara, jauh sebelum kamu datang dia juga sering ganggu nenek, tapi nenek gak balas dendam, karena kalau nenek balas dia akan semakin dendam"
"Kamu kalau nanti ketemu sama dia, kamu tinggal minta maaf, ajak dia damai, percuma kalau di tantang bukannya selesai masalahnya akan tambah rumit. Kamu mengerti kan apa yang harus kamu lakukan"
Dengan cepat Arkan mengangguk.
__ADS_1
Damai adalah jalan tengah dari setiap persoalan yang berdatangan.