
BUAKH!
"Beraninya kau menyentuh pedang yang kujual ini! Memangnya anak yatim piatu sepertimu bisa apa, hah! Kau membuat pedangku jadi pembawa sial sepertimu nanti!" hardik seorang penjual pedang yang sedang menendang pria ke luar tokonya itu.
"Ukh!"
Pria yang sudah lebam karena pukulan di pipi dan juga tubuhnya itu langsung berlari pergi menjauhi toko pedang yang barusan ia masuki. Dengan langkah yang sangat cepat, pria itu berlari menyusuri kerumunan orang yang berada di pasar dengan cepat dan menutup wajahnya dengan tudung hitam yang sudah kusam.
Saat sudah menjauh dari toko itu, pria itu pun berjalan perlahan karena sudah lelah.
"Bukannya itu si Tatsuya? Anak pembawa sial itu, bukan?" Para warga yang berada di pasar terus membicarakan tentang Tatsuya.
"Iya! Jangan dekat-dekat! Nanti hidupmu jadi sial. Kemarin ia mencuri buah di toko buah itu, besoknya penjual buahnya sakit-sakitan dan nutup tokonya! Pokoknya jangan sampai barang dagangan kalian tersentuh!" imbuh orang lain yang tengah menyuguhkan pembicaraan yang lebih pedas lagi untuk didengar.
"Ck!"
Tatsuya hanya bisa berdecak kesal dan muak sekali dengan apa yang ia dengar setiap hari. Pria itu pun berlari ke arah puncak bukit yang ada di kota Arkansas. Di mana ada beberapa makam di atas sana, termasuk makam kedua orang tua Tatsuya yang dikubur di sana, menjadikan Tatsuya terkenal sebagai anak yatim piatu pembawa sial, karena konon katanya orang tua Tatsuya meninggal karena melindungi dirinya dan hanya meninggalkan sebuah pedang warisan milik kedua orang tuanya. Itu pun pedangnya sudah berkarat dan tak tajam lagi. Karena desas-desus itu pun alhasil sebuah kutukan dipercaya masuk ke dalam tubuh Tatsuya.
Sampai di bukit, Tatsuya duduk di hadapan makam ayah dan ibunya yang berada di bawah pohon, ia menatap makam kedua orang tuanya dengan penuh kesedihan.
"Kenapa kalian tega sekali meninggalkanku? Mengapa tidak aku saja yang mati demi kalian?" gumam Tatsuya sembari mengusap batu nisan kedua orang tuanya.
"Kalian tahu? Di kota Arkansas, aku sama sekali tidak bisa hidup dengan tenang. Bahkan mereka selalu merendahkanku. Aku bahkan tidak punya tempat tinggal yang layak selain di bawah kolong jembatan," racau pria itu di atas makam kuburan kedua orang tuanya. "Aku ingin menjadi pahlawan seperti kalian, yang dengan gagah berani bisa memegang pedang besi dan membunuh semua penjahat di kota ini, atau di kota lain," lanjut Tatsuya dengan beribu keinginan yang terkubur.
"Bahkan, kalian hanya meninggalkan pedang ini untukku. Yang aku bahkan tak bisa menggunakannya. Mana bisa digunakan, bukan?" Tatsuya sedikit kesal dan masih tidak mengerti, mengapa ia hanya diberi pedang berkarat seperti itu?
Namun, sebanyak apapun ia meracau dan mengeluhkan kehidupannya, ia tetap menyayangi kedua orang tuanya yang sudah tiada dan terus memutuskan untuk menjadi orang yang baik dan bisa berguna bagi banyak orang. Ia hanya bisa pasrah dengan kehidupannya ini.
Saat Tatsuya sedang memberikan bunga di atas kedua makam orang tuanya, tiba-tiba ratusan burung terlihat terbang menjauh dari hutan dengan suara yang cukup mengerikan.
"KWAK! KWAK!"
Membuat Tatsuya terkejut bukan main dan melihat banyak sekali burung yang melintasi langit biru di bawah matahari yang terik. Angin pun tiba-tiba bertiup kencang, menghembuskan tudung Tatsuya dan juga rambutnya yang berwarna pirang itu.
Wush!
Seketika, Tatsuya merasakan perasaan yang aneh dan tidak enak. Ia melihat ke arah hutan, dan merasa merinding.
"Ayah, ibu. Aku pulang dulu ya? Besok aku ke sini lagi." Merasakan hawa yang tidak enak, Tatsuya langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya dan pergi menuruni bukit untuk mencari sedikit kudapan. Berharap dengan sedikit uang yang ia miliki, ia bisa mendapatkan sedikit makanan atau apapun yang bisa ia makan.
Saat sudah sampai di kota, Tatsuya menghampiri satu ruko yang memang berada di dekat gerbang pintu masuk kota Arkansas. Di sana banyak sekali penjaga kota yang dikenal sangat tidak ramah. Tatsuya berhenti di sana karena perutnya sudah sangat lapar.
__ADS_1
"Permisi, boleh saya beli daging asap itu?" Tatsuya menunjuk daging asap yang masih hangat dan tengah digantung.
"Huh! Memang kau punya berapa banyak buat beli daging itu?!" Pria bertubuh besar dan botak itu terlihat meremehkan Tatsuya.
"Saya hanya punya ini." Beberapa uang emas dikeluarkan oleh Tatsuya, dan seharusnya itu cukup.
"Hohoho, bocah tengil ini ternyata punya uang. Karena aku sedang baik hati, kuberikan daging besar ini untukmu!" Pria botak itu memberikan daging asap yang cukup besar.
Karena saking laparnya, Tatsuya langsung melahap daging itu dengan cepat sembari ditertawakan oleh beberapa orang di sana. Tatsuya sudah tebiasa dengan hal seperti itu dan sudah tidak peduli lagi.
Namun, saat ia tengah melahap daging itu, pria botak itu justru menjatuhkan makanan Tatsuya ke tanah hingga membuat dagingnya kotor dan tidak bisa dimakan lagi. Parahnya lagi, para penjaga menginjak daging tersebut dan tertawa dengan gembira.
"Hahaha! Dasar bocah tengil! Berani kau sentuh daging berhargaku itu! Kau bayar dengan 4 emas, 4 gigitan pasti sudah cukup untukmu!" ledek para penjaga.
Tatsuya pun tertunduk dan merasa bahwa dirinya lelah direndahkan, Tatsuya mengepalkan tangannya dan mengambil pedang berkarat dari sisi kirinya.
"Jangan sok jadi jagoan! Kalian sama brengseknya denganku!" geram Tatsuya.
Ia langsung menerkam salah satu penjaga dan menghunuskan pedangnya ke arah leher penjaga itu, namun, penjaga tersebut menahan dengan tangan, sehingga tangannya berlumuran Darah. Sedangkan Tatsuya masih berusaha untuk membunuh penjaga itu.
"Hah! Beraninya bocah tengik ini! Mana pedangnya karatan! Bisa infeksi tanganku, sial!"
"Mo–monster!" ucap salah satu penjaga dengan terbata-bata.
BUK!
"Argghh!!"
Suara pukulan tongkat besar mengenai tubuh penjaga dan membuat salah satu dari mereka terpental jauh dan menabrak pohon. Tatsuya langsung melihat ke arah belakang dan melihat tubuh besar nan gempal, seperti wujud ogre yang sering ia lihat di buku-buku.
"Huwaaa! Monster masuk ke dalam desa!" teriak salah satu penjaga dan berusaha untuk naik ke sebuah tower untuk membunyikan lonceng tanda bahaya.
"BERLINDUNGLAH! MONSTER TURUN DARI HUTAN!" teriak orang-orang yang selamat sembari masuk ke desa.
Tatsuya yang masih berada di bawah ogre tersebut, langsung pergi. Namun, tudung jubahnya ditarik oleh ogre tersebut dan membuat Tatsuya terjatuh. Tubuh Tatsuya bergetar hebat kala monster itu berada di hadapannya, namun, ia ingat masih memegang pedang berkaratnya itu.
"Benar juga! Aku masih punya senjata!" Bersamaan dengan itu, ogre bersiap untuk memukul Tatsuya ke arah bawah.
"Ukh! Kenapa ada monster di Arkansas!" batin Tatsuya.
BUAKH!
__ADS_1
Untungnya serangan tersebut tidak mengenai Tatsuya. Pria itu langsung berguling ke kanan, lalu beranjak bangun. Merasa dalam bahaya, ia langsung mengarahkan pedangnya ke arah monster itu.
Kini, pedang itu ada di hadapannya, begitu pun dengan monster mengerikan tersebut. Sejujurnya, ia sangat takut jika harus menghadapi monster itu. Jantung Tatsuya berdegup kencang kala ia memegang pedang tersebut dan bersiap untuk menghunuskan pedangnya, namun, ia juga merasakan panas di tubuhnya, seakan pedang tersebut memberikan sebuah keberanian kepadanya. Tatsuya menajamkan pandangannya dan berlari menancapkannya ke arah jantung monster itu.
JLEB!
Seketika, monter itu tak bergeming. Tatsuya mundur beberapa langkah untuk melihat berhasil atau tidaknya. Namun, terlihat monster itu makin murka dan membuat Tatsuya buru-buru menarik pedang berkarat tersebut dari dadanya.
"GROOOOO!" teriak monster tersebut yang masih sehat bugar dan Tatsuya langsung berlari mencari tempat yang aman.
"Sial! Bodohnya aku! pedang tumpul dan berkarat ini mana mempan untuk membunuh monster berkulit tebal itu!" ujar Tatsuya sembari berlari dan memasukkan pedang ke sarung pedangnya.
Ia masuk ke dalam kota dan melihat kota yang sudah porak poranda, ternyata monster-monter itu sudah lebih dulu masuk ke kota. Banyak sekali jasad orang-orang yang tergeletak, juga banyak darah yang berceceran. Hal ini langsung membuat Tatsuya terus berlari tanpa memikirkan apa dan siapa yang harus ia tolong. Saat ini, ia harus bisa menolong dirinya sendiri.
Namun, saat ia tengah berlari, seseorang menarik kakinya dan membuat Tatsuya terjatuh.
Bruk!
"Ugh!" Ia melihat ke belakang, dan ternyata ada seorang ibu yang tengah memeluk putranya.
"To–tolong bawa anakku. Kumohon selamatkan dia!" pinta ibu itu. Ia masih sempat meminta tolong pada orang yang selamat, padahal dirinya dendiri sudah penuh luka dan darah mengalir di seluruh tubuh. Tatsuya yang merasa iba, langsung menggendong anak itu ke dalam pelukannya.
"Nak, kalian harus selamat, bagaimanapun caranya," pinta ibu itu sembari mengucapkan kata terakhirnya. Tatsuya menggigir bibir bawahnya sembari berucap, "Maafkan saya!"
Tatsuya melanjutkan pelariannya sembari membawa anak itu pergi dari seluruh kekacauan di kotanya itu.
"Sial! Sial! Sial! Sial!" Ia terus berlari sembari menutup tudungnya dan masuk ke kolong jembatan, dan bersembunyi di bawah pembuangan air yang berada di bawah kolong jembatan.
Tatsuya merasa sangat aman di bawah sana. Ia langsung menurunkan anak kecil itu dan menenangkannya.
"Sssh, kau anak pintar, bukan? Jangan berisik ya? Para monster itu nanti bisa mengetahui persembunyian kita," ujar Tatsuya dengan tangan yang bergetar hebat, namun masih berusaha tersenyum.
"Mamaku bagaimana?" Anak kecil itu nampak ketakutan. Bagaimana Tatsuya harus menjawab pertanyaan anak kecil itu?
"Te–tenang saja. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Semoga mama baik-baik saja ya?" Tatsuya memberikan sebuah harapan palsu kepada anak itu.
Dari luar, terdengar teriakan orang meminta tolong dan juga tangisan yang tak kunjung henti.
"Kenapa bisa ada monster di sini? Apa terjadi sesuatu yang tidak kuketahui?" batin Tatsuya sembari menutup telinga anak kecil yang ada di hadapannya itu, dan berusaha untuk berpikir keras di tengah teriakan orang-orang yang meminta tolong dan bahkan merintih kesakitan.
"Maafkan aku ...."
__ADS_1