Pewaris Pedang Legenda

Pewaris Pedang Legenda
Lowongan Menjadi Hunter


__ADS_3

Pria berbaju zirah yang sedari tadi melihat ke arah Tatsuya sedikit terkejut dengan apa yang ada di hadapannya itu. Ia melihat potensi Tatsuya saat penggunaan pedangnya.


"Apa benar ini kali pertama ia memegang pedang?" batin pria itu sembari mengerutkan keningnya dan keheranan.


"Ugh!" Tatsuya sekuat tenaga mendorong pedang yang ia pegang ke hadapan goblin tersebut.


"Kiiiiiiikkk!" Suara melengking keluar dari mulut monster itu, membuat Tatsuya sedikit ketakutan. Terlebih, darah goblin tersebut menetes di wajah Tatsuya karena pedangnya menancap tepat di jantung monster itu dan menembus sampai ke belakang, membuat Tatsuya semakin ketakutan.


Dengan cepat, Tatsuya langsung menarik pedangnya lagi dan terlihat monster itu jatuh di depan Tatsuya dengan bersimbah darah. Nafas Tatsuya memburu, dan melihat pedang yang ia bawa itu sudah berlumuran darah makhluk itu.


Tatsuya menjatuhkan pedangnya dan melihat kedua tangannya yang kotor dan banyak darah monster itu. Tiba-tiba, pria berbaju zirah itu mendekati Tatsuya dan mengambil pedangnya itu.


"Kerja bagus. Masuklah, jangan buat ulah di dalam! Kalau kau ingin membunuh monster seperti ini lebih banyak lagi, carilah aku di sekitar gerbang keluar tempat perlindungan ini," pungkas pria itu sembari membersihkan pedangnya dengan kain, lalu memasukkan lagi ke dalam sarung pedangnya. "Namaku Toru, ingat itu baik-baik. Kau pasti akan membutuhkannya," lanjut pria itu sembari membantu Tatsuya berdiri.


Tatsuya meraih tangan itu dan lekas berdiri, lalu diajak masuk ke dalam shelter darurat itu.


"Ta–tapi tuan Toru. Jika kita memasukkan dia ke dalam, pasti akan kacau balau!" tolak salah satu penjaga.


"Dia juga manusia yang sama seperti kita. Jangan sama seperti orang-orang kampungan itu!" Baru pertama kali ini ada yang membela Tatsuya.


Setelah tunduk dan takut kepada Toru, Tatsuya pun diijinkan masuk dan bergabung dengan yang lain. Ia mendapatkan tempat yang sama seperti yang lainnya. Sepanjang jalan saat dia akan menempati tempat barunya itu, banyak orang-orang desa melihatnya terus menerus dengan tatapan mata tajam, seolah jijik dan takut dengan Tatsuya.


Namun, Tatsuya berusaha untuk tidak memikirkan itu dan tetap menatap lurus ke depan dan mencari tempat yang kosong. Sebenarnya, dia khawatir dengan anak yang tadi ia bawa. Ia belum bertemu dengan anak kecil itu lagi, berharap anak itu akan ada di tempat yang aman.


Hingga terlihat kasur yang terbuat dari tumpukan jerami dan terbalut oleh kain, ia berhenti tepat di kasur itu.


"Serius aku boleh tidur di tempat ini?" batin Tatsuya yang merasa dirinya tidak pantas mendapatkan perlakuan baik ini.


Tatsuya menghela nafas panjang dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat itu.


"Uwaaah! Empuk sekali ranjang ini!" batin Tatsuya.

__ADS_1


Karena selama 25 tahun di hidupnya, ia baru kali ini merasakan tempat tidur yang nyaman, biasanya angin malam dan juga dinginnya jalanan di bawah jembatan, menjadi tempat Tatsuya untuk mengistirahatkan dirinya sejenak.


Saat ia sedang merebahkan tubuhnya, Tatsuya mendengar suara yang tidak asing.


"Kakaak!"


Tatsuya langsung beranjak bangun dan melihat ke kanan dan kiri, mencari sumber suara itu. Hingga terlihat anak kecil yang tadi ia bawa sedang berlari ke arah Tatsuya. Pria itu langsung tersenyum saat melihat anak itu selamat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tatsuya saat pria kecil itu berada dalam pelukan Tatsuya.


"Iya! Aku diberi pakaian dan juga tempat yang layak di ujung sana, ternyata teman-temanku juga berada di sana! Terima kasih banyak atas bantuanmu, Kak!" Anak kecil itu sudah terlihat jauh lebih bersih daripada sebelumnya. Bahkan pakaiannya sudah ganti dan jadi lebih rapi.


"Baguslah kalau begitu. Maaf ya membuatmu ketakutan kemarin. Sekarang kamu main saja di sana, tidak perlu pedulikan aku," Tatsuya mengusap kepala anak kecil itu.


"Namaku Rei. Aku diberitahu penjaga jika mamaku tidak akan kemari, apa benar begitu?" Rei nampak bersedih saat berucap begitu.


Tatsuya pun menghela nafas panjang, dia sudah tidak bisa mengalihkan pembicaraan ataupun berbohong lagi, karena anak itu berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak apa, Kak. Aku justru berterima kasih sekali. Kakak baik sekali melakukan itu untuk menguatkanku. Aku sama sekali tidak marah kok." Rei justru tersenyum dengan manis.


Tatsuya melihat hal itu langsung ikut tersenyum dan merasa bangga dengan anak kecil yang ia bawa barusan. Karena Rei sudah lama di dalam, Rei pun membawa Tatsuya jalan-jalan di shelter darurat itu.


Suasana di sana juga cukup mengharukan, karena banyak orang yang kehilangan teman, pasangan, bahkan keluarganya sendiri karena dibantai oleh para monster.


Tatsuya menghela nafas panjang dan merasa iba dengan apa yang terjadi.


"Ini kak!" Rei memberikan selebaran kepada Tatsuya.


"Hm? Apa ini?" Tatsuya mengambil kertas itu dan melihatnya.


"Tadi banyak anak yang membagikan kertas itu ke beberapa orang! Jadi aku memberikannya untuk kakak saja! Hihi."

__ADS_1


Tatsuya melihat selebaran kertas tersebut, dan melihat adanya lowongan pekerjaan untuk menjadi hunter, dan mencari relawan untuk melawan monster.


"Bekerja menjadi Hunter?" gumam Tatsuya.


Melihat selebaran itu, Tatsuya teringat dengan Toru yang tadi ia temui di gerbang pintu masuk shelter ini. Bayaran yang didapatkan cukup banyak sekali, bahkan mungkin Tatsuya bisa langsung hidup seperti orang-orang biasa setelah berhasil mengalahkan banyak monster.


"Kudengar, hunter itu bertugas untuk menjaga manusia, bukan?" tanya Tatsuya kepada Rei yang sepertinya tahu banyak.


"Hmm, kudengar dari ayahku, kalau jadi hunter itu latihannua yang berat. Karena ayahku tidak terbiasa menggunakan pedang juga, akhirnya ayahku berhenti menjadi hunter dan memutuskan untuk pergi," jawab anak kecil itu.


Kini, Tatsuya mengerti apa maksud perkataan Toru tadi, ternyata ini maksudnya.


"Rei! Aku harus pergi menemui temanku. Kamu tidur ya? Bukankah sudah waktunya untuk tidur?" tanya Tatsuya yang berniat pergi menemui Toru lagi. "Terima kasih karena sudah mau bicara banyak kepadaku," lanjut Tatsuya, seakan itu adalah pertemuan terakhir mereka.


"Apa kau akan pergi lama?" Rei seakan sudah memahami keadaan ini. Tatsuya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada pria penyelamat nyawanya itu. "Baik kalau begitu, Kak! Jangan lupakan aku ya, Kak! Kau harus tetap sehat dan kembali dengan selamat!" ucap anak kecil itu dengan senyuman dan melambaikan tangannya kepada Tatsuya, sembari pergi menjauh.


Namun, saat Tatsuya sampai di tempat yang tadi dikatakan oleh Toru, ia tak bisa berhenti berpikiran buruk.


"Apa aku yang biasa-biasa ini bisa menjadi hunter? Kepercayaan orang-orang saja susah sekali kudapatkan," batin Tatsuya.


Hingga Tatsuya sampai di gerbang yang tadi dibicarakan oleh Toru.


"Oh! Kau cepat sekali datang!" ujar Toru, seakan sudah menanti Tatsuya.


"A–apa aku juga bisa mengikuti lowongan pekerjaan ini?" tanya Tatsuya kepada Toru dengan blak-blakkan.


"Tentu saja! Aku sudah menantikan hal ini sedari tadi!" Toru nampak bahagia dan langsung merangkul pria itu, menarik tubuh pria itu sembari berjalan keluar shelter itu lewat gerbang kecil di sampingnya.


"Apa maksudnya itu?" Tatsuya nampak kebingungan dengan maksud Toru.


"Nanti juga kau akan tahu...."

__ADS_1


Pria itu tak memberitahu apa-apa kepada Tatsuya dan hanya membawa Tatsuya pergi dari sana.


__ADS_2