
Tatsuya menjalani hari-harinya bersama dengan Airin dan juga Armin. Sebenarnya, Tatsuya sedikit tidak nyaman saat satu guild dengan orang yang belum dia kenal. Namun, mau bagaimana lagi, ini perihal kerja sama dan pekerjaan Tatsuya juga.
Semenjak masuk guild mereka, Tatsuya juga banyak belajar soal cara bersosialisasi dan juga beberapa hal baik di dunia ini. Di malam saat ada suatu perayaan di tempat pengungsian untuk menghibur para korban yang kehilangan rumah dan keluarganya, Tatsuya dan kedua temannya pun ikut perayaan tersebut. Di sana, ada beberapa penjual makanan dan baunya cukup lezat. Airin dan Armin nampak menikmati perayaan ini.
"Akhirnya! Udah lama banget nggak ada perayaan kaya gini!" ujar Airin sembari kagum dan bahagia melihat sekitarnya yang begitu ramai.
"Jangan pergi jauh-jauh, Airin. Kita cari makan kaya biasa aja, nggak usah yang muluk-muluk ya?" ujar Armin meningatkan wanita itu.
"Iya, sebelumnya Tatsuya pernah pergi ke festival seperti ini kah?" tanya Airin sembari berjalan di tengah kerumunan orang-orang yang juga sedang menikmati festival.
"Hmmm, aku tidak tertarik."
Tatsuya melontarkan sebuah kebohongan kepada Airin, karena sebenarnya dia ingin sekali mengikuti festival tersebut, namun, dia sadar diri, Tatsuya bukan siapa-siapa dan tidak ada seorangpun yang setuju akan kehadirannya. Alhasil, dia tidak pernah masuk ke sebuah perayaan desa ataupun festival di kota besar.
"Sayang sekali, padahal festival kejayaan ini ada untuk merayakan kejayaan kita dari para monster loh!" Airin sedikit menjelaskan perihal festival itu.
Tatsuya melihat ke arah Airin sembari mengernyitkan keningnya.
"Dari ucapanmu barusan, kau seperti berkata bahwa monster itu sudah ada sejak dulu?" Tatsuya sedikit tertarik dengan topik pembicaraan Airin.
"Hm? Apa kau tidak tahu ceritanya?" Armin justru sedikit terkejut.
Tatsuya menggelengkan kepalanya, dia ingin memberitahu alasannya, namun dia lebih takut lagi jika tidak punya guild, karena hanya mereka yang menerima Tatsuya sebagai kawan.
"Biar kujelaskan sembari makan malam." Armin menunjukkan raut wajah yang cukup serius.
Apakah ketidaktahuan Tatsuya merupakan hal yang serius untuk mereka semua? Mengingat mereka terlihat sedikit terkejut jika ada orang yang tidak tahu perihal kehadiran monster di dunia ini.
__ADS_1
Hingga mereka pun duduk di sebuah toko daging, ada banyak sekali jenis daging yang dijual di sana, membuat Tatsuya ngiler dan ingin langsung memakan daging tersebut. Namun, dia mana punya uang untuk membeli daging yang kelihatannya mahal itu.
"Kamu mau makan apa? Pesan aja, aku bayarin." Armin tersenyum kepada pria itu.
"Eh? Yang bener?" Mata biru Tatsuya berbinar-binar kala mendengar tawaran Armin tersebut. Armin menganggukkan kepalanya dan tersenyum, menandakan bahwa ia jelas serius dengan ucapannya.
Dengan perasaan bahagia, Tatsuya memilih daging yang ia mau, dan ia masih tahu diri untuk memesan tidak terlalu banyak makanan.
Mereka duduk di meja dengan makanan yang ada di hadapan mereka, dengan cepat, Tatsuya langsung memakan daging kecap tersebut dengan lahap, bahkan ia merasa nyeri di pipinya karena sudah lama sekali dia tidak makan makanan seenak itu. Armin dan Airin tersenyum saat melihat pria itu makan dengan lahap.
"Jadi, apa kau siap mendengarkan ceritanya?" tanya Airin dengan raut wajah yang cukup serius.
Tatsuya menganggukkan kepalanya sembari mengunyah makanan yang ada di pipinya.
"Dahulu kala, dunia ini sangatlah damai. Hingga suatu hari turunlah beberapa monster dari gunung dan menempati beberapa dungeon di setiap kota ...."
Namun, entah mengapa setelah ratusan tahun kemudian, segel tersebut hancur. Semua orang berasumsi jika itu karena waktu, dan segel itu sudah terkikis oleh waktu.
"Hingga suatu hari, ada sebuah rumor perihal pedang legenda yang sedang dicari banyak orang," lanjut Airin.
"Pedang legenda?" Tatsuya terdiam sejenak dan nampak tertarik dengan benda tersebut.
"Pedang legenda adalah pedang yang digunakan oleh orang pahlawan yang dulu menyegel dungeon tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, pahlawan tersebut menutup dirinya dari dunia dan diam-diam selalu melawan monster, juga menjaga dungeon. Kudengar, setelah itu mereka menghilang bersama dengan pedang tersebut." Di situ, raut wajah Armin mulai nampak bingung dan heran.
"Hilang? Apa maksudmu mati?" Tatsuya menanyakan perkataan Armin yang menurutnya tidak jelas.
"Entahlah. Ada yang bilang jika pahlawan itu mati, ada juga yang bilang pedangnya diwariskan, ada juga yang bilang pedangnya disimpan di suatu tempat. Akhirnya pedang itu hanya menjadi rumor belaka saja karena tidak ada yang pernah menemukan pedang tersebut." Airin mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
__ADS_1
"Wujud pedangnya seperti apa?" Tatsuya makin penasaran.
"Sudah kuduga kau mau menanyakan itu. Akan kuberitahu sesuatu dari buku peninggalan nenek buyutku!"
Airin membuka lembar tengah dan memperlihatkan wujud pedang yang tergambar sangat rapi, bahkan sangat detail. Di gagang pedangnya terdapat bentuk bunga mawar dan pedang tersebut mengkilap berwarna biru langit.
Tatsuya sempat kagum dengan gambaran pedang tersebut, ia bahkan sempat membandingkannya dengan pedang miliknya.
"Semua orang mau memiliki perang ini karena kekuatannya yang tak terbatas." Armin menunjuk ke satu gambar bunga mawar. "Simbol bunga mawar ini sebagai tanda bahwa ia adalah pedang abadi karena bisa menghisap kekuatan musuh dan mengeluarkan kekuatan yang besar," imbuh Armin.
"Jangan terlalu berharap, pedangnya juga entah berada di mana. Aku dan Armin sudah mencari selama ini, namun tidak menemukannya sama sekali," ujar Airin dengan penuh rasa kecewa dan kembali memakan makanannya.
Tatsuya pun terdiam sejenak, dia ingin mendapatkan pedang terkuat itu.
"Untuk saat ini, kita fokus saja mengalahkan musuh. Kita harus selamat dan buktikan kepada mereka semua bahwa kita bisa," ucap Tatsuya.
"Benar! Setiap dungeon juga pasti ada harta karunnya loh! Setidaknya kita harus incar itu!" Airin kembali bersemangat.
"Baiklah! Kita nikmati dulu malam ini ya! Festival setahun sekali nih!"
Armin pun melahap sisa makanannya dan setelah makan, mereka pun berbincang-bincang sebentar, lalu berjalan kembali menikmati festival bulan.
Mulai dari bermain game kecil, latihan memanah, latihan menembak, bahkan pergi untuk mencari bahan untuk memperkuat pedang mereka. Di situ, Tatsuya merasakan kebahagiaan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
Kehadiran Armin dan Airin mengubah hidup Tatsuya 180 derajat dan merasa bahwa ia harus melindungi kedua orang baik itu. Ia tidak ingin kehilangan mereka berdua apapun yang terjadi, Tatsuya tidak memikirkan perkataan orang-orang tentang mereka. Karena di mata Tatsuya, mereka sangatlah baik, hingga terbesit di pikirannya sebuah pemikiran yang selama ini ia takutkan.
"Bolehkah aku sebahagia ini?" batin Tatsuya.
__ADS_1