
>>9<<
“Hidup dalam imajinasi yang ajaib dan penuh misteri
adalah keinginan setiap orang, dimana skenarionya telah terencana sesuai dengan
keinginan kita. Tetapi, bagaimana jika hal itu bisa membuat semuanya menjadi
rumit?”
\~\~K_TULIP12\~\~
“Monyet!” aku menoleh ke arah capung memanggil. Apa-apaan
cengirannya itu? bikin sebal saja! “Ohhhhhhh marah nih ceritanya?
Wkkwkwkwkwk...” dia mengacak-acak rambutku lalu aku menepisnya. “Lagian main
kabur aja, gue nya ditinggalin. Liat nih baju gue lecek kan!” untung sayang gue
sama dia, kalo gak udah gue ceborin ke kolam dari tadi. “Maaf tuan ngambek!”
katanya, “apa? Gue gak denger!” dia mengulanginya lagi dan aku pura-pura gak
denger lagi. “GUE MINTA MAAF MONYET!” aku tertawa melihatnya nge-gas gitu.
“puas maneh teh, puas...” ganti aku yang mengusap kepalanya kini.
“sekarang jelaskan kenapa lo maen lari kayak tadi?” dia
menjawab bahwa dia punya Nyctophobia, yaitu phobia terhadap gelap. Hal itu bisa
membuatnya sangat gemetar bahkan sampai keringet dingin jika terlalu lama
berada ditempat gelap. “Lo tuh aneh ya, suka nonton horror tapi taku sama
gelap.” aku menggeleng dan dia nyengir malu-malu, “itulah uniknya gue,
wkwkwkwkwkw.” Ditengah tawanya, ia mengeluarkan kartu aries dari kantong
jaketnya.
“berubah
pikiran nih yee.” Dia menggatak kepalaku pelan. “yaudah kalo gitu gue buang aja
ke kolam.” Aku langsung merebut kartunya, tanpa ini tak ada alasan lagi bagiku
untuk terus bersamanya. “Baper najis dah! Terus sekarang apa yang mau lo minta
dari gue,” ia menggigit bibirnya dan lirikan matanya terus berputar-putar,
kadang ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah. “Mata lo kurang insto yak? Dah
kayak komidi putar gitu, wkwkwkwkwkwk.” Kayaknya lawakanku garing deh.
“Haaufffttt,
karena sabtu nanti udah ultah lo, gue mau ngabisin waktu seharian bareng lo.
Hanya ada kita, April dan Arian, bukan capung dan monyet lagi. Mau gak?” Deg!
Bisa kurasakan kedua pipiku kini memanas, jantungku berdegup kencang, apa
barusan itu dia mengajakku kencan? Aku senang sekali karena perasaanku akhirnya
terbalas, yuhuuuuuu.
“Ok!” jawabku dan dia
menyuruhku untuk bersiap besok. “Gue tidur duluan, byeee!” sepeninggalannya aku
melakukan tarian ke-hebohan. “Gue harus tidur juga!”
Arian tidak tahu bahwa permintaan April saat ini adalah
akhir dari pertemuan mereka. Akan ada sesuatu yang terjadi, dimana capung akan
pergi sangat tinggi hinga meninggalkan si monyet yang telah mencintainya.
Pagi harinya Ria terkejut melihat Arian kini tengah duduk
dengan pakaian yang rapi dan juga wangi. Ia mengenakan Jaket hoddie warna biru
dengan kaos v neck hitam didalamnya ditambah jeans hitam model robek-robek dan
sepatu putih.
“Eh mama! Selamat pagi!” Arian mencium pipi
__ADS_1
Ria dan menanyakan mengapa mama bangun dari tempat tidurnya. “Ini mama mau
minum, haus! Kamu mau kemana? Tumbenan jam segini udah rapi, kan biasanya molor
kayak kebo.” Katanya setelah memeriksa dahi anaknya itu. “Eitsss, udah nggak
dong ma, kan ada capung yang gantiin tugas mama, hehehehehe. Hari ini aku mau
jalan sama Capung, ma.”
“Nah gitu dong,
sekali-kali jalan sama cewe lain.” ibu dan anak itu pun tertawa. “Oh itu
capungnya udah siap!” Arian menoleh ke arah yang mamanya tunjuk. “Mama tinggal
dulu ya, kaian bedua hati-hati kencanya, wkwkwkwkw..” Ucapan Ria pun berhasil
membuat April tersipu malu. Arian melirik penampilan April dari bawah ke atas,
ia sangat terkesan dengan gayanya itu. Dia mengenakan kaos putih polos ditambah
rok sepaha dan sepatu warna putih. Rambutnya hitamnya ia kepang samping.
“Ayo jalan!” April pun
mengangguk dan pamit kemudian pada Ria.
Bersama
dengan motor maticnya, ia dan April sepakat untuk pergi ke dufan karena sejak
kecil April belum pernah ke dufan. Kasihan!
“Kita foto-foto dulu
yuk! Buat kenang-kenangan.”April mengeluarkan ponselnya dan mereka pun berpose.
Lalu April meminta seseorang untuk memfoto mereka berdua. “Satu...dua...tiga....”
Cekrek! Hasil yang bagus! April berterima kasih dan menunjukkan hasilnya pada
Arian. Arian tersenyum ketika melihat dia harus menunduk difoto itu agar tinggi
badannya sejajar dengan capung kesayannya itu.
“Sekarang mau naik
wahana apa dulu, Pril?” aneh rasanya memanggil dengan nama sendiri, “tidak
apa-apa, hanya untuk satu hari saja!” batin Arian.
“Naik itu dulu yok!”
April menunjuk ke wahana halilintar. “Ayok!” Arian menggandeng tangan April dan
mereka pun antri tiket disana.
yanga ada disana, makan es krim dan juga foto-foto hingga tak terasa hari
semakin sore. Tringg! Arian mendaptakan pesan chat dari Reno yang megabarkan
bahwa Dani, papanya kini telah tiba dirumah.
“Pesan dari siapa, Ri?
Tanya April saat melihat raut wajahnya yang berubah. “Ini dari kak Reno. Dia
bilang papa udah pulang dari prancis dan sekarang udah dirumah.” Jelasnya.
April pun mengajaknya untuk segera pulang dari sini. Sekalian dia akan
beres-beres karena hari ini dia harus pulang juga ke rumah. sesuai kesepakatan,
hari ini adalah hari terakhir dia dirumah Arian.
Sekitar
pukul 19.00, mereka pun sampai dirumah Arian. Setelah meletakan motornya di
garasi, Arian dan April masuk kedalam rumah lewat pintu utama. Ia disambut oleh
James dan Will. Mereka memintat Arian dan April untuk berganti pakaian karena
sebentar lagi akan diadakan makan malam.
10 menit kemudian, mereka telah berkumpul dimeja makan
dengan beberapa hidangan yang menggugah selera.
“Ngomong-ngomong dimana
Mbok Sum, Ma? Papa tidak melihat dia dari tadi, dan yang disebelah Arian itu
siapa?” Tanya Dani yang daritadi belum melihat batang hidung Mbok Sum.
“Kata Reno beberapa
hari ini mbok cuti dulu. Pa. Dan yang disebelah Arian itu namanya April, dia
yang selama ini ngajarin Arian piano.” Dani merasa takjub mendengarnya dan
meminta Arian untuk memainkan satu lagu untuknya. “Maaf pa! Arian udah janji
sama diri sendiri untuk nunjukin progres dari hasil latihan selama ini dihari
ulang tahun Arian nanti.” Dani memaklumin ucapan anaknya itu. “Papa harap nanti
__ADS_1
hasilnya bagus biar menantu papa nanti bangga punya suami kayak kamu.” Ujar
Dani dan itu membuat semuanya berhenti makan.
“Pa! Tolong jangan
bahas masalah seperti ini dulu sekarang!” Perintah Ria tetapi Dani tak
menggubrisnya, dia tetap melanjutkan tentang rencananya menikahkan Arian dengan
Allesha, mulai dari konsep pernikahannya, bulan madunya hingga berapa cucu
perempuan yang ia harapkan.
Prang! Arian membanting piringnya hingga pecahan beling
berserakan dilantai. “Stop pa! Stop membicarakan pernikahan antara aku dengan
Alle. Aku sudah putuskan bahwa aku menyerah! aku tidak bisa menepati janji ku pada papa karena aku telah
mencintai seseorang pa!” teriaknya didepan wajah papanya. “Lancang sekali kamu berbicara
seperti itu didepan papa. Dimana sopan santun mu? Dasar anak gak tau diuntung.”
April menahan tangan Dani yang hamir saja menyentuh pipi Arian. “Maaf om kalo
April lancang. April Cuma gak suka om menyakiti sahabat April.” Dani
mendorongnya. “Jangan ikut campur dasar gadis miskin. Saya menyesal telah
mengizinkan kamu menjadi guru pianonya. Gara-gara kamu dia berubah! Hubungannya
dengan Allesha merenggang dan sekarang berani kurang ajar sama saya. Dasar
pembawa sial kamu!” Dani mendorongnya April hingga kepalanya membentur kursi.
Keributan pun semakin menjadi-jadi hingga puncaknya Dani mengusir April keluar.
“Capung!” Arian menarik April kembali masuk kedalam namun
dihalangi oleh Dani. Ria yang melihat keributan itu hanya menangis dan pingsan
kemudian. Reno membawa ibunya masuk kedalam kamar. Lina dan Dama membawa Jemy
ke kamarnya karena dari tadi ia menangis karena tidak tega melihat Kakeknya
menyakiti kakak chubbynya.Maya pergi ke kamar April untuk membereskan
barang-barangnya. Lalu turun menuju mobilnya lewat pintu belakang. Ia menelpon
James untuk membawa April ke mobil segera.
“ARIAN MASUK!” Dani
melepaskan genggaman tangan Arian pada April lalu menutup pintu dengan kencang,
meninggalkan James dan April di luar sendiri. James mengajaknya ke mobilnya
dimana Maya telah menunggu disana.
“Kepala kamu masih
sakit? nih minum dulu!” Maya mengulurkan sebotol air putih. “Makasih kak.” James menyalakan
mesin mobilnya dan mengantarkan April Pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan,
April hanya terdiam, ia melihat pemandangan disekitarnya melalui kaca dijendela
mobil. Ia memasang earphonenya dan sedetik kemudian lagu A Million Dreams pun
menggema ditelinganya. Salahkah jika kita bermimpi bahwa imajinasi kita sedikit
menjadi nyata?
I close my eyes and I can see
The world that’s waiting up for me
That I call my own
Through the dark, through the door
Through where no one’s been before
But it feels like home
They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say I’ve lost my mind
I don’t care, I don’t care, so call me crazy
We can live in a world that we design
‘Cause every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we’re gonna make
( A Million Dreams – Ost The
Greatest Snowman)
__ADS_1