
>>7<<
“Ada 2 alasan mengapa manusia mempelajari banyak
hal. Pertama karena mereka benar-benar ingin tau dan sisanya
untuk sekedar pamer.”
\~\~K_TULIP12\~\~
“Sarah! Tolong tinggalkan kami sendiri.” Kak Sarah pun
beranjak dari sofanya dan pergi menuju pintu keluar. Dan disinilah aku
sekarang, ditinggal bersama 4 pria tampan yang 1 satu diantara adalah si
Monyet. Deg....Deg....Deg..... Rasanya seperti akan dijatuhi hukuman gantung,
tangan sudah berkeringat, suhu badan tiba-tiba mendingin ditambah pandangan
mereka terus tertuju ke arah ku.
“Siapa yang mau mulai? Lo apa gue, Yan?” tanya kak James pada si monyet.
“lo aja, broo!” aku membenarkan posisi dudukku yang sedikit membungkuk, aku mengambil bantal sofa
disebelahku sebagai pegangan untuk menghilangkan rasa grogi ini.
“Sebelumnya gue makasih banget nih lo dah dateng tepat waktu. Tujuan gue minta lo dateng
pagi-pagi begini, gue ada tawaran buat lo,” aku bertanya tawaran apa yang mau
dia kasih kepadaku.
“kan hari ini hari terakhir lo part time di restaurant gue, nah, waktu itu juga kan gue pernah
janji ke lo kalo misalnya ada lowongan part time lagi, gue bakal ngabarin lo.”
aku menyimaknya.
“terus, lowongannya udah ada nih,” aku bertanya lagi kerjanya sebagai apa, apakah waitress atau
sekedar cuci piring.
“Bukan Waitress maupun tukang cuci piring, melainkan lo ngajarin temen gue piano dan dalam jangka
waktu kurang dari 3 bulan. Lo kan bisa nih piano, gimana?” tanya kak James. aku
harus memikirkan ini baik-baik.
“tapi kak,, gue kan gak begitu jago banget main pianonya..” aku sedikit ragu dengan tawarannya, tapi
disatu sisi aku juga menginginkannya.
“Gue yakin lo bisa, Pril! Buktinya pas pulang dari
acara waktu itu, keluarga gue gak berhenti berhenti muji permainan lo.
Sayangnya lo udah pulang duluan sih, hehehehehehe...” perkataan kak Will
membuatku tersipu malu. Akhirnya aku berubah pikiran, aku menerima tawaran part
time dari Kak James.
“Good Girl! Terus bayaran yang lo mau berapa?” aku
mengatakan cukup satu juta lima ratus saja. Permintaan ku itu membuat mereka
terkejut.
“Itu serius harganya?” aku mengangguk.
“kemahalan ya kak? kalo gitu seterah kak James aja mau bayar berapa yang menting ikhlas, hehehehe...”
aku meremas bantalan sofa dipangkuan ku. Kak James merundingkan hal ini bersama
teman-temannya dan telah disepakati bahwa aku akan dibayar sebesar 7 juta
per-minggunya. Aku kaget dan kembali menanyakan apakah tidak kebanyakan
membayarku segitu mahal. Mereka menjawab tidak masalah karena demi teman
mereka. Aku tau pasti siapa yang mereka maksud, tentunya Si Monyet. Ini pasti
ada kaitannya dengan hal yang kemarin. Sudah kuduga.
“tapi ada syaratnya, Pril, sebelumnya kenalin dulu saya Reno, kakaknya Arian.” Aku menjabat tangannya balik. Dia membacakan persyaratan yang akan disetujui kedua belah pihak.
“syaratnya hanya ada 3, pertama kamu harus nginep dirumah Arian agar gak buang-buang ongkos, tenaga dan
juga waktu. Kedua, semua kebutuhanmu, mulai dari kebutuhan pokok hingga tersier kami fasilitasi dan terakhir, saya dan istri saya akan kerumah mu sore ini untuk meminta izin sama nenek mu.” Aku tidak yakin jika nenek akan memberikan izin segampang itu. mengingat dia sangat protektiv banget.
“terus kalo misalnya nenek gak ngizinin?” dia mengatakan jangan khawatir akan izinnya nanti. Ternyata kakak beradik sama saja tingkat kepedeannya.
“Sekarang kamu boleh pulang dan ini bayaran terakhir kamu...” kak James menyerahkan amplop coklat ke tangan ku.
“kan aku belum mulai kerjanya kak?” kak James ngotot memintaku untuk menerimanya dan menyuruh ku
pulang segera. Dia berpesan untuk tidak memberitahukan hal ini kepada nenek ku dulu. Aku mengucapkan terima kasih banyak sama kak James dan langsung keluar.
Sebelum pergi, aku mencari kak Sarah yang kemudian keluar dari arah dapur sambil menenteng sebuah
bingkisan yang cantik.
“Ini buat kamu!” aku tidak menyangka itu buatku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Kak Sarah memeluk ku dan berpesan untuk sering-sering main ke restoran ini jika butuh part time. Aku tertawa dan setelah itu pamit pulang.
Disisi lain, dirumah Arian sudah banyak orang yang berdatangan membawa beberapa barang yang akan dipakai April nanti. contohnya seperti baju, celana, sepatu, dan masih banyak lagi. Mbok Sum memberi arahan agar lebih hati-hati lagi menyusun barangnya. Kembali lagi ke restoran, Arian kembali mempertanyakan keputusan Reno, bagaimana jika nanti orang tua mereka kembali ke Indonesia, terus salah paham dengan kehadirannya.
“Taken Easy, Arian! Gue udah bilang ke mereka kok, lagian kan niatnya hanya untuk sekedar belajar, gak
lebih kan?! Kalem ae...” Lalu Reno pergi karena sudah waktunya mengantar Lina ke Mall.
Sore harinya disaat nenek April
selesai solat ashar, ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Tiara, adiknya April
pun membuka pintu dan mendapati Reno beserta istrinya datang sambil membawa
oleh-oleh. Fatimah, nenek April menyilahkan mereka masuk dan meminta April
untuk membuatkan minuman. Mereka menolak secara halus khawatir merepotkan.
Tanpa basa-basi lagi, Reno memperkenalkan dirnya dan Lina serta menjelaskan
maksud kedatangan mereka ke sini untuk meminta izin membawa April untuk sementara
waktu tinggal dirumah mereka karena telah disewa sebagai guru privat mengajar
__ADS_1
piano.
“kenapa tidak disini
saja, Nak Reno? Saya takutnya April ceroboh disana, orangnya kan pikunan.” Reno
menoleh pada istrinya bermaksud agar dia saja yang ganti menjelaskan, siapa tau
karena sesama wanita, mereka jadi mengerti.
“Mbok tenang aja, kita
udah fasilitasi kebutuhan April, mbok. Saya yang akan bertanggung jawab jika
cucu mbok kenapa-napa nanti. Jadi gimana Mbok? Kalo Mbok ragu, saya akan
kembali kesini seminggu sekali.” Fatimah tampak berfikir panjang sampe akhirnya
ia mengizinkan mereka untuk membawa cucunya pergi dengan syarat dijaga dengan
baik.
Lalu April pamit dan meminta restu neneknya agar ia
selalu diberkahi disetiap langkahnya. Kak Reno meletakan tas April yang berisi
seragam sekolahnya dibagasi mobil. Sebelumnya Reno sudah ngechat April untuk
mengonfirmasi info yang ia lupa, yaitu April cukup bawa seragam sekolahnya
saja. Serasa semuanya beres, mereka berpamitan kepada Fatimah dan pergi.
“Jangan kaku-kaku ya sama
kita, Pril! Anggep aja keluarga sendiri...” kata kak Lina, aku mengiyakan
perkataannya menoleh ke arah jendela mobil. Sekarang akan lain lagi ceritanya,
aku harus bisa senyaman mungkin tinggal serumah dengan monyet, “cahyo” batinku
dan kembali melirik pemandangan dibalik jendela mobil. Kak Lina tetap
mengajakku mengobrol seputar sekolah, hobi, umur.
“Kamu sudah lama
tinggal sama nenek, Pril? Orang tua kamu masih hidup kan?” tanya kak Lina yang
menatapku lewat kaca dasbord.
“Iya kak, dari umur 5
tahun. Alhamdulillah kak, masih.” Jawabku.
“Nenek kamu kerja? Atau
gimana? Terus orang tua kamu gak tinggal bareng April?” Kak Reno memanggilnya
dan meminta untuk tidak terlalu kepo dengan kehidupan pribadi ku.
“Gapapa kak Reno.”
Kembali kak Lina yang mengejek Kak Reno.
“Yaudah iya, tapi
jangan terlalu intim banget, honey.” Pasangan yang serasi, Kak Lina kembali
menanyakan hal yang sama kepadaku.
“kalo nenek sekarang
kerjanya cuma tukang urut kak, dan soal ortu April, kami gak tinggal bareng,..”
kak Lina bertanya mengapa, “yah karena kan aku dijakarta fokus sekolah kak,
soalnya kan didaerah kampung halamananku sekolah SD sampe SMA jauh-jauh kak.”
disambut oleh Arian, Jemy, Kak Will, Kak James dan kedua wanita yang tidak aku
kenali namanya. Jemy melepas gandengan si Monyet dan berlari memelukku begitu
aku keluar dari mobil. Aku balas memeluk dan menanyakan kabarnya.
“April!” aku menoleh ke
Kak Reno, “Kamu masuk duluan aja bareng Lina, ya!” Kak Lina mengajakku kedalam
berserta dua wanita tadi. “Kalian ke halaman belakang aja, sekalian bantu mbok
sum dulu nyiapin makan malam. Gue mau tunjukin dia kamarnya dimana, oke! Nanti
gue nyusul!” Kita pun berpisah, dua orang tadi ke kanan dan kami ke kiri.
“mereka
sahabatnya kak Lin, ya? Siapa kak namanya?” kataku sambil melihat
lukisan-lukisan yang dipajang disekitar lorong ini.
“oh yang tadi itu, ya
mereka sahabat gue dari kami smp. Yang rambutnya pendek namanya Dama, dia calon
istrinya Will. terus yang dikepang samping tadi, namanya Maya, dia istrinya
James.” Jelas Kak Lina
“Keren persahabatan Kak
Lina bisa sampe klop gitu sama sahabatnya Kak Reno.” Kak Lina menambahkan, “Itu
karena mereka yang minta dikenalin sama sahabat gue lewat Reno, terus Reno
nyampein ke gue, gue terusin ke Maya dan Dama, mereka mau dan endingnya bisa lo
lihat sendiri deh, hehehhehehehhe...”Kak Lina ini lumayan seru juga orangnya.
“Kalo
adeknya Kak Reno, kak? udah nikah juga?” aku jadi kepo dengan si Monyet.
“Arian maksud lo?” aku
mengangguk, “Boro-boro nikah, lulus sekolah aja belum, Pril. Dia masih kelas 11
dan besok hari pertamanya dia pindah ke sekolah baru.” Jelasnya
“Hah?! Seriusan kak?
Kukira dia udah nikah gitu, soalnya keliatan akrab gitu sama sahabatnya kak
Reno.” Kak Lina tertawa, aku jadi malu dibuatnya.
“Seharusnya sih dia
udah masuk kuliah semester 2 sekarang, kalo waktu itu dia gak vakum sekolah
selama 3 tahun sejak kepergian neneknya..” aku bertanya alasannya Arian
melakukan hal konyol tersebut.
“Sebaiknya lo tanya sendiri sama orangnya, ya
Pril! Nah, ini kamar lo...” aku terkesima melihat betapa bagusnya kamar ini.
Konsep minimalis yang sempurna dengan tempat tidur yang bisa juga berfungsi
sebagai sofa. Posisi jendela yang pas serta meja belajar yang nyaman. Disini
juga bayak sekali novel dan komik di rak buku ini. Aku meminta izin pada Kak
Lina untuk memfoto kamar ini dan inilah hasilnya.
__ADS_1
Aku berterima kasih banyak pada Kak
Lina, aku tak henti-hentinya mengutak-atik barang-barang disini. Lalu si monyet
masuk sambil menenteng tas kuningku disebelah pundaknya. Aku mengambilnya dan
meletakannya disela-sela antara meja belajar dan rak buku disitu.
“Kakak ditungguin noh sama
kak Maya di halaman belakang.” Kata si monyet.”Oh iya lupa, yaudah kalo gitu
kakak tinggal ya, April, Rian. Silahkan ngobrol berdua.” Kami mengangguk dan
kak Lina pun pergi. aku mulai membongkar isi tasku. merapikan seragam dan
meletakannya didalam lemari. Aku menyuruh si monyet untuk geser agar lemarinya
tidak terhalang.. Selesai itu, aku juga menyusun buku-buku tulis dan buku paket
sekolah dilaci meja belajar. Si monyet menawarkan untuk membantuku merapikan
buku-buku ini, aku menolaknya dengan sopan. Semuanya beres!! Mungkin saatnya
aku harus menyusul kak Lina dan lainnya ke bawah.
“ayo Nyet kebawah!” dia
menahan tanganku dan menutup pintu yang tadi sempat aku buka.
“gue mau ngomong
sebentar..” dia berjalan ke arah meja belajar dan duduk disitu. “Apaan?” aku
mendekatinya dan duduk diatas kasur. “Gue cuma mau ngasih lo beberapa
peringatan sebelum lo mulai resmi jadi guru privat piano gue besok.” Aku
menaikan sebelah alisku, Ribet!
“First, lo gak boleh
masuk ke kamar gue seenaknya dan mainin keyboard gue tanpa izin!” Lah? Pelit
banget! “And last, tidak ada penolakan jika gue nyuruh apapun nanti. Syarat ini
berlaku selama lo jadi gurur privat gue, Deal?!” dia mengulurkan tangannya
padaku. Dikiranya aku bodoh apa akan segampang itu menerima persyaratan
konyolnya, aku tidak boleh kalah dengan si monyet konyol ini.
Aku mengatakan padanya tentang jaminan apa yang akan aku
dapatkan jika aku menyetujui persyaratan darinya. Dia memberikan kartu
bergambar lambang 12 zodiak kepadaku. “buat apa?”.
“lo bilang jaminan kan?
Itu jaminannya.” Aku masih tidak mengerti dengan maksudnya. Aku bilang
kepadanya untuk menjelaskan maksudnya ini semua.
“Ke-12 kartu itu adalah
jaminan yang lo dapet sebagai timbal balik seandainya lo setuju dengan
persyaratan dari gue tadi. Lo bebas mau minta apapun ke gue selama kartu itu
masih ada dan setiap kartunya punya batas 5 hari. Sampe sini lo paham?” boleh
juga taktik si monyet ini, kebetulan banyak sekali keinginanku yang belum
sempat terwujud. “harus dimanfaatin ini woyy!” batinku dan aku membalas jabatan
tangan. Kami pun menyepakati kesepakatan yang telah dibuat.
Sementara itu dihalaman belakang, persiapan makan malam
telah selesai, mereka tinggal menunggu kehadiran April dan Arian.
“Coba lo telpon Arian,
No! Lama banget tuh bocah.” Will yang sudah tidak sabar untuk segera menyatap
hidangan di meja makan pun menyuruh Reno menelpon Arian.
“Gausah, No! Tuh
orangnya udah dateng.” Ujar James melambai kepada Arian dan April. Jemy turuh
dari pangkuan Lina dan menghampiri Mereka berdua. Jemy menggandeng tangan April
dan Arian. “Betapa serasinya pangeran monyet dengan putri capung!” Seru James
pada mereka. “Kalian ngerasa gak sih auranya Arian tuh lebih hangat dari
biasanya?” tanya Maya yang memang memiliki kelebihan melihat aura pada diri
seseorang. “Iya! Tapi kalo lagi deket April” ucap Dama. “Upsss! Pendapat doang
sih, hehehehehe.”
Reno juga berpikir hal sama dengan mereka,
semenjak April datang dikehidupan adiknya, kini ia jadi sedikit lebih terbuka tentang hari-hari dan juga masalah
yang ia hadapi. Justru, belakangan ini Arian lebih menjadi dirinya sendiri.
Reno bahagai melihat adiknya sedikit berubah kembali menjadi Arian yang energik
dan ceria. “Santai! Lagian gue setuju, Da, sama pendapat lo, ye gak?” semuanya
menggangguk. April yang baru sampai pun bingung dengan tatapan mereka yang
penuh senyum, “Sambutan makan malam orang kaya kayak gini kali yak?” batinku
dan makan malam pun dimulai.
“Sekarang
kamu kelas berapa, Pril? Sekolah dimana? Maya mencoba mengakrabkan diri dengan
April yang dari tadi hanya diam saat mereka semua mengobrol “Hmmmm, aku sekolah di Pelita 7 Purnama kak,
kelas 11.” Jawab April. “Itu kamu belajar pianonya otodidak atau ikut les
juga?” Tanya Dama yang kemudian dijawab otodidak oleh April.
“Wah berarti kamu satu
sekolah dong sama Arian nanti” seru Dama, “Hah?” April kaget, lalu Reno pun
menambahkan, “Bagus dong kalo gitu. Semangat ya! Kalo bisa ajarin Rian nyayi
juga, Pril! Biar gak malu-maluin pas tanding nanti.” mereka tertawa. “sekalian
pamer yak, No, wkwkwkwkkw..” ujar Will.
“Hushhhhh kamu ini,”
Maya menggeplak bahu Will, “Belajar itu kan untuk nyari ilmu, bukan pamer.”
April tertawa melihat betapa mesrannya James berusaha membujuk Maya yang
cemberut seperti ikan koi. Pemandangan seperti ini membuat April deja vu,
__ADS_1
rasanya tidak asing.