
>>8<<
“Dunia ini adalah panggung sandiwara yang dimana
semua pria dan wanita hanyalah para pemainnya dan bagi mereka telah ditentukan
jalan keluar dan masuknya serta seorang manusia bisa saja memainkan banyak
peranan.”
\~\~William Shakespeare (As You Like It)\~\~
< 21 MARET 2020 >
Siang hari yang sedikit mendung dimana awan tampak murung
dengan gema petir yang bersenandung. Ditambah suasana kelas yang ramai dan
berantakan dengan sobekan kertas dimana-mana, lalu meja dipukuli hingga
berirama dan para siswi yang bergosip sambil tertawa, kecuali April. Ia tampak
asik memandang langit dibalik jendela yang berembun, baginya melihat
pemandangan seperti itu bisa menambah kreativitas, apalagi jika ada beberapa
kapas putih yang menghiasi sang langit.
“ kurasa ku t’lah jatuh cinta.......pada pandangan yang pertama.....hmmmmm......hmhmhm....” April terus
besenandung sambil membayangkan banyak hal hingga tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.
“Oi, pril! Temenin gw ke kamar mandi yok! Udah diujung nih!” ujar Dinda teman
sebangku April. “ahhhh! Kebiasaan lo mah! Ide gue jadi ilang kan, Ayo!” Jengkel
karna sikap Dinda, April pun melongos keluar pintu duluan, “eh, tungguin dong!”
teriak Dinda. Sepanjang perjalanan menuju toilet Dinda tak henti-hentinya
mengoceh tentang gebetan yang ia taksir dan gebetan itu sebenarnya teman
sekelas mereka juga.
“Pril, kayaknya gw berhenti aja kali ya?” April bertanya alasannya, “Gue takut die
cuma mau maen-maen doang sama gw.” April tak menggubrisnya, ia malah sibuk main
game hometown di ponselnya. “Lo tega banget, Pril, temen sendiri lagi cerita
bukannya dikasih solusi malah dikacangin.” Dinda ngambek dan beranjak keluar
dari kamar mandi. April mendengus lalu menyusulnya, ia mencoba untuk menyamakan
langkahnya dengan temannya itu. “pertanyaannya kenapa gak sejak awal lo mikir
kayak gitu, Doiy?!” Tanya April. “Ya karna waktu itu dia care banget ke gue
sampe bikin gue yakin kalo dia itu suka sama gue.” jawab Dinda. “hmmmm gimana
kalo misalnya itu semua palsu? Kita kan gak tau apa yang ada dipikiran dia
selama deket sama lu. Entah tulus atau hanya dijadikan tempat singgah sesaat.
We don’t know!” Jelasnya sambil tetap asik bermain game yang kemudian disela
dengan pertanyaan lagi oleh Dinda, “kalo misalnya ya? Ternyata dia cuma anggap
gw temen doang, gimana?”.
April pun menghela nafas, ia mempause permainnya, setelah itu meletakan kedua bahunya
di pundak temannya itu. “Doiy! Semua itu
udah ada yang atur gimana nanti kedepannya. Mau kalian jadian atau cuma sebatas temen akhirnya, semuanya udah ada di
skenario yang Allah ciptakan. Kita tuh cuma aktor, Doiy, yang tinggal meranin
doang.” Dinda tampak gelisah “tapi gw takut!” April menatap dalam matanya,
“rasa takut lu itu ada, karna lu gak tau ke depannya nanti gimana, paham!”,
Dinda mengangguk. “Good!” ia pun kembali melanjutkan gemenya tapi keganggu lagi
karena Arian menariknya paksa secara tiba-tiba sampai membuat hapenya jatuh.
“Game gue!!” April meratapi kondisi hapenya yang tidak karuan, batre, memori,
tutup hape bahkan hapenya pun menyebar ke arah yang berbeda.
Arian meminta temannya April untuk menjaga hapenya, sementara ia langsung membawanya
pergi ke Panggung belakang. “Ada apaan sih antara April dan Arian? Belakangan
kok deket banget?” keluhnya sambil mencomotin kompenen-kompenen hape temannya
yang berserakan itu.
Sesampainya di panggung, April marah karena ini kedua kalinya ia sudah membuat hapenya
jatuh seperti tadi. “Gue minta maaf! Ntar gue beliin bakso maryono deh.” April
menyetujuinya dnegan syarat dia akan makan 2 mangkok bakso. “Ngelunjak deh
capung. sekarang lo duduk karena ada sesuatu yang mau gue sampein ke lo.” Arian
mengg eser kursi kesebelahnya. “Apa?”
Tanya April sambil melipatkan kedua tangannya. “Kak Reno ngabarin gue tentang
kepulangan bokap 3 hari lagi, yang berarti dia pasti juga bakal ngeliat
pangerannya ini bertanding juga dong. Yang gue takutin gue harus jelasin apa ke
bokap seumpamanya gue kalah dari Jordan terus mbok berhasil mereka ambil?,”
Tanyanya heboh dan april menanggapi, “Terus?”.
Arian meminta saran tentang apa saja yang sebaiknya dia lakukan kepada April, tapi
yang ditanya malah ngerespon singkat ditambah dengan raut wajah datar. “Lo gak
ada kata lain apa selain, iya, terus, yaudah? Nyesel gue ***** udah minta saran
sama capung gak jelas.”
“Kalo udah tau respon gue begini, ngapa masih ngotot nanya juga.” April sengaja ingin mengusilinya.
“Udahlah gue balik ke kelas dulu.....” Rencana April berhasil hingga membuatnya
tak lagi dapat menahan tawa melihat tingkah lakunya itu.
“Saran gue cuma doa dan terus semangat. Gue yakin lo menang, nyet. Gue juga bakal bantu ngomong ke
bokap lo perihal penyebab dimulainya duel ini. Lagi pula tante Ria juga pasti
mendukung lo.” Bel pulang pun berbunyi mengakhiri topik mereka hari ini. Arian
berbalik dan menggegam tangan capungnya, “Gue harap 3 mangkok bakso maryono
nanti bisa bikin lo gak datar lagi.”
“Yeeeeeee Asekkkkkk!”
Seru April
“Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” tanyanya yang
mungkin merasa risih dengan tatapanku. Aku menggeleng dan dia pun melanjutkan
makannya lagi. Aku penasaran sebenarnya lambungnya terbuat dari apa, because it’s first time i saw the girl
like her yang makannya gak seperti Allesha dan teman-teman cewe ku lainnya yang
jaim-jaim dan juga membatasi porsi makan mereka. “Nyet, buka mulut lo dah!”
pintanya dan aku bertanya untuk apa, “coba buka aja!” Uhfff... aku menurutinya
dan tiba-tiba ia menyuapi ku bakso, “Gimana? Enak gak?” dia menunggu
pendapatku. “Enak, Pung! Lebih enak dari bakso yang beberapa bulan lalu kita
makan.” Dia terlihat senang dan menggeser mangkok bakso ke limanya yang masih
__ADS_1
utuh kepadaku. “HABISIN! Gue kenyang, nyet, hehehehehe..” ye somplak!
Ujung-ujungnya suruh habisin kan.
Dia memesan es jeruk untukku, setelah itu, dia mengambil
ponselnya disaku kantong seragamnya. Cekrekk! Aku keselek karena ulahnya yang
memfotoku tiba-tiba. Aku menyuruhnya untuk menghapus foto itu, tapi dia malah
tertawa saja, “Kapan lagi dapet aib kayak gini, wkwkwkwkwkwk...” Dia
menunjukkan fotoku yang menurutku konyol, pipi gede sebelah, mata melotot
ditambah posisi kedua tangan memegang sendok dan garpu. “Capung gak bagus bego,
hapus gak!” dia tetep kekeh gak menghapus fotoku. “Awas lo ntar gue bales!”
liat saja nanti malam aku akan ke kamarnya mencoret mukanya dengan spidol,
menggambar kumis dan tompel yang guede. “Gak takut uwehhh!” ia menjulurkan
lidahnya. Aku buru-buru menghabiskan bakso ini dan segera membayarnya. “makasih
ya bu! Capung tunggu woiy!” aku menghidupkan mesin motorku terus menyusulnya.
Hal yang seperti yang membuatku selalu nyaman didekatnya, walaupun menyebalkan
setidaknya dia tidak munafik seperti yang lain, begitu katanya.
“Monyet Lelet!”
>***<
Malam harinya keluarga besar Handoro dan Prapanca mengadakan
makan malam bersama Eight Treasures, salah satu restoran yang menyajikan
authentic chinese culinary.
“Bagaimana kabar pacar
mu itu, Al? Si Arian itu, ahahahaha” tanya Satya kepada Allesha. “Urgghhh! Papa
Stop! He is not my boyfriend!” Satya tertawa mendengar pernyataan anaknya itu.
“Dia benar Satya! Berhenti membuatnya cemberut seperti itu! Lihat pesonanya
menantuku mulai redup.” Allesha tersipu malu dengan pujian yang dilontarkan
oleh Teti, ibunda Jordan. “By the way, What’s your next plan Satya?" tanya
Wisnu kepada rekannya. “iya om, Arian juga udah masuk ke perangkap yang dibuat
Allesha waktu itu.” tambah Jordan.
“untuk sejauh ini belum ada rencana apapun, kita tetap
fokus dan selalu waspada dengan tujuan kita. Dan jika plan A ini gagal,” Satya
menatap mereka satu persatu, “Maka bersiaplah dengan intruksi mendadakku
nanti.” Jelasnya.
“Intinya, tugas kalian
berdua,” Satya menunjuk Allesha dan Jordan, “Awasi Arian! Usahakan agar dia
tidak dekat-dekat dengan Mbok Sum nanti pas diacara ulang tahunnya.” Teti
bertanya apa tugasnya nanti, “Kau dan istriku bertanggung jawab untuk membujuk
Mbok Sum agar dia keluar dari pesta. Kalian pikirkan sendiri caranya
bagaimana.” Lalu Satya menunjuk Wisnu, “kau stand by di mobil karena kita akan
menculik Mbok dan Arian secara bersamaan. Aku juga akan menyururh para
bodyguard ku berjaga.” Mereka menggaguk.
“Mari kita lihat
seberapa besar ia melindungi keluarga tercinta itu.” ucap Satya dalam hati.
\ data-tomark-pass >***<
Malam ini aku bersama April sedang duduk ditepi kolam
renang ditemani secangkir kopi dan coklat panas. Seharusnya malam ini aku
melakukan latihan piano ku sekali lagi sebelum gladi resik besok, tapi aku
membatalkannya karena aku ingin lebih mengenalnya malam ini. aku ingin tau apa
semuanya, apa ini yang dinamakan jatuh cinta sesungguhnya ya? Sudahlah!
Hoammmmm....
“Jiah udah ngantuk aja,
nih kopi!! Jangan susu mulu yang diminum, wkwkwkwkwk.” Dia menawariku kopinya
yang tinggal setengah. “Ogah! Lagian gue kurang suka sama rasanya. Lo kenapa
demen banget sih minum kopi good day, ha? Kan ada kopi yang lain juga yang
lebih manis.” Aku penasaran soal ini karena saat berangkat ke sekolah dia
selalu saja mampir ke pak Ekko dan membeli kopi good day disana, dingin lagi.
apa gak mencret tuh perut pagi-pagi minumnya es.
“Biar
gak diabetes Monyet! Gue kurang suka yang manis-manis gitu, gw lebih suka yang
pedes-pedes.” Jelasnya lalu dia meneguk kopinya hingga habis. “Gila pantesan
waktu itu baksonya pedes banget. Gue kepedesan bego, parah lo.” aku membenci
makanan yang pedas tapi waktu itu aku sengaja memakannya demi April.
“Tapi kan udah gue pesenin
es jeruk, wkwkwkwkw. Lain kali kalo lo gak kuat ya gak usah dipaksa, bego.
Nyiksa diri sendiri kan, lagian yang ngerasa pedes gak nya kan diri lo
sendiri.” Aku berasalasan tidak enak jika aku menolak baksonya waktu itu.
“Terkadang
lo harus jujur dengan apa yang lo benci dan sukai, Nyet.” Aku salut ketika
mendengar ia mulai berbicara bijak begitu. Sosoknya mengingatkanku dengan
almarhumah nenek.
“Btw, kayaknya waktu cepat berlalu ya, Nyet,
tau-tau sekarang udah bulan maret aja, dan 2 hari lagi lo bakal tampil deh,
wkwkwkwkwk.” ucap April sambil menggoyang-goyangkan kakinya di tepi kolam
renang. “iya yak, hehehehehe.” Lalu aku teringat dengan kartu zodiak yang aku
berikan padanya. “Eh di lo masih ada satu kartu kan? Aries! Lo mau anggurin
gitu aja, Pung? Sayang banget lhooo!” katanya tidak ada apa-apa lagi yang dia
inginkan. Padahal aku berharap kita bisa berdua lagi, pung, kemana-mana.
Tiba-tiba lampu mati dan semuanya menjadi gelap, April berteriak ketakutan
sambil meracau agar lampunya cepat dihidupkan. “Jangan narik-narik ntar baju
gue robeeekkk, capungggg! alay banget sih sama gelap doang takut.”
>***<
Gelap! Disini semakin gelap! Aku harus keluar nyari
cahaya, aduh... kepalaku juga pusing. “Jangan narik-narik ntar baju gue
robeeekkk, capungggg! alay banget sih sama gelap doang takut.” aku melepaskan
bajunya dan kemudian lari sekencang mungkin keluar lewat pintu belakang.
Hosh...hoshh....hoshhh.... jantungku masih berdebar-debar, tanganku juga
gemetar. Kenapa mati lampu selalu mendadak sih, bikin jantungan saja. Selang 3
menit kemudian, lampu pun nyala kembali. “Masuk gak ya, hoshhh....hoshhh, ntar
kalo mati lampu lagi kan berabe.” aku melirik kiri kanan memastikan bahwa
keadaan aman. Malu juga lah kalo sampe orang lain liat.
“Aduh hape gue ketinggalan lagi sama Arian. Masuk lagi
dah...” dengan langkah yang masih gemetar, aku kembali ke kolam renang lewat
pintu belakang, tetapi aku ingin ke kamar ku dulu untuk mengambil kopi good
day. Dalam perjalananku kesana, aku mendengar suara kak Reno dan lainnya di
__ADS_1
ruang tamu. Kebetulan disebelah lorong menuju kamarku adalah ruang tamu.
“Mereka udah pulang ya!” aku berniat menghampiri mereka sebelum akhirnya aku
memilih mendengarkan dibalik tembok saat kak Maya menyebut tentang akan
menculik Arian dan Mbok Sum.
“Aku tidak tau
jika orang tuaku bahkan adikku sendiri ikut merencanakan hal busuk seperti
ini.” Kak Lina terlihat sangat sedih mendengar kenyataan bahwa keluarganya
sendiri lah yang berniat untuk menculik Arian dan Mbok Sum dibantu juga oleh
keluarga Jordan.
“Sudahlah Lin! Kau juga
tidak sendiri, ada kami disini.” Kak Maya memeluk kak Lina. “Iya! Ayo kita
lawan mereka bersama-sama.” Tambah kak Dama setelah melepaskan pelukannya.
“Gue punya rencana!”
seru Kak Will, “hmmm apa gak sebaiknya tante Ria tau hal ini juga, No?” tanya Kak
James. “Gak James. Gue gak mau bikin nyokap gue tambah khawatir lagi, apalagi
dokter juga udah memperingati gue agar memastikan mama istirahat dengan baik
selepas cuci darah kemarin.” Jawab kak Reno.
Tante Ria mengidap
penyakit ginjal dan juga kanker payudara, aku tau ini dari Arian saat ia senang
sekali melihat mamanya kembali dari rumah sakit saat sebulan yang lalu.
“Skip, sekarang kasih
tau kita rencana apa yang lo punya untuk menghentikan niat mereka nanti.” Kak
Reno pun menyilahkan Kak Will untuk menjelaskan rencananya.
“Seperti yang udah
disampein Dama tadi, gue bakal ngebentuk regu yang dimana tugas dari
masing-masing regu adalah mengawasi balik gerak-gerik mereka. Gue tau cara
kerja rencananya paman Satya karena beliau cukup dekat denganku. Pertama kalian
harus pahami 3 tanda yang akan menjadi alat komunikasi kita. Yang pertama
PANDA, kalian sebut nama hewan ini jika kalian telah berhasil mendekati target.
Kedua CAPUNG, kalian sebut nama hewan ini jika target telah masuk perangkap dan
terakhir ANJING, kalian sebut nama hewan ini jika target telah berhasil kita
ringkus. Paham!” tanya Will
“Paham!!” seru
semuanya.
“Good!
Lin, lo sama Dama masuk ditim Yellow, tugasnya kalian adalah mengurung kedua
emak-emak ini dikamar belakang, tapi usahakan bikin mereka pingsan.. Dan disinilah
peran Jemy, anak lo diandelin” Terus Kak Will menoleh ke arah Maya, “May, lo
masuk di tim senja, tugas lo yaitu alihkan perhatiannya Alle dari Arian.
Seterah lo mau pake cara apa aja, yang penting dia tertarik. Kelemahannya itu
style fashion dan make up.” Kak Maya mengangguk.
“James
juga sama masuk di tim senja dan lo harus buat Jordan menjauh dari Alle
terlebih dahulu, biar gampang Maya
ngebujuk Allenya nanti. Gue percayain si Jordan ke lo karena dia bakal main
fisik dan pastikan kalian berjalan berdampingan. Lo harus peka dan gunain bakat
karate lo nanti. Gue tau lo lebih kuat kalo soal berantem dari kita berempat.”
Kak James mengangguk.
“Dan,
kita berdua masuk ditim boneka, tugas lo awasin om Satya selagi gue buntutin om
Wisnu. Intinya, buat mereka pingsan dan iket semuanya di kamar belakang. Gue
harap tim yellow dan senja berhasil mengumpulkan target karena menangkap om Wisnu dan Om satya tidaklah
mudah dan membutuhkan waktu yang lumayan lama.” Jelas kak Will.
“terus siapa yang bakal
ngawasi Mbok Sum sama Arian, Will?” tanya Lina
“Mbok
Sum bakal gue bawa malam ini ke bogor, tinggal sama keluarga gue untuk
sementara. Kalian gak usah khawatir, mbok aman disana, gue udah minta kokoh
buat nyuruh centeng-centengnya berjaga disekitar rumah. Terus soal Arian, gue
yakin dia bisa lah ngejaga dirinya sen....” aku menyela ucapan kak Will, “Jangan
kak! biar aku aja yang ngejagain Arian, aku janji bakal ngelindungi dia.” Aku
menghampiri mereka.
“Sejak kapan kamu disitu, Pril?” tanya Kak Dama,
“daritadi kak, Dam.” Jawabku. “Kalian curang gak kasih tau hal ini ke April,
katanya anggap aja kayak keluarga sendiri tapi mainnya rahasia-rahasian. April
memang gak peduli selama ini dengan urusan kalian, tapi kali ini menyangkut Mbok
sama si monyet juga. April gak bisa tinggal diam.” Ujarku yang sedikit kecewa.
“Bukan begitu, Pril,
kami menyembunyikan ini dari mu karena kami tidak ingin merepotkanmu lagi.”
ucapan kak Lina membuatku semakin bertekad untukk melindungi si monyet dari nenek
lampir itu.
“Yaudah,
karena lo dah tau semuanya, lo juga masuk kedalam tim boneka, bareng gue dan
Reno. Inget ya! Jagain tuh si monyet baik-baik.” aku yakin kak Will mengizinkan
aku ikut karena dia tidak ingin masalah ini terlalu dibesar-besarkan lagi.
takut Arian denger nanti.
“Xie-xie kak Will!” dan aku pun permisi untuk
pergi kekamar dulu untuk mengambil kopi dan juga aries, kartu terakhir yang
belum aku gunakan sama sekali. Setibanya dikamar, aku membuka laci meja belajar
ku dan mengambil Huiyi, buku diary ku. Aku membuka pertengahan buku itu dan ku
ambil kertas ijo didalamnya yang bergambar simbol aries.
Aku memandangi kartu itu hingga tanpa sadar aku menangis
karenanya. Waktunya telah tiba, setidaknya aku harus mengukir kenangan dulu
dengannya sebelum mimpi yang selama ini menghampiriku segera menjadi nyata. Aku
mempunyai suatu keanehan saat aku sedang bermimpi, dimana mimpi yang aku alami
saat tidur akan terjadi beberapa hari kemudian didunia nyata. Bisa dibilang
seperti Precognitiv Dream, tapi mimpiku lebih ke kayak kegiatan sehari-hari
gitu.
Aku menuruni tangga lalu kedapur sebentar untuk membuat
secangkir kopi kemudian kembali lagi ke kolam renang. sebelum aku
menghampirinya, aku sempat berkaca dulu dicermin, memastiskan tak ada lagi bekas
air mata diwajahku. Aku harus tersenyum dan santai! “Monyet!” sahutku dan dia
menoleh, kupastikan sekarang dia pasti menggerutu dalam hati karena bajunya
jadi lecek akibat perbuatanku.
__ADS_1