Piano April

Piano April
Part 11


__ADS_3

>>11<<


“Akhir cerita bukanlah hal utama yang akan selalu kalian dapatkan di dalam setiap cerita yang dilihat maupun didengar. Ini semua tentang kenangan yang tercipta dibaliknya. Tanpa kenangan, kita tak akan tahu bagaimana sebuah “akhir” akan terjadi.”


K_TULIP12


*


*


*


*


*


*


(22 MARET 2020)


Akhirnya hari yang dinanti pun datang juga. Saat ini telah berkumpul keluarga prapanca dan handoro serta teman-teman sekolah Arian di rumahnya.


“Apa kabar sobatku?” tanyanya sambil menjabat tangan Satya dan Wisnu. “Kami selalu baik, ahahahahaha....” ujar Satya. Allesha lalu meminta perhatian kepada semuanya karena pertandingan akan dimulai.


“Pertandingan akan dimulai jadi bersiaplah kepada Arian dan Jordan untuk stand by disana.” Allesha telah menyiapkan 2 bangku. “peraturannya yaitu, penonton hanya boleh menikmati saja. Tidak boleh ikut bernyanyi!” Allesha berjalan ke arah Jordan dan Arian untuk melakukan pengambilan nomor siapa yang akan tampil duluan. “1” ucap Jordan yang otomatis dia memulai duluan sementara itu Arian kemballi duduk ditempat.


Jordan duduk dikursi piano dan mulai memainkan lagu pilihannya. Ia membawakan lagu cinta luar biasa sambil bernyanyi dengan suara yang serak-serak basah. Selang 7 menit kemudian dia pun selesai, semuanya bertepuk tangan. Kini giliran Arian yang memainkan lagunya.


“Kata gue sih Arian bakal kalah dari si Jordan yang vokalnya bagus begitu.” kata teman masa smp Arian tersebut. “Iya tuh bener! Inget gak sih waktu smp yang dia ditimpukin kertas karena suaranya bikin telinga kita sakit, ahahahahaha.” Semuanya pun tertawa. “Bacot goblok!” gertak April kepada anak cewe tonggos yang menjelekan si Monyet tadi.


April menyemangati Arian dari jauh dan itu membuat  rasa pedenya kembali. “Gue yakin lo bisa Nyet!” batin April. Arian membawakan lagu How Have You Been ciptaan Eric Chou. Alunan intronya seketika membuat semuanya takjub, bahkan Jordan sampe menganga seperti itu. “Bagaimana dia sejago itu? setahuku dia tidak privat dimana-mana.” Batin Jordan yang mulai merasa panik. “Dan inilah saatnya semuanya mengetahui suara aslinya saat bernyanyi.” Arian memang sudah lama sekali menyembunyikan bakat menyanyinya sejak neneknya meninggal.


Shì bùshì háI nàme àI chídào


Áoyè gōngzuò yòu shuì bù hǎo


Děng nǐ wánchéng nǐ de mùbiāo


Yào jiè diào chěngqiáng de shìhào


Dōu guàiwǒ bǎ zìzūn fàng tàI gāo


Méiyǒu bǎ nǐ zhàogù hǎo


Jiāo'ào shì cuìruò de wàibiǎo

__ADS_1


Zuì pà wǒ de xīn nǐ bùyào


Néng bùnéng jìxù duì wǒ kū duì wǒ xiào duì wǒ hǎo


Jìxù ràng wǒ wèI nǐ xiǎng wèI nǐ fēng péI nǐ lǎo


Nǐ hǎobù hǎohǎo xiǎng zhīdào


Bié jízhuó bǎ huíyì dōu diūdiào


Wǒ zhǐ xūyào nǐ zàI shēnbiān péI wǒ chǎo péI wǒ nào


Yòng hǎo de wǒ bǎ guòqù huàI de wǒ dōu huàn diào


Hǎo xiǎng tīngdào nǐ jiānjué shuō àI wǒ


Kěxí huí bù qù nà yī miǎo


Nǐ hǎobù hǎo


Sementara Arian masih sibuk dengan permainan melodinya, Will meminta semua tim untuk segera beraksi. Dimulai dari James yang mendekati Jordan dan beralasan untuk membantunya ambil barang dimobil sebentar. Jordan yang tidak menaruh curiga padanya pun mengikutinya. Will juga telah meminta centeng kakaknya untuk meringkus bodyguardnya Satya. “Lapor bos, semuanya beres!” kata salah satu centeng ditelpon. Will meminta mereka agar bodyguardnya dibawah ketempat kakaknya saja untuk diintrogasi.


“Nenek! Anterin Jemy ke kamar mandi yuk!” Jemy menarik-narik tangan Diyah. “Mama Lina kemana?” Jemy menjawab bahwa Lina sedang mengambil pesanan kue ulang tahun. “Yaudah sini Jemy sama nenek!” dan mereka pun naik ke atas. Mereka pun ke kamar mandi yang di dekat dapur. Lalu saat sedang membantu Jemy pipis, Lina langsung membekap mulut ibunya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius dari belakang. “Lapor tim yellow, anjing!” mereka pun tos-an.


Sejauh ini tidak ada yang terluka, kecuali James. Ia terkena goresan dilengannya karena tadi sempat diserang dadakan oleh Wisnu. Entah dia datang dari mana, tapi  berkat kerja sama Will dan James, mereka bisa membereskan dua b****** ini.


“Tinggal Allesha dan Satya.!” Seru Maya setelah menyumpel mulu Teti dengan saputangan. Tadi ada sedikit perubahan rencana, ia terpaksa meninggalkan Allesha demi mengikuti Teti yang diam-diam membuntuti Diyah dibelakang dan hampir saja Lina kena tusukan kondenya.


Suara tepuk tangan riuh ketika Arian mengakhiri permainannya. Ia mendapatkan pujian dari teman-temannya bahkan cewe tonggos tadi sekarang berbalik memujinya juga.


“Dasar tonggos muna!” April kesal sekali melihat orang seperti itu. Tidak ada yang menyangka bahwa sesungguhnya suara Arian indah sekali, hampir mendekati seperti Eric Chou. Arian tersenyum senang ke arah April.


“bagus sekali Arian permainan mu tadi.” Satya mendekati Arian dan bermaksud memeluknya sebelum akhirnya ia mengunci pergelangan tangan Arian ke belakang dan menodongkan pistol dikepala. Satya membunyikan pistolnya ke atas dan membuat semua hadirin yang hadirin lari berhamburan.


“Ku kira papa tidak menyadari kalo orang-orang kita pada tidak ada.” Allesha tertawa. Dia sempat panik sedikit tadi karena Jordan yang tak kunjung kembali, ditambah Diyah dan Diyah yang menghilang mendadak.


“Papamu tidak sebodoh itu sayang!” Dani memohon agar Satya melepaskan putranya. Suara sirine polisi juga sudah datang dan kini mereka ikut mengepung Satya dan Allesha.


“jika kau ingin dia bebas, makan beri tahu aku dimana kamu menyembunyikan Mbok Sum!” Reno mencoba mendekat, “Diam ditempat jika kau tidak ingin kehilangan adik tersayang mu ini.”


>***<


Aku harus mencari cara agar Arian bisa bebas dari genggaman bapak gendut itu. ayo berpikirlah.... “aha! I have an idea!” April langsung mencari botol parfumnya yang berisi cairan merica. setelah ketemu, ia coba melangkah beberapa meter disebelah Dani lalu dengan sengaja menjatuhkan botol tersebut yang tepat berhenti ke arah kaki Satya.


April lalu berjalan mendekatinya dan meminta untuk tidak menembaknya. “Ma....ma...af ....pak ja..angan ...tem...bak...sa..y..a. Sa...ya..cu..ma mau a..mbil ini..” ucap April terbata-bata. Satya sempat ragu dengan gerak-gerik April, tetapi, ia menepis prasangkanya itu dan menyuruh April untuk cepat mengambil botol parfumnya itu hingga begitu April mendapatkannya, ia menyuruh Arian untuk menginjak kakinya sebelum akhirnya ia semprotkan merica itu ke mata Satya.

__ADS_1


“Akhhhhhh sialaaaaan!” Pistol yang Satya pegang pun jatuh, lalu Arian menggandeng April untuk lari menjauh dari Satya. Allesha yang tidak mau menyia-yiakan kesempatan ini pun segera mengambil pistol papanya tersebut.


Dorr! Dorrr! Tembakannya tepat mengenai April. April ambruk seketika, kepalanya pusing dan pandangannya kabur.


“Capunnggggg!” teriak Arian begitu melihat April tergeletak di lantai. Ia langsung berlari ke arah capungnya itu dan meletakan kepala April di pangkuannya. Tenggorokannya tercekat karena tak kuasa menahan tangis melihat kondisi April yang kesakitan begini.


Dani langsung menyuruh polisi menangkap Allesha dan Satya dan sebagian polisi juga telah pergi ke kamar belakang untuk menangkap sisanya.


“Reno cepet siapin mobil!” Ucap Dani yang langsung ditahan April karena ia tau ajalnya sudah dekat. April hanya berpesan agar Arian terus semangat dalam menggapai mimpinya.


“gak! Lo gak boleh mati dulu begooooo Capungggg,....gak lucu...” ucapnya dengan suara yang gemetar.


“Gu..e tau lo kuat.” April tersenyum mendengar motivasi dari monyetnya itu. Arian masih terus memangku kepalanya diatas pahanya hingga tanpa sadar air matanya perlahan jatuh.


“Tolong jangan nangis, Monyet! Gue gak mati kok, kita juga bakal ketemu lagi lewat....uhukkk..uhukk..” katanya tersendat karena batuk,


“Mimpi! Gue pa...mittt.. tolong bilang...in...nenek sa..ma..adek.gue, kalo gue...sayang...sam.aa. m.er..e..ka.” Arian bertambah histeris sampai membuat semuanya berkumpul.


"April!" Dama yang tak sanggup melihat kondisinya itu pun menangis dipelukan Will.


“Kakak Chubby! kakak gak boleh pergi!” Kata Jemy sambil menggoyang-goyang kan lengan sebelah kirinya. April tersenyum dan berpesan ke Jemy kalau dia tidak akan pergi jauh.


“Thanks for everthing! I love you all!” matanya pun tertutup.


“No...no..no...no... Aprillllll! No...no.... jangan tinggalin gue....Capunggggggggg....” Arian memeluk tubuhnya erat untuk terakhir kalinya.


Hujan pun tiba-tiba turun seakan-akan mengiringi kepergian April dengan tenang.


Néng bùnéng jìxù duì wǒ kū duì wǒ xiào duì wǒ hǎo


Jìxù ràng wǒ wèI nǐ xiǎng wèI nǐ fēng péI nǐ lǎo


Nǐ hǎobù hǎohǎo xiǎng zhīdào


Bié jízhuó bǎ huíyì dōu diūdiào


Wǒ zhǐ xūyào nǐ zàI shēnbiān péI wǒ chǎo péI wǒ nào


Yòng hǎo de wǒ bǎ guòqù huàI de wǒ dōu huàn diào


Hǎo xiǎng tīngdào nǐ jiānjué shuō àI wǒ


Kěxí huí bù qù nà yī miǎo


Nǐ hǎobù hǎo

__ADS_1


__ADS_2