Piano April

Piano April
Part 5


__ADS_3

β€œKasih sayang tidaklah di ukur dari seberapa tinggi derajat seorang manusia, melainkan


tentang seberapa besar kita peduli serta menghargai sesamanya.”


~~ K. Tulip12 ~~


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Suara tepuk tangan para undangan mengakhiri pertandingan battle piano yang terjadi antara Arian dan Jordan. Dari kejauhan April mengapresiasi penampilan muridnya dengan mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum kepada Arian.


Lalu suasana berganti menjadi sangat mencekam saat dimana seorang pria buncit menodongkan pistol jenis revolver, Smith & Wesson 500 Magnumnya ke pelipis kanan Arian.


Pria tersebut memerintahkan siapa saja untuk tidak mendekat atau nyawa Arian yang akan menjadi taruhannya.


Ditengah kekacauan ini, April berhasil menyusup ke belakang pria buncit tersebut dengan cara merangkak perlahan diantara lautan para hadirin yang memenuhi ruangan, sehingga memungkinkan baginya untuk tidak terlihat oleh pria buncit itu dari sana.


Namun mendadak dirinya diserang oleh anak perempuan pria buncit itu yang sadar akan kehadirannya dibalik gorden persis dibelakang ayahnya.


Dengan cekatan April menyemprotkan parfum mericanya ke arah mata si pria buncit sebelum ia sempat menoleh ke arahnya hingga membuatnya meronta kesakitan dan Arian dapat terbebas dari jeratan lengan kekarnya.


Ia juga sempat menyemprotkan parfumnya anaknya juga. Walaupun sedikit meleset, tapi cukuplah untuk membuatnya terlepas sementara sebelum akhirnya dirinya ditembak oleh si pria buncit yang rupanya masih memiliki pengelihatan yang sedikit jeli.


Dooorrr!!!


Seketika April pun ambruk didepan Arian dan juga keluarganya. Semua hadirin histeris melihat April yang terbujur kaku dilantai.


Arian jatuh terduduk meratapi kondisi April yang dipenuhi genangan darah disekitarnya. Ia memeluk tubuh April yang kaku, ia tidak memperdulikan adanya bercak darah yang menempel dibaju kesayangannya.


"Ma...af....a...ku..."


"Please don't say anything! I trust you! Jadi bertahanlah, please! Sebentar lagi ambulansnya dateng," ujarnya berharap April selamat walaupun rasa pesimis dan prasangka buruk mulai menggerotinya.


Namun Allah berkehendak lain, April pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah ia mengucapkan sebuah kalimat syahadat dan berpamitan dengan Arian yang banjir air mata dan berteriak memanggil namanya berulang kali.


πŸ•Š


:::::::::::::


πŸ•Š


"Puji tuhan akhirnya kita sampai juga," ucap Will keluar dari mobil James.


"Kalian masuk duluan tapi jangan berisik. Aku mau ngabarin istriku dulu kalo kita udah sampe rumah." kata Reno dari dalam mobil.


Will mengacungkan jempolnya sembari membuka pintu pelan-pelan.


"Huft! Semoga aja habis ini kita jadi baikkan lagi," ujar Will antusias.


"Berdoa aja Will," timpal James yang sibuk menata kuenya serapi mungkin dipiring. "Selesai!"


Kemudian Reno masuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan ditangan kirinya.


"Kok masih disini?! Kirain tadi udah naik."


"Sengaja nungguin kamu kelar nelpon, biar sekalian." ujar James.


"Yaudah yok cepetan! Keburu belum magrib," ajak Reno pada mereka.


"Gak mau nungguin istri-istri kita dulu? Biar rame," tanya Will


"Kau ini! Mau minta maaf atau ngajak war sih,?" ujar James heran.


"Ahahaahahahaha....."


"Udah kita aja! Nungguin mereka nanti kelamaan. Luna bilang mereka nyampenya sekitar satu jam-an lagi," jelas Reno.


"Yoweslah."


Singkat cerita mereka pun telah sampai di depan kamar Arian.


"Eh bentar," bisik Will menahan mereka.


"Apaan lagi? Rempong amet daritadi, heran," tanya Reno.


"Rompiku nyangkut ini lho, bantuin dulu. Susah nyabutnya kalo cuman pake satu tangan, ngeri jatuh kuenya nanti."


"Yaudah sini tak copotin."


Reno pun membantu melepaskan rompi sahabatnya yang tersangkut disela-sela jeruji pinggiran tangga.


"Xie-xie, No!" Setelah itu, Reno pun mulai membuka pintu lebih lebar dari yang tadi.


"Kamera ready?" James yang sebagai dokumenter mengacungkan jempolnya.


Reno pun mulai memberikan aba-aba dan seketika mereka secara serempak pun berteriak seiring telah terbukanya pintu kamar Arian.


"β€œARIAAAAN! KAMI MINTA MA.......OH MY GOD!!” teriak mereka.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Arian dengan posisi memegang bahu April dan sedikit membungkuk hampir seperti ingin mencium April. Sontak segala macam pikiran kotor mulai memenuhi isi otak ketiga pria yang mematung didepan pintu kamar Arian.


"Ya allah maafkan hamba sudah lalai menjaga adik hamba dari dunia perchentai-an."


"Oh my god, Arian?! Ternyata....sahabatku ini sudah tidak polos lagi," kejut Will dalam hatinya.


"Semoga abis ini Rian ditonjokin bapaknya karena hamilin anak orang," batin James.


Bersamaan dengan itu April pun mulai membuka matanya lalu terkejut bukan main begitu melihat Arian yang hanya berjarak 6 cm dari hadapannya. Ia lalu mengambil bantal dan memukul Arian hingga ia terjatuh ke lantai. Ia lalu beranjak dan bersembunyi dibelakang James dengan tubuh yang gemetar.


"Guys, I can explain it! Ini gak seperti yang kalian pikirkan," belanya mulai berjalan mendekati para sahabatnya.


"Wah bener-benar kau, Yan," ujar Will dengan nada yang agak mendramatisir.


"C'mon guys! Aku tuh cuma mau bangunin dia aja. Because bentar lagi adzan."


"Alesan," sambung Reno.


"Seriusan njirr! Tanya aja Mbok Sum kalo gak percaya. Aku udah berapa kali teriak-teriak bangunin dia tapi tetep aja gak bangun juga. Ya terpaksa aku masuk."


"Berani sumpah?" tanya April yang gemetar.


Arian yang geram karna tidak ada satu pun yang percaya kemudian mengucapkan sumpah dan berlalu pergi untuk mengambil wudhu karna adzan magrib telah berkumandang.


Sepeninggalan Arian, Reno meminta maaf atas ketidaknyamanan karna sikap adiknya itu. Lantas, ia pun menyusul Arian untuk solat magrib bersama.


"Will, tolong ambilin air di dapur buat April," bisik James dan Will bergegas pergi ke bawah.


"Eh, gak usah pak, makasih. Saya jadi ngerepotin."


"Udah gak usah sungkan. Sini kamu duduk dulu," James mengambil kursi belajar dari kamar Arian.


"Tapi pak..."


"Biasa aja sama saya, gak usah terlalu formal. Cukup panggil kita kakak, oke! Toh, kita udah anggap kamu keluarga."


"Ok pak, eh...kak, hehehehe....."


"Good! Kamu rileksin diri dulu biar gemeternya ilang."


"Eh? Kok kakak tau?"


"Tau lah! Gemeteran kamu ngerembet tau sampe ke badan saya. Untung saya masih bisa kontrol, kalo gak bisa-bisa kita jadi kosplayer kejut listrik. Dikit-dikit geter." Kata-kata spontan James berhasil membuat April tertawa.


"Arian ngapain kamu sampe dia ngebiarin kamu tidur dikamarnya?"


"Aku juga gak tau kak. Tadi aja syok begitu bangun langsung nongol mukanya si monyet." April kemudian salah tingkah dan menyadari jika ia keceplosan.


"Maksud aku Kakak yang tadi bangunin aku, kak," jelasnya mengklarifikasi.


"Oalah! Ahahaahahahaha....."


"Gapapa. Tapi hebat lho kamu bisa sampe tidur dikamarnya. Kita aja yang notabennya sahabat oroknya aja dilarang tidur disana. Bahkan dia sampe naroh meja belajarnya buat nahan pintu biar gak dijebol sama kita."


"Ah masa sih kak? Baru tau aku ada cowo yang se-over itu ngejaga kamarnya biar gak dijajah orang lain."


"Kenyataannya begitu, tapi ini serius lho, gak ngada-ngada. Dia begitu karena ada hubungannya sama almarhumah neneknya."


"Ohhhh, jadi lukisan yang dinding itu neneknya kak monyet." April buru-buru menutup mulutnya. "Sorry kak!"


"Asal kamu tau lukisan itu karya pertama dan terakhirnya baginya untuk sang nenek. Ia memutuskan untuk berhenti melukis semenjak neneknya meninggal beberapa tahun silam."


"Kakak nggak nanya alesannya apa?"


"Udah, tapi dia malah ngebisu, kira-kira selama 3 bulan kalo gak salah. Mungkin kamu bisa cari tau sendiri detailnya nanti."


"Hmmm, up deh kak!"


"Why not?!"


"Aku gak mau terlalu ikut campur masalah orang lain yang gak aku kenal. Apalagi juga dia kayaknya benci sama aku."


"Dia gak benci sama kamu, kok. Sikapnya memang ngeselin kadang juga terlalu sarkastik, tapi....jauh didalam hatinya, dia itu tipe orang yang sangat peduli."


"Apa kata kakak aja deh." Lalu April teringat sesuatu jika ia belum solat magrib.


"Astagfirullah aku lupa belum solat magrib."


"Ahahaha, gara-gara asik ngobrol jadi lupa waktu. Sekarang kamu ke ruang solat aja, setau aku disana udah disiapin keperluan buat soaltnya."


"Aku gak tau tempatnya kak."


"Yowes yok tak anterin."


"Oh ya kakak solat juga gak?"


"Saya gak solat,..." April dengan cepat memotong.


"Lagi IMS ya?"


"Nggak, bukan karena IMS, tapi karena saya kristen," jelas James tersenyum pada April.


Dalam hati April membatu. Ia merutuki dirinya karena telah melontarkan pertanyaan konyol yang terlalu privasi untuk dibahas. Diliat dari fisiknya juga udah ketara kali kalo bosnya itu kristen. Wajah bule, ada tato salib dilehernya, kurang apa lagi coba? Emang dasar lagi gak pake kacamata aja, makanya jadi rada ngeblur ngeliat sekitar tuh.


"Eh?! Maaf kak......." April menunduk saja.


"It's ok...it's ok!"

__ADS_1


Dan begitulah akhirnya mereka bertukar cerita sepanjang perjalanan menuju ruang solat. Maklum, saking luasnya rumah ini bahkan ruang solat pun dibuat khusus sendiri lokasinya.


Sementara itu Wiil telah kembali membawa secangkir teh hangat untuk April.


"Lho kok ilang?" tanyanya bingung melihat tida ada satupun orang didepan kamar Arian.


"Tehnya udah jadi padahal. Fix ini aku dikerjain! Sungguh tega bule prancis itu. Pengen tak bejek-bejek kalo ketemu."


πŸ•Š


:::::::::::::::::::::


πŸ•Š


Sebaliknya ia ke dapur, disana telah berdiri Arian yang tengah membuat secangkir susu dancow rasa coklat (gak maksud ngiklan ya πŸ˜…).


Ia kemudian mengambil sekaleng bear breand dari kulkas dan mencampurkannya ke dalam gelas teh anget yang ia buat barusan.


"Awas!" Will mengambil kursi yang akan digunakan oleh Arian untuk duduk secara paksa. "Ngeliat James gak?"


"Ada diruang solat nganterin April solat." Mereka menoleh pada Reno yang bersandar dipintu dapur.


"Kan firasatku bener. Sialan itu bule ngerjain aja hobinya."


"Nyariin Will ya sampe nyamper ke sini?" tanya Arian.


"Bukan! Kakak nyari kamu daritadi."


"Mau ngapain?"


"Kakak mau to the point aja ya, kenapa April bisa tidur dikamar kamu? Kau sudah gila ya? Masih baik aku sudah meminta mbok untuk tutup mulut agar kau aman. Coba kalo telat, bisa-bisa mbok langsung laporan yang berimbas bonyok semua mukamu nanti."


"Bukannya bagus kalo nanti papa tau tentang ini." Arian mengambil sendok lalu mengaduk susunya.


"Bogas....bagus..Ntar kalo dah bonyok ngeringkuk dipojokkan. Bilangnya sakitlah, inilah, eleh..." sambung Will. "Ujung-ujungnya kita juga yang ribet."


Reno kemudian mengambil centong dan bersiap disamping adiknya. Jaga-jaga jika adiknya berbohong maka ia bisa memukul bokongnya seperti apa yang yang pernah ia lakukan kepadanya ketika ia berbohong waktu kecil.


Arian meminta pertolongan pada Will, tapi sahabatnya itu malah menjauh dan menunggu di pinggir pintu.


"Sahabat lucknat!" geramnya dan Will hanya menyengir bebas.


"Ceritain sejujurnya kalo gak mau centong ini mendarat dibokongmu. Kakak kasih 10 menit buat ungkapin semuanya."


"Ok, jadi gini, awalnya niatku baik mau minta maaf ke dia sampe aku bela-belain muterin daerah basement yang katanya Kak Sarah dia biasa nungguin ojol disitu. Tapi ternyata dibelakang dia malah ngatain aku monyet pas aku diem-diem lagi dengerin dia ngomong sendiri kayak orgil, disamping mobilku pula. Gak tau itu kebetulan atau sengaja, yang intinya aku gak diterima dikatain begitu. Akhirnya disitu kita berantem lagi, setelah adu bacot yang cukup lama, tiba-tiba dia pingsan kak. Untung aku gercep langsung menahannya biar gak jatuh ke tanah."


"Lalu kenapa gak kamu anterin dia ke rumahnya?"


"Ya mana ku tahu rumahnya dimana. Aku panik waktu itu karena badannya panas banget. Daripada ribet muter-muter lagi nyari alamat rumahnya, mending sementara aku bawa dulu ke rumah."


"Mbok tau gak tentang ini?"


"Tau! Bahkan tadi Mbok nawarin buat ngerawat April tapi ku tolak. Karena aku sadar akulah yang seharusnya tanggung jawab. Aku cuma minta tolong Mbok untuk buatin susu jahe buat dia yang udah aku taroh dimeja disamping tempat tidurku. Aku berharap susunya udah abis begitu aku kembali ke sana, tapi nyatanya dia masih ngorok dan yhaa selebihnya yang kalian liat tadi."


"Ah mana mungkin dia sekasar itu," ujarnya mengelus dagunya. "Aku tidak percaya."


"Aisshhh,..." Ia memutar bola matanya. "Seterah kau sajalah. Ku harap kau tidak menyesal nantinya."


"Ngomong apa kentut?!" ujar James yang nongol dari jendela dapur.


"Btw, yang diceritain Arian tuh ada benernya tau guys!" James duduk didekat meja bar yang memiliki space cukup lebar untuk diduduki.


"Nah, kalian dengar kan!" ucapnya merasa menang.


"Eits, jangan senang dulu kawan." James mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman perbincangan antara ia dan April selama mengantarnya ke ruang solat barusan.


"**Hmm,...Kak James!"


"Iya?"


"Nanti tolong sampein ke kakak yang tadi ya kak kalo aku minta maaf udah ngatain dia monyet."


"Ha? Kapan kamu ngatain dia monyet? perasaan daritadi aja kamu baru bangun."


"Aku ngatainnya pas lagi dibasement pas aku lagi curhat sendiri. Aku gak sadar ternyata disepanjang aku curhat ada dia dibelakang. Aku gak tau sejak kapan dia disana, tapi gara-gara itu akhirnya kita beranten lagi sampe aku kelepasan lagi dan untuk kesekian kalinya ngatain dia monyet lagi. Habis itu aku gak inget apa-apa lagi**.


"Gimana mau inget, tiba-tiba dia langsung pingsan gitu. Bikin panik orang! Untung basemantnya sepi," bantin Arian.


"**Please ya kak tolong sampein permintaan maafku."


"Kenapa harus minta maaf? Gak papa lagi Pril! Malah seneng dia ngedenger julukan lamanya kembali**."


Dalam hati Arian mengutuki James yang cengar cengit tanpa dosa. "Bangke!"


"Aku ngerasa gak enak aja kak. Walaupun dia ngehina aku sampah.......tapi gak seharusnya aku balik ngatain dia dibelakang. Aku tadi kesulut emosi aja jadinya gak sadar."


"***Emosi karna dia ya pasti?"


"Bukan kok kak!"


"Ah masa? Jujur aja sama kakak biar tak bogem mulutnya nanti. Kalo perlu kakak ajak Reno sama Will juga...."


"Hehehehe.... kakak bisa aja. Beneran kok kak! Lagi pula aku udah kebal sama hinaan kayak gitu. Yhaa, gampangnya aku anggap angin lalu aja biar gak nambah strees."


"Kebal? Kamu sering dihina orang dong kalo gitu***?"


"Sampai sini jelaskan?" James mematikan ponselnya dan kembali mengantonginya ke dalam saku kemeja.

__ADS_1


"Aku ngerekamnya cuma sampai situ karena dianya langsung ngalihin topiknya


__ADS_2