
****
"Kok Vira lama banget ke toilet doang.?"menolong Dava sambil melihat arah gadis itu pergi tadi.
"Ya ampun bapak satu ini,sabar kenapa mas bro cewek wajar lama."kata Varel yang memasukan sepotong kue ke mulutnya.
"Tai,eh maksud nya tau,lagian mau kemana si buru buru bro.?"timpal Kafa.
"Biasa lah,kaya gak tau si bapak satu ini Ajah Lo semuah."kata Rio yang melirik Dava sekilas.
"Ckk...Cot Lo.!"sembur Dava yang juga berdecak sebal.
Kafa langsung menoyor kepala Rio sampai cowok itu meringis kecil.
"Gue susul deh ke toilet."timpal Zea.
"Bener tuh Ze, dari pada si bapak satu ini gak uring uringan gak jelas."kata Dinda yang menimpali ucapan Zea.
Baru ingin bangkit tapi mata Varel melihat sosok gadis cantik yang berjalan ke arahnya sambil menunduk.
"Lah,itu si Vira,kan gue bilang apa sabar bro."kata Varel yang menunjuk ke arah gadis itu.
Davira pun sudah sampai di dekat mereka,lalu gadis itu kembali duduk di samping Dava yang sudah memasang wajah Kawatir-nya.
"Ada apa si ?"tanya gadis itu.
"Itu loh,si tuan muda Dava elo ketoilet Ajah gelisah,apa lagi di Tingal nikah sama orang lain."celoteh Rio tanpa beban yang membuat mereka tertawa pelan sampai Kafa Menabok Lengan Rio ,berbeda dengan Fatir yang menatapnya tidak suka.
Davira mengerutkan dahinya lalu menatap sahabatnya itu."Lo kuwatirin gue Dav ?"tanya Davira.
Hening.!
"Yah,Elah gue kan ke toilet doang Elah,takut banget ya kehilangan gue."ledek Davira entah kenapa pipi Dava menjadi panas dan mulai memerah,ke—lima temannya sudah menahan tawa berbeda dengan Fatir cowok itu membuang wajahnya ke sembarang agar tidak menatap mereka.
"Eng—Engak ya,Gue cuman parno pas kejadian di perkemahan.!"elak cowok itu,tapi masuk akal juga si.
"Lah,iya anjir gue baru engeh...tapi gue masih penasaran sama tuh orang deh,motif nya apa sama Lo Vir."timpal Varel yang juga penasaran siapa yang menguncikan Davira di toilet.
"Mulai sekarang,elo gak boleh sendiri vir."kata Zea yang di setujui oleh mereka semuah.
"Apa si,gue udah gak papah kali,lagian udah lewat,lebay lo pada."
"Tetep Ajah,Vir buat jaga jaga Ajah,bisa Ajah tuh orang bakalan lebih nekat."timpal Fatir.
"Intinya elo harus hati hati Vir."kata Kafa.
Gadis itu Memanguk dengan mata sedikit berkaca kaca."Iya iya,thanks ya kalian peduli sama gue."jawab Davira tersenyum kepada mereka semuah.
"You're welcome, we're friends."jawab mereka serempak sambil membalas senyum Davira.
"Mulai hari Senin gue yang jemput Anter Lo pulang."kata Dava yang tiba tiba mengucapakan itu,sebenernya cowok itu tidak mau ambil resiko lagi.
"Ga—"belum selesai menyelesaikan ucapan Davira,Rio memotong terlebih dulu.
"Bener tuh,kata Dava keselamatan elo lebih penting Vir."potong Rio yang di Anguki oleh mereka.
Sedangkan Fatir membuang nafasnya kasar.
__ADS_1
***
Davira dan ke—enam temannya sudah berpisah di Caffe,gadis itu tidak di antar oleh Fatir karena cowok itu lebih memilih mengalah dari pada harus bertengkar dengan temannya,Dan Dava pun yang mengantar Davira pulang.
Pukul sudah menunjukan jam 21:00,
Di sepanjang jalan pun gadis itu tidak bicara sama sekali,sampai Dava mengajak bicara pun tidak ada jawaban dari Davira.
"Vir,elo dengerin gue ngomong gak si ?"tanya cowok itu yang berhentikan motornya di pinggir jalan,lalu cowok itu menoleh kebelakang tau taunya Dava melihat gadis itu sudah terlelap kan.
Kan jadi Dava Gemas.
"Ya ampun nih,anak pantesan gue dari tadi ajak ngomong gak ada jawaban,tau taunya tidur."sambungnya yang kemudian terkekeh.
Dava menarik lengan gadis itu agar bisa di genggam oleh cowok itu,lalu menaru kepala Davira di punggungnya,lalu melajukan kembali motornya.
Sekitar beberapa lama pun Ahkirnya motor milik Dava sampai di depan rumah Davira lalu cowok itu mematikan mesin motornya dan menoleh ke belakang di mana ada Davira yang masih terlelap tidur,cowok itu tidak tega untuk membangunkan gadis itu Dava pun langsung mengendong tubuh Davira agar bisa di bawa masuk kedalam rumahnya.
Ting....Tong..
Ting...Tong...
Bel rumah Davira di tekan oleh Dava,tidak butuh waktu lama pintu pun langsung di buka.
"Dava,ayok masuk nak,kok bisa Vira sama kamu."ucap mama Dahlia Dava pun masuk kedalam,soalnya tadi yang menjemput putrinya itu bukan lah Dava tapi Fatir.
"Tadi ketemu di Caffe Tan,aku antar Vira ke kamarnya dulu ya Tan."jawab cowok itu,lalu Dava seraya meminta izin kepada mama dari sahabatnya itu agar bisa menaru tubuh Davira yang sedang tertidur itu di kamarnya.
Mama Dahlia pun Memanguk."iya udah sayang,hati hati ya."
Dava mengelus elus pipi Davira dengan lembut dan tersenyum.
"Tidur yang nyenyak Future wife."Guma Dava lalu cowok itu mencium puncak rambut Davira dengan lembut.
Cup.!
"Gue pulang dulu."sambungnya yang beranjak keluar dari dalam kamar Davira.
Cowok itu menuruni anak tangga dan menghampiri mama dari sahabatnya itu ingin berniat pamit pulang.
"Tan,Dava pamit pulang ya."ucap Dava yang mencium punggung mama Dahlia.
Dahlia pun memanguk."makasih ya Dava udah antar Vira pulang,pasti Vira berat ya."
"Iya sama sama kok Tan,emang berat si Tan tapi kasian tar di culik om om lagi."gurau Dava mama Dahlia pun langsung Terkekeh.
"Kamu ada ada ajah,hati hati ya udah malam,salam buat kakek kamu ya sayang."
"Iya Tan."
**
Davira, Zea, Dan Dinda keluar dari dalam perpustakaan,sambil membawa buku di Tanggannya masing masing,berjalan dengan tenang di koridor SMA Lentera Bangsa.
Davira membaca buku,Tampa Davira sadari dia sudah berada di tengah tengah lapangan,sangking fokus dengan membaca bukunya,sedangkan dua temannya mencari keberadaan dirinya.
"VIRA...AWAS."
__ADS_1
BRHAK.
bola berasil mendarat di kepala gadis itu,kedua temannya pun sudah menutupi Matannya,sedangkan di lapangan sudah Hebo.
Tubuh Davira agak oleng dan bukunya pun terjatuh begitu Sajah,terasa pusing di bagian kepalannya gadis itu pun langsung memegangi kepalanya yang habis kena bola,pandangannya pun menjadi kabur tidak lama tubuh Davira pun ambruk kelantai membuat semuah yang ada di lapangan pun tersentak dan membulatkan matannya.
"VIRA....!"Teriak Alvin dari pinggir lapangan,lalu berlari cepat menghampiri gadis itu.
"Vira."pekik Fatir yang juga ikutan panik lalu berlari ke arah Davira.
Tapi Fatir malah terkejut ketika tubuhnya di dorong kasar oleh Dava,lalu cowok itu langsung meraih kepala Davira yang tidak sadarkan diri.
"Vir hey...bangun."Pangil Dava yang menepuk nepuk pipi Davira dan dengan suara paniknya yang memandang wajah gadis itu tidak sadarkan diri.
"Vir..ya ampun Bestie gue."menolong Dinda cemas.
"Dav,mending Lo bawa ke UKS deh."usul Zea,cowok itu pun langsung mengendong tubuh Davira yang tidak sadarkan diri ke arah UKS,dan di ekor oleh teman temannya.
Tidak lama dokter pun keluar dan Dava buru buru masuk Karena sangking paniknya yang di ekor oleh teman temannya.
Dava duduk di pinggir di manah tubuh Davira terletak sambil memegangi kepalanya yang di lihat oleh teman temannya kelihatan banget Kaloh Dava Sanggat sayang kepada Davira.
Alvin membuang nafas,tapi cowok itu masih berada di dalam UKS Karena masih penasaran dengan kondisi Davira.
Perlahan kelopak mata Davira pun membuka.
"Vira,ada yang sakit apa yang sakit gue pangilin dokter ya."tanya Dava yang panik,Davira pun terkekeh pelan begitu juga dengan Rio,Dinda,Zea,Varel,dan juga Kafa yang menahan tawa.
"Apa si,gue gak papah kali."jawab gadis itu dengan suara seraknya.
"Sorry ya Vir,gara gara gue elo kena bola."ucap Varel yang merasa bersalah.
"Elo gimana si yank,untung si Vira gak geger otak."maki Dinda cowok itu menunduk.
"Kalian kok jadi berantem,gue gak papah kok serius gue cuman sock."jawab Davira sambil tersenyum kepada mereka agar mereka tidak merasa bersalah.
Bel pun berbunyi mereka pun pamit untuk masuk kelas.
"Dav,Vir kita mamit ya."kata Zea.
Davira dan Dava Memanguk.
"Izinin gue ya Ze."kata Dava yang di angguki oleh Zea.
Ahkirnya mereka keluar dan masuk kedalam kelasnya masing masing,dan Tingal mereka berdua di dalam UKS.
"Lo kenapa selalu bikin gue cemas si Vir."kata cowok itu sambil menunduk.
"Maaf."jawabnya.
"Jangan bikin gue kuwatir lagi Vi,gue bakalan bersalah banget sama diri gue sendiri."
"Jangan ngomong gitu."
"Gue sayang banget sama Lo Vir,jadi jangan bikin gue cemas."kata cowok itu sambil mengusap usap telapak tangan gadis itu lalu menciumnya.
***
__ADS_1