Prahara Pernikahan

Prahara Pernikahan
BAB 1 Wasiat


__ADS_3

Rumah bordil milik pak Lessi yang biasanya ramai pengunjung, sudah beberapa minggu ini nampak sepi. Tidak ada aktivitas apapun disana.


" Ustadz kepengurusan gedung ini kami serahkan sepenuhnya kepada ustadz. Kami berharap gedung ini dapat bermanfaat untuk orang banyak khususnya untuk ibadah." Pak Lessi menyerahkan kunci dan surat-surat gedung kepada ustadz Fatoni.


" Insya Allah saya akan melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya. "


" Terimakasih ustad. Saya dan istri saya merasa lebih tenang dan siap apabila malaikat menjemput kami menghadap sang khalik." pak Lessi dan istrinya menunduk, setitik air mata mengalir dari matanya.


" Selain itu, kami ingin menitipkan anak kami Eva di pondok miliknya ustadz Fatoni. Apakah ustadz mengizinkan dan menerima anak kami.? "


Lama ustadz Fatoni terdiam mendengar permintaan pak Lesi.


" Sebaiknya bapak dan ibu membicarakan terlebih dahulu dengan Eva. Apabila Eva bersedia, maka akan menerima Eva sebagai santri. "


" Tapi ustadz, Eva adalah anak kami satu-satunya. Selama ini kami mendidiknya dengan uang haram. Malam ini kami akan membicarakannya bersama Eva. Mohon bantuan do'anya agar Eva bisa menerima keputusan kami ini. "


" Insya Allah pak. Saya mohon pamit, karena saya ada pertemuan di pondok. "


Pak Lesi dan istrinya mengantar Ustadz Fatoni.


***


Malam ini, Pak Lesi dan istrinya memanggil Eva. Mereka sudah tidak sabar untuk menyampaikan keinginan mereka kepada putri tunggalnya.


" Ada masalah apa sih pi mi, Eva mau istirahat, ngantuk."

__ADS_1


" Sebelumnya papi dan mami minta maaf apabila apa yang kami sampaikan nanti membuat kamu marah. Nak, papi dan mami ingin kamu melanjutkan pendidikanmu di pesantren milik ustadz Fatoni."


" Maksudnya, Eva dipaksa masuk pesantren gitu ya pi ?" tanya Eva.


" Ya nak."


" Eva butuh waktu untuk memikirkannya pi. Sekarang aku butuh istirahat dan tidur. "


" Baiklah, mami dan papi menunggu jawabanmu besok malam ya nak. "


Eva beranjak dari tempat duduknya tanpa menjawab pertanyaan mami dan papinya. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, ia langsung berbaring dan tertidur.


****


" Pi, apa kita tidak terlalu memaksa Eva. Mami takut eva marah sama kita.


" Sebaiknya kita jujur saja sama Eva bahwa kita mengidap HIV dan kemungkinan usia kita tidak lama lagi."


" Jujur itu memang indah mi. Tapi kadang menyakitkan bagi orang-orang yang tidak mau menerimanya. Apakah Eva bisa menerima kita ? Saat ini, yang terbaik adalah menulis surat wasiat dan kita titipkan ke ustadz Fatoni untuk diserahkan ke Eva setelah kita tiada." Pak Lesi diam dan menarik nafas dengan berat.


" Mami merasa sangat berdosa pi. Semoga Allah menerima taubat kita. Aamiin."


***


POV Eva

__ADS_1


" Mengapa mami dan papi sangat menginginkan aku ke pesantren? Padahal selama ini, papi sama mami selalu menentang kemauanku untuk belajar agama di pesantren. " Eva tak bisa tidur, ia membolak balikkan badannya.


" Jangankan mau mondok, melihat aku shalat saja mereka sudah marah-marah. Aku ingat dulu bibi Darsih ART ku dimarah-marah karena mengajakku mengaji di musholla."


" Aku harus mencari tahu info alasan mami dan papi yang sebenarnya mau mondokin aku. Hmmm... Aku harus mendekati dan menempel manis dengan ustadz Fatoni itu. Aku yakin ustadz ganteng itu tahu apa yang membuat mami dan papi berubah seperti ini." Eva terus berpikir sampai akhirnya ia lelah dan terlelap.


" Kalau aku mondok, bagaimana dengan Edward. Hubungan ku dan Edward sudah berjalan lima tahun. Bahkan kami sebentar lagi bertunangan


" Apa yang harus kulakukan?Hmmm lebih baik aku telpon Edward ajalah. Lagian aku kangen sama dia " Eva memutuskan menghubungi Edward.


" Halo... " terdengar suara Edward menjawab telpon dengan suara yang berat sepert bangun tidur.


" Sudah tidur ya Yang. Aku kangen dan suntuk nih." tanya Eva manja.


" Hmmmm... Udah malem ngapain sih nelpon. Aku ngantuk banget nih. Besok aja ya telponnya."


Edward segera menutup telponnnya.


***


Sementara itu, pak Lesi dan istrinya telah menyelesaikan surat wasiatnya.


Setelah dirasa sudah cukup, mereka pun menandatangani surat wasiat tersebut dan menyimpannya di brankas.


Tak lama kemudian mereka pun tertidur. Seutas senyum hadir diwajah mereka.

__ADS_1


Entah apalah wasiat yang ditulis oleh kedua orangtua Eva semua akan dibacakan setelah kedua orangtuanya tiada.


__ADS_2