Prahara Pernikahan

Prahara Pernikahan
BAB 5 Keputusan Eva


__ADS_3

" Ev, sudah selesai belum makannya. " Papi menepuk bahu Eva yang makan seperti orang kelaparan.


" Astaga papi, huk huk huk, bikin kaget. " Eva terbatuk-batuk karena terkejut. Mami memberikan minuman dan menepuk bahunya.


" Kamu makan berdo'a gag nak, makan apa kesurupan. Papi ngeri liatnya. "


" Biasa aja kali, Eva baca Bismillah pi. Nih perut emang laperrr. "


" Ya udah terusin dulu makannya. Setelah itu kita pulang ke rumah oma."


" Lah kok pulang ke rumah oma sih mi. Ev ngantuk dan lelah mi, kalo ke rumah oma pasti Ev gag bisa istirahat. Apalagi sekarang ini topik hotnya tentang nikah. Duuuuuh..... Gag mau ah. Pulang ke rumah saja." Eva merasa malas ke rumah oma.


" Gag boleh begitu Ev, nanti kamu di coret oma dari daftar ahli waris bisa bahaya. Apa kamu sudah siap kehilangan fasilitas dari oma?" Tanya mami.


" Belum siap sih. 😁😁😁."


" Kalau gag siap, makanya gag usah protes. "


" Oke oke, Ev nurut manut deh. Tapi kalau oma nyuruh cepet-cepet nikah gimana mi pi, Ev masih mau nyelesaiin kuliah dulu."


" Emang ada larangan orang sudah nikah gag boleh kuliah.? Gag ada kan. Orang yang hamil saja ada yang kuliah."


" Tuh kan mami kena virusnya oma nih."


" Ev, kuliah sudah nikah itu malah asyik. Jadi kamu sudah ada yang jagain, ada yang antar jemput, tidur ada yang nemenin, dapet fasilitas itimewa dari oma. Kan enak toh." Papi memulai misinya.


" Hmmm bener juga sih. Tapi siapa yang mau Ev nikahin. Apa Ev harus nikahin kedua cucu ustadz sekaligus. Diiiiiih ngerinya piiii. "


" Otak kamu itu ya... konslet. Sekarang ayo kita ke rumah oma. No debat. Ok." Mami yang tau Eva akan adu argument segera memberikan ultimatum ke Eva.


" Oke big bos. Apalah daya seorang bocah kecil ini. 😄😄"


Mereka pun meninggalkan lokasi kampus dan menuju ke rumah oma.


*********


Di rumah oma.


Oma nampak gelisah, ia mondar mandir ke sana kemari. Sesekali ia melihat ke arah pintu.


" Come on oma, jangan mondar mandir seperti itu. Aku pusing lihat nya. " Opa ynag sedari tadi diam menegur oma.

__ADS_1


" Aku baru bisa tenang kalau cucu ku sudah ada disini bersama kita."


" Dari pada mondar mandir, lebih baik kita duduk dan berdo'a. Atau kita ke kamar saja. 😘." Opa mencium pipi oma lembut. Semua keluarga yang melihat tersenyum melihat adegan yang dilakukan olah oma dan opa.


Oma duduk disebelah opa. Opa memeluk bahu oma, agar oma lebih tenang.


Suara mobil memasuki halaman. Oma langsung berdiri menuju pintu.


" Alhamdulillah. "


Eva dan kedua orang tuanya disambut oleh pandangan tajam oma.


" Kenapa lama sekali."


" Maaf kan kami oma, jalanan macet dan cucu oma yang banyak maunya. Mampir sana mampir sini, yang dihampiri semuanya toka makanan. Jadi salahkan cucu nya saja. " Jawab mami membela diri.


Oma tidak memperdulikan omingan mami, ia memeluk cucunya.


" Segera mandi ya Ev, oma dan yang lainnya menunggu mu. Jangan berlama-lama ya cucu oma yang cantik." Oma mengantar Eva ke kamarnya, dan ia duduk di atas kasur Eva.


" Oma mau menunggu disini?" tanya Eva, ia merasa heran karena oma malah tiduran di kasur Eva.


" Iya lah. Kamu kalau gag ditungguin bakalan LELET. 😀 Cepet.. Sana mandi. "


" kenapa sih orang di rumah ini jadi aneh-aneh semua ya."


Eva segera mandi. Suara telpon berdering, oma memperhatikan handphone Eva yang berdering membuat berisik. Oma menjawab telpon tersebut.


" Hello honey. "


" Siapa ini?"


" Eiiit.. Kamu yang siapa. Eva mana?"


" Eva lagi mandi." jawab oma singkat.


" Oooh... Bilangin ke Eva, ya bik


Edward menelpon. Nanti saya telpon lagi." Edward menutup telponnya.


" Enak saja panggil aku bibi. Dasar bocah gemblung. "

__ADS_1


Oma berbaring di kasur Eva.


" Ev, kamu jangan terlalu lama. Kasihan sama yang lain nungguin kamu." Teriak oma.


" Iya oma, sebentar lagi ya. "


Beberapa menit kemudian Eva keluar dari kamar mandi. Ia sudah berpakaian rapi dan wangi.


" Oma masih disini?" Tanya Diba.


" Oma kangen dengan kamar ini."


" Ayo kita turun kasihan mereka sudah lama menunggu."


Oma dan Diba berjalan beriringan.


" Oma ini sudah malam, apa pembicaraannya ditunda beaok saja?" Papi mencoba bernegosiasi.


" Tidak, semua harus diselesaikan malam ini juga. Sebelum kamu di karantina semua harus sudah selesai." kata oma.


" Karantina? ... Emang ngapain mami sama papi di karantina oma?" tanya Eva.


" Maksud oma ke luar negeri, sayang. Maklum oma sudah tua jadi suka salah ucap😄😄."


" Oma ... Oma.. Makanya jangan suka marah."


" Ev, oma bersama keluarga besar kita sudah sepakat bahwa pernikahan mu akan dipercepat. Tepatnya bulan depan, berbarengan dengan hari pernikahan oma opa,dan mami papi kamu." jelas oma.


" Ev, nurut saja deh. " jawab Eva pendek.


" Maksudnya kamu mau dan menerima keputusan ini?" Tanya mami tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Iyaaaaa mami. Mau nolak juga gag bisa. Ev nerima dengan lapang dada dan hati. " Eva menjawab santai sambil memakan cemilan yang ada di hadapannya.


" Rasanya mustahil kalau kamu menerima keputusan ini dengan cepat. Mami curiga." Mami tetap tak percaya dengan apa yang ia dengar. Karena seorang Eva biasanya tak semudah itu mengambil keputusan dan menyetujui sesuatu.


" Sudahlah mi, gag usah mikir macem-macem. Eva mau menikah secepatnya, bila perlu minggu depan atau besok juga gag apa. 😀" Eva kembali menjawab dengan santai membuat semuanya bingung.


" Baiklah. Oma percaya pada mu cucu ku sayang. " Oma memeluk Eva dengan penuh sayang.


" Malam ini oma bisa tidur nyenyak. Kamu harus segera tidur cucuku. Mulai besok kamu akan diantar jemput sama ajudan oma. Sekarang tidurlah nak, semoga mimpi indah. " Oma memeluk dan mengecup kening Eva.

__ADS_1


Eva beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2