
Kini sore telah menjelang, para karyawan bersiap untuk pulang. Banyak dari mereka berhamburan menuju ke parkiran. Sore hari adalah waktu dimana para buruh/karyawan pulang dari kerja sehingga jalanan dalam keadaan macet super macet.
"Elisa." panggil Balla.
"Iya bang, ada apa?" tanya Elisa cuek.
"Nanti malam kita jalan-jalan mau ya?!" ajak Balla.
"Hem, iya deh bang, tapi abang jemput ya!" ucap Elisa.
"Hhm gimana ya? Gimana kalau aku tunggu di tempat biasa aja ya elis. Kamu tahu kan sayang aku malas jumpa sama emakmu," ucap Balla berusaha menghindar.
"Oh ya udahlah."
Elisa merasa kecewa, mereka sudah berpacaran hampir 1 tahun. Tapi sampai saat ini Balla tidak mau menjumpai emaknya.
Jika di ajak jalan-jalan selalu di jemput pinggir jalan, dengan berbagai alasannya.
"Kalau gitu Elisa pulang dulu ya bang, abang mau kemana? Boleh kagak Elisa nebeng sampai depan gang doang?" pinta Elisa.
"Waduh gimana ya yank, soalnya aku mau ke rumah kakakku, gimana ini?!" ucap Balla mencari alasan.
"Baiklah, kalau gitu aku naik angkot aja." ucap Elisa malas karena dia sudah tahu apa jawaban dari Balla.
Elisa bergegas meninggalkan Balla yang masih berdiri disana.
.
.
.
__ADS_1
Malam hari pun tiba, sesuai dengan janjinya tadi sore dengan Balla, kini Elisa sudah siap dengan penampilannya.
"Kamu mau kemana Elisa?" tanya buk Romlah emaknya Elisa.
"Biasa mak mau jalan-jalan sama bang Balla." jawab Elisa dengan jujur.
"Mana dia? Setiap mau keluar kagak pernah mau ke sini, dia laki apa bukan sih? Emak gak suka dia begitu, kamu kok mau sih sama dia?! Yang notabenya gak ada tanggung jawab sedikit pun," omel emak Romlah.
"Udah ya mak, Elisa pergi dulu." ucap Elisa sambil mencium tangan emaknya.
Baru saja Elisa sampai di depan pagar, adik Elisa langsung berlari.
"Kak kakak kakak," panggil Mentari ngos-ngosan.
"Ada apa dek, kakak udah telat ni." ucap Elisa cepat.
"Itu emak pingsan." ucap Mentari.
Elisa masuk ke dalam rumah dan kaget melihat emaknya tergolek tak berdaya.
Dengan panik Elisa membawa emaknya ke RS terdekat dengan naik motor milik tetangganya. Posisi emaknya diapit oleh Elisa dan adiknya Mentari.
Sesampainya di RS tepatnya di depan UGD Elisa berteriak dengan kencang.
"Dokter, dokter tolong emak saya dok tolong dok!" mohon Elisa dengan badan bergetar.
Dokter menghampiri Elisa dan mengecek kondisi emaknya. Setelah di cek emaknya langsung di bawa ke ranjang di ruang UGD tersebut.
Elisa terus menangis. Dalam hati Elisa merasa sedih, sejak ayahnya meninggalkan dirinya, adeknya dan emaknya, tak pernah sekalipun ayahnya mendatangi mereka. Itu disebabkan ayahnya sudah bahagia dengan istri barunya.
Sejam lamanya emaknya Elisa di periksa dan dokterpun keluar. Elisa yang terus mondar-mandir merasa kaget dan Elisa langsung mendekat pada dokter.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan emak saya dok?" tanya Elisa khawatir.
"Setelah saya cek, ternyata ibunya punya penyakit jantung. Terjadi pembengkakan pada jantungnya yang di picu oleh penyakit darah tinggi yang ibunya derita. Jadi saya sarankan, ibunya harus di rawat inap ya dek. Karena kita harus mengobservasi ibunya sehingga kita tahu apa penanganan yang tepat untuk ibunya. Untuk itu silahkan ke bagian pendaftaran untuk mendaftarkan ibunya, nanti di bantu oleh perawat ya. Saya mohon pamit dulu ada pasien lain yang menunggu." setelah berkata demikian, dokter berlalu untuk mengecek pasien lainnya.
Hari itu juga emak Elisa langsung di pindahkan ke ruang biasa, karena mereka bukan orang kaya dan hanya mampu membayar kamar kelas III rumah sakit tersebut.
Setelah emaknya di pindahkan, Elisa baru ingat bahwa dia ada janji dengan pacarnya.
Elisa segera menelpon Balla.Saat panggilan pertama tidak di angkat, kedua juga tidak dia angkat. Pada akhirnya yang ketiga baru di angkat.
"Bang, maaf Elisa ga bisa datang, emak masuk rumah sakit." ucap Elisa dengan sedih berharap agar cowoknya mau ke sini.
"Oh ya udah kalau gitu kamu jaga emak mu. Aku mau tidur aja ya udah ngantuk!" ucap Balla dengan cuek.
Elisa yang mendengar ucapan pacarnya sungguh merasa sakit. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. karena terlalu cinta pada Balla.
>>>>>>>>>>>>>>>>
Pagi hari menjelang, emak Elisa telah sadar namun merasa tak enak perasaan.
"Elisa." panggil emak Romlah dengan lemah.
"Alhamdulillah emak sudah sadar, iya emak ini Elisa. Emak mau apa?!" ucap Elisa.
"Nak janji sama emak, jika emak tiada kamu harus jaga adikmu Mentari. Dan coba kamu panggil pacar mu mak mau bicara." ucap emak dengan kondisi yang lemah.
"Emak kenapa ngomong begitu? Elis yakin emak pasti sembuh." ucap Elisa dengan air mata yang mengembang.
"Tidak nak panggil pacarmu! Emak mau melihatnya." ucap emak Romlah lagi.
"Sebentar emak." Elisa langsung menelpon pacarnya. Jangankan di angkat, ini nomernya aktif juga gak. Berapa kali Elisa mencoba namun sama sekali tidak ada jawaban.
__ADS_1