
Pagi telah menjelang, Mentari sibuk dengan baju-baju yang masih menumpuk di atas sofa.
"Kakak baju ini di lipatkan?!" teriak Mentari.
"Iya tolong ya, kakak mau masak. Takut bang Fahmi datang tapi masakan belum siap." ucap Elisa yang ikut berteriak dikit.
"Oohhh okay okayyyyyy." balas Mentari.
Elisa memasak sambil memutar musik yang dari handphone disambungkan ke loudspeaker, hingga bunyi musik di dalam apartemen itu menggema dan sedikit bising.
Mentari yang mendengar lagu yang di putar oleh Elisa itu ikut menyanyi dan apa lagi dengan perpaduan dangdut dan koplo membuat Elisa di dapur berjoget ria dengan goyang patah-patah ala Anisa Bahar seakan dirinya penyanyi di atas panggung.
Karena saking asiknya menari dan menyanyi, Elisa maupun Mentari tidak menyadari bahwa Fahmi dan juga Danish sudah datang dan berdiri di belakang mereka.
Tiba-tiba Mentari naik ke atas meja kecil sembari menyayi dengan tangan keatas sambil memegang sebuah CD dan BH punya Elisa yang berwarna ungu dengan memutar-mutarnya di atas seakan itu adalah sebuah selendang.
🎶Hanya dia
(Dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, hanya dia)
🎶Hanya dia yang ada di antara jantung hati. Tempat bermanja, tempatnya rindu
Tempat curahan hati yang damai.🎶
Namun tiba-tiba kolor segi 3 itu terlepas dari tangan Mentari dan terbang hingga tepat menyangkut di hidung mancung Fahmi.
Mentari reflek berbalik untuk meraih CD tersebut sambil berteriak.
__ADS_1
Dan karena teriakan Mentari, Elisa juga ikut berbalik hingga terlihat jelas CD nya kini berada tepat di mukanya Fahmi.
Fahmi kaget, sedangkan Danish langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat CD Elisa yang berwarna ungu nemplok di mukanya Fahmi.
Antara malu dan mau marah menjadi satu, Elisa tak berdaya. Niat hati ingin marah karena benda keramat miliknya kini di pegang Fahmi. Tapi malu karena pembukus bolu kukusnya ada di tangan sang boss.
Fahmi sebenarnya malu juga, tapi tetap mempertahankan mukanya yang sok tegas.
Dia memperhatikan di atas meja ada BH yang bisa ditebak ukurannya sekitar 43B dan entah kenapa dia kok tiba-tiba memiliki perasaan yang aneh.
Elisa yang menyadari itu buru-buru mengambil bajunya, dan mendekat ke arah Fahmi.
"Bang minta itunya Elis." kata Elisa.
"Apa!" ujar Fahmi merasa bingung.
"Oh ini simpan simpang 3 mu dengan baik, ini besok warnanya yang kalem dikit masak warna janda." ucap Fahmi keceplosan.
Dan tiba-tiba,
"astaghfirullah." ucap Fahmi.
Elisa malu setengah mati, sementara si Tari entah dia kabur kemana bagai di telan bumi mungkin takut di amuk kakaknya.
Danis masih setia dengan tawanya hingga matanya berair saking tak tahan melihat CD terbang dan mendengar istilah simpang 3.
"Apa gak ada kata lain gitu selain simpang 3? Dan aneh nya kenapa bosnya gak suka warna ungu, malah minta warna kalem." monolog Elisa dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba Danish mengerti. Seketika dia memesan CD buat Elisa yang warnanya kalem melalui aplikasi yang ada di handphonenya. Rasanya ucapan bosnya barusan seperti perintah bagi Danish.
...----------------...
Elisa buru-buru masuk kamar. Di balik pintu dia merasakan malu yang luar biasa, namun dia menutupinya dengan kekonyolan. Elisa takut nanti Fahmi marah.
Sedangkan di dapur Fahmi melanjutkan apa yang di masak oleh Elisa. Karena dia tahu Elisa pasti malu dan enggan bertemu dengannya. Namun pikirannya salah, wanita itu kini sudah ada di belakangnya. Dan lebih anehnya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Elisa." panggi Fahmi.
"Iya bang, kenapa?! sahut Elisa.
"Nanti sore kita ke mall ya bawa Tari juga!" ajak Fahmi.
"Iya bang mau beli sayur ya bang?" tanya Elisa yang kepo mau ngapain di ajak ke mall.
"Iya kita belanja buat kebutuhan dapur." jawab Fahmi cepat.
Fahmi lantas menaruh nasi goreng yang barusan elisa masak dan langsung memakannya. Aneh bukan Elisa kerja tapi Fahmi tidak menyuruhnya melayani dia.
Karena sebetulnya bagi Fahmi ada yang masak buat dirinya aja Fahmi sudah bersyukur.
Pada sore harinya, Elisa, Mentari, Fahmi beserta Danish sudah berada di mall. Mall terbesar yang ada di kota tersebut. Fahmi langsung menuju tempat baju anak anak.
"Elisa ayo kita cari baju buat adikmu. Kalau bisa yang menutupi auratnya ya! Bagaimanapun dia wanita yang harus di tutup dan di jaga." ucap Fahmi cepat.
"Dan juga buat kamu! Cari baju gamis atau rok pokoknya yang menutup dirimu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Agar kamu jauh dari zina pandangan mata para laki-laki. Aku tidak memaksakanmu berhijab atau menutup aurat. Setidaknya aku mengingatkan kamu karena kita sesama muslim dan aku laki-laki kau perempuan. Karena perempuan wajib di jaga dan di hormati. Apa lagi saat ini kamu tanggung jawabku." ucap Fahmi lagi kali ini dengan panjang kali lebar.
__ADS_1
Elisa hanya menganggukkan kepalanya. Dia senang ada yang perhatian dengan dirinya dan apa yang dia pakai. Elisa tidak marah karena perkata Fahmi barusan adalah cara Fahmi menjaga dia dari silaunya dunia fana ini.