Prodigy

Prodigy
Arrival


__ADS_3

Pelabuhan Jurden, Arung.


Selasa 24 februari 923.


Suasana di pelabuhan Jurden yang terletak di negara Arung tepatnya di kota Mardos siang hari ini tampak sangat ramai dipadati oleh orang-orang yang sedang menunggu keluarga ataupun sahabat mereka turun dari sebuah kapal besar. Sebuah kapal besar bernama "Columbus XIV" baru saja berlabuh setelah berlayar selama 5 hari 4 malam dari negara Stugo.


Satu-persatu orang dari dalam kapal keluar dan segera menemui keluarga dan sahabat mereka di pelabuhan. Sekitar 30 menit kemudian keluarlah seorang anak dari kapal.


Sambil berlari dan tersenyum lebar ia berkata, "Perjalanan yang mantap ya kan??, ya kaann??!!" Ujarnya sambil menunjukkan ibu jarinya ke orang-orang yang tak ia kenal.


Terlihat senyuman lebar di wajahnya, dan sambil tersenyum ia berjalan menuju ke arah toko dekat pelabuhan, sesampainya di depan toko anak itu melihat seorang pria paruh baya, lalu ia mendatanginya dan menyapanya,


"Halo halo halo"


"Ada apa?" sahut pria itu yang bingung dengan cara menyapa yang digunakan anak itu.


Anak itu mengeluarkan kertas lusuh dari sakunya dan menunjukkan suatu alamat yang tertulis di atasnya untuk ditanyakan ke pria tersebut, "Paman tau alamat ini tidak?"


"Hah apa ini? apa ini tidak salah tulis? disini tertulis angka semua, tidak ada nama daerah dan tidak ada nama jalannya." jawab pria itu dengan nada heran.


"Coba saja kau masuk, tanyakanlah pada orang yang ada di dalam." timpal pria itu sambil tangannya menunjuk ke arah toko.


Sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya ke arah toko anak itu berkata, "Baiklah, terima kasih!!"


"Hai selamat siang dan selamat da-!" sapa seorang anak perempuan seumurannya dari balik meja kasir toko.


"Oh halo nona, aku mau tanya apa kau tau alamat ini?" tanya anak itu menyela anak perempuan tadi sambil menunjukkan kertas lusuhnya.

__ADS_1


"Hmm, alamat apa ini? apa ini sebuah koordinat?" ujar anak perempuan itu dengan nada heran.


"Huh? kordi-? apa?" tanya anak lelaki itu dengan nada heran.


"Koordinat, sebuah titik dimana titik vertikal dan horizontal bertemu di suatu peta. Mungkin orang yang memberimu alamat ini tidak mengetahui nama lengkap alamat ini dan hanya ingat titik koordinat alamat ini."


"Sebentar akan ku tanyakan ke abangku" "Abang apa kau tau alamat ini?" ucap anak perempuan itu sambil menghampiri kakaknya yang sedang membersihkan meja.


"Apa ini? alamat? koordinat?"


"54881?, angka ini terlalu sedikit dan simpel, jadi tidak mungkin jika angka ini sebuah titik koordinat."


"Mungkin saja ini sebuah kode? atau mungkin ini hanya potongan nomor telefon?" ujar abang anak perempuan tadi.


"Ah iya mungkin saja!, hei apa kau tidak salah tulis?" tanya anak perempuan itu.


"Haaaaahhh??" abang dan adik perempuannya terheran-heran.


Abang dari anak perempuan tersebut bertanya, "Memangnya dia siapa? apakah kau mengenal orang yang telah memberimu alamat ini?"


"Aku tidak mengenalnya, tapi yang pasti dia mengenalku, buktinya dia memberiku kertas itu." sahut si anak laki-laki itu dengan senyum percaya diri.


"Bukan begitu, yang ditakutkan orang itu sengaja memberimu sebuah alamat lalu kau akan diculik atau dieksploitasi atau bahkan kau akan dibunuh untuk diambil organmu, lalu organmu itu dijual ke pasar gelap" timpal si abang.


"Hah diculik? tidak apa-apa lagian aku kuat, aku pasti akan melawan orang-orang yang ingin berbuat jahat padaku"


"Akan tetapi, aku memiliki firasat jika orang yang menyuruhku datang ke alamat itu bukanlah orang yang jahat" ujar anak itu.

__ADS_1


Si abang pun memberi nasihat, "Namun ada baiknya jika kau sedikit berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada orang yang tidak kau kenali."


"Oh iya, asalmu dari mana? dengan siapa kau datang kesini?" tanyanya.


"Aku berasal dari Ravela, dan aku sendirian kesini." jawab anak laki-laki itu.


"Ravela? kau orang Arkanan atau Dorialis? sendirian? kau salah satu penumpang kapal besar yang baru sampai tadi siang bukan?" tanya si abang.


Ada 52 total suku yang pernah dan beberapa masih tinggal di Ravela. 24 suku di Ravela adalah suku yang ahli di dalam bercocok tanam dan berternak serta 11 suku ahli dalam siasat dan perang. 14 suku adalah pendatang yang datang melalui perdagangan dan penjajahan, dan sisanya 3 suku adalah suku yang hilang, setidaknya seperti itulah yang tercatat di dalam sejarah, dan kini hanya tersisa sekitar 12 suku di Ravela.


Orang-orang Dorialis adalah salah satu suku yang datang dan menetap di Ravela melalui jalur perdagangan, dan orang Arkanan adalah salah satu suku yang datang dan menetap di Ravela melalui jalur penjajahan.


Dengan tersenyum anak laki-laki itu menjawab, "Tak penting aku orang apa, iyaaapp betul sekali!!"


"Hei sobat, bukankah kau terlalu nekat berpergian sendiri sampai ke negeri ini? Aku sarankan kembalilah ke negerimu, kembalilah ke keluarga dan kerabatmu, mungkin saat ini mereka sedang cemas dan mencarimu, berhentilah mencari alamat yang tidak jelas ini." ujar si abang sambil mengembalikan kertas lusuh milik si anak laki-laki itu.


Dengan sedikit kecewa karena tidak mendapatkan pencerahan tentang alamat tersebut si anak laki-laki itu mengambil kertas lusuhnya kembali, lalu ia memutar balik badannya dan bergegas meninggalkan toko itu, ia tersenyum dan melambaikan tangannya seraya berkata, "Baiklah, terima kasih, aku pergi dulu!!"


Dari bayi sampai berumur 9 tahun si anak laki-laki itu dibesarkan di panti asuhan. Kebanyakan sahabat dari anak itu telah tewas akibat peperangan di Ravela, dan ia tidak pernah mengetahui siapa keluarganya.


Sudah hampir 250 tahun Ravela dijajah, dan disaat anak itu berusia 9 tahun peperangan pecah di desa Suvila, yakni desa dimana anak itu tinggal, dan panti asuhan tempat ia tinggal di tutup paksa untuk dijadikan sebagai rumah sakit darurat.


Berlanjut ke si anak laki-laki, setelah keluar dari toko tadi si anak laki-laki itu bingung sambil menggerutu "Sudah jauh-jauh aku kesini eh disuruh pulang, pulang ke mana?, seluruh bumi ini kan rumahku, hehe" ujarnya sambil meringis.


Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kota kecil dekat pelabuhan. Sesampainya di sebuah persimpangan kecil di kota tersebut ia mencium bau makanan yang sedap


Dia mengucap kata "Waaah bau ini! bau ini!" sampai ia tiba di depan kedai yang menjual masakan itu.

__ADS_1


__ADS_2