
"Bau ini!!!" teriak anak itu.
"Mau makan bakso? silahkan duduk anak muda!" ujar si pemilik kedai.
Dengan tersenyum anak itu berucap, "Berapa lama?"
Dengan nada heran si pemilik kedai menjawab, "Apanya? Ohh tenang saja, pasti kau sangat lapar ya, baiklah akan ku hidangkan semangkuk bakso extra dengan cepat!!"
Dengan sigap si pemilik kedai segera membawa dan menghidangkan semangkuk bakso di meja anak itu.
"Ini, silahkan dima-!"
"Wah wah wah, terima kasih, terima kasih paman!" timpal anak itu menyela si pemilik kedai untuk segera menyantap hidangan di depannya.
"Wah makan pelan-pelan anak muda, awas tersedak" ujar si pemilik kedai.
Dengan kondisi makanan yang masih berada di dalam mulutnya anak itu berkata, "ummm ummm, twenwang swajwa pwamwan"
Sambil memukul dadanya dengan telapak tangannya karena tersedak ia berkata, "Uhukk uhukk, umm ummm, uhukk"
"Oh tunggu tunggu! biar ku siapkan minuman!" si pemilik kedai bergegas menyiapkan dan menghidangkan minuman ke anak itu.
Setelah menghidangkan minuman si pemilik kedai langsung duduk di sebelah anak itu dan berkata, "Kau ini gila, sudah tau tersedak kok bisa bisanya masih nerusin mengunyah makanan"
Dengan mata berkaca-kaca dan masih dalam kondisi mengunyah, anak itu langsung menepuk punggung si pemilik kedai berkali-kali dan berkata, "Mwakanwan pamwan inwi uwenwak swekwali, dwan pamwan jwuga bwaik swekwali"
"Apa? Apa?" Ujar si pemilik kedai bingung dengan ucapan anak itu.
Si anak itu segera menghabiskan bakso dan menenggak minuman yang dihidangkan, lalu setelah habis makanan dan minuman yang dihidangkan, anak itu berkata, "Paman baik sekali, dan makanan ini enak sekaliii"
"Baik saatnya me-"
Si pemilik kedai menyela perkataan anak itu dan langsung memberikan kertas yang bertuliskan 'total 180 silo'
"150 silo untuk makanan dan 30 silo untuk minuman" ujar si pemilik kedai.
__ADS_1
Anak itu bingung dan berkata, "Bayar? dengan uang?"
"Iya, memangnya kau akan membayar dengan apa lagi kalau bukan dengan uang?" sahut si pemilik kedai.
"Hei hei, jangan bilang padaku kalau kau tidak memiliki uang untuk membayar" tambah si pemilik kedai dengan nada agak marah.
"Tapi aku hanya memiliki ini paman" ujar anak itu sambil memberikan isi kantongnya berupa kertas kecil usang yang berisikan alamat.
"Kan diawal tadi aku mau memberitahumu kalau aku akan membantu di kedaimu, dengan berkata berapa lama paman?"
"Yang kumaksud berapa lama, kira kira berapa jam aku akan kau suruh untuk bekerja di kedaimu ini paman"
"Namun paman malah menyelaku dan menyuruhku segera duduk, yaaaa aku sihhh....nurut aja" timpal anak itu dengan tampangnya yang polos.
Si pemilik kedai mengernyitkan dahinya mengambil serta memeriksa kertas yang ada di tangan anak itu dan berucap "Hadeehh, apa ini? tak berharga, tak bisa dijadikan uang"
"Anak ini benar-benar tidak memiliki uang sama sekali" gumam si pemilik kedai di dalam hati.
"Ya sudah cuci piring sana!, setelah itu lap yang bersih meja-meja ini!" dengan nada marah namun diselingi rasa iba.
Anak itu membantu si pemilik kedai untuk bersih-bersih di kedai baksonya sampai jam 5 sore. Ada sekitar 7 orang pelanggan di kedai saat itu, yang kemudian disusul dengan kedatangan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap.
"Pak!, seperti biasanya!" ujar pemuda itu.
"Oh kau Jaka!, duduklah! duduklah!" jawab si pemilik kedai.
Zakaria Al-Fatih atau yang biasa dipanggil Jaka, adalah seorang pemuda berumur 19 tahun yang baru-baru ini menguasai wilayah kecil dekat pelabuhan. Meminta uang keamanan diseluruh tempat bisnis dan dagang adalah pekerjaannya. Nama Jaka terkenal saat ia berhasil mengalahkan geng pemegang wilayah ini 'seorang diri', kemampuan bertarungnya cukup hebat untuk pemuda seumurannya.
"Hei nak kemarilah, karena mangkuk gelas dan meja sudah bersih semua, bantulah aku mengantarkan makanan ini ke pemuda yang baru datang itu" ujar si pemilik kedai ke anak laki-laki itu.
"Oke oke oke paman!" jawab si anak itu.
Sambil menunggu, pemuda bernama Jaka itu melihat ada kertas usang di mejanya dan mengambilnya, ia tak sengaja melihat isi kertas itu dan matanya langsung terbelalak dan ia pun segera menyembunyikan kertas itu di sakunya sambil matanya melihat di sekelilingnya.
"Sialan, siapa yang menulis dan dengan bodohnya menjatuhkan kode ini?!!" gumam si pemuda dalam hati.
__ADS_1
"Pak Wahyu! kemarilah!" ujar si Jaka.
Sambil sedikit gemetar dan dipenuhi rasa takut pemilik kedai itu mendatangi Jaka, "A-Apa ada yang bisa k-ku bantu?"
Sambil tangannya memberi kode untuk Pak Wahyu agar sedikit mendekat, Jaka berkata dengan suara yang pelan tapi dipenuhi amarah, "Sedikit mendekatlah!".
"A-apa a-pa??" sahut Pak Wahyu sambil memajukan langkahnya sedikit, dan mencondongkan badannya ke arah Jaka.
Dengan nada penuh amarah namun tetap pelan Jaka berkata, "Sampah siapa ini? kenapa ada disini? mengurangi nafsu makanku saja!" sambil menunjukkan kertas lusuh milik si anak laki-laki.
Sambil ketakutan Pak Wahyu menunjuk si anak laki-laki, "I-itu kertas milik anak itu".
"Sampah itu mengurangi nafsu makanmu kah Jaka? sini akan kubuang dan akan kumarahi anak laki-laki pemilik sampah ini!"
"Hey Pak Wahyu panggil saja anak itu kesini, aku sudah tak butuh makanan nafsu makanku hilang, bawakan saja uangku!." ujar Jaka dengan nada emosi.
"B-baik Jaka!" jawab Pak Wahyu.
"Nak nak cepat kesini kau!"
"Berikan uang ini, dan dia juga ada keperluan denganmu" ujar Pak Wahyu sambil menunjuk Jaka.
Tanpa basa basi si anak laki-laki itu langsung mengantar uang si Jaka "Okeeeeeeee"
Sesampainya di depan meja, dengan wajah riang si anak itu memberikan uang tadi ke Jaka, "Tuan, ini uangmu".
Jaka berusaha menutupi mimik wajahnya untuk tidak terlalu terlihat emosi dengan menghembuskan nafas berat dari mulutnya, seraya berkata "Ikut aku sekarang".
"Huh?" sahut anak laki-laki itu bingung.
"Ikut aku sekarang!" ujar Jaka memegang pundak si anak laki-laki itu.
Karena bingung si anak itu hanya bisa menoleh ke Jaka lalu menoleh ke Pak Wahyu, sembari berkata, "Loh? tunggu peke-"
Jaka menyela ucapan si anak itu sambil berteriak, "Pak Wahyu, anak ini ku bawa!!"
__ADS_1
Sambil bingung dan ketakutan Pak Wahyu sampai menganggukkan kepalanya dberkali-kali, "Ah iya iya bawalah bawalah"