
Jaka pun langsung naik di sebelah Fahri.
"Hey Jaka, anak itu terlihat tenang sekali sebagai tawanan"
"Apa yang telah kau lakukan padanya? apa kau memotong lidahnya? membuatnya gila? menghipnotisnya?" tanya Fahri.
"Jangan bercanda, aku tidak bisa hipnotis"
"Jika aku menyiksanya atau apapun yang mengancamnya, mungkin saja ia bisa lari saat aku memanggilmu, ia hanya bodoh itu saja" jawab Jaka.
"Hei! kemari, naiklah di bak belakang! kita akan berangkat" ajak Jaka pada Radit.
Radit pun menghampiri dan langsung naik ke bak belakang mobil Fahri, dan mereka pun langsung berangkat menuju ke arah desa Tribara.
Di perjalanan, Fahri mengajak Jaka berbicara dengan nada agak berbisik agar Radit tak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Dengan begini keinginanmu untuk bergabung dengan pasukan 54 pasti bisa tercapai" ujar Fahri.
"Tentu saja!"
"Jika nanti kau sudah menjadi seorang prajurit, jangan lupakan aku"
"Haha, aku pasti akan selalu mendatangi bengkelmu sepulang penugasanku nanti"
Tak terasa mereka telah sampai disana, perjalanan menggunakan mobil menuju selat perbatasan ke arah desa Tribara memakan waktu 4 jam.
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini"
Jaka membalikkan badannya dan memberikan pelukan perpisahan pada Fahri, "Terima kasih banyak! Kau memang bisa diandalkan Fahri"
"Hei ayo turun" Jaka mengajak Radit untuk turun dari mobil.
"Jaka, berhati-hatilah! semoga sukses! sampaikan salamku ke Paman Wang dan Rosita" ujar Fahri.
Sambil bergegas menuju ke selat perbatasan Jaka mengatakan, "Jaga dirimu kawan!"
Perlu sedikit perjuangan untuk bisa sampai menuju desa Tribara, yakni mereka harus berjalan sampai tiba di selat perbatasan, yang dimana mereka nanti harus menyeberangi selat tersebut dikarenakan tidak adanya jalur darat yang menghubungkan antara Pulau Dimi (dimana kota Mardos terletak) dengan Pulau Balo (dimana desa Tribara terletak).
"Kita akan menggunakan apa untuk menyeberangi laut ini?" tanya Radit.
"Di depan akan ada seseorang yang akan mengantar kita menyeberang menggunakan kapal kecil" jawab Jaka.
Mereka berdua berjalan sampai menuju ke pantai, dan menemui seseorang penyewa kapal, Jaka pun langsung menyapa orang tersebut.
"Oi pak!"
"Apa? mau nyeberang?" sahut pria tua pemilik kapal kecil.
"Yoi"
"Oke, sini 800"
__ADS_1
"Hah? kemaren naek perasaan 400 silo doang"
"Hadeh nawar, ini itungannya 400 per orang, jadi mau nyeberang kagak?"
"650 untuk 2 orang, ayo lah pak!"
"Hmmph tidak ada uang pengen nyeberang, ngimpi" sahut Pria tua itu dengan nada ketus.
"Dasar udah tua mata duitan!"
"Yaudah yaudah, 800 dah nih ambil!"
"Nah gitu dong, ayo ayo naik hehe"
Naiklah Radit dan Jaka ke kapal kecil itu.
Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Negara Adidaya ke 31 atau yang bernama Negara Rouga, telah masuk berita mengenai tawanan-tawanan dan budak-budak Ravela yang kabur. Saat itu para petinggi negeri itu berkumpul mengadakan sebuah rapat.
Terdengar keriuhan dari dalam ruangan rapat.
"Bagaimana bisa para tikus itu kabur?"
"Harusnya mereka di eksekusi saja semuanya!"
"Orang Arkanan memang tidak becus!"
"Iya mereka tidak becus, mengurus sampah seperti itu saja tidak becus"
Seketika suasana di ruangan itu berubah menjadi diam dan diselimuti ketegangan, Robert Collins sebelumnya adalah seorang Jenderal yang diutus dari Arkanan untuk bertugas memimpin perang salah satu unit Pasukan Khusus di Rouga, yang kemudian diangkat sebagai Mayor Jenderal.
"Kaburnya budak dan tawanan di Ravela tentulah memiliki sebab, dan penyebabnya bukanlah karena ketidak becusan orang-orang Arkanan, jadi kalian jangan mengkambing hitamkan orang-orang Arkanan hanya karena para budak dan tawanan itu berada di bawah pengawasan ornng-orang Arkanan"
"Penyebab utamanya ialah karena adanya orang-orang 54 yang berhasil menyusup ke sana, dan merekalah yang membantu para budak dan tawanan itu melawan dan kabur disaat kebanyakan para pasukan Arkanan dalam keadaan sibuk"
"Lagipula, jika memang kalian tidak percaya dengan dongeng dari negara-negara miskin itu, untuk apa kalian semua sampai setakut ini?"
"Apanya yang manusia terpilih?, apanya yang bagian dari bumi?, apanya yang pembunuh iblis? sesshh" ujar Collins dengan nada remeh.
"Kami ini bukannya percaya dengan dongeng mereka, tapi yang kami khawatirkan jika dongeng itu nantinya menjadi simbol perlawanan mereka terhadap negara-negara Adidaya" ujar salah satu menteri.
"Mungkin ada baiknya demi menjaga kedamaian yang mutlak kita perlu melakukan pembantaian terhadap bibit-bibit pemberontak, bagaimana?"
Semua petinggi yang hadir di dalam serentak mengatakan
"SETUJUUU!!"
"Aku hanya akan setuju apabila Pak Presiden menyetujuinya" ucap Robert Collins.
Saat ini semua mata mengarah ke Andreas Pavlovich Presiden Rouga yang duduk di sudut meja rapat.
"Baik, sebelumnya aku ingin berbicara sebentar dengan Tuan Collins" ujar Presiden Rouga.
__ADS_1
Pak Presiden dan Robert Collins pun berbisik merundingkan langkah yang akan diambil oleh negara ini.
Setelah berunding cukup lama, Robert Collins berdiri dan berkata,
"Taruh di surat kabar bahwasanya siapapun yang menemukan budak dan tawanan Ravela yang kabur akan mendapat imbalan sebanyak 5 juta silo untuk 1 orang, dan harus dibawa kemari dalam keadaan hidup"
Setelah mengatakan hal tersebut Robert Collins langsung beranjak keluar dari ruangan rapat.
"Hanya itu saja?" semua orang didalam ruangan itu saling bertanya-tanya.
"Wahai Pak Presiden, apa tidak ada langkah yang lain?" tanya seorang menteri.
"Lusa Tuan Collins akan diangkat menjadi Panglima, dan beliau akan memimpin pasukan beliau mencari para budak dan tawanan yang kabur itu, dan beliau ingin 30% Tentara dan Kepolisian Rouga ikut aktif dalam misi ini. Dan Rouga akan berusaha menjalin kerjasama dalam misi ini dengan negara Adidaya yang lain. Sekian." terang Presiden Rouga.
"Hidup Rouga!!"
"Hidup Rouga!!!"
Kembali ke perjalanan Jaka dan Radit menuju Desa Tribara, saat ini mereka sedang berada di atas kapal kecil. Untuk menghilangkan suntuknya dan rasa penasarannya akan latar belakang Radit, Jaka mengajak Radit berbicara.
"Mungkin saja, aku bisa menyingkap penyamarannya kali ini"
"Hei, apa kau lapar?" tanya Jaka.
"Ehemm" jawab Radit sambil mengangguk.
"Ini, makanlah" ujar Jaka sambil menawarkan coklat pada Radit.
Radit pun menerimanya dan berkata "Terima kasih"
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Jaka.
Radit mengangguk.
"Apakah kau akan melakukan apapun demi uang?"
"Hmm? emmemmemm" jawab Radit sambil menggelengkan kepala.
"Jika anak ini memang seorang mata-mata maka tidak mungkin dia melakukan tugas ini tanpa meminta imbalan"
"Ahh iya!, mungkin saja keluarganya atau orang yang ia sayang sedang ditawan, lalu dia dipaksa menjadi seorang mata-mata!"
"Yang mana jika ia mau untuk menjadi mata-mata maka keluarga atau orang tersayangnya akan dibebaskan. Atau di kemungkinan yang lain, jika ia berhasil, keluarga atau orang tersayangnya akan dibebaskan, sedangkan jika ia gagal maka keluarganya akan dibunuh!."
"Ahh sungguh malang nasibmu!." gumam Jaka dalam hati sambil memandang Radit.
Tiba-tiba Radit berkata,
"Kau orang yang baik"
"Kau cocok jadi sahabatku!"
__ADS_1