
"Rachto? apa itu?" tanya Radit bingung.
"Aku tidak tau banyak, tapi jika aku menjelaskan secara singkat, Rachto adalah sebuah tenaga yang keluar dari dalam tubuh manusia, yang ku tau tenaga itu hasil dari latihan pernafasan"
"Ada banyak jenisnya, tapi aku lupa apa saja namanya"
"Oh kekuatan dari dalam tubuh ini?"
"Iya, yang kau keluarkan untuk melawan preman-preman tadi, yang membuat mereka seakan-akan terpental itu"
"Entah, aku tak tau jenis apa milikku ini"
"Hah? harusnya kau sudah mengetahui saat di awal mempelajarinya. Karena setiap Rachto memiliki teknik pernafasan yang berbeda"
"Tapi aku tidak pernah mempelajarinya"
"Hah? jadi, menurutmu Rachto milikmu muncul secara tiba-tiba?"
"Ya, gak tiba-tiba juga sih"
"Apakah kau memiliki Rachto?" tanya Radit.
"Tidak, aku tidak butuh kekuatan seperti itu. Untuk melawan musuh aku hanya membutuhkan beladiri dan memperkuat diriku"
Sesampainya di penginapan, mereka langsung bergegas bersiap-siap untuk tidur.
"Waahh kawan, sepertinya aku akan tidur lebih dulu!" ujar Radit sambil melompat ke ranjang.
"Tidurlah!" saut Jaka.
Belum sampai 3 menit, tiba-tiba terdengar dengkuran dari Radit. Jaka yang baru saja ingin duduk di kursi di ruangan tersebut tiba-tiba berdiri dan berbalik ke arah Radit.
"Gila! cepet banget!, capek banget kayaknya nih anak" ujar Jaka.
"Anak ini mencoba menutupi kekuatannya dariku? heheh aku tidak akan tertipu dengan sifat pura-pura polosmu! ada kemungkinan dia menyerangku disaat diriku lengah, aku akan berjaga-jaga dari serangan tiba-tiba darinya!" gumam Jaka sambil memandang Radit yang sedang tertidur.
Jam didalam ruangan itu menunjukkan pukul 00.30.
"Masih jam setengah 1 ya"
"Ah lebih baik mencari kegiatan yang bisa membuatku tetap terjaga"
Jaka memiliki niat untuk tidak tertidur saat ini, dan dia mulai melakukan beberapa push up dan sit up.
Tiba-tiba...
Kini Jaka berada di sebuah hutan yang terletak di kaki sebuah gunung, dan disini terlihat Jaka masih berumur 7 tahun.
"Terus! pukul terus! jangan beri celah!" teriak seorang Pria paruh baya.
Disini Jaka terlihat sedang berlatih bela diri, dan Pria paruh baya yang berteriak tadi adalah gurunya.
Ditengah-tengah latihan, Jaka kecil berhenti dan bertanya pada gurunya
"Paman... "
"Eehhh... maksutku, Guru! kenapa aku tidak kau latih bersama dengan murid-muridmu yang lain?"
Gurunya menatap Jaka kecil dengan raut muka marah sambil tangan kirinya memukul Jaka pelan-pelan menggunakan tongkat kayu.
"Fokus latihan!" ujar Sang Guru.
Jaka melanjutkan latihannya, namun tak lama kemudian ia berhenti dan bertanya lagi
"Guru! aku ingin berlatih bersama-sama dengan yang lainnya!" teriak Jaka.
Syuuung Krraaakkk...
__ADS_1
Terlihat tongkat kayu berdiameter 5cm yang dipegang oleh sang Guru sudah terbelah, ternyata tongkat tersebut dipukulkan ke Jaka sampai terbelah menjadi 2 bagian.
"Aduh aduh sakit guru" teriak Jaka kesakitan.
"Lanjutkan latihanmu!" teriak sang Guru.
Sambil menahan air mata dan rasa sakit, Jaka melanjutkan latihannya.
Tiba-tiba suasana berganti
Terlihat Jaka yang berumur 11 tahun sedang berlatih kuda-kuda dibawah air terjun.
"Heh heh heh! lihat kuda-kudamu! perbaiki!" teriak Guru Jaka dari bawah pohon.
"D-d-ding...in guru...-" ujar Jaka sambil menggigil dan memperbaiki kuda-kudanya.
"Tahan 30 menit lagi!" teriak sang Guru.
Setelah berlatih kuda-kuda, Jaka memulai latihan fisik seperti biasanya, namun tak lama kemudian ia bertanya pada gurunya
"Guru, kapan aku akan berlatih bersama kawan-kawan yang lain?"
"Aaahh kau ingin berlatih bersama kawan-kawan yang lain ya?"
"Iya...Iya guru!"
"Oke besok kau akan berlatih bersama kawan-kawanmu"
"Hah? beneran nih Guru? asyiiiikkkk!" saking senangnya Jaka sampai menghentikan latihannya.
Dan...
Kraakkkkk...
Yaappp....tongkat sang Guru terbelah lagi,
"Lanjutkan latihanmu!" teriak sang Guru.
Suasana berganti lagi.
Kali ini, dengan wajah terlihat bahagia, Jaka sedang berjalan menuju ke tempat yang dijanjikan kemarin oleh gurunya. Ternyata dia terlihat begitu bahagia karena hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, dimana dia akan bisa berlatih bersama kawan-kawannya.
Saat ia datang ke tempat yang dijanjikan oleh gurunya, betapa kagetnya Jaka setelah mengetahui bahwasanya di tempat itu tidak ada siapa-siapa.
"Kok sepi? apa aku datang terlambat? atau aku datang lebih cepat dari yang lain?" tanya Jaka pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara sang Guru dari kejauhan
"Jakaa!! oiii!"
"Hah Guru?! Guru!!! Dimana kau?" saut Jaka kebingungan.
"Lihat ke ataas!" jawab sang Guru yang ternyata berada di atas tebing.
"Guru! mana yang lain?! kenapa hanya aku sendiri disini?! dan kenapa kau ada diatas sana?!" tanya Jaka sambil berteriak ke Gurunya.
"Aahh kawanmu? sebentar lagi mereka datang!"
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam hutan.
"Sepertinya mereka sudah datang!" teriak sang Guru.
Jaka langsung tersenyum dan berbalik badan melihat ke arah datangnya suara langkah kaki dari dalam hutan.
Dan yang keluar adalaaahhhh
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kumpulan harimau
"Hai kawan-ka"
"Oii guru! guru! apa-apaan ini?!" ekpresi Jaka yang awalnya tersenyum kini berubah menjadi panik.
"Aah cepat atau lambat kau harus menjadikan mereka sebagai kawanmu Jaka! mulai sekarang merekalah yang akan menjadi kawanmu untuk berlatih!" jelas sang Guru.
Jaka yang panik mulai berlari sambil berteriak
"Guru! aaaaaaaaaaa!"
"Jangan sering-sering berteriak, nanti hewan-hewan yang lain ketakutan karena suaramu!"
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Jaka sambil terus berlari.
"Jangan sering-sering berteriak, itu hanya akan mempercepat habisnya tenagamu!"
"Guuuruuu kau jaaaahaaaatt aaaaa!" teriak Jaka mulai terdengar menjauh masuk kedalam hutan.
Tiba-tiba suasana berganti, Jaka berada di tempat dimana ia biasa berlatih dengan gurunya. Namun, bedanya kini Jaka hanya sendiri disana.
Awalnya dia berlatih seperti biasanya.
Namun, lama-kelamaan dia mulai bertanya-tanya dan mencari gurunya.
"Guru! kau dimana!?" teriak Jaka.
Jaka akhirnya menyerah memanggil-manggil dan mencati gurunya, dan dia memilih kembali latihan.
"Ah mungkin guru sedang sibuk" terang Jaka.
Disaat itu juga langit terlihat gelap, Jaka menghadapkan wajahnya kelangit, turun tetesan hujan yang sedikit demi sedikit mulai membasahi wajahnya.
Tiba-tiba, di momen seperti itu terdengar suara samar dari kejauhan berbunyi
"Oi...Oiiii..."
Jaka yang mendengar suara tersebut segera menoleh, mencari tau darimana suara itu berasal, karena anehnya suara itu seperti semakin mendekat
"Ouuuuiii....ui ui ui...."
Jaka mencoba memejamkan matanya untuk fokus mencari arah asal suara itu. Dan disaat sedikit demi sedikit Jaka membuka matanya, suara itu makin jelas dan makin kencang terdengar
"Uuuuuiuuuiuuuuii....oioioioi...uuuuuuiii"
Jaka mulai sedikit tersadar, dan ia terkejut saat melihat ternyata Radit membangunkan Jaka dari tidurnya.
"Pagi kawan!" sapa Radit.
__ADS_1
Jaka yang terkejut langsung bergerak kebelakang dan bertanya
"Hah?! apa yang kau lakukan?!"