
"Hah?" sahut Jaka.
"Kau orang baik, kau bisa bertarung, aku ingin bersahabat denganmu!" ujar Radit sambil melanjutkan memakan coklat.
"Kau ini bicara apa? darimana kau tau jika aku ini orang baik? dan tak semudah itu jika kau ingin menjadikan orang lain sebagai sahabatmu"
"Ini buktinya kau memberiku makan, kau memberiku makan berarti kau orang baik"
"Hah? memangnya bagaimana caranya agar kau bisa menjadi sahabatku?"
"Apa setiap orang yang memberimu makan kau sebut sebagai orang baik?"
"Kau perlu menjadikan orang lain sebagai kawanmu terlebih dahulu, lalu kau perlu memikirkan ciri dan syarat yang ideal bagi kawanmu itu untuk bisa menjadi sahabatmu. Jika sebuah hubungan yang baik itu di taruh dalam sebuah tingkatan, maka aku menyimpulkan ada 3 tingkatan, tingkatan ketiga itu kawan, kedua sahabat, dan yang pertama adalah keluarga."
"Enggak juga sihh, tapi kau termasuk orang yang baik"
"Ciri dan syarat? ideal? baiklah aku ingin kau jadi kawanku dulu, tapi nanti kita bisa menjadi sahabat kan?"
"Uhhmmm i-ya ?"
"Woah woah tenang, jangan terlalu gugup"
"Yess, yuhuu! akhirnya bisa punya sahabat!"
"Aduh sial, ngapain juga aku nge iyain nih bocah" gumam Jaka.
Penyeberangan menggunakan kapal kecil dari Mardos menuju Pulai Dimi membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tak terasa jam menunjukkan pukul 18.26, saat itu mereka hampir sampai di tepi Pantai Alaci, pinggiran Kota Fuko.
Disaat itu juga, terdengar suara petasan dari kota kecil dekat pantai itu.
"Wah ada apaan tuh?" tanya Radit penasaran.
"Orang-orang Fuko sedang mengadakan perayaan tahunan" jawab pemilik kapal.
Disaat mereka sudah menepi di Pantai Alaci, Radit langsung melompat, "Ayo ayo Jaka!".
"Makasih Pak!" ujar Jaka ke Pemilik kapal.
Mereka berdua segera berjalan menuju ke Kota Fuko yang sedang mengadakan perayaan dekat pantai tersebut.
"Kita akan mencari penginapan dikota ini" ujar Jaka.
"Baiklah"
"Setelah menemukan penginapan, kita nanti akan ikut perayaan ini dulu ya?"
"Boleh saja, tapi kita tidak akan berlama-lama"
"Karena besok sebelum fajar terbit kita sudah harus melanjutkan perjalanan, jadi setidaknya aku bisa beristirahat agak lama"
Mereka pun segera berjalan menuju ke sebuah penginapan, setelah mendapatkan kamar mereka langsung keluar untuk mengikuti perayaan kota itu, yang dimana didalamnya banyak makanan gratis yang disediakan oleh warga setempat.
__ADS_1
Pukul 22.00, tak terasa mereka hanyut dalam perayaan itu, Jaka merasa cukup bersenang-senang dan mengajak Radit untuk segera kembali ke penginapan. Di perjalanan kembali menuju ke penginapan, Jaka mengajak Radit memotong jalan melalui jalan kecil agar cepat sampai. Namun tak lama setelah memasuki jalan tersebut, Jaka melihat ada banyak gerombolan orang mengikuti mereka sehingga menutupi arah masuk jalan kecil itu, dan diikuti pula dengan masuknya gerombolan lain di sisi lain tepatnya di arah keluar jalan kecil itu yang mana membuat Jaka dan Radit susah untuk kembali menuju penginapan, jumlah orang-orang tersebut setidaknya ada 16 orang.
"Woy berhenti!" teriak seseorang dari gerombolan orang itu.
Jaka pun menghentikan langkahnya, dan menyuruh Radit untuk berhenti juga. Gerombolan itu pun mulai mendekati mereka,
"Tau kagak orang yang lewat sini kudu apa?" tanya seorang dengan wajah garang yang mungkin ialah Ketua dari gerombolan tersebut.
Jaka hanya diam dengan wajah tenang, dan hanya Radit yang menjawab,
"Jalan"
"Hah?" hanya kalimat tersebut yang terdengar dari mulut gerombolan itu.
"Ya tau emang kudu jalan, tapi ada aturan lain"
"Kalian kudu bayar!" saut Ketua gerombolan itu dengan nada nyolot.
"Ke siapa?" tanya Radit dengan nada dan wajah polos.
"Ke nenek kau! pakek nanya pula kau ini!"
"Waduuh gak punya nenek aku bang, punya tapi gak kandung bang" sahut Radit dengan muka serius.
"Hah?" kali ini tidak hanya gerombolan itu yang mengatakan kalimat tersebut, Jaka pun ikut mengatakannya.
"Sekarang, bayar ke aku lah bodoh!" ujar Ketua gerombolan itu dengan nada makin nyolot.
"Dasar preman kelas teri, cuiihh" ujar Jaka dengan suara rendah dan nada yang remeh serta meludah setelahnya.
"Hah? apa kau bilang?! coba ulang sekali lagi!" sahut salah satu preman sambil memajukan badannya dan mendekatkan telinganya ke wajah Jaka.
"Ke las te ri" ujar Jaka.
Preman tersebut melayangkan pukulan kearah wajah Jaka sambil berkata, "B*jing*n!"
Namun kemampuan bertarung Jaka lebih hebat, sehingga dengan cepat ia menepis pukulan preman tersebut dengan tangan kanannya dan meninju tepat di wajah preman tersebut dengan tangan kirinya sehingga meninggalkan lebam di muka si preman, lalu Jaka melakukan tendangan yang mendorong badan preman tersebut ke arah gerombolannya.
"Hajar!" teriak Ketua preman.
Sekitar 10 preman maju menghadapi Jaka, sisanya bersama dengan Ketua mereka ingin menghajar Radit.
Jaka sibuk meladeni 10 preman tadi, dan kini Ketua preman itu mulai melangkah mendekati Radit dan menyuruh anak buahnya untuk memegangi Radit.
"Pegang, jangan sampai lepas!"
Skkreekk Skreekk
Ketua preman itu mengeluarkan dan memainkan pisau lipat dari kantongnya dan mulai mengancam Jaka.
"Udaaaah mendingan kau kasih duitmu ke aku sekarang!, atau kutikam kawanmu ini!"
__ADS_1
Tiba-tiba...
Fwoooommm!
Braaakkkkk!
"Aaaaahh uuuhhhkk" teriak dan erangan salah satu preman kesakitan.
Ternyata preman yang memegangi Radit tiba-tiba sudah terpental sejauh 5 meter dari Radit, dan jatuh diantara tempat sampah.
Semua mata yang ada di jalan kecil itu mengarah ke preman yang terpental itu, kemudian mengarah ke arah Radit.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" teriak salah satu preman sembari berjalan ke arah Radit.
"Uhmm.......ini?" ujar Radit sambil menggenggam tangannya dan menempelkannya ke perut preman tersebut.
dan...
Fwuuoommm!!
Preman tersebut terpelanting jauh seakan-akan ada energi yang mendorongnya.
Ketua preman yang menyaksikan kejadian tersebut awalnya hanya menganga, tetapi kemudian ia mulai berjalan dan mengarahkan pisau lipatnya ke arah Radit sambil menelan ludah dan bergetar tubuhnya.
"Hei bocah, jangan buat tanganku ini menyakitimu" ujar Ketua preman tersebut.
"Uhhmm anu" saut Radit sambil menunjuk ke arah ketua preman itu.
"Hei hei! jauhkan! jauhkan tanganmu! turunkan tanganmu!" ujar Ketua preman tersebut dengan nada panik.
Kali ini Radit berkata,
"Anu bang dibela-"
Saat itu Jaka yang berada tepat dibelakang Ketua preman itu dengan sigap memegang pergelangan tangan preman tersebut yang sedang memegang pisau, dan Jaka langsung meninjunya dengan keras sehingga Ketua preman itu pingsan.
Terlihat dibelakang Jaka, semua preman yang ia hadapi telah dikalahkan olehnya.
"Ayo kita kembali ke penginapan" ujar Jaka.
"Oke" saut Radit.
Di perjalanan kembali menuju penginapan, Jaka teringat tentang kejadian di lorong kecil tadi, dimana disaat Radit tadi mengeluarkan sebuah energi yang bisa membuat beberapa preman seakan-akan terpental.
"Hei jenis apa yang kau kuasai?" tanya Jaka.
Radit yang bingung dengan spontan menjawab, "Hah? kuasai apa?"
"Rachtomu itu, jenis apa yang kau kuasai?" tanya Jaka.
"Rachto?"
__ADS_1