Prodigy

Prodigy
Sebuah Tanda


__ADS_3

Sambil berusaha agar tidak terlihat sangat emosi, Jaka menarik lengan anak laki-laki itu dan mengajaknya keluar dari kedai.


Sang anak pun merasa kebingungan, dengan nada yang polos ia pun bertanya pada Jaka, "Hei hei, kau ingin mengajakku kemana?"


"Kau bukan orang jahat kan?"


"Kau jangan sok polos! ikuti saja aku" jawab Jaka dengan nada rendah dibumbui amarah.


Jaka mengajak anak itu menjauh dari keramaian kota Mardos, ia mengajaknya menuju ke sebuah gang yang sepi dan jarang dilewati oleh orang-orang.


Sesampainya di gang tersebut Jaka melepas lengan si anak itu, dengan nada rendah tapi mengintimidasi ia berkata, "Kau ini siapa? dan apa tujuanmu kemari?"


Dengan kepolosannya, sambil tersenyum anak itu berkata "Aku? Radit, dan aku sedang mencari sebuah alamat."


Tiba-tiba...


Srrriiinnnggg


Tanpa basa basi, Jaka mengeluarkan karambit dari pinggangnya, dan dengan gerakan yang cepat tangan kanannya langsung mengacungkan karambitnya tepat di leher anak itu.


Dengan nada serius dan mengintimidasi Ia berkata, "Mencari alamat huh? siapa yang menyuruhmu?!"


Masih dengan nada yang polos seakan tak terjadi apa apa Radit menjawab "Aku tidak mengenal orang yang menyuruhku"


"Hei darimana kau tau jika aku mencari alamat?"


"Kawan bukankah benda yang kau pegang ini berbahaya?" Sahutnya sambil menunjuk karambit milik Jaka.


"Si*l*n, siapa sebenarnya anak ini?, pembunuh bayaran? mata-mata?" gumam Jaka.


"Kau dibayar berapa oleh tuanmu hah?!" sahut Jaka menghiraukan pertanyaan Radit.


"Aku tak dibayar sedikitpun, aku hanya mengikuti naluriku" jawab Radit dengan tersenyum.


Disaat mata keduanya saling bertatapan.


Ssrreeekkkk...


Karambit di tangan kiri Jaka membuat sayatan kecil di pakaian bagian dada Radit, namun Radit tidak bergeming sedikitpun.


Dengan tatapan penuh amarah, Jaka berkata, "Jangan main-main denganku, aku bisa membunuhmu saat ini"


Radit terlihat biasa-biasa saja, ia tak menghiraukan serangan yang menyebabkan pakaiannya sobek, ia berkata, "Hei aku sungguh tidak tau maksutmu kawan, kenapa kau sampai ingin membunuhku?"


Jaka mengeluarkan kertas lusuh dari sakunya, dan membentak anak itu, "Kau tahu apa yang kau bawa ini hah?!"

__ADS_1


Dengan wajah yang datar, Radit menjawab,


"Itu"


.


.


.


.


.


"Kertas"


"Hah?"


Hanya itu kata yang keluar dari mulut jaka diikuti dengan keheningan suasana di gang itu.


"Apa aku dibodohi? apa ia kira aku bodoh?" gumam Jaka merasa dibodohi.


"Bukan objeknya!, tapi isinya!. Apa kau tau kau membawa kertas berisikan apa?!" tanya Jaka mengintimidasi Radit.


"Oooh angka itu adalah alamat, tapi aku tidak tau alamat itu dimana"


"Ahh kawan, apa kau orang yang mengetahui dimana alamat ini?" tanya Radit dengan wajah penuh harapan.


"Tunggu, jika aku bisa membawa anak ini ke desa lalu menyerahkannya ke kepala desa, mungkin aku bisa mendapat perhatian dari para pasukan 54, atau mungkin bahkan aku bisa bergabung!!" gumam Jaka.


Pasukan 54 adalah pasukan yang senantiasa berperang melawan kebiadaban negara adidaya dan sekutunya, dan karena perlawanan itulah mereka (pasukan 54) disebut sebagai "Pasukan Pemberontak". Sedangkan desa yang dimaksud Jaka ialah desa Tribara, yakni desa yang memiliki kode 54861. Kode tersebut adalah pemberian dari himpunan negara adidaya yang menandakan bahwasanya desa tersebut adalah "Wilayah Pemberontak" karena beberapa Pasukan 54 yang kalah perang dikabarkan melarikan diri ke desa dengan kode tersebut, dan keberadaan desa dengan kode tersebut oleh dicari-cari oleh para 'Pahlawan' dan tentara kiriman dari negeri-negeri yang merasa terancam dengan adanya desa 'Pemberontak'.


Namun sampai saat ini, semua orang belum mengetahui bahwasanya desa Tribara adalah desa 54881, kecuali para Pasukan 54 dan penduduk desa Tribara sendiri, jadi keberadaan desa tersebut tidak terlalu terisolasi dari dunia luar.


"Memang apa tujuanmu jika sudah sampai di alamat ini hah!?" ujar Jaka mengintimidasi.


"Entah, aku hanya disuruh untuk menunjukkan ini" jawab Radit sambil menunjukkan sebuah tanda di belakang daun telinganya.


Ketika Jaka melihat tanda itu awalnya ia bingung, namun setelah itu ia menurunkan dan menaruh kembali Karambitnya dan tersenyum.


"Aahhh itu!, ooohhh jadi kau suruhan orang itu ya! hahaha, baiklah akan ku antar kau ke alamat ini hahaha" sahut Jaka.


"Memangnya apa maksud dari tanda itu?, memangnya siapa yang mengirimnya?, bodoamat yang penting ku bawa saja dulu anak ini ke kepala desa hehehe...." gumam Jaka sambil tersenyum.


Dengan wajah yang kini terlihat bahagia Radit berkata, "Waahh kau benar-benar tau alamat ini ya? baiklah ayo kita kesana bersama!"

__ADS_1


Begitupun dengan Jaka, dengan ekspresi bahagia dan sedikit bingung Jaka mengajak Radit, "Ayo ayo kita berangkat hahahaha"


"Hahaha aku akan jadi prajurit pasukan 54 hahaha!" gumam Jaka sambil tersenyum bahagia.


"Oh iya, perjalanan kita menuju alamat itu mungkin akan memakan waktu sehari atau dua hari itupun jika ada transportasi yang membawa kita kesana" tambah Jaka.


"Ah memangnya jarang ada kah transportasi yang mengarah ke alamat itu?" tanya Radit.


"Tergantung, karena separuh jalan menuju kesana harus melalui hutan yang masih belum terlewati oleh transportasi umum" jawab Jaka.


"Aaaah huuuutaaan, okeeeee" timpal Radit sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Jaka dan Radit pun langsung beranjak keluar dari gang tersebut. Mereka berdua berjalan selama 15 menit sampai akhirnya tiba di depan sebuah bengkel mobil.


"Oke, tunggu disini dulu" ujar Jaka kepada Radit.


Radit pun menunjukkan ibu jarinya ke Jaka sebagai isyarat *siiiip*.


Saat itu juga Jaka berjalan masuk ke bengkel tersebut, dan ia pun berteriak memanggil nama seseorang.


"Fahri!"


"Fahri!"


Dari dalam terlihat seorang pemuda seumuran Jaka menggunakan setelan wearpack bengkel berjalan menghampiri Jaka.


"Oii! ada apa ada apa?" saut Fahri.


"Apakah kau bisa mengantarkanku ke arah desa?"


"Aku bersama seorang tawanan" ujar Jaka berbisik.


"Hah?! dimana dia? bagaimana bisa?! darimana kau mendapatkan seorang tawanan?! memangnya apa yang ia lakukan?!"


"Hey hey, tenang tenang jangan terlalu keras suaramu, itu dia" ujar Jaka sambil menunjuk Radit.


Radit yang melihat dirinya ditunjuk hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan saja.


"Aku menemukannya di daerah dekat pelabuhan, saat ku temukan ia berkata ingin mencari desa Tribara, dan aku membawanya karena ia terlihat seperti seorang mata-mata" ujar Jaka.


"Jaka, kau terlalu berpikiran negatif, mungkin saja dia hanya ingin datang sebagai pelancong atau mencari kenalannya di desa" sahut Fahri.


"Ooohh, lalu apakah pelancong akan datang membawa ini?" timpal Jaka sambil menunjukkan kertas milik Radit.


"Hmm memangnya ada apa dengan kertas ini?" tanya Fahri sambil mengambil kertas itu dari tangan Jaka.

__ADS_1


Mata Fahri terbelalak setelah mengetahui isi kertas itu, tanpa memberi jawaban ia pun langsung bergegas menutup bengkelnya dan mengeluarkan mobil bak terbuka (pick up) miliknya.


"Ayo cepat naik!" ujar Fahri.


__ADS_2