Pseudo Shadow

Pseudo Shadow
13 • Ambition


__ADS_3

"Terlalu berambisi terkadang berakhir tragis."


.


Tak ada yang tidak terpukau oleh suara merdu Aihara. Bahkan sejenak pandangan mereka kosong selayaknya pikiran mereka ketika suara Aihara menembus lembut gendang telinga mereka. Di sana, Hanna merasakan sesuatu yang dinamai rindu setelah bait demi bait terlontar gentar dari belahan bibirnya. Ia bisa merasakan sesak yang sama seperti yang Akihiko rasakan saat itu.


Sekitar lima menit mereka keluar dari dapur rekaman, ini adalah rekor tertinggi mereka karena mereka hanya melakukan satu kali rekaman dengan hasil yang luar biasa. Matsuo dan Kekai berbondong mendekati Aihara, tiba-tiba mereka merasa penasaran akan sosoknya yang terlampau sempurna. Sedang Hanna ikut mendudukan dirinya di samping Akihiko yang entah kenapa ia terlihat murung.


"Lirik lagumu tak sesuai dengan apa yang kau alami. Ck, bukankah kau sedang jatuh hati?" Tanya Hanna penasaran.


Akihiko menarik sudut bibirnya, pandangannya masih tak lepas dari sosok Aihara yang tengah tersenyum malu karena godaan Matsuo. "Aihara yang menciptakan lagu itu. Jadi itu adalah kisahnya."


Deg!


Tunggu, raut wajah Akihiko benar benar mendung, pria yang selalu terlihat datar itu kini terlihat rapuh. Dan jawaban penuh helaan nafas itu, Hanna yakin pasti ini ada hubungannya dengan mendiang mantan Kekasih Aihara, lalu apa Akihiko sudah mengetahuinya?


"Kau mengetahui sesuatu tentangnya?"


Diam sejenak, "Tidak, dia penuh dengan rahasia." Meski ia sudah banyak menduga bahwa Aihara masih mencintai mantan kekasihnya, tetap saja ia tidak pernah bisa membuktikan itu.


Apa yang kurang darinya?


Kenapa terlalu sulit untuk melupakan pria itu?


Akihiko menghela nafas berat, ia memutuskan untuk pulang lebih awal, kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia kemudian bangkit, berjalan ke arah Aihara mengabaikan manik coklat yang memandangnya terluka.


Kepalan tangannya mengerat, Hanna mulai semakin meyakini satu hal. Aihara tidak benar-benar mencintai Akihiko, gadis itu hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata. Dan Hanna tak akan pernah membiarkan gadis itu menyakiti Akihiko lebih dari ini.


"Mau pulang sekarang?" Tanya Akihiko yang berhasil menarik perhatian ketiga orang di depannya.


"Memangnya sudah selesai?"


Menarik sudut bibirnya menanggapi raut menggemaskan Aihara, "Hm. Hari ini sudah selesai, ayo pulang."


Aihara kemudian bangkit, membungkukan sedikit tubuhnya pada Kekai dan matsuo yang mengubah wajahnya menjadi masam.


"Ck, kau mengganggu saja! Kami hanya ingin mengobrol dengannya, dasar posessif!" Sungut Matsuo yang di jawab dengan kekehan pelan Aihara.


"Terimakasih untuk hari ini, Matsuo, Kekai dan Hanna." Sedikit canggung ketika memanggil nama gadis itu, sedang Hanna hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban.


"Ya, cepatlah pulang kekasihmu sudah menunggu." Kekeh Kekai mendapati raut kusut Akihiko yang sedari tadi menunggu Aihara.


"Baiklah sampai jumpa besok!"

__ADS_1


"Hati-hati dengan kekasihmu itu Aihara! Wajahnya terlihat seperti pantat ayam, menyeramkan!!"


Mengabaikan sahutan Matsuo, Aihara kembali terkekeh pelan di samping Akihiko yang hanya diam. Ia senang sekali hari ini, karena ia sudah sangat akrab dengan musik lagi setelah sekian lama. Dan itu sangat menyenangkan terlebih ia menjalani hari-harinya dengan Akihiko, benar-benar luar biasa.


****


"Hanna pulanglah bersama Matsuo, bahaya jika seorang gadis berjalan sendirian di malam hari." Saran Kekai ketika melihat Hanna tengah bersiap untuk pulang. Dan lagi-lagi sikap Matsuo berubah, pria itu seperti tak bereaksi apapun.


"Tak apa aku bisa sendiri." Ia tersenyum canggung mendapati Matsuo yang seakan tak memperdulikannya.


"Omong kosong. Oy, Suo! Antar Hanna sana, kau ini kenapa?! Sedari pagi bersikap menyebalkan terus." Dengusnya kesal, ini tak biasanya. Matsuo akan secara otomatis mengajukan diri untuk mengantar Hanna pulang, lalu sekarang? Apa mereka tengah bertengkar? Pikirnya.


"Sudahlah tak apa, aku harus pulang sekarang, bye!"


"Hey, Hanna!!"


Matsuo benar-benar melaksanakan perintahnya untuk tak lagi berurusan dengannya, tapi jika nyatanya seperti ini, kenapa Hanna justru merasa tersakiti? Ck, benar-benar egois. Bukankah ia yang melarang Matsuo untuk mencintainya, bahkan menyarankannya untuk berkencan dengan siapapun jika itu dapat mengalihkan rasa cinta terhadapnya?


Bahkan ungkapan 'kejam' pun tak cukup untuknya, dan sekarang ia bersikap munafik seolah ia yang tersakiti oleh prilaku Matsuo. Cih!


Masih berjalan seorang diri, menyusul jadwal oprasi bus malam. Dingin, Hanna beberapa kali menggosok telapak tangannya, berusaha menghangatkan diri dengan itu. Namun percuma, karena beberapa minggu lagi akan datang musim dingin sehingga malam ini terasa berkali lipat dinginnya.


Tersentak, kedua matanya melebar secara tiba-tiba karena seseorang memakaikannya jaket hangat. Ia menoleh ke samping dan mendapati Matsuo di sana yang tengah berjalan membisu di sampingnya. Sejenak hatinya menghangat.


"Hm."


Entahlah rasanya jadi begitu canggung. Hanna beberapa kali menghela nafas mencoba untuk bersikap seperti biasanya, "Aku senang kau sudah bisa membuka hatimu untuk orang lain." Ia menarik sudut bibirnya, tersenyum kecut.


"....."


Sepertinya Matsuo tidak ingin berbicara dengannya. Mereka masih terus berjalan menuju halte bus, masih dengan keheningan. Rasanya aneh sekali berjalan beriringan dengan Matsuo yang pendiam, pria itu biasanya akan menggodanya setiap saat, tapi kini tidak. Hanna mencoba beberapa kali mencuri pandang ke arahnya, ia bisa melihat tatapan Matsuo yang dingin menatap kosong jalan di depannya. Itu bukan Matsuo yang ia kenal.


"Ekhem! Jika kau bersikap seperti ini untuk menjaga perasaan kekasihmu, kenapa masih saja kau berniat mengantarku pulang?" Nyatanya Hanna tidak tahan lagi, ia benar-benar muak dengan pengabaian Matsuo. "Sikapmu ini mengartikan bahwa kau masih-"


"Hentikan!"


Hanna terperajat kaget. Matsuo menatapnya tajam setelah ia membentaknya, itu membuat sesuatu di balik dadanya bertalu keras.


"Iya, aku masih mencintaimu. Dan ternyata benar, cinta ini memang salah. Apa kau tidak mengerti?" Nafasnya menggebu, menandakan ia tengah menahan amarah. "Aku mencoba untuk menjauhimu, karena aku tidak ingin lagi jatuh hati padamu."


Ia lelah, menanggung rasa yang tak akan pernah terbalas. Matsuo telah berjuang keras, ia berhasil menahan rasa cemburu selama bertahun-tahun ketika mengetahui gadis yang ia cintai begitu mengelu-elukan pria lain. Ia sudah bertahan terlalu lama kan? Ia telah berjuang semampunya. Jadi tak apa kan jika ia menyerah saat ini? Hatinya perlu untuk di sembuhkan.


Bersamaan dengan kepergian Matsuo dari pandangannya, air matanya jatuh menyakitkan di atas tanah. Ia telah sangat menyakiti hatinya. Ia yang dengan tak berperasan memintanya untuk tidak mencintainya. Membuatnya pergi karena egonya. Meski di saat terakhir ia ingin mengatakan padanya untuk tidak meninggalkannya, namun apa daya pikiran bengisnya dengan tak tahu malu masih mampu untuk memikirkan kondisi hati Akihiko.

__ADS_1


Jika satu hati telah ia buat sakit, maka ia akan mengeluarkan hati lain sebelum ia tersakiti. Aihara hanya akan menyakiti Akihiko, maka ia akan memisahkan mereka untuk menjauhkan Akihiko dari rasa kecewa. Ya, pemikiran gila yang hanya mampu di ciptakan Hanna sebagai rasa pelampiasan dari sakit yang ia derita oleh ulahnya sendiri.


****


"Hei, Kio." Pelan ia memanggil kekasihnya, Aihara merasa ada sesuatu yang salah dengan kekasihnya itu.


"Hm?"


Ia menarik senyuman kecil mendapati respon Akihiko yang diluar dugannya. Pria itu hanya menanggapinya dengan raut datar. "Apa terjadi sesuatu padamu? Sedari tadi kau hanya diam."


"Aku baik-baik saja."


Tak tahukah Aihara? Akihiko hanya sedang menenangkan gerumuhan di dadanya setiap kali mengingat bait lagu yang kau ciptakan. Ia takut akan sesuatu.


Sepasang kekasih itu berjalan di tengah cahaya bulan, dengan kesunyian yang melanda keduanya. Aihara jadi merasa khawatir, apakah ia melakukan kesalahan? "Kau tahu kan tadi itu Matsuo hanya bercanda, di mataku kau begitu tampan." Ia menarik senyumnya lebih lebar hingga menampakkan giginya ketika Akihiko menghentikan langkahnya dan beralih menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


"Jadi aku benar-benar tampan?"


Tunggu, apa Akihiko benar-benar marah karena ucapan Matsuo tadi? Astaga pemikiran polos Aihara sungguh meresahkan, tapi setidaknya karena ucapannya tadi suasana hati Akihiko sedikit membaik.


"Tentu saja! Sangat-sangat tampan!" Ujarnya riang.


"Lebih tampan dari mantan kekasihmu?" Oh ternyata salah, suasana hati Akihiko masih belum membaik. Kedua matanya menatap penuh harap pada Aihara, sedang gadis itu terlihat begitu gugup.


"Hei apa yang kau katakan! Kau lebih baik dari siapapun, jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Kalian berbeda." Ia pikir jawaban itu adalah jawaban yang paling tepat, tapi ternyata Akihiko menangkap hal lain yang semakin meresahkan hatinya. Ia kecewa dengan ucapan Aihara.


Keduanya kembali terdiam sembari meneruskan perjalanan, kembali canggung dengan Aihara yang mencoba berpikir keras untuk membuat kekasihnya itu tidak salah paham.


Lengan kokoh itu ia peluk erat, "Dingin."


Akihiko mengerti, ia membebaskan lengannya dari pelukan Aihara beralih dengan mengalungkan tangannya ke pundak Aihara, merangkulnya erat. Ia baru tersadar jika kekasih cantiknya itu tengah mencoba untuk menyenangkan hatinya.


"......"


"Hei, tolong jangan salah paham. Kalian berbeda. Lagipula aku sudah memilikimu sekarang, tidak ada gunanya membandingkan dirimu dengannya karena saat ini aku hanya mecintaimu." Takut salah bicara lagi, ia kemudian menambahkan, "Maksudku sangat-sangat-sangat mencintaimu."


Astaga betapa menggemaskannya makhluk mungil ini? Akihiko akhirnya menyerah, gadis itu terlalu ahli untuk mengubah suasana hatinya. Dan itu fakta, Akihiko bisa merasakan marah, cemburu, sedih dan bahagia di waktu yang sama. Aihara benar-benar menarik.


"Yeah, karena aku tidak akan puas hanya dengan mendapatkanmu. Tapi juga aku harus mendapatkan hati dan pikiranmu. Ku pinta berkali-kali, tolong hanya pikirkan aku saja. Jangan yang lain." Meluncur sempurna di balik bibirnya, dan berefek besar bagi hati Aihara.


Mereka masih sama-sama berjuang. Akihiko yang mencoba serius meraih hati Aihara, dan Aihara yang hampir melepaskan masa lalunya. Keduanya masih dalam keadaan sakit.


#TBC#

__ADS_1


__ADS_2