Pseudo Shadow

Pseudo Shadow
05 • Pseudo Feeling


__ADS_3

"Sebenarnya perasaan apa yang ku rasakan saat ini?"


.


"Mau kemana?" Tanya Aihara, setelah mereka berjalan dengan keheningan yang mendominasi.


Akihiko tidak menjawabnya sampai ia tiba di ruang loker dan membawa gitarnya di punggungnya. "Bawa gitarmu juga."


"Tapi, kita mau kemana?" Aihara bertanya sekali lagi, ia bingung dengan sikap Akihiko yang menjadi dingin padanya.


"Membeli Amplifier."


"Eung, T-tapi ini sudah memasuki pelajaran ke empat, aku baru saja membolos di pelajaran ke tiga-"


"Itu terserah padamu." Akihiko mengabaikan Aihara yang tengah bergelut dengan pikirannya. Akihiko membalikan tubuhnya, hendak meninggalkan Aihara.


"Aku ikut denganmu!" Setelah merenungkan semuanya, Aihara pikir tidak apa membolos hari ini, ia bisa meminjam catatan temannya besok. Aihara segera membawa tas gitar di punggungnya kemudian mensejajarkan langkahnya dengan Akihiko.


Mereka kembali berjalan dengan keheningan yang menyelimuti, Akihiko membawa Aihara menuju kereta listrik yang akan membawa mereka ke toko elektronik. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk mereka sampai di tempat tujuan.


Aihara mengedarkan pandangannya ke sekitarnya setelah mereka keluar dari stasiun kereta, hanya seperti pasar biasa yang Aihara lihat. Aihara pikir, ia akan langsung melihat toko toko elektronik di sana, tapi ternyata harus berjalan sebentar untuk menuju toko yang Akihiko maksud.


"Sebelah sini." Akihiko meraih lengan Aihara dan membawanya ke jalan lain yang di dominasi oleh toko toko elektronik.


Aihara menunduk menatap tangannya yang di genggam erat oleh Akihiko, itu berhasil membuat sesuatu di balik dadanya berpacu dengan cepat mengarahkan darah untuk mengalir menuju kedua pipinya yang kemudian menimbulkan semu pink di kedua pipinya.


Akihiko membawa Aihara memasuki toko langganannya.


"Paman Kaji, aku sedang mencari Amplifier. Apa kau memilikinya?" Tanya Akihiko yang segera mendapat perhatian dari pria yang ia panggil itu.


"Woah! Akihiko! Sombong sekali baru mampir sekarang." Pria bernama Kaji itu segera mendekati Akihiko, kemudian ia mengernyit ketika melihat gadis di sampingnya. "Hei kau datang bersama kekasihmu?" Kaji terkekeh ketika melihat tangan mereka saling menggenggam. Sadar akan itu Akihiko segera melepaskan genggamannya.


"Tidak! Dia temanku, dia sedang mencari Amplifier. Kau masih memilikinya kan?" Akihiko merasa gelagapan sendiri. Aihara yang berada di sampingnya seakan tidak merasakan hal yang sama, gadis itu justru asik melihat lihat barang barang di sekitarnya.


"Masih ada satu, tunggu sebentar."


Akihiko mengangguk pelan sebelum Kaji pergi, ia beralih melihat Aihara yang masih menilik barang barang di dekatnya, "Itu semua barang bekas, tapi masih sangat bagus."


Aihara tertegun sebelum ia menoleh pada Akihiko, "Barang bekas?" Ia pikir, Akihiko akan membawanya ke toko yang menyuguhkan barang barang bagus yang masih tersegel.


"Hm, barang bekas bukan berarti barang rongsokan." Akihiko berucap pelan, setelah ia melihat Kaji kembali dengan membawa Amplifier yang ia maksud.


"Ini dia."


"Kau bisa langsung mencobanya." Ucap Akihiko pada Aihara yang segera di angguki Aihara.


Aihara membuka tas gitar di punggungnya dan mengeluarkan gitar milik Roki di dalamnya. Kemudian ia berjongkok dan menatap Amplifier itu dengan raut bingung. Bagaimana cara memasang benda itu? Aihara kembali mendongak untuk meminta pertolongan Akihiko, dan untungnya pria itu mengerti akan tatapannya yang kemudian ia ikut berjongkok dan mengambil alih gitar di pelukan Aihara.


"Cara memasang nya seperti ini." Akihiko memasangkan kabel Amplifier itu pada lubang kecil yang berada ujung gitar. "Ini, coba kau mainkan."


Aihara berdiri dengan gitar di pelukannya, ia sedikit menghela nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Jrengg!! Jrengg!!

__ADS_1


Kedua mata Aihara berbinar ketika mendengar suara gitar yang nyaring. Sekali lagi suara nyaring itu membuatnya mengingat Roki. "Aku akan membeli Amplifier ini." Ucapnya setengah sadar. Masih terpukau dengan suara gitar yang ia mainkan.


"Baiklah, aku akan memberikan diskon untukmu karena kau temannya Akihiko."


Aihara mengangguk sembari tersenyum kecil, "Terimakasih."


Setelah mendapatkan Amplifier yang Aihara cari akhirnya mereka keluar dari toko dengan Akihiko yang membawa satu tas besar di lengan kirinya.


"Apa itu berat?"


Berat Amplifier hanya satu kiloan, bagi Akihiko tentu tak berarti apapun. "Ini ringan."


"Eung." Aihara mengangguk sembari terus berjalan, "Kio, Terimakasih."


Satu alis Akihiko terangkat, "Untuk apa?"


"Untuk semuanya, Terimakasih." Akihiko sedikit tersentak ketika Aihara mendongakkan kepalanya menatapnya dengan senyuman lebarnya hingga kedua matanya nampak menyipit, namun kemudian Akihiko ikut tersenyum kecil sembari menoleh ke arah lain.


"Hm, sama sama." Entah kenapa, hatinya tiba tiba menghangat. Aihara tidak pernah tersenyum selebar itu selama ia mengenalnya, dia jadi terlihat berkali kali lipat cantik daripada saat menangis. Iya, Akihiko mengakui bahwa Aihara sangat cantik, bahkan sangat sangat cantik dengan senyuman manis tadi. Akihiko sudah cukup mengerti dengan perasaan yang mulai berbunga di hatinya, Akihiko telah menyadarinya bahwa sebenarnya ia telah menyukai Aihara bahkan saat pertama kali mereka bertemu.


Lengan Akihiko di tarik Aihara ke tempat dimana ada banyak wahana di sana, tapi wahana itu belum ada satupun yang di buka sementara para pedangan sudah memenuhi area itu. Melihat wahana bianglala yang masih di tutup dan tak terlihat ada petugas di sekitarnya membuat Aihara merengut, sedang Akihiko menyadari raut Aihara.


"Semua wahana itu akan di buka pada pukul tujuh malam. Sekitar lima jam lagi." Jelas Akihiko, membuat Aihara semakin menekuk wajahnya.


"Eung, jadi begitu." Aihara menundukkan kepalanya sedih, padahal ia sangat ingin menaiki bianglala, wahana itu adalah wahana favoritnya.


"Bagaimana jika kita jalan-jalan ke tempat lain dulu?" Usul Akihiko yang segera di angguki Aihara, meski ia tahu gadis itu tidak benar benar ingin meninggalkan tempat berdirinya itu.


Mereka kemudian berjalan mengitari para penjual kaki lima di sana. Ini masihlah siang, para pengunjung biasanya akan banyak berdatangan pada malam hari, tapi para pedagang sudah begitu ramai. Mungkin Akihiko dan Aihara akan pulang malam lagi, karena di malam hari akan ada pesta kembali api, Akihiko yakin jika Aihara tidak ingin pulang lebih awal. Di tengah perjalanan Aihara menarik lengan Akihiko, menyuruhnya untuk berhenti melangkah.


"Tunggu sebentar!" Aihara segera mendekati penjual kerajinan tangan, hal itu membuat Akihiko ikut melangkah mendekatinya.


"Lihat ini, apa kau suka?" Tiba tiba Aihara menyodorkan sebuah gelang rajut berwarna biru ke arahnya, membuat Akihiko menjadi sedikit gugup ketika sekali lagi ia melihat raut ceria Aihara.


"He'em, Itu bagus."


Mendengar komentar Akihiko, Aihara semakin melebarkan senyumannya hingga memperlihatkan gigi seri kecil miliknya, "Akan sangat bagus lagi jika kau mengenakan ini." Aihara meraih lengan jangan Akihiko dan memasangkan gelang rajut itu di pergelangan tangannya. "Sudah kuduga, ini cocok untukmu." Aihara segera memberikan beberapa lembar uang kepada penjual sebelum ia menarik lengan Akihiko lagi ke tempat lain.


Akihiko Hannya terdiam menatap pergelangan tangan kanannya yang sudah bertengger sebuah gelang di sana. Ia menarik senyuman kecil sembari sesekali mencuri pandang pada Aihara yang terus tersenyum di sepanjang jalan.


"Kenapa kau memberikanku gelang ini?" Tanya Akihiko yang segera mendapat perhatian Aihara.


"Itu sebagai hadiah. Eung, selamat karena kau sudah menang di pertandingan tadi. Itu juga sebagai jimat untuk pertandingan yang selanjutnya." Bagi Aihara itu hanyalah gelang biasa yang harganya tidak seberapa untuk ia jadikan sebuah hadiah untuk Akihiko, tapi ada sesuatu yang ia maksudkan dengan memberikan gelang itu kepada Akihiko. Mungkin saja Akihiko bisa mengerti.


"Hm, Terimakasih."


"Eung." Pandangan Aihara kembali teralih pada seorang pedagang yanga baru saja memberikan se-cup es krim pada seorang anak kecil, ia jadi menginginkannya juga. "Kio, kau ingin es krim juga?"


"Hm?"


Tanpa mendengar persetujuan Akihiko, Aihara segera memesan dua cup es krim pada pedang itu. Ia kemudian kembali dan memberikan satu cup es krim pada Akihiko yang sudah menarik sudut bibirnya menanggapi sikap ceria Aihara yang nampak baru untuk Akihiko.


Mereka kembali berjalan dengan Aihara yang kembali ingin mencicipi berbagai jajanan lainnya. Namun ketika ia menginginkan permen kapas, Akihiko menahan lengannya untuk tidak mendekati pedagang itu.

__ADS_1


"Tadi kau sudah memakan es krim, lolipop juga. Cari makanan lain saja, gigimu bisa sakit jika kau tetap ingin memakan Permen kapas." Entah kenapa Akihiko jadi khawatir ketika gadis ini jadi begitu aktif, bahkan ia sampai tidak mampu mengontrol makanan yang ia konsumsi.


"Kau selalu mengeluhkan gigimu yang sakit, dan sekarang kau ingin aku membelikan permen kapas? Yang benar saja, sayang."


Deg!


Aihara segera menunduk merasakan dadanya yang kian berdenyut nyeri. Kenapa, kenapa Akihiko terus saja membuatnya mengingat Roki?


Melihat Aihara yang kembali menundukkan kepalanya membuat Akihiko merasa bersalah, apa ia sudah membuatnya sedih? "Aku tidak bermaksud melarangmu. Oke, kau bisa memakan Permen kapas sebanyak apapun yang kau inginkan." Akihiko pikir dengan ia mengucapkan itu Aihara akan kembali tersenyum padanya. Namun ternyata gadis itu memilih untuk mencari makanan yang lain. Akihiko jadi semakin merasa bersalah.


Sejak Akihiko melarangnya memakan Permen kapas, Aihara benar benar kembali menjadi Aihara yang pendiam. Jika tersenyum, gadis itu hanya menarik sudut bibirnya saja. Akihiko merasa ia sudah meredupkan kembali cahaya Aihara. Hari sudah menjelang malam dan Permainan wahana sudah di buka. Akihiko pikir Aihara akan kembali bergembira, tapi ternyata gadis itu hanya tersenyum kecil seakan minatnya untuk menaiki wahana wahana itu sudah hilang.


"Ayo naik Bianglala." Ajak Akihiko sembari menarik lengan Aihara menuju Wahana Bianglala.


Mereka benar benar menaiki Wahana itu, namun lagi lagi hening menyelimuti mereka.


"*Lihat ke bawah sana. Wah! Indah sekali bukan?" Aihara menunjuk ke jendela yang menampakkan lampu lampu warna warni yang menyorot indah, terlihat berkali kali lipat indah dari ketinggian.


"Tidak sama sekali. Pemandangan di depanku jauh lebih indah." Mendengar ucapan Roki membuat Aihara bersemu malu.


"Jangan katakan apapun!" Aihara tetap mengalihkan pandangan pada Jendela, meski ia sudah dibuat salah tingkah oleh ucapan Roki. "Eung, Roki aku ingin bertanya. Apa kau benar benar mencintaiku?"


"......"


"Oh, tentu saja tidak! Ternyata benar, kau sebenarnya menyukai Seta."


"......"


"Hei Roki! Apa kau tidak mendengarku?! Kenapa kau diam saja!" Aihara dibuat gemas dengan Roki yang hanya diam sembari menatapnya dengan senyuman geli.


"Kau menyuruhku untuk diam."


Ugh, bukankah itu memang benar?


"Ck, aku sangat kesal padamu!"


"Tentu saja aku sangat mencintaimu."


"Diam."


Roki mendekatkan wajahnya ke arah Aihara kemudian ia meraih sebelah pipi Aihara, "Aku hanya mencintaimu. Hanya kau satu satunya yang aku cintai. Hanya dirimu seorang*."


Dadanya terasa begitu sesak hingga Aihara tak sadar air matanya sudah meluncur bebas menuruni pipinya. Akihiko yang melihat itu menjadi panik.


"Hei kau baik baik saja?" Akihiko segera mengusap air mata di pipi Aihara, "Apa kau sungguh merasa kesal padaku karena aku melarangmu memakan Permen kapas? Setidaknya kau bisa memarahiku, jangan menangis seperti ini!" Akihiko kemudian terkesiap ketika Aihara tiba tiba memeluk erat.


"Kio.., tolong aku Kio."


"Apa? Apa yang bisa kubantu?"


"Tolong buat aku mencintaimu." Aihara semakin memeluk Akihiko sembari menangis tersedu di bahu Akihiko. Perkataan yang keluar dari bibirnya sontak saja membuat Akihiko melebarkan kedua matanya.


*Apa katanya?

__ADS_1


Aihara sebenarnya kau ini kenapa*?


#TBC#


__ADS_2