
Gelap malam, tak membuatnya berpikir untuk pergi beristirahat. Atensi Akihiko tak sedikitpun berpaling dari langit-langit kamarnya. Ia terus termenung, memikirkan bait-bait lagu yang membuat hatinya gundah. Seberharga itukah? pikirnya.
Tentang mantan kekasih Aihara, sedikit-banyaknya ia mulai penasaran dengan sosoknya. Penjelasan Aihara tentangnya, tak cukup untuk membuat hatinya damai. Terlebih secarik lirik yang menghantui pikirannya saat ini.
Meskipun aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal,
Kau akan disini bersamaku, selamanya.
Apa mungkin, Aihara benar-benar tak akan melepaskan pria itu di memorinya? Lalu apa arti dirinya untuk Aihara?
Tidak! Akihiko segera memejamkan matanya erat, hampir saja ia termakan oleh pikiran yang ia ciptakan sendiri. Ia ingat, Aihara memang sedang berusaha untuk membuat hidup gadis itu tertuju padanya. Itu akan sulit untuk gadis itu, jadi tak seharusnya Akihiko egois dengan menilai buruk gadis yang seharusnya ia percaya.
Akihiko menghembuskan nafas lelah. Ia akhirnya bangkit dari tidurnya, mengambil posisi duduk. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 00.30, dan rasa kantuk itu belum juga menyerangnya. Ia lelah, ingin segera beristirahat, namun pikiran dan hatinya terus saja merecoki malamnya. Membuatnya semakin kehilangan mood untuk tidur.
Namun secara tiba-tiba kilasan memori mengenai senyum Aihara yang membingkai di raut cantiknya, itu menciptakan sengatan lembut di hati Akihiko. Seperti terhipnotis, ia turut menarik senyumnya. Terutama perkataan Aihara di perjalanan pulang tadi, membuat hatinya sedikit damai. Sangat, sangat, mencintainya, katanya?
Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?
Kau penuh dengan misteri.
Seperti penyihir, kau membuatku terpuruk dan kembali jatuh cinta sepersekian detik kemudian.
Baiklah, malam ini Akihiko akan melewatkan jam tidurnya. Ia lebih tertarik untuk menulis bait lagu dan memilih aransemen yang cocok untuk dinyanyikan Aihara. Ya, setidaknya kegalauan yang ia alami bisa menjadi sebuah karya baru untuk Club Musiknya.
...****...
Seharusnya sudah menjadi hal biasa jika Akihiko mengisi jam pelajarannya dengan tidur, tapi kali ini ada seseorang mengkhawatirkan keadaannya, Aihara.
Jam istirahat akan menjadi tradisi mereka untuk bertemu di rooftop sekolah. Namun kali ini, Aihara hampir kehilangan jam istirahatnya dengan menunggu seseorang yang tak kunjung menemuinya. Lantas ia memutuskan untuk menemui Akihiko ke kelasnya, dan keadaan pria itu yang tertidur dengan lipatan lengan yang mengubur kepalanya di atas meja, seketika membuatnya resah.
"Dia biasa seperti ini, tenang saja, dia tidak akan mati dengan mudah." Ucap Matsuo asal.
Aihara mengabaikan ucapan Matsuo, ia memilih menaruh punggung tangannya belakang leher Akihiko yang terekspos dan seketika terkejut dengan apa yang baru saja ia rasakan. Akihiko demam!
"Akihiko-kun, kau demam!" Gadis itu menepuk pelan pundak Akihiko, berharap pria itu akan terbangun. Nihil, pria itu sama sekali tidak bergerak.
__ADS_1
Kekai yang menyadari kondisi Akihiko, segera menenangkan Aihara. "Aihara, kau tenanglah. Aku dan Matsuo akan mengantarnya ke UKS, kau makanlah dulu di kantin."
"Tidak mau, aku ikut bersama kalian!"
"Kau denganku saja!" Hanna yang baru saja masuk ke kelas segera memahami kondisi yang ada. Ia mengalungkan sebelah lengannya di pundak Aihara, "Akan lebih merepotkan jika ada dua orang yang sakit. Lagipula aku juga lapar, ayo makan bersama!"
"Aku tidak lapar."
Tapi kekhawatiran Aihara masih memuncak, hingga akhirnya Akihiko berhasil mengangkat kepalanya dan membuka matanya yang memerah. Itu tak cukup membuat rasa khawatirnya mereda, ia seperti merasa perlu untuk merawat kekasihnya hingga sehat kembali.
"Kau lihat sendiri, dia tidak mati. Jadi jangan siksa dirimu sendiri! Ayo ikut aku!" Tegas Hanna terkesan memaksa, namun ia tetap lembut menarik Aihara untuk berjalan menuju kantin. Meski sebenarnya ia juga cemas, karena Akihiko sangat jarang seperti ini.
Mereka memilih meja yang kosong di pojok kafetaria dekat jendela besar. Di sekitarnya sudah banyak meja yang kosong, menandakan jam istirahat akan segera berakhir namun Hanna tetap memaksanya untuk makan.
"Kau suka spaghetti ini kan?" Tanya Hanna, yang di balas dengan anggukan kepala oleh Aihara.
"Terimakasih."
"Sudahlah, fokus pada makananmu! Kio sudah di UKS, dia juga pasti mendapat makanan." Tegas Hanna lagi, setelah mendapati Aihara yang hanya melamun menatap sepiring spaghetti yang ia berikan.
Di sela kunyahannya, pikirannya turut meributkan hal yang selama ini ingin ia lupakan. Tapi ia harus tetap menanyakannya!
"Hanna,"
Gadis di depannya yang juga tengah memakan menu yang sama dengannya, menaikan sebelah alisnya.
"Kupikir, kau tidak menyukaiku."
"Benar. Aku tidak menyukaimu."
Kunyahannya terhenti. Aihara menujukan sorotnya tepat di mata Hanna. "Kenapa?"
"Karena kau mengambil posisiku."
Posisi, yang Aihara tahu memang ia yang menggantikan posisi Hanna sebagai vocalis di band mereka. Tapi apakah posisi itu yang Hanna maksud?
__ADS_1
"Maaf untuk posisiku sebagai vocalis-"
"Bukan itu, ada hal lain. Tapi sekarang itu sudah tidak penting. Kurasa." Hanna mengedikkan bahunya, kembali menyantap sepiring spaghetti di depannya. Sedangkan Aihara terdiam dalam kebingungan.
"Oh, kau berteman dengan Seta? sejak kapan?" Ujar Aihara lagi. Meski bel pelajaran selanjutnya sudah berdering, namun mereka mengabaikannya.
"Kenapa juga aku harus memberitahumu?"
Astaga, harusnya Aihara sudah tahu ini akan terjadi. Hanna benar-benar pribadi yang keras. Ia pikir, mereka akan dengan mudah menjadi teman. Ternyata tidak.
"Aku punya pengalaman buruk tentangnya, apa dia pernah menceritakan sesuatu tentangku padamu?"
"Jadi itu benar?"
Deg.
Aihara seketika merasakan dadanya seakan ditalu dengan keras, terlebih sorot Hanna yang berubah seakan mencurigainya akan sesuatu. Namun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja, meski pikiran negatif menyerangnya akan sosok Seta yang beberapa hari yang lalu menyatakan rasa sesalnya.
"Apa yang benar? Aku tidak mengerti."
Hanna berdecih pelan, "Kau yang membunuh mantan kekasihmu, kan? pintar sekali, wajah polosmu itu berhasil menutupi fakta ini-"
"Omong kosong!!" Tanpa sadar Aihara berteriak kencang membuat atensi para penjaga kafetaria mengarah pada mereka.
Sedangkan Hanna hanya tersenyum licik, "Kau menyangkalnya? Kenapa? Apa kau takut jika fakta ini sampai ke telinga Kio? Ck, apa ya itu namanya? Oh, obsesi."
Kepalan tangan Aihara mengerat di bawah meja sana. Segala memori mengerikan itu kembali memenuhi benaknya, sakit. Ia mengais nafasnya terburu, membiarkan paru-parunya terisi oleh udara segar untuk sedikit menyingkirkan rasa sesak itu. Sesak yang ternyata ada di kepalanya, memori yang berlebihan itu membuat kepalanya pusing!
Iya! Roki pergi karena obsesinya! benar, kan? Lalu kenapa ia menyangkalnya?
"Apa yang kau katakan, segalanya tidak benar!" Ujar Aihara dengan gemelatuk giginya.
"Aku hanya tidak akan membiarkan Akihiko bernasib sama seperti mendiang kekasihmu. Jadi, menjauhlah darinya."
Menjauh dari posisi yang seharusnya aku isi, menjadi kekasih Akihiko. Batin, Hanna.
__ADS_1
......****......